Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Rasuk


__ADS_3

Tommy dan Sasi berangkat ke kantor Rangga bersama Jono sang sopir jomblo...


Jika biasanya Jono akan kesal setengah mati karena disuguhi tontonan kebucinan yang mengiris jiwa jomblonya, kali ini Jono malah heran.


Aura ketegangan sudah terasa sejak Sang boss dan istri cantiknya itu masuk ke dalam mobil. Keduanya memang duduk saling berdekatan. Tangan mereka saling bertaut. Sasi juga menyandarkan kepala ke bahu Tommy seperti biasanya, namun tak ada candaan, rayuan atau kata-kata vulgar cenderung mesum yang selalu Jono dengar dari mulut Tommy pada istrinya itu.


Wajah bossnya tampak sedikit tegang. Sementara wajah Sasi makin cantik sejak terakhir kali dilihatnya saat mengantar ke bandara untuk bulan madu. Haiss..Jonooo...


" Ke mana Pak?" Tanya Jono ketika Sasi dan Tommy sudah duduk di mobil.


Tommy menyerahkan sebuah kartu nama ke Jono. " Ini alamatnya, kamu tahu kan?"


" Siap! Tahu pak" jawab Jono. Lalu mulai melajukan kendaraan meninggalkan parkir area kantor mereka.


" Tegang banget mas? Katanya gak boleh kuatir, tapi kok kelihatannya mas yang tegang?" Sasi tak tahan dengan suasana tegang diantara mereka.


Tommy merangkul pundak Sasi dan memcium puncak kepala istrinya itu.


" Nggak sayang...mas cuma waspada saja. Kita belum pernah bekerja sama dengan orang ini. Tapi kalau menurut papa sih track record perusahaannya bagus."


" So...santai dong sayang...mudah-mudahan jadi penglaris proyek kita sejak jadi suami istri dan menarik proyek lain yang lebih besar."


" Amiin" Tommy tersenyum. Sasi, andai kamu tahu aku takut sekali Rangga ini adalah jelmaan Turangga Seta yang masih penasaran mengejar cintamu. Tommy bekeluh dalam hati.


"Mana berkas yang mas titipin ke kamu tadi? " Tanya Tommy.


Sasi memberikan sebuah map berisi rancangan gedung pabrik dua lantai yang sangat futuristik. Tampak megah dan elegan namun lebih mengedepankan tatanan ruang hijau yang memadai.


" Bagus banget mas, kapan mas ngerjain ini?..Perasaan mas ngerjain aku mulu..." Sasi mengerling manja ke arah suaminya.


Tommy terkekeh mendengar kata-kata Sasi. Dengan gemas menyambar bibir istrinya sekilas. Dia sendiri juga heran, bagaimana dia tak bisa menahan diri jika sudah bersama istrinya itu. Kerja...kerja..kerja...kerjain Sasi...itu moto hidupnya dua minggu ini...Ya ampuun!!


Jono yang semula merasa senang karena bossnya agak tenang hari ini mulai mengesah dalam hati. " Wahh...mode bucin sudah on ini...siap-siap pake kaca mata kuda aja lah..." Fokus lihat ke jalan Jono!


" Ya habis ngerjain kamu itu, biasanya kan capek terus tidur...nah pas bangun lagi dan kamu masih tidur , mas kerjain ini. Pas kamu bangun...kerjain kamu lagi...hahhaha...."


Sasi melengos malu. "Mas ih...Jono dengar itu. Dasar mesum!" Sasi mencubit pinggang Tommy sambil melirik Jono. Takut Jono menguping pembicaraan mereka. Namun dilihatnya Jono tengah fokus menatap ke depan. Hmm....syukurlah.


Tommy menangkap tangan Sasi yang mencubitnya lalu mengecupnya lembut.


" Sayang, nanti saat ketemu Rangga, apapun yang mas lakukan atau mas katakan, kamu iyakan saja. Nggak usah khawatir jika terjadi sesuatu yang menurutmu aneh. Kamu nggak usah terlalu berinteraksi dengan Rangga. Biar mas yang urus semuanya. Ya sayang? Kamu cukup dampingi mas. Khusus kali ini saja,kamu nurut mas ya?"


