Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Hari baru


__ADS_3

Pagi menjelang. Sasi sudah siap dengan pakaian ke kantor. Gadis itu sedang sarapan ketika Rumi mengantar Tommy ke meja makan.


" Mas? Pagi banget, sudah sarapan belum?" Sasi terkejut mendapati Tommy sudah berdiri di hadapannya.


" Iya , mau jemput kamu. Tadi sudah sarapan roti sama minum susu." Tommy tersenyum


" Duduk sini. Temani aku makan dulu. Atau mau sarapan lagi. Enak loh mas. Ibu masak tongseng."


" Nggak, sudah kenyang.." Tommy menggeleng lalu duduk di sebelah Sasi. Tanpa bertanya meminum air putih di gelas yang ada di depan Sasi.


Sasi tersenyum, " Nih, cobain masakan ibu..Aaaa" Sasi mengarahkan sesendok makanannya ke mulut Tommy.


Tommy membuka mulutnya menerima suapan Sasi. " Emhh..iya enak. Apalagi disuapin calon istriku yang cantik"


" Manja...! Lagi?" tanya Sasi sambil menyuapi Tommy lagi.


Tommy tersenyum dan membuka mulutnya. Akhirnya Sasi makan sambil menyuapi Tommy hingga makanan di piringnya habis.


" Kok nggak makan sendiri Tom, mana kenyang makan sepiring berdua? " tiba-tiba ibu berdiri di belakang mereka.


" Uhukk..." Tommy hampir tersedak karena kaget.


" Hehehe...tadi sebenarnya sudah sarapan bu, tapi katanya nggak boleh nolak rejeki. Ya sudah makan lagi...hhehe..." Tommy jadi salah tingkah.


Ibu dan sasi tertawa melihat Tommy yang terlihat malu-malu.


" Ya sudah ayok berangkat Mas..!" ajak Sasi setelah mengembalikan piring ke dapur.


" Kita berangkat bu!" pamit Tommy sambil mencium tangan ibu. Sasi juga mencium tangan dan kedua pipi ibunya .


" Hati-hati ya...Tommy jangan lupa hari ini mulai sekolah malam ya..?" ibu mengingatkan Tommy.


" Iya bu." jawab Tommy singkat.


Keduanya kemudian berangkat ke kantor bersama-sama.


" Mulai sekarang berangkat sama pulang mas boss yang antar. Ngga usah bawa mobil sendiri. Kecuali kalau aku ke luar kota atau ada keperluan. Baru boleh bawa mobil sendiri" Tommy menggenggam tangan Sasi dengan tangan kirinya.


" Mas nggak kejauhan kalau tiap hari antar jemput ? Capek lo mas?"


" Nggak ada capek. Hitung-hitung belajar, simulasi mau jadi suami ..." Tommy tertawa.


Sasi ikut tertawa " Terserah mas saja lah. Asal tidak memberatkan." jawab Sasi.


Sampai di kantor, tidak seperti biasanya , karyawan dan staf kantor berkumpul di lobby. Dan ketika Tommy dan Sasi masuk ke lobby mereka semua mengucapkan selamat pada Boss dan asistennya itu.


Salah seorang wakil mereka maju ke depan Tommy dan Sasi


" Selamat Boss dan mbak Sasi atas acara lamarannya kemarin. Mudah-mudahan lancar sampai menikah nanti. Amiin"


" Amiin!" semua mngaminkan termasuk Sasi dan Tommy.Para karyawan bertepuk tangan.


" Kalian kok tahu?" tanya sang boss.


Semua menunjuk Reza dan Davin di barisan belakang.


Tommy mendecak" Dasar biang gosip" tambahnya menggerutu.


" Sudah bubar..bubar..kerja!" Tommy mengibaskan tangannya. Mode jutek on! Semua segera bubar jalan. Takut si bos mengamuk.


" Makasih ya..." Sasi setengah berteriak ke arah para karyawan yang mulai membubarkan diri.


" Mas tega banget sih? Mereka jadi ketakutan." Sasi merasa kesal melihat sikap Tommy. Tapi bossnya itu tampak cuek.


Tinggal Reza dan Davin berdiri di depan mereka.


" Kalian biang gosipnya? " gerutu Tommy sambil berjalan menuju lift. Sasi , Reza dan Davin mengikuti langkahnya.


" Boss kan gak bilang suruh rahasiakan. Berita baik harus dikabarkan boss" Reza menjawab takut-takut. Davin cuma menunduk.


Tommy diam saja. Sementara Sasi tersenyum-senyum melihat Reza dan Davin ketakutan.


" Sudah sih mas..terlanjur tahu. Bener kata Reza , berita baik harus dikabarkan."

