
POV Sasi
Aku mendengar sayup-sayup suara anak kecil tertawa-tawa. Makin mendekat ke taman samping aku bisa melihat Baskara dan dua...gadis kecil yang begitu aku kenal. Keponakanku tersayang, Lily dan Rose, putri Palupi dan pak Barata suaminya. Jadi Barata, adik iparku adalah papa Tommy?
Deg! Jantungku berhenti berdetak. Benar-benar berhenti. Ada banyak perasaan seakan menekan jantungku hingga rasanya begitu berat. Aku tak bisa menahan beratnya hingga gelap melanda.
Saat aku bangun tubuhku seringan kapas. Aku tak mengingat apapun karena hatiku terasa kosong.
Aku entah berada di mana , seperti sebuah kamar raja-raja jaman dahulu. Ranjang dan bantalnya sangat empuk. Ini seperti bantal bulu angsa yang biasa kupakai. Tapi kain sprei dan sarung bantalnya lembut sekali. Sutra halus yang mahal.
Ranjangnya, kursi, meja, lemari dan semua perabotan di kamar terbuat dari jati berukir indah. Tapi suasana kamar terlihat temaram meskipun ada matahari bersinar.?
Aku mengerjap-ngerjapkan mata meyakinkan diri bahwa aku sudah bangun dari tidurku. Saat itulah pintu kamar terbuka dari luar.
Orang itu..? Orang yang sudah dua kali datang dalam mimpiku. Siapa dia? Kenapa aku tak bisa mengingat apapun juga tentang diriku sendiri?
" Kau siapa? " tanyaku padanya. Kenapa aku bisa ingat dia pernah menjumpaiku dalam mimpi tapi tak bisa ingat siapa aku? Aku merasa pusing.
" Sudah saya bilang, Sasii...Saya kekasihmu. Sasi mencintai saya. Sasi milik saya" Dia tersenyum.
Kata-katanya lembut dan mendayu. Aku terpesona. Mungkin benar yang dikatakannya. Aku kekasihnya dan aku mencintai dia. Karena hanya dia yang kuingat. Bahkan namaku Sasi, aku baru tahu dari dia.
" Kalau benar kamu kekasihku , kenapa aku tidak tahu siapa namamu?"
" Karena cinta tak perlu nama Sasii..." dia tersenyum dan membelai rambutku. Aku tidak tahu apa yang kurasakan.
" Sekarang aku di mana? Kenapa aku tak ingat apa-apa?"
" Kamu di rumah saya, sayang...kekasihku...dan kamu memang tak perlu mengingat yang lainnya, hanya boleh mengingat saya saja." dia berbisik dan mencium lembut keningku. Aku tak berdaya.
" Kamu harus bersiap. Karena sebentar lagi kita akan menikah" dia duduk dekat denganku.
Aku benar-benar bingung. Tak tahu aku ini apa, siapa diriku, apa yng harus kulakukan. Aku seperti hilang ingatan bahkan hilang daya dan hilang akal. Tak punya kehendak, tak punya keinginan dan tak punya kekuatan menolak apapun yang terjadi padaku.
"Bersiaplah sayang, para dayang akan membantumu." dia pergi.
Tak lama kemudian masuk lima orang wanita muda memakai kemben. Mereka memakaikan macam-macam lulur ke tubuhku. Memijit lembut seluruh tubuhku dengan minyak beraroma harum. Entah aku tak tahu. Dan lagi-lagi tubuhku tak berdaya menolak. Hingga aku merasa mengantuk dan tertidur.
Dalam tidur aku melihat seorang pria tua lamat-lamat. Mungkin aku pernah mengenalnya. Tapi aku benar-benar lupa saat ini.
Pria tua itu menatapku tajam. Seakan memberi peringatan padaku. Dia diam namun seakan berkata-kata padaku.
__ADS_1
" Sasi...kamu harus melawan nduk. Tempatmu bukan disini. Kamu harus kembali ke duniamu. Kamu tidak boleh disini."
Suara pria tua itu seperti bergema di kepalaku.
" Dia bilang aku kekasihnya dan akan menikah dengannya sebentar lagi" Aku menjawab pria tua itu. Dia menggeleng keras.
" Dia bukan kekasihmu. Kalian berbeda. Kekasihmu sedang menunggumu di tempatmu seharusnya. Jadi kamu harus pulang Sasi. Lawan dia. Jangan menuruti perkataannya. Kamu harus melawannya. Buka hatimu Sasi."
" Aku tidak mengenalmu. Kenapa aku harus mendengarmu?"
" Karena ingatanmu diambil dia Sasi. Mbah tak bisa lama-lama. Dia menghalangi mbah. Semua tergantung kamu nduk. Cobalah mengingat siapa dirimu.!"
Pria tua itu tib-tiba menghilang bersamaan dengan munculnya lelaki yang mengaku kekasihku itu.
Dia menatapku tajam. " Jangan mencoba melakukan apapun selain yang saya perintahkan Sasi..." lembut suaranya namun penuh ancaman.
