Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Bertemu Sang Guru


__ADS_3

Cuti Tommy dan Sasi masih tersisa dua hari lagi. Mereka memanfaatkannya untuk berkunjung ke rumah saudara membagikan oleh-oleh yang dibeli Sasi di Bali.


Pagi ini Sasi dan Tommy mengunjungi Palupi dan Barata di rumah mereka. Sasi yang mendesak Tommy untuk datang ke rumah papanya meski Tommy tampak enggan bahkan menolak pada awalnya.. Dengan malas-malasan Tommy berangkat juga ke rumah papa dan ibu sambungnya itu


" Ayoo masku sayang...ganteng...cintaku kok muter-muter dari tadi nggak berangkat?" Sasi menggerutu sambil berkacak pinggang. Tommy duduk bermalas-malasan di sofa.


" Titipin Baskara aja oleh-olehnya gak bisa tah yaaang?" Tommy masih berusaha mengelak.


" No..no...aku sudah janji mau datang ke rumah papa. Yo wes kalau mas nggak mau aku minta antar Baskara saja..." Sasi bergegas meninggalkan Tommy. Bibirnya mengulum senyum.


Lelaki tampan itu buru-buru berdiri dan mengejar Sasi. Setelah dekat Tommy langsung mendekap Sasi dari belakang.


Nah kan? Sasi menyembunyikan senyumnya. Suaminya yang pencemburu itu tak mungkin membiarkannya bepergian dengan lelaki lain meski itu Baskara sekalipun.


" Iyaa..iyaaa...aku antar sayang...demi kamu. Tapi jangan lama-lama ya..." Tommy menawar syarat.


Sasi membalikkan badannya lalu mengecup bibir suaminya lembut. " Iya sayang...gak akan lama."


"Oke yuk berangkat" sudah mendapat vitamin, Tommy langsung semangat 45...Menggapai tangan Sasi untuk digandengnya.


" Oleh-olehnya sudah dibawa semua?" Tanya Tommy ketika mobil mulai keluar dari halaman rumah.


" Sudah dong sayang...oh iya...souvenir buat seluruh karyawan juga sudah aku kirim ke kantor. Jadi besok sudah bisa dibagikan semua." Sasi tersenyum ceria.


Tommy tertawa." Wah istriku bener-bener shoping ternyata. Kamu beli apa buat anak-anak kantor?"


" Aku belikan kain bali. Bagus kok mas. Aku pilihkan yang bahannya bagus."


" Istriku memang murah hati. Terus acara makan bersama seluruh karyawan jadi juga?" lanjut Tommy.


" Itu sudah diurus Baskara mas. Semua yang gak ikut resepsi kita undang dalam acara nanti. Biar mereka merasakan kebahagiaan kita juga."


" Asal kau bahagia sayang....lakukan sesukamu" Tommy mencium pipi Sasi.


" Tapi Tenang aja mas... masih banyak kok uangnya cuma aku pakai 25 persen. Hehehe...." Sasi mengerling manja.


" Itu sudah jadi hak kamu sayang...mau dihabisin juga gak papa." Tommy mengusap kepala Sasi lembut.


" Nanti sebagian akan aku pakai buat panti asuhan yang biasanya aku rutin jadi donaturnya mas. Boleh ya?" Sasi menyandarkan kepala di bahu Tommy.


" Boleh dong...apa sih yang enggak buat Sasi? Lagipula uang kamu ngga akan habis. Nanti tiap bulan akan mas kirim uang belanja bulanan buat kamu" Tommy mengecup puncak kepala Sasi lembut. Sasi makin erat memeluk lengan Tommy.


" Wah...enak ya ternyata jadi istri . Ngga usah kerja sudah Dapat jatah bulanan . Makanya Palupi sama Retno betah jadi istri. Hahaha.." Sasi terkekeh. Tommy langsumg mencubit hudung Sasi mendengar perkataan istrinya yang aneh.


"Kamu ngomong apa sih yaang..orang yang berumah tangga itu memang harus betah, menjaga dan memepertahankan keutuhan keluarga. Bukan karena jatah bulanan. Kalau begitu caranya kamu akan ninggalin mas kalau mas bangkrut?" Tommy tertawa.


