Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Menerima Tantanganmu


__ADS_3

Tommy benar-benar menahan dirinya. Sudah dua hari ini berpuasa. Menahan segala amarah dan berusaha sabar menghadapi semua masalah.


Siksaan paling berat adalah menahan rindunya pada sang pujaan hati. Sasi. Jika biasanya dia masih bisa mencuri-curi waktu bertemu lewat video call atau sekedar lewat suara, sekarang dia harus bisa melupakan Sasi sejenak.


Mencoba berdamai dengan keadaan. Menahan diri dari godaan nafsu dan keinginan dunia. Berusaha berkonsentrasi pada satu niat suci untuk mempersunting Sasi. Melindungi dan mencintainya seumur hidupnya. Membersihkan dirinya, jiwa dan raganya dari debu dunia.


Menahan haus dan lapar sungguh tak ada artinya dibandingkan menahan hasrat hati yang tak terbendung. Tapi demi mengingat akan Sasi yang masih terbelenggu oleh gangguan makhluk lain, membuat tekad Tommy bulat untuk menuntaskan puasanya. Hingga tak terasa hari ini adalah hari terakhirnya berpuasa.


Dan esok adalah hari bahagia mereka. Hari ini mereka berdua harus menjalani prosesi siraman. Sasi melakukan siraman di rumahnya. Tommy juga menjalani siraman di rumah yang selama ini ditinggali Baskara.


Upacara yang bertujuan membersihkan jiwa pengantin dari kotoran dunia. Sebagai simbol, diharapkan kelak kedua mempelai dapat berperilaku, berkata-kata dan berpikir bersih dalam pernikahan mereka.


Barata dan Palupi serta beberapa sesepuh keluarga mereka sudah siap melaksanakan siraman. Semua persiapan sudah dilakukan oleh EO yang mereka sewa, kecuali air siraman dari tujuh sumur, yang disiapkan sendiri oleh para sesepuh keluarga Barata dan sesepuh keluarga Sasi


Di rumah Sasi, keluarga besar Sasi juga sudah bersiap melaksanakan upacara yang sama. Sasi sudah didandani menggunakan kemben batik dengan rangkaian bunga melati menghiasi rambutnya. Wajah cantiknya semakin bersinar layaknya bidadari meskipun tanpa riasan mencolok.


Sebelum siraman, acara dimulai dengan sungkeman ( mohon doa restu) kepada orang tua calon mempelai.


Ibu didampingi salah satu sesepuh keluarga mereka duduk di kursi yang sudah disediakan. Sasi tunduk menjatuhkan kepalanya ke pangkuan ibu. Air matanya mengalir tak tertahan ketika memohon restu pada wanita cantik paruh baya yang sudah melahirkannya itu.


" Bu...Sasi mohon doa restu dari ibu. Sasi akan memulai hidup baru dengan orang yang Sasi cintai. Doakan agar rumah tangga Sasi dan mas Tommy langgeng dan selalu dikaruniai kebahagiaan." bisik Sasi terbata-bata.


Lupa sudah semua kata-kata penuh makna yang sudah disusunnya. Yang teringat dan terbayang hanya kasih sayang ibunya, kelembutan dan cintanya pada putrinya . Perjuangannya membesarkan anak-anaknya hingga berhasil seperti sekarang. Dan yang paling menyesakkan adalah mengingat kini ibu sendiri sepeninggal ayahnya.


Sasi nelangsa, di hari bahagianya ayahnya tak bisa mendampinginya. Sasi yakin ibu pun berlinang air mata karena terkenang sang ayah tercinta.


" Ibu merestuimu nduk. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ibu. Ingat pesan ibu kemarin ya..ibu akan selalu mendoakanmu" ibu mengelus kepala dan rambut Sasi yang tergerai. Ibu dan anak itu bahkan berpelukan sambil tersedu .


Sasi terisak haru dan bahagia karena sebentar lagi akan merasakan babak baru dalam kehidupannya. Menjadi istri, dan ibu kelak.


Sementara ibu, merasakan kebahagiaan tak terkira karena mbarepnya (sulungnya) akhirnya menemukan pasangan jiwa. Setelah sekian lama hatinya tertutup dan membuatnya frustasi karena takut putrinya akan jadi perawan tua dan lebih parah lagi jadi istri makhluk tak kasat mata.