Aku terpaku menatapnya. Matanya seperti menelanjangiku. Aku merasa sakit di sekujur tubuhku saat menatapnya. Sesaat kemudian wajahnya melembut lagi. Dan tubuhku kembali semula, tak sakit lagi.
Dia pergi lagi. Meninggalkanku dan para gadis dayang di kamar.
Aku teringat kata-kata pria tua itu. Tiba-tiba berbagai kelebatan wajah tergambar di kepalaku.
Yang paling jelas terlihat adalah wajah seorang pria tampan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Aku berusaha keras mengingatnya . Tanpa terasa aku memanggil sebuah nama.
" Brak.." pintu terbuka keras dari luar.
Aku melihat pria tampan yang ada di ingatanku tadi berdiri di depan pintu.
" Tommy!" aku berseru lirih.
" Iya sayang...Sasiku...cantikku..Aku Tommy..kekasihmu..jangan pergi sayang...ayo pulang. Kembali padaku.." Tommy menangis sambil mendekapku.
Aku merasa mulai mengingat semuanya. Satu per satu ingatanku kembali.
" Mas...aku takut.." aku menangis dalam pelukan Tommy. " Kenapa aku bisa disini mas? Tempat ini menakutkan. "
Tommy makin erat mendekapku.
" Kita pulang sayang.." Tommy menggendongku dan membawaku keluar dari kamar itu.
Saat keluar dari kamar aku merasa melihat tubuhku sendiri tertutup kain putih di sebuah brankar rumah sakit. Disebelah brankarku tubuh Tommy juga berbaring tak berdaya.
__ADS_1
" Kita kembali sayang.." bisik Tommy padaku. Aku mengangguk.
Tiba-tiba saja aku merasa sesak dan gelap karena tubuhku tertutup kain hingga diatas kepala. Segera kusibak kain itu. Aku duduk , dan melihat ibu tengah menangisiku.
" Sasiii?" Kulihat Tommy dan Baskara berteriak memanggil namaku. Mereka melotot tegang, seperti bertemu hantu melihat aku yang terduduk.
Apa yang terjadi padaku hingga ibu menangis dan Tommy juga Baskara melihatku seperti itu?
" Dokter..! Dokter..! aku menoleh ke suara orang yang berteriak memanggil dokter.
Pak Barata. Adik iparku, Papa Tommy... Dan kepalaku berdenyut lagi. Gelap....
#######
POV Tommy
Aku tak tahan lagi. Dokter bilang Sasi sudah tiada.
" Sasiiiii!" aku ingin berteriak sekencangnya. Namun aku justru terkulai tak berdaya. Semua jadi sepi dan gelap gulita.
Aku masih memanggil-manggil nama kekasihku. Aku tidak terima. Aku tidak percaya dia semudah itu pergi meninggalkanku. Aku berjalan dalam temaram dengan hati yang hancur. Menyesali diri yang bodoh dan tak bisa menjaganya. Menyesali papaku yang tak tau diri. Aku hancur.
Aku duduk bersimpuh dan menutup mukaku sendiri. Sakit sekali hatiku saat ini. Rasanya aku ingin menyusul Sasi pergi. Sasii..kenapa nasib kita seburuk ini...Aku berteriak sendiri dalam ruang kosong dan gelap tak bertepi.
Sebuah Cahaya membelah kegelapan di kejauhan. Aku melihat seorang pria tua berkain lurik dan berjenggot putih mendekat ke arahku.
" Ayo ikut mbah. Selamatkan kekasihmu. Ajak dia pulang bersamamu" pria tua itu berkata dalam diam. Entah bagaimana aku bisa mendengar suara pria tua itu, padahal dia tak membuka mulutnya apalagi bicara.
Aku tak mengenal pria tua itu. Namun demi mendengar nama Sasi dan menyelamatkan kekasihku, Aku tak berpikir lagi. Siapa atau apapun dia, jika dia bisa menyelamatkan Sasiku, aku akan ikuti kata-katanya. Pun juga jika aku harus bertukar nyawa untuk menyelamatkan Sasiku. Aku tak akan ragu melakukannya.
Buat apa aku hidup dalam penyesalan. Tak bisa berdampingan selamanya degan Sasi dan malah jadi penyebab kekasihku kehilangan nyawa. Rasanya mati jauh lebih baik daripada itu.
Pria tua itu tak berkata apapun. Dia hanya menuntunku , membawaku memasuki sebuah tempat yang berada dibalik dinding tak kasat mata di seberang tempatku berdiri.
Aku merasa menabrak sesuatu yang lembut. Ketika sadar, kulihat Sasi tengah terbaring sambil dipijit beberap wanita muda.
Sasi memanggil namaku. Ya Tuhan. Aku bahagia sekali. Sasiku masih hidup. Dia tidak meninggalkanku.
Aku memeluk erat Sasi. Aku berjanji tak akan melepaskannya lagi. Aku Menggendongnya dan membawanya pergi. Sasiku kembali. Terima kasihTuhan...
Aku berlari sekencangnya melintasi dinding tempatku datang tadi . Sasi dalam rengkuhanku. Dia juga memeluk erat tubuhku.
__ADS_1
Dan aku tiba-tiba sudah duduk tersadar di brankar IGD rumah sakit.