Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Ekstra Episode 1. Maharani Tercinta


__ADS_3

19 tahun kemudian...


Tommy dan Sasi kini sudah memiliki seorang putri Sekar Maharani dan dua orang putra, Wirabhumi dan Bimantara. Namun kemesraan dan cinta mereka tak berkurang sedikitpun, malah bertambah berkali lipat.


Tommy makin mencintai Sasi yang sudah memberinya 3 putra putri yang cantik dan tampan.


Rani sudah 19 tahun, tumbuh sebagai gadis cantik yang sangat cerdas hingga saat ini sudah hampir menyelesaikan S1 nya di usia yang masih sangat muda karena ikut kelas akselerasi. Sementara dua adiknya Bhumi dan Tara masih duduk di bangku SMP klas 7 dan 9.


" Rani mana Yang, kok ngga ikut sarapan?" Tommy menatap pintu kamar Rani yang tertutup. Hanya ada istrinya serta dua anak lelakinya di meja makan. Sementara sang putri kesayangan tak tampak.


Ibu Sasi yang biasanya ikut makan bersama saat ini juga tak nampak. Dia berada di rumah Retno sejak kemarin karena ada acara keluarga disana. Retno dan Palupi bergantian mengajak ibu ke rumah mereka.


Ibu pun tak keberatan karena kegiatannya kini adalah menyenangkan hatinya sendiri, berkunjung ke rumah anak-anaknya sesuka hatinya. Kadang mereka pergi bersama keluarga Sasi, Retno dan Palupi. Sekedar jalan-jalan ke agrowisata atau perkebunan mereka. Tak Jarang pelesir bersama ke luar daerah bahkan luar negeri.


" Pagi-pagi Rani sudah berangkat sayang, persiapan sidang skripsi besok katanya. Mas kan sudah dikasih tahu kemarin?" Sasi mengambilkan nasi dan lauk ke piring Tommy dan kedua putranya.


" Kok nggak pamit aku sih Yang?" Tommy tampak gusar. Tak melihat putrinya saat sarapan membuat selera makannya hilang. Sasi mendesah pelan. Tommy terlalu mencintai putri satu-satunya itu. Bhumi dan Tara , kedua-putranya bahkan sudah memprotesnya karena iri pada perlakuan papa mereka terhadap Rani yang terlalu istimewa.


" Anak emas papa hilang ma.." Si bungsu Tara tersenyum nakal. Bhumi yang kalem cuma tersenyum dikulum.


" Huss...siapa.bilang? Kalian berdua ini yang anak mas papa. Kalau Rani ya mbak, bukan mas!" Sasi mencubit hidung Tara .


Tommy tertawa. Dia tahu Bhumi dan Tara sering iri pada Rani. Tapi Tommy memang tak bisa adil. Cintanya pada Rani memang jauh lebih besar dibanding untuk Bhumi dan Tara.


" Tara dan Bhumi kan cowok. Kuat. Bisa jaga diri. Kalau mbak Rani kan cewek. Kurang bisa jaga diri. Jadi papa mesti kasih perhatian dan perlindungan lebih. Cewek itu harus dilindungi" lagi-lagi itu alasan Tommy.


" Padahal mbak Rani bisa jegal papa dalam satu gerakan. Bahkan guru silat kita saja dikalahkan mbak Rani saat tanding.." Tara dan Bhumi tertawa terkekeh, Tommy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kalah telak.


Sasi ikut tertawa geli. " Sudahlah mas, akui saja kalau mas lebih sayang Rani daripada dua jagoan kita ini. Tapi jangan khawatir, mama lebih sayang pada kalian.." bisik Sasi sambil mencium pipi kedua putranya yang tampan.


Bhumi dan Tara balas mencium pipi Sasi bersamaan. " Love you too mama..." dan keduanya terkekeh melihat Tommy pura-pura sebal.


" Aku lebih sayang kamu yang, mana ciuman untuk papa.." Tommy menyorongkan pipinya pada Sasi dan Sasi segera mengecup pipi suaminya itu agak lama.