" Huss amit-amit . Aku ngga akan ninggalin mas apapun keadaannya . Sebab aku tahu mas juga nggak akan ninggalin aku apapun yang terjadi. Karena Aku mencintai mas" Sasi menatap lembut wajah suaminya.


Tommy langsung merangkul pundak Sasi dengan sebelah tangannya. " I love you too honey..." bisik Tommy lembut.


Tak terasa perjalanan mereka telah sampai. Tommy melambatkan laju mobil ketika mereka sampai di gate megah sebuah perumahan eksklusif. Hanya melewati beberapa rumah dari gate, Tommy membelokkan mobil masuk ke halaman luas sebuah rumah mewah.


Rumah Barata dan Palupi. Sedikit lebih besar dari rumah yang ditempati Baskara.


Wajah Sasi tersenyum cerah. Ini sudah ke empat kali Sasi datang ke rumah ini Semuanya diajak Palupi, kali ini bersama suaminya tercinta.. Namun bagi Tommy ini adalah kali pertama dia datang ke rumah papa dan keluarga barunya.


Setelah mobil mereka masuk, pintu pagar otomatis tertutup. Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu.


Saat mereka membuka pintu mobil dan turun, Papa, Palupi dan dua keponakan Sasi itu sudah menyambut mereka.


" Budhe...budhe...." seru Lily dan menghambur ke pelukan Sasi. Sementara Rose yang digendong Barata tampak bertepuk tangan ikut gembira.

__ADS_1


" Wahh...keponakan budhe cantik banget..Ini pipi makin gembul aja. Makannya pasti pinter ya?" Goda Sasi sambil mencubit sayang pipi Lily. Gadis kecil itu malu-malu memandang wajah Tommy yang ada di sisi Sasi. Ini adalah kali ke dua Tommy benar-benar bertatap muka lama dengan Lily. Adik sekaligus keponakannya.


Tommy tersenyum dan merentangkan tangannya seakan meminta Lily juga memeluknya seperti dia memeluk Sasi. "Pakdhe nggak dipeluk? "


" Pakdhe Tommy..." Lily berteriak gembira lalu menghambur ke pelukan lelaki tampan itu. Tommy segera memeluk tubuh gadis kecil itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Membuat Lily menjerit-jerit senang.


Sambil menggendong Lily Tommy berjalan ke arah papanya dan Palupi menunggu. Sasi merangkul pinggang suaminya.


" Wah...pengantin baru...nempel teroooss..." Palupi segera menggoda mereka. Barata cuma tersenyum.Namun siapapun tahu hati pria paruh baya itu sedang bahagia. Putra kesayangannya yang hilang telah kembali.


Tommy memeluk Barata tanpa menurunkan Lily lalu menyalami Palupi. Sasi menyusul menyalami Barata lalu berpelukan dengan Palupi beberapa lama.


" Kapan kalian balik dari Bali?" Tanya Barata.


Karena Tommy tak kunjung menjawab, Sasi menjawabnya," Dua hari yang lalu pa.."


" Ayo kita makan. Aku sudah masak kesukaanmu sama suamimu mbak" Palupi menarik tangan Sasi untuk.berjalan duluan. Sementara Barata dan Tommy yang menggendong Rose dan Lily mengikuti mereka di belakang.


Tak lama sudah terdengar obrolan Barata dan Tommy membicarakan bisnis mereka. Diselingi celoteh dan tawa ceria Lily dan Rose.


Sasi dan Palupi berpandangan dan tersenyum. Mereka merasa lega karena kecanggungan ayah anak itu akhirnya mencair.


" Sebenarnya aku masih kenyang Pi, tapi gak papa deh, demi mereka.." Sasi berbisik di telinga adiknya sambil melirik ke arah Tommy dan papanya yang sedang berbincang.


Palupi mengangguk senang. Dan mulai menyiapkan hidangan yang sudah tersedia di meja makan. " Ayo kita makan!" seru Palupi.


" Mas mau makan sama apa?" Tanya Palupi setelah mengambil nasi ke piring Barata. Suaminya lalu menunjuk lauk yang diinginkannya dan Palupi mengambilkannya.


Sasi pun sudah melayani Tommy dan mengambilkan lauk yang diinginkannya.


Mereka kemudian makan bersama diselingi obrolan ringan. Sementara Lily dan Rose bermain ditemani baby siter mereka di ruang keluarga.


Selesai makan dan memberikan oleh-oleh, Tommy mengajak Sasi pulang.


