
" Sasiii...dasiku berantakan gak?" Tommy menarik tangan Sasi.
" Hmm..sini aku rapiin. Makanya pagi-pagi jangan minta aneh-aneh. Jadi berantakan semua. Terpaksa aku mundurin meeting 30 menit. Habis mas males-malesan gitu. Kalau gini caranya aku mau resign aja."
" Jangan dong...tapi memang aku sudah mau mulai kurangin kerjaan kamu. Kerjaan kamu nanti aku bagi dua sama Reza. Mungkin mulai bulan depan sudah jalan."
" Maksudnya gimana mas?"
" Reza aku plot jadi sekretaris sekaligus wakilku. Kamu tetep aspri ku. Asisten kesayangan..." Tommy mengecup kepala Sasi yang sedang merapikan dasinya.
Sasi tersenyum. "Kenapa, mas nggak puas dengan hasil kerjaku?"
"No, justru ini buat masa depan kita sayang. Kantor kita makin besar. Kerjaan kamu juga makin banyak. Memang sudah seharusnya kamu ada yang bantu. Aku mau kamu lebih fokus ke aku saja. Ke keluarga kita nanti. Kantor biar aku yang urus, kamu nggak perlu capek-capek kerja pun aku malah seneng. Tapi kalau kamu masih ingin kerja, aku juga gak masalah. Selama kerjanya sama aku...jadi mood booster aku.." Tommy tersenyum menggoda.
" Bossku sekarang modus melulu" Sasi menepuk dada Tommy pelan setelah merapikan dasinya.
" Modusin calon istri sendiri. Sah-sah saja.." Tommy tertawa.
" Belum sah mas..." Sasi menyela.
" Soon baby..If you say yes, We're getting married now." bisik Tommy mesra. di telinga Sasi.
" Stop it boss.." Sasi tersenyum jengah. Tommy tertawa.
" Minggu aku jemput pagi, kita ke rumah ketemu papa. Jangan lupa." Tommy mengusap lembut kepala Sasi.
"Oke. Ayo, Mereka sudah nunggu kita di meet room mas." Sasi keluar ruangan mendahului Tommy. Lelaki itu menyusulnya dan berjalan menjajari langkah Sasi.
Meeting berjalan lancar dan cepet. Saat itu juga Tommy mengumumkan pengangkatan Reza sebagai Sekretaris dan Wakil Direktur.
Tepuk tangan membahana di ruang meeting. Semua manager dan kepala devisi bergembira menyambut promosi jabatan Reza. Karena Reza memang layak mendapatkannya.
Setelah Tommy, Reza adalah orang yang selalu berhasil mendapatkan proyek-proyek besar untuk kantor mereka. Lagipula Reza bukan orang yang sombong atau sok dengan keberhasilannya. Dia adalah sosok ramah dan selalu siap membantu siapa saja. Jadi tak ada yang keberatan dengan kenaikan jabatan Reza.
"Terima kasih pak boss atas kepercayaannya juga teman-teman semua atas dukungan dan bantuannya selama ini. Mari kita lanjutkan kerjasama dan kerja keras kita untuk keberhasilan kantor kita. Sukses!" sambut Reza setelah Tommy mengumumkan promosinya.
__ADS_1
" Woahh..congragulation broo...kita akan sering ketemu sekarang.." Sasi memberi Reza toss. Dibalas dengan senyum merekah oleh Reza.
" Kamu gapapa kan kerjaan kamu sebagian dikasih ke aku? Ini juga demi kamu, agar bebanmu sedikit berkurang saat sudah menikah nanti. Jadi kamu bisa lebih fokus ke keluargamu..boss bilang gitu sih....ish...masih sakit hatiku Sasiii" Reza mendecak sambil menekuk wajahnya. Teringat lagi cintanya yang layu sebelum berkembang.
" Ooiiii.bapak wakil direktur, gak boleh galau-galau gitu. Ini hari bahagia kamu naik jabatan Za. Traktir kek kita- kita..."Sasi menonjok pelan lengan Reza. Pemuda itu tersenyum kecut.
" Iyaaa...ayo kutraktir makan siang. Apa si yang enggak buat Sasiiii..."
" Masa Sasi doang yang ditraktir..aku juga doong.." Davin tiba-tiba sudah bergabung dengan mereka berdua. Disusul rekan-rekan lain yang tadi ikut meeting.
Reza tertawa-tawa. " Wahh...naik gaji aja belum, udah disuruh traktir orang sekampung. Oke-okeee...kita pesen pizza aja gimana? Kita makan rame-rame disini.."
" Deal!" semua setuju. Dan Siang itu mereka merayakan promosi jabatan Reza dengan makan pizza plus minuman ringan dan snack bersama .
