Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Bertemu Mbah Ageng


__ADS_3

Sudah jam lima sore . Hari itu tidak terlalu banyak pekerjaan meskipun Tommy cuti sehari kemarin dan Sasi juga cuti dua hari. Reza benar-benar membantu pekerjaan mereka.


Saat ini Tommy dan Sasi sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Sasi.


" Tahu begini dari dulu aku angkat Reza jadi wakilku. Dia benar-benar mengerjakan tugasnya dengan baik." Tommy merasa benar-benar terbantu oleh Reza.


" Nah kan? Makanya jangan galak-galak sama Reza mas, kerjanya bagus kan? " Sasi membela Reza.


" Bukan galak Sayang, aku cuma berhati-hati. Jangan sampai kasih kesempatan orang untuk modusin calon istriku. Biar Reza cepet move on juga." Tommy membela diri.


" Mas percaya aku deh, kamu satu-satunya di hatiku. Pacar pertama dan terakhirku. Kalau aku mau, pasti dari dulu aku sudah jadian sama Reza atau Davin mas. Buktinya aku cuma mau sama mas aja. Because my heart is yours." Sasi menatap Tommy lembut.


Tommy tersenyum-senyum sendiri mendengar ucapan Sasi yang terdengar tulus dari hati, bagaikan angin surga yang meniup-niup telinganya.


" Namanya cinta sayang...pasti cemburu kalau lihat kekasih hati dekat dengan lelaki lain. Aku sih percaya sama kamu , tapi nggak percaya sama yang godain kamu. Udah tau calon istri bossnya, masih aja berani ngomong macam-macam. Tapi mas janji akan lebih sabar kok. Kasihan juga Reza, sudah patah hati, dimarahi boss terus...hahaha...tragis banget nasibnya.." Tommy malah tertawa mengejek.


" Mas jahat banget sih...malah diketawain.." Sasi menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Tommy. Tapi calon suaminya itu malah semakin terkekeh .


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Sasi. Ibu menyambut mereka di depan pintu.


" Kalian pulang sore?" Tanya ibu ketika Tommy dan Sasi mencium tangan ibu bergantian.


" Iya bu kebetulan hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan" Tommy yang menjawab.


Ibu mengangguk " Bagus lah jadi kamu nanti tidak terlalu malam pulangnya. Kamu tidak lupa bawa baju ganti kan? "


" Sudah bawa bu." Jawab Tommy sambil menunjukkan paper bag di tangannya.


" Mas tunggu disini sebentar ya. Aku mandi dulu. Habis itu gantian mas yang mandi." Sasi meninggalkan Tommy duduk di sofa ruang tengah bersama ibu. Tommy mengangguk dan tersenyum memandangi Sasi yang masuk ke kamarnya.


Pikirannya sudah melayang-layang membayangkan jika kamar Sasi kelak akan jadi kamar pengantinnya.Entah apa yang dibayangkannya. Hingga wajahnya tampak merona.


" Hayoo..ngelamun apa?" suara ibu membuyarkan lamunan Tommy.


" Eh...enggak kok bu.." Tommy menunduk, malu dengan pikirannya sendiri.


" Minum teh hangat dulu sambil nunggu Sasi Tom..Ibu ke belakang dulu ya.." ibu meletakkan secangkir teh yang sudah dibuatkan Rumi.


" Iya bu. Terima kasih" jawab Tommy. Dikeluarkannya ponsel dari sakunya dan mulai serius menatap benda pipih persegi panjang itu. Melihat-lihat portal berita dan akunp media sosialnya sambil menunggu Sasi.


Duapuluh menit kemudian Sasi tampak keluar dari kamar dengan rambut sedikit basah tergerai dan wajah segar merona tanpa pulasan make up sama sekali. Hanya bibirnya tampak dipulas lipbalm sewarna bibirnya.


Tommy mengangkat wajahnya mendengar pintu kamar terbuka dan mendapati sosok bidadarinya keluar dari kamar. Harum semerbak segera menyergap penciumannya saat Sasi mendekat ke arahnya lalu duduk di sampingya.


Tommy tanpa sadar mendekatkan hidung ke wajah Sasi.

__ADS_1


" Wangi banget sih...jadi pengen..." bisiknya lirih.


" Haiss..mandi dulu sana. Handuknya sudah aku siapin di kamar mandi."


Sasi buru-buru medorong tubuh Tommy menjauh. Menariknya berdiri dan mendorongnya pelan ke kamarnya. Begitu Tommy masuk, Sasi segera keluar dan menutup pintu kamar. Meninggalkan Tommy sendiri.