Sasi memakluminya. Masih banyak waktu untuk mendekatkan Barata dan Tommy seperti dulu. Dan Sasi akan dengan senang hati melakukannya..


" Oke deh. Pamit yuk!" ajaknya menggandeng Tommy keluar dari ruang makan .


Sampai di teras depan tampak Barata dan Palupi tengah duduk di kursi teras.Lily dan Rose asik bermain di taman depan rumah mereka.


"Pa kita mau pamit dulu. Ini masih banyak yang mau kita kunjungi." Sasi mewakili Tommy berpamitan.


" Kok buru-buru sih mbak? Baru datang sudah pergi lagi?" Palupi tampak tak rela kakaknya cuma sebentar berkunjung. " Lily dan Rose masih kangen tuh" lanjutnya.


" Nanti aku akan sering ajak mas Tommy ke sini. Ya mas..?" Sasi mengerling ke arah Tommy dengan manja.


Tommy jadi salah tingkah. Mau bilang iya kok tidak sesuai hati nurani. Mau bilang tidak, wah sama saja cari mati sendiri, bisa-bisa semua jatah vitamin A sampai Z dari Sasi hilang. Uhh!!


Akhirnya Tommy mengangguk terpaksa, demi asupan gizi lahir batinnya dari sang istri terjaga setiap hari.."Hemm...iya!" jawabnya singkat.


Sasi dan Palupi tersenyum lega. Barata pun ikut tersenyum, meski dalam hatinya melihat Tommy yang sedikit terpaksa mengiyakan permintaan istrinya. Agaknya ia harus sedikit lagi bersabar.


Tak apalah, ini pun sudah sangat baik. Sasi ternyata bukan cuma istri yang baik, tapi juga anak yang baik yang begitu memperhatikan perasaan mertuanya. Barata merasa sangat bersyukur dengan kehadiran Sasi.


" Nah begitu dong, papa kan jadi seneng ya pa?" Palupi menggoda Barata. Tapi Barata sudah tidak mau menyembunyikan perasaannya lagi.


Biarlah sedikit menurunkan ego dan harga diri, asalkan Tommy bisa kembali seperti dulu lagi. Jadi anak yang sangat menghormati dan menyayanginya sebagai papanya seperti dulu sebelum dia menikah dengan Palupi.


" Iya Tom. Papa senang kamu mau datang megunjungi papamu yang sudah tua ini. Papa tunggu kamu datang lagi. Kalau perlu papa akan ajak Palupi dan adik-adikmu mengunjungimu nanti."


Tommy tersenyum masam. " Huh...sadar juga dia sudah tua. Tapi tetep kawin sama daun muda dan punya anak bayi...dasar kelakuan tidak sesuai dengan omongan.." Tommy mencibir dalam hati.

__ADS_1


Sasi yang tahu isi hati Tommy segera mengajak Tommy pergi. Daripada suasana akrab yang sudah tercipta malah berantakan kalau sampai Tommy mengungkap isi hatinya.


" Oh..pasti pa...Sasi tunggu di rumah. Kami permisi ya pa. Palupi thanks banget jamuannya. Enak banget. Pantesan Papa tambah gendut...hihihi.." Sasi terkikik. Barata dan Palupi ikut tertawa.


" Iya ini Sasi...jadi nggak keren lagi...hahaha..." Barata tertawa.


" Dih...sadar Pa..sudah tua. Masih narsis saja.." tiba-tiba Tommy ikut meledek papanya.


Semua tertawa. Apalagi ketika Lily dan Rose yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ikut meledek.." Papa endut...papa endut...!" sambil bertepuk tangan. Makin meledaklah tawa mereka.


Semua mengantar Tommy dan Sasi hingga ke mobil. Melambaikan tangan ketika mobil Tommy dan Sasi mulai meninggalkan halaman rumah megah itu.


" Kita ke rumah mbah Ageng ya yaang..." kata Tommy ketika mereka sudah hampir setengah jalan meninggalkan rumah Barata.


" Males ah mas. Aku ngga usah ikut ya.." Sasi tampak enggan.


" Sebentar saja sayang. Mas mau kamu kenalan sama mbah Ageng. Dia sudah mas anggap guru spiritual mas juga. Ya?" tanya Tommy lembut. Sedikit memohon.


