
Sasi mengemudi dengan kecepatan sedang. Sudah lewat tengah malam jadi jalanan relatif lengang, tak ada lagi kemacetan seperti saat siang.
Sesekali Sasi melirik ke arah Tommy yang pulas tertidur di kursi penumpang sebelahnya. Wajah bersih dan tampan itu tampak damai dan tersenyum.
Sasi ikut tersenyum.
" Aku sudah gila, mau-maunya dicium orang mabuk...gila!" Sasi bergumam sendiri sambil meraba bibirnya. Wajahnya terasa kembali panas mengingat ciuman hangat Tommy.
" Untung saja dia mabuk, semoga dia tak ingat lagi kejadian tadi. Mau ditaruh mana mukaku. Ish!" Sasi menggerutu lagi. Menyandarkan tubuh di jok. Membiarkan mobil berjalan tenang dengan auto pilot di jalan lurus panjang.
Saat apartemen Tommy mulai tampak, Sasi baru meraih kemudi lagi. Membelokkan mobil ke arah basement dan memarkir mobil di tempat kosong terdekat dengan lift.
Sasi sudah beberapa kali ke apartemen Tommy. Tapi tak pernah semalam ini dan hanya untuk kepentingan kantor. Mengambil dokumen, atau meminta tanda tangan jika Tommy tak bisa ke kantor.
Sasi melepaskan seatbeltnya, kemudian seat belt Tommy. Wajahnya kembali panas, dadanya berdebar lagi ketika tubuhnya harus kembali begitu dekat dengan Tommy melepas pengait seat belt. Apalagi saat bau parfum Tommy kembali menyapa penciumannya. Bahkan nafas halus Tommy seakan meniup-niup wajahnya. Uuhh...Sasi merinding.
Fiiuuhh! Sasi menghembuskan nafas lega setelah seatbelt Tommy terlepas. Menyusahkan saja. Keluhnya bergumam.
" Mas...bangun. Sudah sampai apartemen nih.." Sasi menggoyang-goyangkan lengan Tommy.
Karena tak bangun juga setelah beberapa lama, Sasi memberanikan diri menepuk-nepuk pelan pipi Tommy. Gila, pipinya halus banget kaya pantat Rose keponakannya yang masih bayi.
" Mas..." ditepuk-tepuk lagi pipi Tommy.
Beberapa kali, akhirnya Tommy tampak bergerak. Bukan membuka mata, tapi tangan Tommy membelai lembut jemari Sasi yang sedang menepuk pipinya. Matanya masih terpejam.
Tangan Tommy bergerak mengusap-usapkan jemari sasi ke pipinya. Lalu bibirnya menciumi tangan Sasi yang ada di genggamannya dengan lembut.
Sasi meremang.
" Mas...ayo bangun. Udah sampai nih." Sasi menarik tangannya yang sedang diciumi Tommy.
" Jangan gini mas, ih!" Sasi kembali menarik tangannya. Tapi tommy makin erat menggenggam malah sekarang menarik tubuh Sasi mendekat.
Tommy tersenyum tanpa membuka matanya. Dia masih ingin menggoda pacarnya yang malu-malu menggemaskan ,itu.
" Sasiii..." panggil Tommy
" Paan sih?" Sasi mendecih. Akhirnya membiarkan saja Tommy menggenggam tangannya.
" Di setiap ada kamu kenapa jantungku berdetak kencang.."
" Ish..jangan mulai deh, ini udah pagi mas..aku mau pulang. Ngantuk nih!" Sasi menggerutu.
" Iya..iya sayang...maaf ya sudah bikin kamu repot.."
" Yuk turun. Kamu nginep sini kan? " tanya Tommy santai.
Sasi melotot. Membuat Tommy tertawa karena berhasil menggoda Sasi.
" Hahaha....lucu banget sih kamu. Tunggu bentar aku panggil Baskara. Biar dia yang bawa mobil anterin kamu. Aku masih sedikit pusing."
__ADS_1
Sasi mengangguk. Ada adiknya di aparteman Tommy rupanya.
Tommy mengambil ponsel dan menelpon.
" Bas, dah tidur kamu? Turun gih antar Sasi pulang. Gue masih pusing habis minum"
" Iyaa..cepetan!" Tommy menutup panggilannya.
" Adiknya mas sekarang tinggal di sini?" tanya Sasi.
" Nggak. Lagi main aja dia. Kebetulan kan? Bisa antar kamu pulang."
" Sebenernya aku bisa pulang sendiri mas. Mobil mas kubawa atau naik taksi on line juga bisa . Besok mas aku jemput" kata Sasi
" Gak bisa. Ini udah malam sayang. Pagi malah. Kamu cewek, apalagi naik taksi online. Big no. Bahaya.." Tommy menolak usul Sasi.
Tak lama, dari lift muncul Baskara. Pemuda itu melangkah ke arah mobil mereka. Sasi turun dari mobil.
" Malam Sasi cantik. Ketemu lagi.." Baskara mengulurkan tangannya. Sasi menyambutnya sambil tersenyum.
" Berangkat yuk!" Baskara membukakan Sasi pintu belakang mobil. Setelah Sasi masuk diapun masuk ke mobil. Menggantikan Sasi mengemudi. Sementara Tommy tetap di tempatnya.
" Loh mas Tommy ikut ngantar to? " Tanya Sasi, dipikirnya hanya Baskara yang akan mengantarnya.
