
Pesta dilanjutkan dengan sesi foto bersama mempelai.
Pembawa acara segera memanggil keluarga utama mempelai bergabung bersama di pelaminan.
Barata dan Sasi serta Lily dan Rose,Baskara, Ibu, Retno dan suaminya serta kedua mempelai segera mengatur posisi.
Sasi diapit ibu dan Emil serta Retno. Barata dan Palupi bersama dua putri mereka serta Baskara di sisi lainnya.
Selanjutnya saudara dan para sahabat serta kolega dan tamu yang ingin mengukir kenangan bersama Sasi dan Tommy.
Sasi dan Tommy lagi-lagi dibuat canggung ketika Rangga ikut berfoto bersama beberapa kolega Barata.
Harusnya itu biasa saja . Berfoto bersama pengantin di acara pernikahan yang memang dibuat privat sehingga tamu dan mempelai berbaur tanpa adanya sekat dan aturan. Memang inilah yang Sasi dan Tommy mau.
Tetapi semua jadi sangat canggung bagi Sasi ketika yang mengajak berfoto adalah orang yang selalu hadir dan mengganggu dalam mimpinya yang berulang. Menyatakan cinta dan bahkan mengajak menikah dalam mimpi berulang-ulang.
Meskipun bagi sasi iti hanya mimpi tapi itu sangat mengganggu dan membuat Sasi ketakutan bahkan sampai sakit saat itu.
Sasi tersenyum jengah ketika Rangga mendekat dan sengaja memposisikan diri berada tepat di sisinya.
Siapa orang ini dan apa maksudnya memepetnya seperti in? Batin Sasi terus bertanya-tanpa mampu menjawab.
" Sasi kamu cantik sekali" bisik Rangga di telinga Sasi membuat Sasi merinding.
Memang semua tamu mengatakan itu. Memuji kecantikan sang pengantin wanita yang malam itu memang terpancar begitu mempesona. Bahkan Tommy tak bisa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari istrinya itu.
Tapi entah mengapa ketika Rangga yang mengatakan hal itu diantara banyaknya tamu yang hampir semua menyatakan Sasi cantik, Sasi merasa ucapan Rangga terdengar sedikit menakutkan baginya.
Sasi jadi terbayamg kembali mimpi-mimpinya bersama Rangga dimana pria itu begitu posesif dan merasa memilikinya. Mengaku-ngaku kekasih bahkan calon pengantinnya.
Bulu kuduk Sasi meremang. Diberanikannya menatap lelaki tampan yang berdiri tepat disampingnya itu . Apakah dia orang yang sama dengan yang ada dalam
mimpinya? Tidak mungkin. Jangan sampai!
Rangga saat itu juga sedang menatapnya lekat. Hati Sasi bergetar. Tatapan itu persis seperti tatapan Rangga dalam mimpinya.
Sasi merasakan tubuhnya meremang. Dia segera menyelusup dalam rengkuhan suaminya. Tommy yang merasakan tubuh Sasi merapat padanya segera menyambutnya penuh kasih sayang. Memeluk erat pinggang Sasi, membelai rambutnya dan mencium pelipisnya memberi ketenangan.
" Are you ok, baby?" bisiknya di telinga Sasi.
" Em...mas aku boleh tukar tempat ngga? Aku kepengen foto dekat Siska. Pengen kenal gebetan Reza." Sasi beralasan. Padahal dia ingin menghindar dari Rangga.
Kebetulan di sebelah Tommy memang Siska dan Reza.
" Of course" lagi-lagi Tommy mengecup puncak kepala Sasi lalu menggeser tubuhnya hingga kini Tommy yang berada dekat dengan Rangga, sementara Sasi di sebelah Siska.
Sasi tersenyum lega. Lalu tanpa malu-malu mengecup rahang Tommy dari samping sambil mengucapkan " Terima kasih sayang.." Membuat suaminya itu tersenyum dengan wajah merona.
Para tamu langsung bersorak melihat hal itu.
" Ck...dasar laki bini sama-sama bucin!" gerutu Baskara. Namun sesaat kemudian pemuda tampan putra kedua Barata itu tersenyum ikut berhagia atas kebahagiaan kakaknya.