"Anakku sayang, berbahagialah. Ibu yakin calon suamimu adalah orang yang tepat yang akan selalu menjaga dan melindungimu seumur hidupmu." Ibu memeluk erat Sasi.


Selesai sungkeman, dilanjutkan dengan acara siraman. Siraman sendiri merupakan simbol pembersihan jiwa dan diri calon pengantin.


Sasi duduk di tikar dan dimandikan oleh sesepuh keluarga, juga ibunya dengan air yang berasal dari tujuh sumur ( di jaman sekarang jarang ada sumur, jadi biasanya diganti air dari tujuh tempat berbeda yang dianggap baik )


Air yang sama diserahkan pada pihak keluarga Tommy untuk prosesi siraman mempelai pria.


Acara berlangsung khidmad dan penuh haru. Usai siraman Sasi dipaes ( dirias) dan dikerik bulu dan rambutnya sebagai simbol meninggalkan masa lajang dan memasuki dunia pernikahan. Hingga terakhir acara midodareni yang akan digelar nanti malam.


Sasi sudah berharap nanti malam bisa melihat wajah yang sangat dirindukannya seminggu ini, terlebih tiga hari terakhir dimana dirinya dan Tommy melakukan puasa dan sama sekali tak boleh bertemu meskipun lewat ponsel. Karena Sasi mendengar acara midodareni akan jadi ajang perkenalan dua keluarga agar lebih akrab dan intim.


Namun Sasi harus kembali menelan kekecewaan dan terpaksa menahan lebih lama lagi rindu yang menggunung, karena ternyata calon mempelai pria tak diizinkan ikut melihat calon mempelai wanita bersama keluarga yang datang ke rumah mempelai wanita.


Padahal Sasi sudah berdebar-debar saat melihat Barata dan Palupi plus Lily dan Rose, Baskara, dan beberapa sesepuh keluarga Tommy datang di malam midodareni itu.


" Kamu cari sopo( siapa) mbak?" tanya Palupi menggodanya.


" Enggak.." elak Sasi malu.


" Kapok ra iso ketemu. Wong manten kakung ora oleh melu. Saru, ora oleh ketemu manten putri sak durunge temu manten sesuk" (Sukurin gak bisa ketemu. Calon mempelai pria dilarang ketemu calon mempelai wanita sebelum acara temu pengantin besok).


Palupi berbisik di telinga Sasi dengan nada mengejek. Membuat Sasi kesal setengah mati dan mencubit gemas pinggang adiknya sekaligus mertuanya itu.

__ADS_1


Palupi meringis namun kemudian makin keras tertawa menggoda Sasi.


" Ciee..ada yang kangen nggak kesampaian..." goda Palupi agak keras sehingga didengar Retno dan suaminya bahkan Baskara yang ada di dekat mereka.


Wajah Sasi sudah memerah menahan malu. Apalagi ketika semua jadi tertawa mendengar ledekan Palupi padanya.


" Dasar mertua durhaka! Mulih kono pi ( Pulang sana Pi)! " geram Sasi sambil melotot ke arah Palupi. Adik merangkap mertuanya itu malah memasang wajah tertawa mengejek Sasi.


Dan Sasi sukses jadi bulan-bulanan ejekan, ledekan dan godaan semua orang malam itu. Gadis cantik itu akhirnya pasrah saja menerima semua kelakuan saudara-saudaranya yang malam itu sepertinya sengaja ingin membuatnya mati kutu tak berdaya.


Sasi bahkan akhirnya ikut dalam euforia kebahagiaan yang dirasakan semua orang malam itu. Saling bercanda dan membalas godaan serta ledekan saudara-saudaranya. Berkenalan dan saling menyapa dengan anggota keluarga Barata yang datang malam itu


Semua larut dalam suasana bahagia menjelang hari pernikahan Tommy dan Sasi esok hari.


Tak ada seorangpun dari mereka yang menyadari, ada sepasang mata setajam elang berlilat-kilat penuh angkara menatap mereka dari sudut halaman rumah Sasi.


Hanya mata hati yang terlatih saja yang bisa melihat sesosok makhluk yang dikelilingi pendar cahaya biru itu.


Mbah Ageng mengerutkan dahinya. Wajahnya menegang demi melihat Rangga dengan tatapan penuh amarah berada di rumah Sasi.


Agaknya, perang tanding kanuragan antara Tommy dan Rangga tak akan bisa dielakkan lagi untuk menyelamatkan Sasi.


