Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Extra Episode 10. Bukan Salah Paham


__ADS_3

Sang Ratu, ibunda Rangga berdiri tegak di hadapan Rani yang menunduk takut. Air matanya mengalir tak bisa ditahan lagi. Ya Tuhan apa yang akan terjadi padaku? Rani mere*mas tangannya. Sesekali sudut matanya melirik Rangga yang tak melepas sedetikpun pandangannya dari Rani.


Ibunda Rangga menelisik Rani dari atas ke bawah dari bawah ke atas . Sebelumnya wanita tua yang masih tampak cantik itu sudah mau menyemprot Rani kala melihat posisi Rangga dan Rani yang memang tak pantas dilihat mata.


Ibunda Rangga mengira Rangga sedang bersama wanita pemuas nafsu yang suka menjajakan tubuhnya ke sembarang pria. Namun begitu melihat Rani dari dekat hati sang Ratu melemah. Wajah cantik jelita dan merona itu, mata yang basah berurai itu tampak ketakutan. Pakaiannya rapi dan sopan. Sama sekali bukan penampakan wanita tak benar.


Ratu mengesah pelan. " Siapa namamu cah ayu?"


" Rani...kanjeng ibu" Rangga yang menjawab.


" Diam kamu, ibunda belum selesai denganmu!" hardik Ratu pada putranya.


Rani semakin mengkerut takut. Membuat ratu semakin yakin bukan gadis ini yang menggoda Rangga tapi Rangga yang kurang ajar kepada gadis kecil ini. Entah dengan rayuan apa gadis ini jadi tunduk pada putranya yang sudah berumur itu.


Dari raut wajah dan perilakunya, ratu tahu gadis ini masih berusia belasan. Rangga benar-benar keterlaluan, main-main dengan anak orang yang masih kecil begini. Bagaimana orang tuanya? Apa selera putranya adalah gadis belia seperti Rani ini?


" Ayo duduk dengan ibunda cah ayu..." Ratu menuntun Rani duduk. Berjauhan dengan Rangga yang diapit Bayu dan raja.


" Bayu, kamu kenal gadis ini kan?"


" Inggih (iya) kanjeng Ratu...." jawab Bayu.


" Panggil orang tuanya ke sini!" tegas perintah Ratu.


" JANGAN!!!" Rangga dan Rani berseru bersamaan. Jangan sampai kejadian sebulan lalu terulang lagi.


Bayu, ayahanda dan ibunda Rangga mengerutkan kening heran. Apa yang sudah terjadi yang tak mereka ketahui? Bahkan Bayu tak tahu. Sebulan yang lalu memang Rangga pernah terlihat babak belur dan meminta Bayu mengurusi kantor selama sekitar satu minggu. Tapi Rangga tak mengatakan apapun peyebab lukanya.


" Jangan banyak tanya Bay dan pastikan istana tidak tahu soal ini. Aku nggak mau bikin istana heboh!" kata Rangga saat itu. Meski penasaran Bayu tak berani bertanya lebih lanjut.


Dan saat ini Bayu mulai menduga-duga. Apa luka Rangga saat itu ada hubungannya dengan Rani? Apa Tommy dan Rangga baku hantam? Apa itu sebabnya semua urusan pekerjaan yang berhubungan dengan Tommy diserahkan padanya? Bayu mulai bisa menarik benang merahnya. Namun dia tak mau membukanya di depan Raja dan Ratu.


" Apa maksudmu Rangga?" Raja menatap tajam putranya. " Kamu harus bertanggung jawab pada gadis itu. Kamu sudah berbuat asusila. Apa kata orang kalau kamu tidak bertanggung jawab dengan semua perbuatan tercelamu? Kita harus selesaikan masalah ini sebelum ada orang lain tahu"


Raja tampak marah . Dalam pikirannya Rangga tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya pada Rani. Demikian juga Ratu yang tak kalah kesal pada putranya itu.


" Kenapa cah ayu? Kami cuma ingin minta maaf atas perbuatan putra kami. Dan mempertanggungjawabkan perbuatannya yang tidak sopan padamu" ibunda Rangga menggenggam tangan Rani yang wajahnya tampak semakin pucat ketakutan.


" Apa kamu mau jadi pengecut yang tidak mau bertanggung jawab ? Kamu sudah merusak anak gadis orang. Ya ampun Rangga Ibunda malu melihat kelakuanmu seperti ini.." Ratu berdiri di depan Rangga.


" Bukan begitu ibu...Rangga mau bertanggung jawab tapi...tapi...ahh!! Rangga merem*as rambutnya sendiri.


" Kenapa, katakan, apa yang kami tidak tahu?" Raja mulai mencium sesuatu yang janggal dengan Rangga.


" Sudah Bay...kami nggak mau tahu. Panggil Orang tua Rani ke sini sekarang juga.!" titah Sang Raja.