Di sela-sela senyumannya, Baskara diam-diam memperhatikan sosok tampan di sebelah Sasi yang kini ada di sebelah Tommy. Baskara merasa ada yang aneh dengan pria tampan itu. Baskara bahkan bisa melihat Sasi merasa tidak nyaman berada di dekat lelaki itu.
Orang itu selalu memandang lekat pada kakak iparnya. Dan pandangannya sangat mengganggu menurut Baskara. Pandangan seseorang yang begitu mendamba, memuja dan ****! Apa orang itu menyukai Sasi? Batin Baskara bertanya-tanya. Dan apa itu? Dia berbisik pada Sasi? Wahh...!
Baskara berharap semoga itu hanya perasaannya saja. Baskara berharap pernikahan Tommy dan Sasi akan selalu bahagia dan langgeng. Tak ada yang mengganggu mereka.Mengingat begitu sulitnya kakaknya membuka hati.
Dan kini tampaknya Tommy sudah jatuh hati sepenuhnya, pada Sasi. Gadis cantik yang sanggup merubah sikap dingin kakaknya itu jadi hangat seperti sekarang.
"Oke. Semua siap. Cheessee...." teriak sang fotografer memyadarkan Baskara dari lamunannya. Semua tersenyum. menghadap kamera.
Dan kilatan kamera berkali-kali mengabadikan mereka demgan berbagai ekspresi.Wajah-wajah bahagia dan ceria. Kecuali seraut wajah tampan yang tampak begitu kecewa karena gagal berdekatan dengan Sasi.
" Bas ayo naik!" teriak Sasi ketika para kolega yang tadi berfoto sudah turun dari pelaminan.
__ADS_1
Baskara tersenyum riang. Berlari-lari menghampiri Sasi dan Tommy di pelaminan mereka. Tanpa bertanya Baskara segera merangsek di sebelah kakak iparnya.
" Awas Bas, nggak usah mepet-mepet..!" tegur Tommy.
" Halaah..mulai kumat . Belum.juga foto mass..mas.." keluh Baskara.
Sasi melirik Tommy. Seakan memberi peringatan pada suami posesifnya itu untuk membiarkan Baskara.
" Iya...iya...tapi cuma hari ini kamu boleh dekat-dekat Sasi. Buat foto saja." Tommy tampak tak rela.
Sasi tersenyum.dan mengusap pipi Tommy lembut. " Gitu dong...masa gak percaya sama adik sendiri?" bisik Sasi lembut.
Tommy tersenyum. Suara lembut Sasi seakan buluh perindu yang membuatnya tenang dan melepas semua perasaan yang mengganggu.
" Eiits..mulai bucin lagiii? Ayo fotonya cepetan mas fotografer ! Pengantinnya mau cepet-cepet masuk kamar!" seru Baskara pada sang fotografer yang langsung membuat seisi tempat resepsi tergelak dan bersorak menggoda.
Tommy dan Sasi langsung merona. Tommy meninju lengan Baskara geram. Membuat adiknya itu meringis kesakitan.
" Sasiii...toloong! Suamimu melakukan KDRT.." rengek Baskara pada Sasi. Tapi Sasi malah menertawakan iparnya itu.
" Sukurin. Makanya kalau ngomong tuh dipikir dulu, jamgan asal aja." rutuk Sasi yang merasa sangat malu dengan ucapan vulgar Baskara di depan semua tamu.
Ketiganya segera mengambil berbagai pose dari yang resmi,serius, lucu hingga antimainstream.
Baskara dan Tommy mengapit Sasi sambil memeluk Sasi. Tommy dan Sasi duduk di kursi pelaminan sementara Baskara memeluk keduanya dari belakang .Baskara bahkan duduk di lantai sementara Sassi dan Tommy saling duduk bersandar di kursi.
Tak urung tingkah mereka jadi hiburan buat para tamu yang masih betah berada di tempat resepsi yang memang nyaman dan penuh rasa kekeluargaan.
Selesai sesi foto bersama, acara dilanjutkan dengan penampilan penyanyi dan band dari ibu kota yang menambah semarak suasana.
Sasi dan Tommy sudah kembali membaur dengan para tamu. Menikmati hidangan sambil menyaksikan penampilan memukau artis ibukota yang mereka undang malam itu.
Saat ini Sasi dan Tommy berada di meja staff kantor mereka. Sasi duduk di dekat Siska yang terus dipepet Reza selama acara. Tapi tak lama kemudian Barata tampak melambaikan tangan memanggil Tommy dari meja seberang.
