
" Bu, Mas Tommy ngajak aku nikah.." Sasi bicara pada ibu malam itu. Ibu pulang tak lama setelah Tommy pamit.
Ibu langsung heboh.
" Waahh...Tommy memang gentleman. Gercep, cowok tulen. Bukan abal-abal..ibu yakin dia jodohmu nduk.." Ibu kelihatan senang sekali . Dipeluknya Sasi erat sambil tertawa-tawa.
" Ibu ini, aku yang diajak nikah, kok ibu yang kesurupan." Sasi ikut tertawa. Menertawakan ibunya yang super heboh mendengar ceritanya.
" Kamu ini memang anak durhaka. Ibunya dikatain kesurupan.Tapi kali ini ibu nggak akan mengutukmu jadi klepon. Karena ibu bahagia. Trus piye( gimana)....kamu mau kan? Siapa yang akan nolak diajak nikah sama cowok seganteng Tommy?" Ibu mengguncang-guncang tangan Sasi.
" Buuu...kalau ibu terlalu heboh begini, aku gak mau cerita lagi."
" Ehm..ehm...oke. Ibu akan kalem, tenang mendengar ceritamu. Terusin ceritanya nduk.." Ibu mengelus dadanya sendiri sambil menghembuskan nafas pelan. Tapi wajahnya berbinar-binar penuh bintang. Senyumnya merekah. Ish ibu kaya anak ABG lagi fall in love...
" Ibu naksir Tommy ya?" Sasi menggoda ibu demi melihat cahaya bersinar di wajah ibunya itu.
" Kamu mau dikutuk jadi nogosari ya? Bisa-bisanya ngomong gak sopan gitu! " ibu melotot
Keduanya tertawa. Ibu menjewer telinga Sasi pelan.
" Minggu depan aku diajak ketemu papanya Tommy bu. Mau dikenalkan katanya"
" Woaahh...dia sungguh-sungguh nduk..kamu nggak nolak dia kan?" ibu terlihat khawatir.
Sasi menunduk. " Aku mau dikenalkan papanya bu. Tapi aku nggak mau buru-buru nikah. Kita baru dekat, belum ada sebulan. Belum saling mengenal. Aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri bu. Seperti ada yang mengganjal di sini " , Sasi menunjuk dadanya sendiri.
Ibu tersenyum sekilas. Ingatannya langsung melayang pada sesosok mahkluk yang selama ini menghuni alam bawah sadar putrinya itu. Pasti tak semudah itu pengaruh sosok itu lenyap dari pikiran Sasi. Butuh waktu untuk membersihkan jiwa Sasi dari ikatan sosok astral itu. Dan Sasi harus berhasil. Dan tugas ibu untuk meyakinkan Sasi.
__ADS_1
" Tapi kamu bilang dia temanmu kerja selama empat tahun. Kadang teman malah lebih saling kenal daripada pacar nduk."
" Sebenarnya dia bukan temanku bu. Tommy itu bossku. Maaf baru bilang, Tommy yang nggak mau ibu tahu kalau dia bossku. Katanya lebih nyaman dianggap temanku"
Ibu mendesah, tapi tetap tersenyum, " Wah jadi ndak enak ini ibu. Sudah ndak sopan sama bossmu. Kamu kok ya nurut saja to Sas disuruh bohong." lagi-lagi Ibu menjewer telinga Sasi.
" Hehehe...maaf bu. Sebenarnya dia itu dulu cuek banget sama Sasi bu. Pokoknya istilahnya anti cewek gitu bu. Sasi nggak tahu sih alasan dia gak suka cewek. Malah ketus banget sama cewek bu. Sama Sasi aja jarang ngomong kalau bukan urusan kerja. Pokoknya jutek banget gitu . Makanya Sasi juga aneh waktu dia tiba-tiba bilang suka sama Sasi."
" Masa segitunya nduk?" ibu mengeryit heran.
"Asal ibu tahu ya, dulu waktu pertama nembak, Sasi tolak langsung. Nggak ada angin gak ada hujan ngajak pacaran. Ngomong aja jarang, senyum aja pelit. Lha kok tiba-tiba nembak. Aneh kan bu?"
" Nah baru dua bulanan ini sikapnya baik sama Sasi. Suka senyum, ngajak ngobrol kadang bercanda. Baru deh waktu nembak lagi Sasi terima. Itupun Sasi masih ragu sama perasaan Sasi."
" Jadi gitu ceritanya. Tapi kalau menurut ibu, Tommy itu sungguhan cinta sama kamu. Ibu bisa lihat dari sorot matanya. Terus maunya nempeeel terus sama kamu" ibu mengerling.
" Ibu ish..." Sasi melengos malu.