__ADS_1


Mendengar kata-kata Sasi yang lembut, Tommy langsung tersenyum pada gadis itu.


" Ngapain ikutan berdiri disitu sayang? Sini sama mas.." Tommy menarik lembut tangan Sasi ketika gadis itu malah berdiri dengan Reza dan Davin.


Reza dan Davin sampai melongo mendengar Bos memanggil Sasi dengan sebutan Sayang dan tersenyum manis pada gadis itu.


Boss Buciiin....


Flash back


Reza dan Davin kemarin diajak Tommy untuk ikut mengantarnya melamar kekasihnya. Tommy menelpon Reza.


"Nanti sore ke rumah saya yang di Semeru. Ajak Davin juga. Dandan yang rapi biar ganteng. Saya mau melamar pacar saya. Kalian ikut rombongan saya dan papa saya"


Tommy tidak mengatakan siapa yang akan dilamarnya.


" Baik Boss" jawab Reza lalu segera memberitahu Davin perintah boss mereka.


Sore hari Reza dan Davin sudah siap di rumah Tommy bersama rombongan yang lain. Mereka beriringan menggunakan lima mobil berangkat ke ruamah Sasi. Reza dan Davin berada paling belakang dari rombongan.


" Beberapa saat ketika hampir sampai rumah Sasi, Reza dan Davin baru sadar bahwa mereka mengarah ke rumah Sasi.


" Ja...bukannya ini arah rumah Sasiku?" Davin memperhatikan jalan di sekitar mereka.


" Sasimu...ngimpi kamu. Tapi emang bener ini kaya jalan ke rumah si cantik. "


Mereka masih bertanya-tanya ketika rombongan benar-benar berhenti di depan rumah Sasi yang tampak ramai dan semarak dengan dekorasi yang indah.


Reza dan Davin saling memandang. Damn! Reza dan Davin merutuk bersamaan.


" Aku sudah menduga. Sejak melihat mereka bergandengan tangan malam itu, aku sudah curiga si Bos dan Sasi ada hubungan." Reza memggumam.


" Kamu sudah tahu? Kok nggak bilang aku?" Davin tampak menyesal.


" Aku belum yakin" Reza mendesah. Pupus sudah harapannya yang tinggal seujung kuku.


Saat mendengar Sasi sudah punya pacar Reza masih saja berharap Sasi akan berpaling suatu saat. Tapi begitu melihat kenyataan Sasi akan dilamar bossnya saat ini, harapan itu redup dan mati begitu saja.


Boss benar-benar menepuk dua lalat dalam satu tebasan. Kejam! Pedih, batin Reza dan Davin lirih. Sepanjang acara duo jones itu memasang wajah dan senyum palsu. Menutupi kepedihan hati yang tersakiti.


Tapi life must go on bukan?


Dan pagi ini Reza dan Davin memprakarsai ucapan selamat semua karyawan pada boss mereka itu.


Flash back off


Sampai di ruangan, Sasi segera mengerjakan tugasnya yang sudah ditinggalkannya dua hari ini. Namun ternyata tidak terlalu banyak tugas yang menumpuk. Pasti karena sudah dikerjakan sebagian oleh Reza,.jadi pekerjaan sasi tidak terlalu banyak yang terbengkalai.


Sasi keluar ruangan menuju ruangan Reza yang berseberangan dengan ruangannya. Tampak Reza sedang sibuk di depan laptopnya.


" Pagi Bapak Wakil Ditektur" Sapa Sasi.


" Ehh..cantik, ayo masuk...my new room..!" Reza berdiri sambil merentangkan tangan. " Gimana, bagus nggak?" Tanya Reza meminta pendapat Sasi tentang penataan ruang barunya.


" Elegant...I like it!" seru Sasi. Reza tersenyum senang.


" Jadi sejak kapan kalian pacaran?" Reza langsung menodong Sasi.


" Rahasia....hahahaa..." Sasi tertawa menggoda Reza.


" Curang..! Kenapa sih bohong?" cecar Reza.


" Bukan bohong, tapi emang nggak mau di publish dulu sebelum yakin" jelas Sasi.


" Sekarang yakin?" tanya Reza.


" Yakin dong...kan sudah lamaran?" Sasi kembali tersenyum.


" Sekali lagi selamat ya..mudah-mudahan kalian bahagia. Kalau kamu nggak bahagia..."


" Kamu mau apa? Mau nikung saya? Mau jadi pebinor kamu?" Belum selesai Reza bicara tiba-tiba Tommy sudah ada di ruangan Reza.


Waduh!

__ADS_1


" Pak?" Reza tercekat lalu menggeleng keras " Bukan begitu maksud saya pak.."


" Mas?" Sasi juga terkejut.