" Sayang...aku ke papa sebentar ya...apa kamu mau ikut?" bisik Tommy ke telinga Sasi.
" Ya sudah, nanti mas balik lagi..." Tommy mengecup pipi Sasi sekilas lalu menghampiri Barata yang sudah menunggunya.
Hai...Siska ya? " tanya Sasi ramah.
" Hai juga..ibu boss...eh mbak?" Siska menyambut Sasi tak kalah ramah
" Sasi saja. Kita seumuran kayanya. Dan yang ibu boss bukannya kamu, calon dirut Wehaka Sejahtera? " kata Sasi sambil tertawa.
Siska tertawa. " Sudah ngga usah ngomongin kerjaan di sini. Bosen tau?" kata Siska.
Sasi mengangguk setuju.
" Betul kamu. Gimana Reza? Asik ngga orangnya?" Sasi berbisik di telinga Siska
" Lumayan..." Siska.mengerling ke arah Reza. "Layak dipertimbangkan...hahaha" lanjut Siska tertawa. Tampak binar-binar cinta yang disembunyikan dari tatapan Siska kepada Reza.
" He is a good man Siska. Aku dukung kamu sama Reza. Ya...meskipun dia agak suka tebar pesona gitu. Tapi orangnya baik kok. Kamu gak akan kesepian atau kehabiaan bahan pembicaraan sama dia. "
" Hei...kalian ngomongin aku ya? Sasi awas ya jangan memprovokasi Siska. !" Reza memperingatkan Sasi.
" Gak papa Sasi, ceritain semua biar aku tahu dalemannya Reza ini" Jawaban Siska membuat Reza menciut. Jangan sampai Sasi ngomong macam-macam. Apalagi tentang dirinya yang susah move on dari Sasi.
Tapi Reza tahu siapa Sasi, sahabat yang pernah dicintainya itu bukanlah orang yang suka mempermalukan orang lain. Apalagi dilihatnya Sasi sangat mendukungnya mendekati Siska.
" Oh...pasti Sis...aku ini sahabatnya. Pasti aku kasih bocoran apa saja keburukan dan kekonyolan cowok flamboyan ini. Kamu bisa percaya aku" Sasi bicara agak keras agar Reza mendengar. Dia sengaja ingin menggoda sahabatnya itu.
" Sasiii..." Reza menggeram kesal. Sasi malah tertawa-tawa diikuti Siska.
" Kasih aku nomor kamu Sasi. Kayanya kita cocok deh!" Siska memberikan ponselnya pada Sasi. Segera Sasi mengetikkan nomornya pada ponsel Siska.
__ADS_1
" Aku dial ya Sas...?" Siska memanggil nomor Sasi.
'Sudah masuk Sas, thanks ya" Siska senang sekali. Ternyata selain cantik istri Tommy ini juga ramah dan nggak sombong meskipun sudah jadi istri boss.
Di meja lain yang agak jauh, Sasi melihat Tommy sedang berbincang dengan papanya dan beberapa kolega. Sesekali Tommy tampak.menatapnya dari jauh, dan begitu menyadari Sasi juga menatapnya, Tommy segera tersenyum sambil mengirimkan ciuman jauh.
Sasi tersenyum. Masih saja merona dengan sikap Tommy yang seakan berlebihan memujanya.
Sasi masih asyik memikirkan Tommy hingga dia tak sadar saat seseorang telah duduk di sebelahnya. Aroma maskulin yang mendebarkan segera merasuki penciumannya.
Sasi refleks menoleh ke samping.
" Rangga...! Maaf...pak Rangga..?" Sasi salah tingkah.
" Rangga saja. Kita seumuran. Aku tebak kamu sekitar 25 kan? Aku 27, nggak jauh beda. Biar akrab gak usah pakai pak." Rangga.tersenyum. Matanya menghujam jantung hati Sasi.
" Maaf, kita belum begitu kenal. Dan anda adalah kolega papa. Tidak sopan rasanya kalau saya sok akrab." Jawab Sasi diplomatis. Ingin rasanya segera lari dari orang aneh ini, namun takut dianggap tak sopan pada tamu papa mertuanya.