" Iss papa...disini ada anak di bawah umur" Tara protes. Tapi Tommy tak peduli. Menunjukkan kasih sayangnya pada Sasi dalam batas wajar seperti pelukan dan ciuman pipi menurutnya malah memberikan contoh nyata pada putra-putrinya bagaimana cara menyatakan kasih sayang pada keluarga tercinta.


Selesai makan Tommy berangkat bersama Bhumi dan Tara. Meski makin sibuk, Tommy sebisa mungkin menyempatkan mengantar buah hatinya ke sekolah mereka. Pulangnya di jemput Jono.


FYI...Jono sudah menikah dengan Debby, baby siter Rani yang lucu dan manis. Mereka sudah dikaruniai seorang putra yang saat ini duduk di bangku SMA.


Dulu juga Tommy yang mengantar Rani ke sekolah, namun semenjak memiliki SIM dan mobil , Rani berangkat sendiri. Kadang Tommy merasa kehilangan dan tak rela Rani tumbuh dewasa dan menjauh darinya.

__ADS_1


" Papa pasti ngelamunin mbak Rani lagi. Pa...kelewat tuh sekolah Bhumi dan Tara" Bhumi menepuk lengan papanya.


Tommy segera mengerem mobilnya dan menepikannya. " Sorry...para jagoan papa. Papa ngelamun...aduh!!" Tommy menepuk keningnya sendiri.


" Hati-hati loh Pa, bahaya kalau mengemudi sambil ngelamun." Tara memperingatkan papanya.


" Iya ..iya papa ngga akan melamun lagi... Sudah kalian berangkat." Bhumi dan Tara mencium tangan dan kedua pipi Tommy, dibalas ciuman di kedua pipi dan kening mereka. Tommy masih memperhatikan kedua putranya yang tingginya sudah hampir sama dengannya, berjalan berbalik arah ke gerbang sekolah yang terlewat olehnya. Hingga keduanya menghilang di balik gerbang sekolah, Tommy baru menjalankan mobilnya menuju kantornya.


Di kantor Tommy langsung di sambut Reza di lobby.


" Boss, sudah ditunggu pak Rangga di ruang meeting."


" Sudah lama nunggu ?" tanya Tommy sambil berjalan ke lift.


" Sekitar 10 menit" Reza mengikuti langkah Tommy.


" Masih saja, dasar keras kepala" Tommy menggerutu. Rangga masih saja hanya mau berurusan dengannya. Padahal Tommy sudah mempercayakan semua urusan proyek luar kota dan luar pulau pada Reza.


" Sudahlah boss turutin saja, sayang kalau dilepas. Biar negonya sama boss, nanti pelaksana project serahin Reza" Tommy mengangguk menepuk bahu Reza. Keduanya kini sudah seperti saudara saja. Reza bahkan tak tega meninggalkan Tommy meski Siska yang kini sudah menjadi istrinya dan memiliki seorang putra dan putri, memintanya untuk mengurus perusahaan milik Siska sendiri.


Tommy membuka ruang meeting. Sudah ada Rangga dan Bayu di sana. Mereka awet banget ya..seperti Tommy dan Reza. Sasi sudah sejak melahirkan Bhumi lebih memilih mengalah dan fokus mengurus rumah tangga dan putra putri mereka saja. Tommy tentu saja sangat bahagia dengan keputusan Sasi.


" Tommy...wah makin sibuk saja. Sampai susah mau bikin janji ketemu." Rangga menyambutnya berdiri. Tommy membalas pelukan Rangga


" Kalau nggak begini, mana ada waktu kita ketemu Tom..? Bukan begitu Za, bossmu ini nggak akan mau ketemu orang kalau nggak ada cuan( Keuntungan) ...hahaha.."


Tommy tertawa diikuti Reza dan Bayu.Empat orang yang kini bersahabat karib. Tak ada yang tahu kisah tak terungkap yang pernah terjadi antara Tommy dan Rangga juga Sasi. Hanya Tommy dan mbah Ageng saja yang tahu.