Tommy melangkah pelan menuju ke pintu kamar mandi. Ini adalah ke dua kalinya Tommy masuk kamar Sasi. Pertama waktu Sasi sedang demam saat itu.


Tapi kali ini rasanya ada yang ganjil. Tiba-tiba saja Tommy merasakan hawa dingin menyergapnya. Padahal AC di ruangan tampak mati. Tommy merasa ada sesuatu yang asing di kamar ini. Rasanya ada sesuatu yang mengawasinya. Pandangannya berkeliling menelisik seluruh ruangan. Tapi tak ada apapun disana.


Akhirnya Tommy mengabaikan perasaan tidak nyaman itu, dan bergegas ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Tommy sudah keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak segar. Sudah mengganti pakaiannya dengan kemeja santai dan celana panjang casual.


Sasi tersenyum menyambut kekasihnya itu. Ganteng banget! Batin Sasi memuji.


" Makan malam dulu yuk. Sudah ditunggu ibu di meja makan " Sasi menggandeng tangan Tommy dan membawanya ke meja makan.


Ibu sudah duduk disana. Tommy dan Sasi duduk berdampingan di seberang ibu. Mereka makan sambil mengobrol ringan.


Setelah selesai makan malam, ibu dan Tommy bergegas berangkat ke rumah mbah Ageng. Tommy membawa mobilnya sendiri sementara ibu diantar Kusno.


Rencananya ibu cuma mengantar Tommy saja. Setelahnya ibu langsung pulang, sementara Tommy akan ditinggal di rumah mbah Ageng untuk memulai pelajarannya.


Hingga akhirnya Tommy mengikuti mobil Ibu yang berbelok ke arah sebuah rumah tua yang tampak angker.


Tommy sebenarnya bukan tipe penakut. Malah cenderung berani karena tidak percaya hal-hal yang bersifat tak kasat mata seperti halnya Sasi. Namun melihat kondisi sekitar rumah mbah Ageng, tak urung menimbulkan perasaan tak nyaman di hatinya.


Pintu rumah itu tampak terbuka dari dalam. Seorang perempuan tua membukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk.


Kusno sopir ibu ikut turun dan duduk di teras. Sementara Tommy mengikuti langkah ibu masuk ke dalam rumah.


Penerangan di dalam rumah itu tampak remang-remang karena hanya sebuah bohlam model lama yang dinyalakan.


Di ruang tamu tampak sesosok lelaki tua duduk di sebuah kursi berukir.


" Sugeng dalu ( selamat malam ) mbah. Ini Tommy, calon suaminya Sasi" ibu mengenalkan Tommy pada lelaki tua itu.


" Ini mbah Ageng yang ibu ceritakan kemarin Tom" bisik ibu.Tommy mengangguk.


Tommy menatap lekat wajah mbah Ageng. Benar. Dia ini yang menuntunnya menyelamatkan Sasi dalam mimpi saat itu. Sasi pun mengatakan bahwa yang ditemuinya saat mati suri juga lelaki tua ini. Apakah ini kebetulan belaka? Ataukah ada rahasia lain yang tak diketahuinya?


" Yo wes nduk. Kamu boleh pulang. Biar Bastomi sama mbah " Mbah Ageng berucap pelan.


" Inggih mbah. Saya mohon pamit. Tom, ibu pulang dulu ya. Baik-baik sama mbah" ibu menepuk punggung Tommy.

__ADS_1


" Iya bu" jawab Tommy singkat.


Sepeninggal ibu, Mbah Ageng mengajak Tommy ke pendopo di belakang rumahnya.


Gelap gulita. Mata Tommy tak bisa melihat apapun di sana. Hanya samar-samar tampak pepohonan rimbun mengelilingi tempat itu. Dingin dan mencekam di tingkah suara binatang malam menjerit-jerit.


" Duduk di sebelah mbah sini Tom." Lirih mbah Ageng namun dapat didengar jelas oleh Tommy karena suasana hening di sekitar.


" Kamu nggak mau tanya sesuatu?" mbah Ageng duduk bersila diikuti Tommy.


" Sebenarnya saya pernah ketemu mbah dalam mimpi, padahal saya belum pernah melihat mbah sebelumnya. Saat itu Sasi mati suri, dan mbah menuntun saya menyelamatkan Sasi dalam mimpi. Bagaimana bisa mbah? " Tommy akhirnya menyampaikan isi hatinya yang penasaran.