Tommy ikut bergabung menambah ramai suasana. Saat Tommy bergabung, sebenarnya semua yang ikut meeting agak canggung mengingat biasanya boss mereka itu selalu bersikap kaku dan anti sosial. Namun siang itu merka melihat Tomy yang lain dari biasanya. Tommy bahkan mau berbaur dan sesekali menimpali canda tawa mereka. Sehingga lama- kelamaan kecanggungan itu memudar. Berganti kebersamaan yang menyenangkan.
Saat jam istirahat habis mereka semua kembali ke ruangan masing-masing. Reza memanggil OB untuk membersihkan kembali ruang meeting. Tak lupa sekotak pizza dan beberapa lembar uang berwarna merah Reza selipkan untuk OB dan teman-temannya sebagai tanda terima kasih.
Meakipun pada dasarnya membersihkan ruang memang tugas OB. Tapi bagi Reza tak ada salahnya berbagi dan memberi sedikit kebahagiaan pada mereka di hari bahagianya ini.
Sasi sedang mengerjakan tugasnya di sofa. Sementara Tommy juga sibuk dengan laptopnya di sebelah sasi.
" Sudah selesai mas. Aku siap-siap pulang dulu ya..? Sasi beranjak dari duduknya. Tapi Tommy menahannya. Memegang tangannya dan mengecupnya sekilas.
" Oke. Aku bentar lagi juga kelar. Tunggu aku ya...kita makan malam bareng."
" Oke" jawab Sasi tersenyum.
Sasi segera membereskan semua pekerjaan di ruangannya. Memeriksa semua file dan mempersiapkan pekerjaan untuk esok pagi.
Baru saja hendak duduk untuk menunggu Tommy, Boss tampannya itu sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Jas dan dasinya sudah dlepas. Tinggal kemeja abu-abu yang lengannya sudah digulung sampai siku. Masih sangat tampan...bisik hati Sasi.
" Lets go baby..." Tommy mengangkat sikunya disambut tangan Sasi yang melingkar di lengannya.
Semua karyawan sudah pulang . Hanya satu-dua orang yang masih bekerja lembur di ruangan masing-masing. Tapi Tommy dan Sasi tak sadar ada sepasang mata yang melihat kemesraan mereka bergandengan tangan dan saling berbisik.
__ADS_1
Orang itu mengawasi keduanya hingga mereka sampai di area parkir dan Tommy membukakan Sasi pintu mobil sebelum masuk ke mobil dan mengemudikannya keluar halaman.
Di mobil Tommy mulai membuka pembicaraan tentang papanya.
" Papaku pengusaha Sas, kami punya saham yang lumayan besar, hampir 75 persen di pabrik rokok itu. Dan papa mengatas namakan saham itu masing-masing untukku, Baskara dan papa sendiri."
" Kenapa mas tidak mengelola pabrik itu saja? Malah repot merintis usaha sendiri dari nol." Sasi ingin tahu.
" Dulu rencana papa mama begitu, tapi passionku kayanya lebih ke usaha aku sendiri. Dan buktinya aku bisa" Tommy menatap Sasi.
" Iya...mas hebat. Mas pasti bangga bisa sukses dari usaha sendiri, apalagi ini sesuai passion mas."
Tommy tersenyum bangga. Dipuji kekasih hati rasanya sesuatu banget...
" Biar Baskara saja yang meneruskan usaha papa" Tommy bergumam sambil membelokkan kemudi ke sebuah restauran.
"Tapi kamu jangan kaget kalau ketemu papa." Tommy mengguman saat mobil sudah berhenti di parkiran restauran.
" Kenapa kaget mas? Emang muka papa mas nyeremin? Ngga mungkin lah...anaknya ganteng gini..." Sasi tertawa tertahan. Dasar mulut ember...rutuk Sasi dalam hati. Sasi merasa malu keceplosan. Tapi Tommy malah tertawa senang.
" Calon istriku jujur banget sih, jadi makin sayang..."
" Ih...itu keseleo lidah mas" Sasi cengar-cengir.
" Oh...mau dilurusin lidahnya biar gak keseleo lagi?" Tommy merangsek mendekat ke arah Sasi. Matanya menatap bibir Sasi lekat.
Gadis itu buru-buru melepas seatbelt dan turun dari mobil. Meninggalkan Tommy yang makin keras tertawa.
Selalu menyenangkan menggoda kekasihnya itu.
Tommy merengkuh pundak Sasi lembut . Keduanya beriringan masuk ke dalam restauran .
" Tadi belum dijawab, kenapa aku harus kaget ketemu papanya mas?" Sasi masih penasaran.
" Nanti aja dilanjutin ceritanya. Sekarang kita makan dulu." Tommy segera membuka buku menu begitu mereka duduk dan disambut pegawai restauran.
__ADS_1