Semburat merah langsung memenuhi wajah Sasi. Teringat pelukan hangat Tommy di pedopo tadi, ciuman panas Tommy waktu mabuk kemarin, dan kecupan di kening serta pipi...wahh..sudah sebanyak itu? Belum.lagi duduk menempel sambil menggelitik Sasi tadi. Sasi tanpa sadar menutup mukanya sendiri. Malu tak terkira.
" Wahh, kalau sampai malu begini, berarti harus cepet dikawinin. Pasti sudah ngelakuin yang iya-iya..?" ibu makin memojokkan Sasi.
" Ibuuu..nggak seperti itu. Sasi juga tahu batasan bu..Ah ibu.!" Sasi merajuk.
Ibu tertawa-tawa. " Berdoalah nduk. Mohon tuntunan Yang Kuasa. Agar hatimu yakin dan bisa membuat keputusan yang terbaik. Kamu ketemu Tommy juga bukan kebetulan. Pasti sudah diatur sama yang di atas. Kalian ini ternyata sama-sama jomblo selama ini. Sekarang sama-sama jatuh cinta. Ibu yakin kalian berjodoh."
Sasi terdiam mendengar kata-kata ibunya. Kalau hanya untuk menyenangkan hati ibunya, pasti Sasi akan dengan mudah menerima ajakan Tommy menikah. Tapi menikah bukan cuma soal duduk di pelaminan. Itu pertaruhan seumur hidup.
__ADS_1
Sasi ingin jika menikah, itu adalah yang pertama dan terakhir. Jika harus hidup bersama seorang pria, itu harus sekali dan satu-satunya. Jadi Sasi merasa perlu meyakinkan diri bahwa Tommy adalah yang terbaik baginya seumur hidup.
" Sasi akan ketemu papanya Tommy dulu bu. Mungkin dari sana Sasi bisa memutuskan, apakah Sasi akan menerima ajakan menikah dengan Tommy , atau menundanya atau bahkan tidak sama sekali." Akhirnya Sasi memutuskan.
Ibu mengusap pelan rambut Sasi. " Ibu selalu mendukungmu nduk" Lalu meninggalkan Sasi sendiri di kamarnya.
Keluar dari kamar Sasi ibu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
" Sugeng dalu ( selamat malam)mbah. Nuwun sewu ( permisi) mengganggu . Sebenarnya saya mau ke rumah panjenengan ( anda) besok. Tapi sudah ndak tahan saya mbah. Ngapunten inggih? ( maaf ya)" Ibu bicara pelan dengan nada rendah.
" Kamu itu kebiasaan kesusu ( buru-buru). Sabar to.."
"Maaf mbah. Soalnya saya seneng sekaligus takut ini mbah. Tommy ternyata sudah berani ngajak Sasi nikah mbah. Matur nuwun( terima kasih) saya percaya ini pasti ada campur tangan panjenengan hingga secepat ini."
" Sebenarnya mbah tidak terlalu ikut campur nduk, mbah cuma mengawasi saja dari jauh. Memang calonnya Sasi itu sudah cinta sama Sasi. Bukan karena mbah" Mbah Ageng menjawab ibu.
" Inggih mbah, matur nuwun. Tapi yang jadi masalah, seperti yang sudah mbah bilang, Sasi yang malah ragu-ragu. Dia bilang masih ada yang ngganjel ( mengganjal) di hatinya."
" Mbah sudah tahu, sekarang kita sabar dulu. Kita ikuti saja maunya Sasi. Mudah-mudahan pamor Tommy yang kuat bisa meluluhkan Sasi sekaligus membuat saingannya dari alam lain mundur dengan sendirinya. Kamu jangan kuatir. Mbah tetap akan mengawasi dan menjaga Sasi dari jauh. Agar Sasi tidak disakiti dan dibahayakan pengagumnya itu."
"Satu lagi, mbah lihat ada yang bakal terjadi dalam waktu dekat. Mungkin akan sedikit mengejutkanmu dan juga anakmu. Tapi kamu ndak usah kuatir. Semua sudah ada jalannya."
" Inggih mbah. Ngestoaken dhawuh ( melakukan perintah) "
Ibu menutup panggilannya . Meletakkan ponsel di nakas lalu duduk bersila. Tangannya dikaitkan di depan dada. Memejamkan mata dan mengambil nafas dalam. Mengheningkan cipta. Menyatukan diri menghadap Sang Empunya dunia. Mengambil 'saat teduh dalam lingkaran penyerahan diri. Hening...
********
__ADS_1
Klepon : Jajanan berbentuk bulat dari tepung ketan dengan isian gula merah didalamnya. Biasanya disajikan dwngan parutan kelapa muda
Nogosari: Jajanan dibungkus daun pisang. Terbuat dari tepung beras dengan isian pisang .