" Jadi sebenarnya kamu bukan mimpi Le ( tole, nak, panggilan anak laki-laki). Untuk orang awam, itu seperti mimpi. Padahal sebenarnya itu adalah nyata. Perjalanan rohmu, jiwamu, di alam roh. Alam yang kata orang tak kasat mata. Dunia lain. Padahal itu ada dalam dirimu sendiri. "


"Itu adalah alam bawah sadarmu sendiri. Kamu pernah mendengar tentang alam bawah sadar kan? Malah sekarang sudah bisa digunakan sebagai sugesti untuk pengobatan. Termasuk sayangnya,Juga banyak yang menggunakan untuk kejahatan . Hipnotis, hypnoterapi."


Tommy mendengarkan dengan seksama ucapan mbah Ageng yang menurutnya artinya sangat dalam. Namun masih bisa diterima akalnya.


" Menurutmu, yang hidup di alam ini cuma manusia saja?" Tanya mbah Ageng penuh misteri.


" Selama ini saya berpikir begitu mbah. Bukan karena tidak percaya, tapi lebih kepada tidak mau ribet dan berpikir macam-macam. Selama tidak terlihat, saya anggap tidak ada. Meski saya juga tidak menutup mata, mungkin memang ada sesuatu yang tidak bisa dilihat mata telanjang manusia."


Mbah Ageng terkekeh.


"Jadi kalau kamu bisa melihat, kamu tidak bisa mengelak kan, kalau sesuatu itu ada.? " Mbah Ageng kembali bertanya.


" Ya kira-kira begitu mbah.." Jawab Tommy ringan. Ternyata bicara dengan mbah Ageng cukup menyenangkan. Tidak seperti apa yang dibayangkannya sebelum bertemu lelaki tua itu.


Tommy bahkan merasa orang tua di hadapannya ini sangat pintar dan penuh pengetahuan yang sangat mendalam.Apa yang keluar dari mulutnya penuh dengan hikmat dan kebijaksanaan yang luhur. Kadang Tommy harus berpikir lama untuk mengerti apa yang mbah Ageng sampaikan.


" Mbah akan ngajari kamu, supaya kamu bisa melihat yang seharusnya kamu lihat. Agar kamu percaya dan tidak menganggap itu mimpi, halusinasi atau karangan orang belaka. Apa kamu siap?" Mbah Ageng menepuk-nepuk pundak pemuda itu.


" Sebenarnya saya tidak ingin mengetahui hal-hal yang tidak biasa seperti itu mbah. Saya lebih suka begini saja. Jadi orang biasa." Jawab Tommy jujur.


" Kamu tidak salah. Memang lebih baik tidak tahu kalau itu hanya akan membuat kita jadi tidak tenang menjalani hidup. Mbah tidak akan memaksamu. Tapi mbah akan membantumu membuka sedikit mata hatimu agar kamu tahu, apakah kamu perlu , atau tidak perlu menguasai ilmu tentang dunia tak kasat mata ini. "


" Setelah itu, baru kamu putuskan. Apakah kamu akan mempelajarinya atau tidak sama sekali. Apa kamu mau menerima tantangan mbah.? Mbah lihat kamu cukup berani." Mbah Ageng mencoba menantang keberanian Tommy.


Merasa tak takut sedikit pun akhirnya Tommy bersedia mencoba apa yang mbah Ageng sarankan.


Toh cuma sekedar mencoba, sekaligus Tommy ingin membuktikan. Apakah dunia lain yang tak kasat mata itu benar-benar ada? Ataukah cuma sekedar omong kosong belaka seperti yang dia percaya selama ini.


" Baik mbah. Saya bersedia dibuka mata batin saya. Tapi mohon maaf, jika nanti saya tidak berminat mempelajari hal ini lebih jauh, itu bukan karena saya tidak menghargai mbah atau budaya kita. Tetapi semata-mata karena saya cuma ingin jadi orang biasa saja. Berpikir simpel dan menggunakan logika. Tidak memikirkan yang aneh-aneh. Maaf sekali lagi mbah." Tommy mencoba berterus terang tentang perasaannya pada mbah Ageng.


Mbah Ageng tertawa terkekeh. Makin kagum dan yakin pada kekuatan dan kepribadian Tommy. Makin yakin bahwa Tommy bisa melindungi Sasi bahkan mengalahkan dan men'gusir makhluk yang selalu memgganggu calon istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2