Sebenarnya ibu sudah meminta mbah Ageng agar menginap di rumah Sasi untuk mengantisipasi kedatangan tak terduga Rangga. Namun mbah Ageng menolaknya karena masih harus mempersiapkan segala sesuatu jika tanding adilaga itu akan benar-benar terjadi.


Secepat kilat mbah Ageng berdiri di belakang Sasi. Tak ada yang menyadari kehadiran Mbah Ageng selain Rangga.


Makhluk biru itu menyeringai mengerikan.


" Kau Tuan kenapa sangat keras kepala? Tempatmu bukan disini. Pergilah dengan damai dan tenang. Aku tak akan ikut campur kemana kau akan pergi. Asal kau tinggalkan Sasi!" kecam mbah Ageng menahan marah.


"Tapi kau mengganggu penghuni di sini. Kau mengganggu Sasi Tuan!" bentak mbah Ageng keras.


" Ada kuasa apa kau melarangku mengganggu seseorang atau tidak? "


" Demi kemanusiaan Tuan. Tempatmu bukan di alam fana ini lagi. Apa kau sadar ? Harusnya kau lebih sadar karena usiamu jauh di atasku."


" Hentikan aku kalau kamu bisa...hahaha..." makhluk biru itu menghilang secepat kilat. Meninggalkan gema tawanya yang mengerikan.


Di rumahnya Tommy tiba-tiba tersentak dari lamunannya. Terakhir kali Tommy tersentak seperti ini, saat itu Sasi sedang bertemu dengan Rangga.


Tommy segera mengheningkan cipta dalam penyerahan diri . Mengingat dan memanggil satu nama yang saat ini sedang dikhawatirkannya.


Benar saja. Saat ini dilihatnyan Sasi tengah berkumpul bersama keluarga nya dan keluarga besar calon istrinya itu dalam acara midodareni.


Tommy terkejut mendapati mbah Ageng sudah berdiri di belakang Sasi. Mbah Ageng tampak dalam wujud yang sama dengannya sehingga tak seoramgpun sadar akan kehadiran pria tua itu. Wajah pria tua itu tampak tegang menghadap ke suatu arah.


Mengikuti arah pandangan mbah Ageng Tommy segera menangkap sesosok bayangan beraura biru di sudut halaman rumah Sasi.


Kurang ajar. Berani-beraninya dia muncul di acara keluarga seperti ini. Apakah dia mulai mengibarkan bendera perang dengan terang-terangan? Tangan Tommy terkepal kuat.


Tak lama dilihatnya mbah Mbah Ageng seperti sedang berbicara melalui kontak batin dengan Rangga. Mbah Ageng tampak geram namun masih berusaha menahan diri. Sementara Rangga jelek itu menyeringai menantang.


Tommy tak berani bertindak gegabah . Setidaknya ada mbah Ageng yang melindungi Sasi . Dia tak berani gegabah lagi. Khawatir tindakannya malah akan melukai Sasi atau keluarga besar mereka di sana.


Ketika rahang mbah Ageng mulai mengeras menahan marah, Tommy bersiap untuk membantu orang tua itu jika dibutuhkan. Suasana begitu mencekam bagi Tommy, padahal di rumah Sasi, keluarga besar kedua mempelai tampak bahagia. Saling mengenal dan mendekatkan diri sebagai anggota keluarga baru.

__ADS_1


Sungguh Keadaan yang sangat kontras. Ceria dan bahagia di luar, namun mencekam di dalam. Di alam tak kasat mata yang saling bersinggungan dengan alam manusia fana.


Tommy baru bernafas lega ketika Rangga menghilang dari rumah Sasi. Bayangan biru itu melesat entah kemana. Tampak mbah Ageng juga bernafas lega sekali.


Mbah Ageng undur diri dan menghilang dari belakang Sasi. Tommy tak bisa berbuat lebih selain hanya melihatnya saja. Lebih tepatnya belum tahu caranya mengejar bayangan seseorang di alam tak kasat mata.


Tengah memikirkan cara penerapan ilmu bela dirinya,di saat diperlukan seperti ini,Tommy dikejutkan kehadiiran Mbah Ageng tepat di depannya.


Tommy berjingkat pelan. Mbah Ageng terkekeh.


" Makanya konsentrasi , kewaspadaan dan kesadaran diri itu sangat penting Tom. Jadi kamu taidak akan terkejut seperti itu. Kalau yang datang menyerangmu dari belakang tadi Rangga, habis kamu" gumam mbah Ageng.