" Kalian ini, masih jam kerja sudah ngobrol, ngerumpi. Mau dapat SP Reza?"


" Nggak boss. Maaf" Reza menunduk " Cuma aku yang mau dikasih SP? Yang ngajak ngobrol kan Sasi, dasar nepotisme" Reza menggerutu dalam hati.


" Aku mau tanya kerjaan mas, kemarin kan dua hari gak masuk. Banyak yang aku mau tanyakan ke Reza ".


" Banyak alasan. Cepetan, aku tunggu di ruanganku" Tommy langsung pergi.


Sasi tertawa tertahan. Apalagi melihat Reza cemberut.


" Tenang aja, gak bakalan di kasih SP" Sasi menenangkan Reza.


" Iya kamu gak bakalan di SP. Calon istri bos, lha aku? Bisa hilang insentif sebulan. Sudahlah, kamu mau tanya apa ? " Reza kembali ke tempat duduknya.


Sasi segera membuka berkas yang dibawanya dan melakukan koreksi bersama-sama Reza. Lima menit kemudian Sasi sudah keluar dari ruang Reza. Gadis itu langsung menuju ruangan Tommy.


" Masuk..!" Suara Tommy menjawab ketukan pintu Sasi.


" Kunci pintu" Lanjut Tommy. Kebiasaan. Mau apa sih boss?


" Sini!" Tommy menggerakkan telunjuknya. Sasi menurut, mendekat pada Tommy di kursi direktur.


" Ini jadwal meeting hari ini pak. Cuma ada satu setelah istirahat siang."


" Oke. Kerjaan kamu sudah selesai sayang?" Tanya Tommy sambil menarik pinggang Gadis itu hingga Sasi jatuh ke pangkuannya.


" Mas?" Sasi hendak bangkit, tapi Tommy menahannya .


" Diam sebentar. Kiss morning ? " Tommy menatap lekat mata Sasi. Menarik lembut tengkuk Sasi dan melabuhkan bibirnya ke wajah Sasi. Menyesap manis dan lembutnya bibir Gadisnya penuh kerinduan.


" Mas.." Sasi mendesah ketika ciuman Tomy semakin dalam dan panas. Dan saat ciuman Tommy mulai menyasar lehernya, Sasi mendorong pelahan wajah Tommy agar menjauh.


" Sayang...ahh..!" keluh Tommy merasa kesenangannya terganggu.


" Enough sayang...ini di kantor. Jangan kebablasan!" tegur Sasi lembut sambil mencium kening Tommy.


Tommy tersenyum menatap gadis pujaannya itu. Lalu mengangguk.


" Kamu bikin aku kangen terus.." Mencium bibir Sasi sekilas.


Sasi buru-buru turun dari rengkuhan Tommy saat pelukan Tommy di pinggangnya mengendur.


" Kerjaanku belum selesai mas.." Sasi segera melesat keluar ruangan. Sungguh berbahaya berdua saja bersama boss mesumnya ini.


Tommy terkekeh-kekeh. Vitamin pagi telah dihisapnya. Membuat semangat kerjanya kini meningkat tajam.


Sasi segera mengerjakan beberapa tugasnya. Namun belum sampai sepuluh menit, Tommy masuk ke ruangannya.


" Apalagi mas?" Sasi mengerutkan kening.


" Sambil kerja, jawab pertanyaanku ya?" Tommy langsung duduk di depan Sasi.


" Oke. mau tanya apa?" Sasi menunduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya sambil mendengarkan Tommy.


" Kamu kenal nggak sama guru spiritual keluarga kamu?"


Sasi langsung mendongak. " Ah! mas, aku ingat sekarang. Orang tua yang muncul dalam mimpiku saat aku mati suri itu ya orang itu. Mbah Ageng. Guru spiritual keluarga. Lebih tepatnya guru ibu dan ayah serta kakek . Karena kami anak-anaknya sama sekali tidak pernah berhubungan dengannya." jelas Sasi. Tentu saja tidak dikatakannya soal mbah Ageng dan air mineralnya.


" Hmm..jadi penasaran. Soalnya aku juga mimpi kakek-kakek. Apakah mungkin?" mata Tommy menerawang.


Sasi mengibaskan tangannya di depan wajah Tommy karena pria itu terlalu lama melamun di depan Sasi.


Tommy menangkap tangan Sasi dan menariknya sehingga tubuh gadis itu terdorong ke depan. Dan ..hup! Tommy sudah berhasil mencuri kecupan di bibir Sasi.


Sasi memekik pelan " Kebiasaan!"


Tommy tertawa lirih sambil berdiri dan keluar dari ruangan Sasi tanpa menoleh lagi.


Wajah Sasi merona merah.

__ADS_1


__ADS_2