" Bay...jangan Bay...arrgghhh...!" Rangga memekik frustasi. Tapi tak berkutik karena ayahandanya sudah bertitah.


Bayu bergegas keluar untuk melaksanakan perintah sang Raja dan Ratu. Menjemput orangtua sang gadis yang tertangkap basah saat sedang berbuat asusila dengan sang pangeran. Senyum samar Bayu tak seorangpun melihatnya. Rencananya berhasil. Bayu bersorak dalam hati. Entah apa yang akan terjadi nanti terjadilah...


" Pak Tommy, bisa saya bertemu?" Bayu langsung menghubungi Tommy.


" Ada apa Bay?" tanya Tommy enggan. Sudah malas dengan semua yang berhubungan dengan Rangga.


" Ini tentang Rani Pak, saya...."


" Apa? Ada apa dengan Rani?" Tommy langsung meradang.


" Sabar pak, Rani baru saja mengalami kecelakaan." Bayu tidak berbohong.


" Apaa!!? Jangan bohong kamu. Di mana kamu, Rani sekarang di mana?" Tommy langsung panik.


" Saya dibawah pak. Saya tunggu di lobby kantor Bapak. Saya antar ke Rani" jawab Bayu tenang.


Tommy langsung menyambar jasnya dan bergegas keluar ruangannya. Hampir saja menabrak Reza yang kebetulan akan melapor ke ruangannya.

__ADS_1


" Za, tolong kamu handle kantor, Rani kecelakaan. Aku mau ngurusin Rani dulu!" Tommy memberi perintah sambil berjalan. Meninggalkan Reza yang masih loading...Rani kecelakaan? Ya Tuhan...


Di lobby Bayu sudah menunggu Tommy. Tanpa banyak kata Tommy mengikuti langkah Bayu.


" Bagaimana Rani? Dia baik-baik saja? Di rumah sakit mana?" Tommy langsung memberondong Bayu dengan pertanyaan.


" Rani baik pak, tadi mobilnya ringsek sedikit dan sudah saya bawa ke bengkel. Rani ada di tempat aman" Bayu bermisteri.


Tommy menatap Bayu tajam. Lelaki kepercayaan Rangga itu bergidik . Wahh! Berarti benar dugaanku, Rangga dan Tommy baku hantam gara-gara Rani. Bayu jadi merasa ngeri. Tapi sudah terlanjur basah. Dia harus melanjutkan rencananya sampai tuntas. Demi pangeranku yang malang...Bayu bergumam dalam hati.


" Silakan ikuti mobil saya pak. Apa perlu menjemput Mbak Sasi dulu?" tanya Bayu membuat Tommy makin heran. Tapi Tommy pikir Sasi juga harus tahu. Jadi dia mengangguk.


" Yang, siap-siap aku jemput di rumah sekarang!" Tommy menghubungi Sasi


Dua mobil itu kemudian beriringan menuju rumah Sasi.


" Ada apa mas?" Sasi menghadang Tommy di depan pagar. Tommy memberi isyarat agar Sasi naik.


" Jangan kaget. Rani kecelakaan..."


" Hahh?? Ranii..." Mata Sasi mulai merebak.


" Nggak papa, cuma mobilnya yang ringsek sedikit. Rani baik-baik saja." Tommy membelai rambut Sasi. Istrinya itu menatapnya bingung, namun sedikit tenang mendengar penuturan suaminya tentang keadaan Rani.


" Sekarang Rani dimana?"


" Kita ke tempat Rani, kita ikut Bayu" jawab Tommy ragu. Bayu selalu berhubungan dengan Rangga. Apa Rani dan Rangga...? Tommy tak mau meneruskan angannya yang malah membuatnya cemas.


Sasi pun berpikir hal yang sama. Dimana ada Bayu diasana ada Rangga. Dua orang bos dan asiaten itu selalu lengket kemanapun mereka pergi. Apa Rani bersama Rangga?


Tak lama mereka telah sampai di apartemen Rangga. Tommy dan Sasi makin cemas. Apartemen siapa ini. Apa yang terjadi? Suami istri itu saling tatap dalam diam. Menyiratkan kekhawatiran dalam hati mereka. Tangan keduanya erat saling menggenggam.


Tiba di sebuah unit apartemen, hawa dingin makin menguasai Tommy dan Sasi. Mereka masih belum bisa menebak kejadian apa yang akan menyambut mereka.


Klek! Suara pintu terbuka. Tommy dan Sasi membatu di tempat mereka berdiri, tepat setelah mereka masuk ke ruang tamu apartemen itu.


" Nak Tommy...jadi kalian orangtua Rani?" Raja yang sudah mengenal baik Tommy dan Sasi tampak terkejut. Ibunda Rangga tidak tahu.


" Sinuwun kenal mereka?" tanya Ratu.


