
Mbah Ageng dan Tommy tunduk dalam penyerahan diri pada Sang Maha Kuasa. Membuang semua ego dan keinginan duniawi untuk sejenak. Memusatkan nalar dan pemikiran pada niat murni mengasah diri. Tanpa tendensi nafsu dan keinginan jahat lainnya.
Membersihkan hati dari iri dengki, dari dendam dan kebencian. Membuang semua luka dan sakit hati. Tunduk dalam renung dan keikhlasan hati.
" Kali ini mbah akan mencoba mengajarkanmu cara menyentuh mereka yang ada dalam dunia lain. Kamu sudah bisa melihat dengan mata hati, bahkan sesuatu yang tersembunyi dibalik sebuah benda. Ini tdak akan sulit." Mbah Ageng memberi semangat pada Tommy.
" Menyentuh disini bukan seperti kita menyentuh benda kasat mata. Bukan menyentuh raga atau jasad kasar. Karena pada dasarnya yang kita lihat di dunia tak kasat mata adalah roh atau sukma, jiwa dari makhluk hidup itu sendiri. Jadi jika kita menyentuh mereka di alam lain, yang bisa kita sentuh adalah sukmanya, jiwa dan rohnya. Kedalaman hatinya. Bukan wadah kasar atau jasadnya. Kamu mengerti Tom?"
" Mengerti mbah" jawab Tommy dalam diamnya.
" Makanya jika ada orang yang mempelajari ilmu hitam untuk menyerang orang lain lewat alam roh, -- wadah atau jasad orang yang diserang tidak tampak mengalami luka. Karena sejatinya yang diserang dan terluka adalah sukma, jiwa mereka." lanjut Mbah Ageng.
" Termasuk seperti ilmu santet ya mbah. Apakah itu benar-benar ada?" Tanya Tommy.
" Apakah menurutmu ada Tom?" mbah Ageng menguji Tommy.
" Setelah melalui pengalaman batin yang sangat menakjubkan, saya jadi tahu bahwa segala sesuatu yang tidak pernah kita lihat, bukan berarti itu tidak ada. Mungkin saja itu seperti yang mbah bilang. Ada tapi saya tidak tahu dan tidak bisa menjangkaunya. Atau bisa jadi saya memang tidak mau memikirkannya."
Mbah Ageng tertawa. "Aku tidak salah menilaimu Tom. Sasi beruntung menemukanmu. Anak itu jiwanya rapuh karena terlalu lama disandera jiwa penasaran itu. Cuma kamu yang bisa melawan makhluk itu dan menguatkan kembali jiwa Sasi."
Tommy merebak nelangsa. Ternyata dibalik wajah cantik dan sikap menyenangkan Sasi , jiwanya digerogoti makhluk lain yang celakanya tidak pernah Sasi sadari. Makhluk biru itu sangat kurang ajar. Berani-beraninya menyiksa Sasiku demikian lama. Tommy mengepalkan tangannya.
Mbah Ageng tersenyum maklum. Jiwa muda yang masih penuh amarah. Tapi jika ingin memenangkan pertarungan Tommy harus membuang semua angkara di hatinya.
" Kalau kamu sudah murka sebelum bertarung, kamu sudah kalah setengah pertarungan Tom. Jika ingin menolong Sasi, niatkan menolong karena kamu menyayangi, mencintai orang yang akan kamu tolong. Menyelamatkan Sasi. Bukan berniat menghancurkan atau melenyapkan makhluk lain untuk menolong. Itu sangat berbeda maknanya. Kamu mengerti Tom?"
Tommy mengangguk. Meski tak berkata-kata, Tommy yakin mbah Ageng tahu apa yang dipikirkannya. Pria gagah itu menarik nafas pelan dan mengeluarkannya pelahan, seakan membuang hawa jahat dari dalam tubuhnya.
Aku ingin membantu Sasi. Aku ingin menolong kekasihku agar jiwanya bebas dari makhluk itu. Aku mencintai Sasi. Aku akan menyelamatkan kekasihku.
" Jadi jika saya bisa membebaskan Sasi tanpa pertumpahan darah, itu akan jauh lebih baik. Menang tanpa berperang jauh lebih mulia. Karena saya tidak punya niat jahat terhadap makhluk lain. Hanya ingin berbuat baik untuk Sasi. Maksud mbah begitu kan?" Tommy mulai memahami maksud orant tua itu.
Mbah Ageng terkekeh senang. Merasa ikut bangga bahwa Tommy dengan cepat menguasai ilmu pengendalian diri.