Tommy tersenyum kecil. " Inggih mbah" gumamnya.


"Siapkan dirimu. Malam ini mungkin Rangga akan beraksi dengan kekuatannya. Mungkin dia akan habis-habisan menyerang kita. Tak apa kalah dari kita asalkan bisa menyampaikan dendam kesumatnya padamu yang menyerobot cintanya."


" Mbah tahu, kamu nggak ngomong pun mbah sudah tahu isi hatimu. Kamu masih belum percaya diri dengan kekuatanmu yang sebenarnya sangat besar itu kan?. Kamu harus yakin. Itu kunci utamanya Tom." nasehat Mbah Ageng pelahan menenangkan hatinya yang tadi gamang.


"Saya takut tak bisa menjaga Sasi mbah. Makhluk itu usianya sudah ratusan tahun. Ilmunya pasti jauh lebih mumpuni dari saya. Meski kata mbah saya punya kekuatan besar, tapi kalau tak bisa menggunakannya percuma juga mbah" Tommy terkekeh .


Mbah Ageng tersenyum bijak. " Begini Tom, kamu juga harus tahu. Ilmu -ilmu seperti yang kita miliki ini memang susah melatih dan mempelajarinya."


"Mau praktek kanuragan seperti itu di mana? Bisa -bisa kena orang. Tambah bahaya, tambah masalah baru pula."


"Jadi ilmu kanuragan yang tak kasat mata seperti ini, saat kau butuhkan dan akan kau gunakan, otomatis akan menyatu dengan pikiranmu. Dia akan mengalir begitu saja mengikuti nalurimu. Suatu saat cobalah menggunakannya namun jangan sampai melukai oramg lain" Mbah Ageng menasehati Tommy panjang lebar.


Tommy mengangguk dan berusaha mencerna ucapan mbah Ageng.


Pria muda itu pun kembali berdoa dan menenangkan dirinya untuk mengembalikan sukmanya ke wadak kasarnya. Mengembalikan jiwa ke raga seperti semula.


Tommy masih berkutat dengan pikirannya, mencerna kembali semua kata-kata mbah Ageng yamg baru didengarnya. Akhirnya Tommy bisa tersenyum tenang ketika berhasil mengurai apa yang dimaksud oleh mbah Ageng.


Ilmunya sebenarnya tak perlu dilatih atau di uji coba dulu. Karena ilmu ini adalah murni dari tubuhnya sendiri. Jadi penggunaannya pun bisa ditentukan oleh akal pikirannya sendiri.


Maka dari itu diperlukan keyakinan yamg besar agar menghasilkan kekuatan yang besar pula. Semakin besar kepercayaan dan keyakinan dirinya, semakin kuat pula energi dan kekuatan yang akan dihasilkannya.


Mbah Ageng tersenyum melihat Tommy tersenyum.


" Kamu sudah menemukan rahasianya?"


" Sampun ( sudah) mbah" jawab Tommy.


" Jadi apakah kamu sanggup mengalahkannya?" tanya mbah Ageng lagi.


" Dengan niat baik dan tujuan baik. Saya yakin sanggup mengalahkan makhluk itu mbah. Saya yakin kekuatan saya yang akan menang karena saya menggunakannya untuk kebaikan dan tidak ada tujuan buruk sama sekali." jawab Tommy tegas.


"Baiklah kita bersiap Tom. Malam ini adalah pertaruhanmu. Yakinlah kebenaran pasti akan menemukan jalannya Kita akan hadapi bersama -sama."


" Kita akan awasi Sasi , jika makhluk itu mendekat, biar mbah yang memancingnya dan menjauhkannya dari Sasi agar tidak membahayakan calon istrimu. Nanti kamu menyusul mbah setelah Sasi aman."


" Kirimkan pesan pada ibu Sasi agar selalu menemani Sasi. Sasi tidak boleh sendiri karena itu akan memberi kesempatan Rangga untuk menyandera Sasi seperti kejadian yang lalu. Kita harus menutup celah sekecil apapun. Agar Rangga tak punya keaempatan untuk berbuat licik dan membahayakan Saai lagi."


" Baik.mbah" tegas Tommy.


Tommy sudah siap malam ini. Siap mempertahankan miliknya. Siap menjaga dan melindungi calon istrinya. Tommy bahkan rela mengorbankan apa saja demi kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2