Sasi jadi tak bisa menolak tatapan mata yang meluluhkan hatinya itu. " Jangan lama-lama ya..?" kali ini Sasi yang meminta.


Keduanya tertawa menyadari mereka mengatakan hal yang sama hari ini. Tommy tak ingin berlama-lama di rumah papanya. Sementara Sasi tak mau berlama-lama bertemu mbah Ageng.


Sasi..sasi Tommy bergumam dalam hati. Andai bisa mengatakan padamu betapa besar jasa Mbah Ageng dalam menyatukan kita hingga kita bisa menikah dan bahagia seperti sekarang ini...


Hampir satu jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah mbah Ageng. Masih seperti dulu, saat Sasi datang pertama kali dengan ibu untuk...untuk...haiss...Sasi jadi malu sendiri. Saat itu ibu dalam rangka berusaha mencarikan jodoh Sasi. Suasana rumah ini masih angker, dingin dan mencekam. Sasi tak suka.


Dan saat ini Sasi datang ke rumah ini lagi dengan jodohnya. Apakah ini takdir? Sasi tersenyum sendiri. Mungkin iya. Sasi tak pernah berpikir sedikitpun, bahwa ini adalah kenyataan, bahwa mbah Ageng yang berperan membuka hatinya dan hati Tommy yang tertutup untuk kemudian mempertemukan mereka dalam satu ikatan cinta.


" Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Tommy saat melihat istrinya tak segera turun, malah melamun di mobil.


" Ah..enggak mas...yuk turun. Ingat, jangan lama-lama! " peringat Sasi pada suaminya.


" Iyo..iyo sayaang..." Tommy mengacak rambut Sasi gemas. Istrinya seperti anti sekali pada tempat ini. Lelaki itu membawa sebuah peti kecil berukir indah.


" Apa itu mas?" tanya Sasi.


" Oleh-oleh buat mbah Ageng." Jawab Tommy sambil berjalan ke arah pintu yang sudah dibuka oleh wanita tua pegawai mbah Ageng. Sasi mengikuti ragu-ragu.


" Aku boleh nunggu di luar mas? Aku duduk di teras saja.." bisik Sasi.


" Masuk Tommy...Sasi...." suara berwibawa itu terdengar dari dalam rumah.


Sasi langsung menutup mulutnya. dan melingkarkan tangan ke lengan suaminya. Mengikuti langkah suaminya, wajahnya disembunyikan dibalik punggung Tommy.


"Ayo sayang..." Tommy menarik Sasi yang terasa berat melangkah.


" Permisi...kulonuwun mbah.." seru Tommy saat sudah di depan pintu.


" Masuk Tom...Sasi juga...!" ulang mbah Ageng.


Kedua suami istri itu masuk rumah dan melihat mbah Ageng tengah duduk di kursi berukir tempatnya biasa duduk menemui tamu.


" Duduklah kalian...mbah sudah menunggu" sapa mbah Ageng.


" Wilujeng (kabar baik) mbah?" tanya Timmy sopan.


" Yo wes ngene iki. ( Ya seperti ini) Mbah sudah tua. Masih bersyukur selalu diberi kesehatan sama yang Maha Kuasa. Kamu bagaimana kabarnya?" Mbah Ageng balik bertanya pada Tommy, namun mata lelaki tua itu menatap Sasi tajam.


" Pangestu ( atas doa restu) mbah. Sae (baik). " jawab Tommy sopan.


" Syukurlah kalian baik-baik saja. Karena beberapa saat lalu mbah kok punya firasat tidak enak." lagi-lagi mbah Ageng menatap Sasi.

__ADS_1


Ditatap berulangkali oleh mbah Ageng membuat Sasi takut. Orang Tua itu, tatapannya masih saja tajam menusuk seperti dulu. Tatapan yang membuatnya mual dan malas bertemu dengan lelaki tua itu lagi.


Apa ini hanya perasaanku saja? Sasi menggumam dalam hati. Sebab ia merasa saat ini mbah Ageng seakan menelisik isi hatinya. Mengaduk-aduk isi kepalanya. Dan menyelami jiwanya. Sasi ingin pergi dan berlalu dari orang aneh ini. Sasi merasa di telanjangi, seakan semua rahasia dalam dirinya kini dilihat oleh lelaki tua dihadapannya itu.


__ADS_2