" Kita nemang baru bertemu. Tapi rasanya kok aku seperti sudah lama kenal kamu ya..?" Rangga seakan tak peduli dengan kecanggungan Sasi. Saat itulah Sasi melihat Tommy melambai.
" Maaf suami saya memanggil saya" Sasi segera beranjak dari samping Rangga. Langkahnya lebar dan terburu-buru diikuti tatapan Rangga yang lagi-lagi kecewa melihat sasi menghindarinya.
" Kamu ngga papa sayang? Apa dia mengganggumu? " Tommy menyambut Sasi saat sasi sampai ke mejanya.
" Ngga papa mas. Aku cuma merasa nggak enak saja dekat-dekat dia. Rasanya ada yang aneh. Perasaanku nggak enak banget mas.." Sasi mengeluh pada suaminya.
" Kalau begitu aku akan mnjagamu agar dia tak mendekatimu lagi" Tomi mengelus punggung Sasi lembut dan mengajaknya duduk.
" Kamu tenang saja ... mas akan selalu melindungimu. Istriku memang cantik. Biarpun sudah kawin, tetap saja banyak yang sayang dan pengen dekat sama kamu" Tommy mengguman seperti pada dirinya sendiri.
Mendengar kata-kata suaminya Sasi terkekeh pelan. " Lebay banget sih mas? Mana..mana ada yamg sayang sama aku selain mas bossku yang ganteng ini.." Sasi menggenggam erat tangan Tommy.
Tommy tertawa sambil memeluk erat Sasi. Tak peduli banyak mata yang melihat tingkah mereka.
Dalam hati Tommy bergumam. " Sayangku..kamu saja yang nggak tahu, bahkan makhluk gaib pun tergila-gila padamu."
" Pokoknya banyak" bisik Tommy." Kamu capek sayang? Apa kamu pengen istirahat saja?" Tommy tersenyum nakal ke arah Sasi.
Sasi yang sudah paham maksud tersembunyi dari Tommy cuma mendecak. Sebenarnya ia memang sudah lelah mengingat dari kemarin mereka berdua disibukkan acara pernikahan.
Apalagi malam semakin larut . Para tamu, terutama ibu-ibu dan anak-anak sudah dari tadi meninggalkan acara. Tinggal para pria dan wanita single yang masih asyik melanjutkan acara begadang sambil mengahangatkan badan dengan minuman di resort indah pinggir pantai itu.
" Iya mas, aku capek. Pengen istirahat. " bisik Sasi. Senyum.Tommy makin melebar. Tak ada kata capek baginya.
" Teman-teman...silakan lanjutkan ngobrolnya. Istri sudah capek. Minta istirahat. Maaf saya tinggal duluan.." Pamit Tommy disambut sorakan semua yang hadir.
" Suit...suit...."
" Wah Tom...sudah nggak sabar ya...? Hahahaha.."
Semua tertawa mendengar celetukan menggoda pengantin baru itu. Wajah Tommy dan Sasi sudah memerah dan gerah. Terserahlah...akhirnya mereka pasrah saja di ledek dan dibully teman-teman konyol mereka.
Terserah...yang penting aku bisa segera istirahat dan tidur nyenyak...Batin Sasi
Sementara Tommy juga pasrah saja. Terserahlah..yang penting bisa segera berduaan saja dengan istriku yang cantik yang lembut...yang hangat...yang ahh....Pikiran Tommy sudah melayang-layang kemana-mana.
Direngkuhnya pundak istrinya itu penuh cinta. Berjalan berangkulan meninggalkan para tamu yang sebagian besar adalah teman-teman dan sahabat karib mereka. Mengabaikan sorakan dan ledekan yang terdengar bersahutan.
Dunia cuma milik mereka berdua. Biarkan saja para pengontrak yang cuma numpang itu berkata sesuka mereka. Malam ini hanya ada kita berdua Sasiku...Tommy makin erat memeluk Sasi. Dibalas tak kalah erat oleh Sasi.
Memasuki paviliun utama yang paling besar dan terpisah diantara paviliun lainnya di resort, Tommy sudah tak sabar lagi. Menciumi istrinya itu dengan gemas sambil berjalan ke kamar mereka.
Sasi tak bisa mengelak lagi. Mereka sudah tinggal berdua sekarang. Tommy sudah menatapnya penuh arti. Tatapan yang hanya Sasi yang tahu maknanya...
.
__ADS_1
..