" Mereka ini sahabatnya Rangga, mereka putra pak Barata." jawab Raja.


" Silakan duduk kalau begitu, banyak yang harus kita bicarakan." Sang Ratu mempersilakan Tommy dan Sasi duduk.


Dua orang yang masih terbengong itu tanpa sadar ikut duduk di dekat Rani.


" Sayang kamu baik-baik saja? Katanya kamu kecelakaan. Kenapa bisa sama dia?" Tommy memeluk putrinya erat, melirik Rangga tajam.


" Iya pa, tapi Rani baik -baik saja. Cuma mobilnya agak ringsek" jawaban sama yang diberikan Bayu. Tommy jadi agak lega. Tapi tetap penasaran bagaimana Rani bisa bersama sahabatnya yang kini jadii musuhnya. Rangga.


" Begini pak Tommy, Waktu kecelakaan kebetulan mobil yang hampir ditabrak Rani adalah mobil kami. Jadi kami berinisiatif membawa mobil Rani langsung ke bengkel. Dan karena Rani tidak terluka, emm...Boss membantu menenangkan Rani di sini, karena lokasinya dekat dengan tempat kecelakaan." Bayu menjelaskan kronologi bagaimana Rani terdampar di sini.


Tommy mendengus kesal. Menenangkan katanya? Dasar Rangga sialan. Modus!! Tapi sudah terlanjur, dan Rani menurut saja . Aahh! Tommy semakin gusar. Lalu kenapa Raja dan Ratu ikut ada di sini?


Bayu melanjutkan, " Setelah dari bengkel, kebetulan Raja dan Ratu ingin menemui Boss, dan...lalu...anu...aduhh!" Bayu menoleh ke arah bossnya yang sudah melotot ke arahnya dari tadi. Entah mengapa Rangga merasa Bayu sengaja menjebaknya agar ketahuan orangtuanya saat bersama Rani.


Melihat aura panas di dalam ruangan, sang raja segera menengahi.


" Begini nak Tommy, sebelumnya kami sebagai orang tua Rangga ingin memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini. Sebenarnya saya dan istri saya tadi memergoki Rangga dan Rani sedang berbuat tidak semestinya di sini..." Raja menggantung ucapannya.


" Apaaa??!!! Tommy dan sasi berteriak bersamaan. Sasi menutup mulutnya lalu menatap Rani tajam. Ranii??"


Gadis itu menunduk makin dalam. Menangis penuh penyesalan telah membuat malu papa dan mamanya karena menuruti hawa naf*sunya.


" Maaf Tommy dan Sasi, jangan menyalahkan Rani. Di sini putra saya yang bersallah, Rani masih belum dewasa. Masih mudah dipengaruhi. Rangga yang harusnya bisa menahan diri. Bukannya malah mengambil kesempatan." Sekarang Sang Ratu yang bicara.

__ADS_1


Rangga diam seribu bahasa. Ya...salahkan aku saja. Pukul, hajar atau bunuh aku saja. Jangan Rani, jangan memojokkan dan menyalahkan my baby. Caci maki saja aku. Rangga pasrah.


Tommy dan Sasi terpaku di tempatnya. Masih tak percaya apa yang terjadi pada putri kesayangan mereka. Apa saja yang sudah dilakukan Rangga brengs*ek itu pada Raniku? Tommy menggeretakkan giginya.


" Saya rasa ini harus dibawa ke kantor polisi. Agar memberi efek jera dan tidak mengulanginya lagi di masa depan." Tommy berkata dingin. Mengejutkan semua yang hadir di sana.


" Perlu sinuwun ketahui, ini sudah ke dua kali terjadi. Dulu dia pernah membawa Rani tanpa ijin. Saya tidak bisa menjamin apakah Rangga tidak mengulanginya lagi nanti"


Raja dan ratu melotot menatap Rangga . Kesal dan malu. Putra mereka ternyata tidak seperti kelihatannya yang tampak dingin dan acuh pada wanita.


" Rangga!" Raja menghardik putranya marah." Apa itu benar?"


" Iya ayahanda" jawab Rangga pasrah. Sudahlah, penjarakan saja. Aku tak pelduli lagi, keluh Rangga dalam hati.


Raja dan Ratu menggelengkan kepalanya tak percaya.


" Nak Tommy apa tidak bisa dibicarakan lagi?" Jika ini dibawa ke ranah hukum, nama Rani juga akan ikut tercemar." Raja memberi sedikit pertimbangan pada Tommy. Sebenarnya kedua orang tua Rangga itu juga takut Tommy benar-benar melaporkan Rangga ke polisi. Bisa gempar dunia persilatan..haduuh...


" Papa, kangmas tidak bersalah. Rani melakukannya dengan sadar dan tanpa paksaan. Rani juga salah. Jangan laporkan kangmas ke polisi.." Rani menangis sambil menggenggam tangan Tommy. Namun Tommy tak bergeming.