" Syukurlah kamu sudah memahaminya Tom. Jadi jika mbah mengajarkan sesuatu yang bersifat perlawanan, kekerasan, itu hanya boleh kamu gunakan disaat-saat mendesak dan tak terkendali lagi. Yang utama, usahakan dengan perdamaian lebih dahulu."
" Baik mbah. Saya mengerti." Tommy mengangguk patuh.
Malam terus berlalu. Tommy seakan berada di dimensi lain kehidupan. Menembus batas mata dan mata hati. Melintas batas raga dan sukma sejati. Menyelami telaga penuh ilmu yang selama ini bahkan tak pernah terpikir akan mempelajari dan menguasainya sedemikian rupa. Demi Sasiku...bisik hatinya.
Hampir subuh ketika Tommy menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumah mbah Ageng. Tapi matanya bahkan belum mengantuk sama sekali.
Semua yang dilihat dan dipelajarinya dari mbah Ageng hari ini seakan menari-nari di pelupuk matanya. Mulanya terasa berat dan menyesakkan. Tapi begitu mengingat betapa tersiksanya jiwa Sasi demikian lama, semangatnya menyala kembali. Demi Sasiku...lagi-lagi nama indah itu menguatkannya.
Ingin menyapa dan mendengar suara kekasihnya itu, namun diurungkannya demi melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
Mimpi indah sayang, aku akan selalu menjagamu...Tommy mengirimkan pesan manis ke nomor Sasi. Lalu merebahkan dirinya ke ranjang.
Tak lama, sudah terdengar deru nafasnya yang teratur.
Di tempat mbah Ageng, orang Tua itu masih setia bersila di pendopo belakang rumahnya. Dia hendak beranjak ketika sekelebat bayangan biru menampakkan diri di depan matanya.
__ADS_1
Pemuda dari alam lain itu berdiri angkuh di depannya. Sorot matanya nyalang menatap penuh ancaman.
" Kau pikir aku takut padamu dan bocah ingusan itu" suara-suara bergema di kepala mbah Ageng.
" Tuan, saya mohon. Berikan sedikit rasa iba dan relakan Sasi. Kami sama sekali tak berniat melawan atau menantangmu. Kami hanya ingin gadis itu bisa menjalani hidupnya dengan baik. Tanpa terikat dengan sesuatu yang tak semestinya." bisik mbah Ageng memohon dengan tulus.
Bayangan lelaki beraura biru itu menyeringai. Mengibaskan tangan lalu menghilang dari pandangan mbah Ageng. Meninggalkan angin dingin menusuk tulang.
Mbah Ageng menghela nafas panjang. Benar-benar makhluk keras kepala. Semoga sebelum hari pernikahan ,semua bisa diatasi dan kembali normal. Batin mbah Ageng berkata-kata.
Di kamar Sasi, gadis itu terbangun menjelang jam empat pagi. Dia tak merasa bermimpi, tapi seperti ada seseorang membangunkannya.
Sasi menggigil merasakan udara di kamarnya . Dimatikannya AC kamar dengan remotenya. Hawa dingin ini persis seperti saat Sasi hampir pingsan di pendopo . Saat itu angin kencang tiba-tiba bertiup dan membuatnya seakan kram, membeku tak mampu bergerak.
Sasi jadi waspada. Diambilnya jaket rajut dari lemari. Dilangkahkannya kakinya yang mulai berat keluar kamar. Menuju ke dapur untuk membuat air jahe.
Aku harus menghangatkan badanku agar tak sampai kram seperti saat itu. Sasi berpikir sendiri.
Sampai di dapur ternyata Rumi sudah bangun dan mulai bekerja disana.
" Mbak Sasi kok sudah bangun? "tanya Rumi heran. Tak biasanya nona mudanya itu bangun subuh-subuh.
" Aku kedinginan Mbak Rumi. Tolong buatin wedang jahe ya.?" jawab Sasi.
" Iya mbak, tunggu sebentar. Saya buatkan."
Tak sampai sepuluh menit wedang jahe panas sudah tersaji di depan Sasi. Gadis itu meminum air jahe itu panas-panas dengan menggunakan sendok.
" Keburu pingsan mbak.." Jawab Sasi sekenanya.
Rumi mengerutkan dahi tak mengerti. Tapi kemudian berpikir mungkin Sasi sangat kedinginan.
" Saya tinggal kerja ya mbak, sudah nggak kedinginan kan?" tanya Rumi.