" Ikut lah, aku yang ngajak kamu, gak sopan banget kalau pulang nggak aku antar. Apa kata ibu nanti. Anak orang dibawa sampai malam, terus pulang dibiarin sendiri?"
" Kan ada aku mas?" Baskara menyahut.
" Tetep aja aku harus tanggung jawab mulangin Sasi dengan selamat" Tommy tak mau didebat.
" Kamu ngomong apa tadi sama Sasi?" Tommy setengah berbisik pada Baskara.
" Enggak ada...cuma bilang Sasi cantik...hehehe..." Baskara cengengesan.
" Heh dengar kamu tju patkai, mulai sekarang jangan macem-macem sama Sasi. Dia itu calon kaka ipar kamu. Catet itu." Tommy menekankan kata ipar.
" Hahh...yang bener mas?" Saking kagetnya Baskara menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.
Sasi yang hampir terlelap di kursi belakang terbangun kaget.
" Ada apa ?" Seru Sasi.
" Ngga ada! " Baskara dan Tommy menjawab barengan.
" Cuma kucing Sasi.." jawab Baskara.
"Ooohhh.." Sasi kemudian melanjutkan memejamkan matanya.
" Panggil mbak, dia itu lebih tua dari kamu. Dan dia calon kakak ipar kamu" Tommy kembali mengomeli Baskara.
" Iyaaa..iyaa mas. Duh galak banget yang punya pacar..Ngga jadi ngejomblo seumur hidup dong... hehehe.." Baskara meledek Tommy.
__ADS_1
Tommy menoyor kepala adiknya pelan.
" Ngomong lagi, bakalan aku sunat uang sakumu bulan depan"
" Ampuuun...jangan dong mas. Lagian aku juga seneng kali, mas sudah move on gak marah lagi sama papa dan istrinya. Mas tau nggak? Istri papa baik lo mas. Biarpun masih muda, bahkan umurnya hampir sama, sama aku, tapi dewasa banget. Cantik, sabar lagi. Mirip-mirip Sasi gini deh.." Baskara malah mengoceh membuat Tommy makin pusing.
" Stop jangan ngomongin tua bangka itu lagi. Dan kamu? Sekarang belain perempuan gatel matre itu? Sudah kena pelet juga kamu sama perempuan penggoda itu?" mata Tommy menyala.
( Oh Tommy, kamu gak sadar aja, kamu lah yang sudah kena pelet mbah Ageng...hehehe... author ketawa jahat )
" Please deh Mas, Sekali-sekali ketemu mbak Lupi. Mas pasti berubah pikiran, gak akan nganggep dia matre apalagi wanita nakal.." Baskara masih berusaha meluluhkan hati kakaknya itu.
Baskara ingin hubungan Tommy dan papanya kembali seperti empat tahun lalu, saat papa belum menikah lagi.
" Ssshh..udah, ga usah ngomong macem-macem. Nanti didengar sasi. Nggak enak. Malu punya papa gatel, sudah tua suka daun muda." Tommy melihat ke spion yang menampakkan wajah Sasi yang tengah tertidur pulas.
" Tapi kalau mas kawin nanti kan tetep aja harus ketemu papa.? " Baskara ngeyel. Belum pupus niatnya mempersatukan kembali kakak dan papanya yang sudah pisah rumah bahkan tak saling berhubungan empat tahun ini.
" Aku cowok Bas. Ngga ada restu papa juga bebas , mau kawin ya tinggal kawin aja. Aku juga gak butuh uang papa. Pokoknya aku nggak butuh papa sama perempuannya itu. "
Baskara menggelengkan kepalanya.
" Dua-duanya keras kepala. Yang satu nggak mau ngalah, yang satu nggak merasa salah. Hancur" keluh Baskara.
" Belok kiri Bas. Tuh rumah yang ada pendoponya." Tommy menunjuk rumah Sasi.
Baskara menghentikan mobil di depan pagar rumah sasi.
" Kamu tunggu disini aja. Biar aku antar Sasi ke dalam" Tommy turun dan membuka pintu belakang mobil.
" Sayang...udah sampai rumah ini" bisiknya lembut sambil menepuk lembut pipi Sasi.
" Sayaaaang...elaaah..modus megang-megang pipi. Dasar bambaaang.." Baskara meledek kakaknya dari kursi kemudi.
Tommy menoyor kepala Baskara dari belakang. Membuat pemuda tanggung itu terkekeh-kekeh.
" SasiiƬ..ayo bangun. Nanti dicium sama mas Tommy lho..." Baskara melanjutkan ledekannya.
Saat itulah Sasi bangun. Matanya langsung bertabrakan dengan Tommy yang menatapnya sambil mengusap pipinya.
" Udah sampai ya mas?"
Tommy tersenyum . Membuka Seat belt Sasi dan menariknya turun dari mobil.
Sebelum turun, Sasi masih sempat mengucap terima kasih pada Baskara.
" Thanks ya Bas.."
Dibalas isyarat oke oleh Baskara.
" Sama-sama Sasi cantiik.." goda Baskara membuat Tommy melotot kesal.
__ADS_1
" Mbak Sasi!" Sela Tommy setengah membentak.
" Iya..iya mas...mbak Sasi cantiiik.." Baskara terkekeh merubah panggilannya. Sasi yang mendengar perdebatan dua saudara itu ikut tertawa lucu.