Tommy menatap lembut istrinya. Semoga mbah Ageng berhasil mengungkap tabir dibalik kehadiran Rangga dalm hidup mereka. Semoga kekhawatirannya tak terbukti. Semoga Rangga ini benar-benar orang lain yang cuma mirip saja dengan Turangga Seta. Semoga...


Setelah setengah jam lebih perjalanan, sampailah mereka di kantor perusahaan Rangga. Kantornya megah, belasan lantai. Tak kalah dari kantor Tommy. Pangeran ini memang kaya.


" Ini tempatnya pak" lapor Jono saat mereka sampai di depan lobby kantor. Dua petugas menyambut Sasi dan Tommy begitu mereka turun dari mobil. Jono melajukan kembali mobil ke parkir area .


" Selamat siang, bisa dibantu pak?" Tanya seorang petugas.


" Saya sudah ada janji dengan Pak Rangga Syailendra."


" Mari saya antar ke dalam" sambut petugas itu sopan..Mengarahkan Sasi dan Tommy ke meja resepsionis .


Salah satu dari resepsionis sudah menunggu mereka .


" Mari Bapak Tommy dan ibu Sasi, saya akan antarkan. Bapak direktur sudah menunggu di ruangan."


Mereka mengikuti langkah gadis muda yang berjalan ke arah lift dan langsung menggunakan lift khusus menuju lantai teratas.


Keluar dari lift, Sasi dan Tommy disambut seorang pria yang mereka kenal. Bayu, tersenyum dan mengarahkan mereka ke satu-satunya ruangan yang ada di lantai itu.


" Silakan Pak Tommy , ibu Sasi" Bayu membukakan pintu ruangan yang tampak mewah.

__ADS_1


Disana sudah menunggu Rangga yang duduk di sofa.


" Silakan duduk Pak Tommy, Sasi.." Rangga berdiri dan mempersilkan tamunya duduk.


Tommy dan Sasi duduk di seberang Rangga. Sesat setelah duduk, Tommy memejamkan mata ketika merasakan hawa panas merasuk ke dalam tubuhnya.


Tommy yakin ini adalah saatnya. Mbah Ageng akan merasuki jiwanya.


" Bersiaplah Tom" suara berat dan berwibawa itu bergema di kepalanya. Tommy memusatkan pikirannya dan melihat mbah Ageng dan dirinya bersamaan.


Sesaat kemudian Tommy merasa jiwanya bergejolak. Ada rasa seperti tubuhnya teraduk-aduk dalam sebuah pusaran yang menggulungnya cepat. Tommy bahkan merasa sedikit mual. Tapi itu tak lama. Setelah merasa tenang, Tommy melihat dirinya sendiri namun juga melihat mbah Ageng dalam waktu yang sama. Pikirannya mendua.


Apakah seperti ini rasanya dirasuki? Tommy masih bisa merasakan dirinnya sendiri, namun disisi lain ada pikiran lain yang menguasai dirinya tanpa bisa ia kendalikan. Mbah Ageng tidak merasukinya secara penuh, dia masih bisa merasakan pikirannya sendiri.


" Kamu baik-baik saja kan Tom?" Suara mbah Ageng kembali bergema di kepalanya.


" Iya...ehm.." Tommy menghentikan ucapannya. Hampir lupa jika yang mengajaknya bicara adalah sukma mbah Ageng yang kini bersemayam dalam jiwanya.


" Saya baik-baik saja mbah." Tommy menjawab dalam hati.


" Bertindak normal saja. Kamu hadapi Rangga, mbah yang akan mencoba menguak jiwanya. Apakah dia murni atau ada yang merasukinya."


" ,Inggih mbah" bisik hati Tommy.


" Maaf, apakah Pak Tommy baik-baik saja?" Rangga menatap Tommy. Sasi ikut menoleh ke arah suaminya.


Wajah Tommy agak memucat. Namun Tommy tersenyum. " Oh saya baik-baik saja Pak Rangga, cuma agak sedikit capek, maklum pengantin baru...hahahah..."


Rangga ikut tertawa. Sementara Sasi mendengus jengah. Bisa -bisanya suaminya mengatakan hal mesum seperti itu di depan kolega.


" Ya...ya...saya maklum..." Rangga tersenyum.