" Iya mbak, sudah lumayan anget. Makasih ya?" ucap Sasi tulus.
" Nggeh mbak. Sami-sami" jawab Rumi lalu bergegas melanjutkan pekerjaannya. Menyiapkan sarapan untuk majikannya.
Tak lama kemudian ibu tampak keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk membantu Rumi seperti biasanya.
" Lho Sas, kenapa kamu? Pagi-pagi minum jahe. Masuk angin lagi? " Tanya ibu ketika melihat Sasi duduk di meja makan. Dirabanya kening Sasi. Tidak panas. Syukurlah.
" Nggak bu. Cuma kedinginan saja. Takutnya bablas kram kaya waktu itu. Makanya Sasi buru-buru minta mbak Rumi bikin air jahe panas." Sasi tersenyum menenangkan ibu.
"Syukurlah. Kamu ke kamar saja. Lanjutkan istirahat. Ibu mau bantu Rumi" kata ibu sambil berlalu ke dapur.
" Tanggung bu. Sasi ikut bantuin mbak Rumi aja." Sasi menyusul di belakang ibu.
Sasi sadar akhir-akhir ini ia begitu sering membuat semua orang khawatir. Dan itu Sasi ingat , terjadi sejak dia memimpikan orang aneh yang mengaku-aku kekasihnya itu.
" Aku harus benar-benar mencari tahu siapa orang itu. Mungkin aku harus bertanya pada ibu." Sasi membatin.
__ADS_1
" Kalau di dapur jangan melamun. Nanti bisa gosong masakannya. Masih untung kalau cuma masakan yang gosong. Kalau tangan atau rambutmu ikut gosong piye( bagaimana)..?" ibu menegur Sasi.
Sasi dan Rumi tertawa.
' Iya-iya bu, jangan galak-galak napa? Ini sudah bagus Sasi mau bantu-bantu..hehehe.." Sasi mencium pipi ibunya. Ibu cuma mencebik.
" Baru sadar dia Rum...mau kawin gak bisa masak. Telat..kawinnya tinggal beberapa hari lagi " sindir ibu lagi.
Rumi tertawa.
" Wes ta bu...jangan bikin Sasi gak percaya diri. Lagipula Mas Tommy gak keberatan kok. Hehehe..." Sasi membela diri.
" Hmmm gaya...mentang-mentang mas Tommynya bucin ya bu...biar gak bisa masak tetep cintaaa..." Rumi ikut-ikutan meledek Sasi.
Ketiganya tertawa bersamaan. Dapur pagi itu jadi ramai karena ibu dan Rumi bergantian menggoda Sasi.
Selesai membantu memasak, Sasi bergegas bersiap ke kantor. Saat masuk kamar, Sasi melihat Ponselnya di nakas. Senyumnya terbit begitu mendapati chat dari Tommy.
Sudah jam tiga tadi. Pesan yang manis dan membuat hatinya berbunga-bunga.
" Good morning mas Bossku...udah bangun belum?" Sasi mengirimkan pesan ke nomor Tommy.
Tak ada jawaban. Jangan-jamgan dia masih tidur gara-gara begadang di rumah mbah Ageng.
Sasi menekan tombol panggilan.
Calling Mas Boss....
Dua, tiga...hingga panggilan ke lima barulah Tommy mengangkat panggilannya.
" Mas?" sapa Sasi
" Halo sayang...maaf baru bangun nih.." Suara serak Tommy menyapanya. Khas suara orang bangun tidur.
" Maa sakit? " tanya Sasi
" Nggak sayang. Cuma masih ngantuk..hehe...tadi malem pulang jam tiga."
" Tuh kan, aku nggak boleh begadang, dianya malah pulang pagi" Sasi menggerutu.
Terdengar Tommy tertawa. " Ini demi kamu sayaang..." jawab Tommy. " Emm makasih ya udah dibangunin...mas mandi dulu ya..tunggu di rumah, mas jemput. Pagi ini mas ngajak Jono. Soalnya masih agak ngantuk" Tommy menutup panggilannya.
Sasi tersenyum. Lalu melanjutkan bersiap ke kantor.
**********
Part ini agak berat ya...tapi readers gak usah iku mikir. Tinggal baca dan nikmati saja. Mudah-mudahan menambah pengetahuan dan pengalaman membaca. Ambil yang baik dan buang yang tak berguna.
Seperti biasa ditunggu tanda cintanya...vote,hadiah, komen dan likenya...Matur nuwuun...
Happy reading....
__ADS_1