Sasi menatap Rani dan Rangga bergantian. Naluri seorang ibu, Sasi bisa melihat cinta di mata Rani. Bukan cinta monyet seperti kata Tommy tempo hari. Dua orang berbeda generasi itu tampak sama-sama terluka.


" Mas...jangan buru-buru ke polisi, benar yang sinuwun bilang. Kasihan Rani juga kalau ini sampai diketahui orang banyak."


Sasi tahu Tommy ingin memenjarakan Rangga, tapi Rani pasti ikut terseret jika itu terjadi.


" Jadi aku harus diam saja anakku dibuat mainan?" Tommy menggeram.


" Saya akan bertanggung jawab. Saya akan menikahi Rani! Tolong restui kami" Rangga berdiri di depan Tommy lalu berlutut di depan Tommy dan Sasi.


Semua terkejut, tak mengira Rangga akan sampai berlutut sedemikian rupa di depan Tommy dan Sasi. Kedua orang tua Rani itu jadi bingung mau apa.


Tommy sebenarnya ingin sekali menghajar Rangga, namun entah mengapa rasa sungkannya kepada Raja dan Ratu lebih besar. Mungkin ini yang disebut wibawa sang Raja. Tommy yang sudah berapi-api jadi tak leluasa melampiaskan kemarahannya. Bahkan menahannya sekarang.


Ibunda Rangga tidak tega putranya merendahkan diri seperti itu. Wanita itu berusaha membangunkan Rangga dari posisi berlututnya. Namun Sang Raja menarik lembut tangan istrinya dan berbisik. " Biarkan dia bertanggung jawab atas kesalahannya. Biarkan dia jadi lelaki yang menyelesaikan masalahnya sendiri." Sang ratu pun mundur lagi.


Tommy mendecih. Enak betul dia ngomong mau menikahi Rani dengan dalih tanggung jawab. Jangan-jangan dia sengaja menggoda Rani dan menjebaknya agar bisa menjadikannya istri. Dasar licik!


" Wah kalau begini caranya, enak betul orang yang sudah mempermainkan anak gadis orang, tinggal menikah. Beres!" Tommy menyeringai. Tampak sekali kekesalannya pada Rangga.


Sasi merem*as tangan Tommy karena merasa kata-kata Tommy sudah keterlaluan. Padahal Rani sendiri sudah mengaku kalau mereka saling menyukai dan tak ada paksaan dalam hubungan mereka.


" Maaf sinuwun dan Ratu, bisa saya bicara sebentar berdua saja dengan suami saya?"


" Oh silakan , kami akan menunggu." Raja menjawab sasi.


Bayu mempersilakan Tommy dan Sasi untuk masuk ke kamar tamu. Tommy tampak enggan, tapi Sasi menyeretnya setengah memaksa.


" Apa sih yang? Aku sudah gatal pengen menghajar laki-laki sialan itu!" Tommy mengepalkan tangannya kuat-kuat.


" Mas sabar dong. Mas kan dengar sendiri Rani juga suka sama Rangga. Jangan sampai nanti mas yang malu. Sudah terlanjur mencaci maki nggak tahunya nanti jadi mertua dan menantu...nggak lucu kan?" Sasi mengusap lembut tangan Tommy yang terkepal.


Tommy mendengus, " Nggak sudi aku jadi mertua lelaki kurang ajar itu!"


" Jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta.." Sasi menggoda suaminya.


" Cihh...kamu kali yang , clbk sama si Rangga.." Tommy tersenyum mencibir Sasi.


" Mas...sudah deh..nanti kita yang malah berantem. Menurutku kita dengar Rani dulu."


" Rani itu sudah dihipnotis Rangga yang..."


" Sudahlah mas, jangan ngelantur. Coba lihat dengan hati mas, apa anakmu benar-benar mencintai Rangga atau cuma karena pengaruh buruk Rangga saja. Seingatku mas paling jago melihat menggunakan mata batin. Prediksi mas tentang segala hal selalu benar. Masa iya mas nggak bisa melihat isi hati putrimu sendiri? "


Sasi mengusap lembut rahang Tommy. Keduanya saling menatap dan tersenyum. Ah kenapa aku tak melakukannya dari tadi? Aku bisa melihat hati Rangga dan Rani untuk mengetahui kebenarannya. Sasiii...kamu memang malaikatku...Tommy memeluk Sasi erat.

__ADS_1


" Tinggalkan aku sayang. Aku akan menenangkan diri dulu. Sebentar aku akan menyusulmu keluar. " Tommy melepaskan pelukannya pada Sasi dan mengecup kening istrinya sekilas. Sasi mengangguk dan meninggalkan Tommy sendiri di kamar itu.


__ADS_2