" Bagaimana kalau kita langsung bicara poin penting kita?" Sasi memutus obrolan yang membuatnya jengah itu. Jangan sampai keterusan..ck...


" Terima kasih" Sasi dan Tommy bersamaan mengucap, disambut anggukan hormat Bayu. Asisten Rangga itu kemudian keluar dari ruangan.


" Bisa saya lihat rancangan yang Pak Tommy tawarkan?" tanya Rangga.


Sasi segera menyerahkan map berisi rancangan Tommy. Sesaat Sasi sempat memperhatikan raut wajah Tommy yang sedikit berubah. Kadang tampak biasa namun kadang tampak berkerut. Namun Sasi ingat pesan Tommy agar dia tenang dan tidak khawatir.


Rangga membuka map yang diberikan Sasi. Lalu mulai membaca dan melihat lembar per lembar dengan penuh perhatian dan teliti. Wajahnya tampak menunjukkan kepuasan.


Sementara itu Tommy menatap tajam Rangga. Tatapannya menghujam tepat ke jantung pria tampan itu. Antara sadar dan tiada, Tommy merasa memasuki alam pikiran dan jiwa Rangga.


Menelusuri jalan gelap berliku dan menemukan seberkas cahaya biru yang dikenalnya dengan sangat baik tengah bersemayam di sana. Jauh di lubuk hati Rangga. Menguasai jiwa pemuda itu. Ya Tuhan..! Turangga Seta!


Tommy yang tengah dirasuki ruh mbah Ageng undur diri dari perjalanannya memasuki alam pikiran Rangga. Kembali ke tubuh dan jiwa Tommy yang tengah nanar menatap Rangga.


Pemuda itu benar-benar titisan Turangga Seta. Tapi Tommy dan mbah Ageng tahu, Rangga sama sekali tidak bersalah. Pemuda itu tak sadar jiwanya dikuasai Turangga Seta. Seperti dulu Sasi pun tak sadar jiwanya tersandera belasan tahun oleh makhluk biru itu.


Rupanya Turangga Seta masih belum berdamai dengan keadaan. Makhluk itu masih penasaran akan jiwa wanita yang jadi kelangenannya ( kecintaannya).


Tommy sebagai dirinya sendiri dan sebagai Mbah Ageng mendesah kelu. Kekhawatiran mereka menjadi kenyataan.


" Mbah akan kembali Tom, nanti kita bicarakan lagi" mbah Ageng berpamitan memisahkan diri dari jiwa Tommy yang tengah dirasukinya.


Tommy mengangguk dan tiba-tiba tersentak pelahan. Terasa ada sesuatu tercabut dari dada dan kepalanya , membuat pria itu terhuyung sesaat.


" Mas?" bisik Sasi sambil memegang lengan Tommy.


Tommy mengangguk. " Sudah selesai sayang, mas nggak apa -apa" bisiknya membuat Sasi lega.


" Bagaimana Pak Rangga? Apakah rancangan saya sesuai dengan harapan pak Rangga?" Tommy membuka pembicaraan ketika melihat Rangga menutup map yang diberikan Sasi tadi.

__ADS_1


" Luar biasa Pak Tommy, ini bahkan melebihi ekspektasi saya. Saya sangat mengapresiasinya. Kita sepakat , saya menyerahkan proyek pembangunan pabrik baru saya pada tim pak Tommy" Rangga menyalami Tommy.


Tommy menggenggam erat tangan Rangga. "Terima kasih pak Rangga. "


" Tehnis pelaksanaan akan saya bicarakan dulu dengan Bayu. Nanti kita bicarakan pada pertemuan selanjutnya. Mungkin saya akan mengunjungi kantor pak Tommy jika tidak keberatan?" Rangga tersenyum puas.


" Tentu saja, saya tunggu kunjungan Pak Rangga ke kantor kami" Tommy menjawab.


" Kalau begitu kami mohon diri. Kami masih harus menghadiri meeting yang sudah dijadwalkan hari ini." Sasi mengakhiri pertemuan mereka dangan Rangga.


" Oh..silakan. Sampai bertemu lagi di kantor pak Tommy" Rangga berdiri dan mengantarkan Tommy dan Sasi hingga ke pintu ruangannya. Disana Bayu sudah menunggu.


" Mari saya antar ke bawah.." Bayu menunduk hormat pada Tommy dan Sasi. Pemuda itu membukakan pintu lift dan ikut mengantar Tommy dan Sasi hingga ke depan lobby kantor Rangga.


Bayu baru meninggalkan Sasi dan Tommy saat kedua tamu bossnya itu sudah memasuki mobil dan meninggalkan halaman kantor.


Di ruangannya yang dingin dan nyaman, Rangga menyandarkan kepalanya ke sofa. Matanya terpejam. Wajah Sasi yang cantik kembali terbayang di kepalanya.


" Ibuu..anakmu sudah gila. Entah apa yang akan ibu katakan kalau tahu aku tergila-gila pada istri orang" Rangga tertawa-tawa seidiri.


" Tapi aku harus memilikinya bu, jika tidak, aku akan terus penasaran dan menginginkannya sepanjang hidupku. Aku takkan bisa tenang. Entah bagaimanapun caranya aku akan memiliki Sasi."


" Sasi hanya milikku...Sasi kekasihku" Rangga sudah tak peduli lagi. Rangga sudah kehilangan kendali atas perasaannya sendiri tanpa dia sadari. Kini Turangga Seta telah menguasai seluruh jiwanya.


" Bayu...masuk kamu! " titah Rangga di telpon.


Tak lama Bayu sudah duduk di depan meja kerja Rangga.


" Ini draft kerja sama dengan Perdana Adhikarya. Kamu pelajari lagi detailnya. Aku sudah setuju memakai mereka untuk pabrik baru kita" Rangga menyerahkan dokumen dari Tommy pada Bayu.


" Baik pak. Akan saya pelajari secepatnya" jawab Bayu.


" Kalau sudah beres, segera jadwalkan pertemuan dengan mereka. Aku ingin pabrik kita segera terealisasi." lanjut Rangga.


" Baik pak. Saya permisi" Bayu beranjak dari depan bossnya.


" Nggak pake lama ya Bay..." seru Rangga sebelum Bayu membuka pintu.


" Siap pak" jawab Bayu. Namun dalam hatinya menggerutu. Dipikir mempelajari kontrak kerja sedemikian besar gampang? Main cepet-cepet. Nanti kalau ada yang keselip atau sedikit salah, aku juga yang kena getahnya. Nasib bawahan....


" Nggak usah ngomel dalam hati Bay..." Rangga tiba-tiba sudah berdiri di belakang Bayu.


Pemuda itu sampai terjingkat karena kaget. Ya ampun boss ini pakai ilmu terbang apa? Nggak kedengaran langkah kakinya tahu-tahu sudah nongol dibelakangku. Bayu memegangi dadanya.


" Oh..nggak pak!" jawabnya terbata. Segera berjalan ke mejanya meninggalkan Rangga yang terkekeh menertawakan asistennya itu.


Di dalam mobil Tommy dan Sasi masih membicarakan Rangga.


" Mas nggak enak badan ya?" tanya Sasi saat keduanya sudah duduk di mobil dan meninggalkan kantor Rangga.


" Nggak sayang...mas baik-baik saja." jawab Tommy kurang meyakinkan. Karena Sasi melihat wajah Tommy masih sedikit pucat.


" Apa pertemuan selanjutnya nggak bisa ditunda mas? Kelihatannya mas kurang fit deh" lanjut Sasi tak percaya kata-kata Tommy. Tangannya terulur ke kening Tommy, tidak panas. Sasi agak lega.


" Nggak bisa sayang, ini sudah tertunda seminggu lebih."


" Oke. Kalau begitu setelah meet sama klien dari Jepang ini, kita pulang saja ya sayang...istirahat. Biar kantor diurus Reza dulu." Sasi mengusap pipi Tommy lembut.


Tommy tersenyum. " Kalau sudah begini, mas mana bisa nolak sayang...mas nurut sama dek Sasi saja.." Tommy mengecup bibir istrinya lembut.


" Mas...Dilihat Jono tuh! Kebiasaan main nyambar aja sembarangan.." wajah Sasi merona.


Jono mengelus dada. Berdoa dalam hati. Kapan Tuhan akan mempertemukannya dengan pasangan jiwa secantik Sasi? Selembut Sasi dan sebucin Sasi?

__ADS_1


__ADS_2