Mengingat mbah Ageng, Tommy langsung berkaca-kaca. Seakan ada bagian dirinya yang tercabut saat mengetahui guru spiritualnya itu mangkat ( meninggal) beberapa tahun yang lalu. Tommy sampai menangis berhari-hari. Dan masih menangis berbulan-bulan kemudian jika mengingat sosok lelaki tua penuh wibawa yang sangat besar jasanya bagi hidupnya itu.


Seakan ada ikatan batin, saat mbah Ageng meninggal Tommy merasa dadanya sesak dan berat. Hari sebelumnya Tommy masih mengunjungi lelaki tua yang semakin Renta itu. Namun badan tua itu tak bisa mengalahkan semangat dan jiwa kuat dalam tubuhnya. Mbah Ageng masih bisa beraktivitas seperti biasa. Bahkan menemaninya bersemedi dan menenangkan diri. Menyalurkan dan menurunkan semua ilmu dan pengetahuan luhurnya pada murid satu-satunya yang sangat disayanginya, Tommy.


Awalnya Tommy enggan menerima limpahan warisan ilmu kanuragan dari mbah Ageng. Namun mengingat jasa-jasanya, juga karena begitu hormatnya pada lelaki tua itu, Tommy tak mampu menolak permintaan terakhir gurunya itu agar menerima dan melanjutkan menjaga warisan ilmu luhur itu.


" Tom...mbah tahu kamu sangat bertanggung jawab pada apa yang kamu perbuat, maka itulah mbah percaya memberikan semua ilmu mbah padamu. Tak sembarang orang bisa menerimanya Tom. Jangan menolak agar manfaat ilmu mbah tidak putus sampai disini. Entah kamu gunakan atau tidak, simpan dan jaga ilmu dari mbah ini agar tak sia-sia."


" Inggih mbah" Akhirnya dengan penuh keikhlasan Tommy menerima warisan ilmu dari mbah Ageng. Menyimpannya rapat-rapat dalam jiwanya. Menjaganya seperti wasiat terakhir gurunya itu. Tommy merasa hanya dengan begini dia bisa membalas segala pengorbanan mbah Ageng untuknya. Semoga guru spiritualnya itu mendapat ketenangan di alamnya.


Anehnya, Tommy seperti mendapat kekuatan baru semenjak itu. Tubuhnya lebih kuat dan penglihatannya akan yang terjadi di masa depan semakin kuat dan tepat. Usahanya semakin maju karena tangan dingin dan instingnya yang tak pernah salah. Kini Tommy sudah memiliki kantor cabang hampir di semua kota besar di Indonesia.


Tommy merasa sebenarnya gurunya itu tidak benar-benar pergi dari dunia ini. Tommy selalu merasa ada yang menjaganya, mengawasinya, menunjukkan jalan dan memberikan saran. Saat dia kebingungan hanya dengan menenangkan diri, semua masalahnya menemukan jawaban. Tommy merasa jiwa mbah Ageng masih bersamanya.

__ADS_1


Dalam setiap sujudnya pada Tuhan , Tommy rak pernah lupa mendoakan gurunya itu agar mendapat tempat terbaik disisiNya.


"Bagaimana kabar Andra , Ngga? Tommy menanyakan kabar Paundrakarna , putra satu-satunya Rangga saat istirahat makan di tengah-tengah meeting mereka.


" Baik, ya begitulah. Agak manja dan nakal. Maklum saja yang megasuh kakek-neneknya. Beda kalau diasuh ibunya sendiri" jawab Rangga malas. Selalu tak bersemangat jika sudah membahas masalah keluarganya.


" Makanya carikan ibu dong, biar ada yang ngurus Andra. Atau aku carikan jodoh, masa calon Raja kok nggak punya ratu?" Tommy meledek Rangga yang malas-malasan.


Rangga cuma tersenyum simpul. Sejak istrinya meninggal saat melahirkan Andra hampir 15 tahun lalu Rangga sama sekali tak berniat beristri lagi. Cukup sekali berumah tangga tanpa cinta , meskipun Rangga bersyukur bisa memiliki seorang putra dari pernikahannya yang terjadi akibat perjodohan, namun Rangga tak mau mengulanginya lagi. Sangat menyiksa diri saat harus berusaha menerima dan hidup bersama dengan orang yang sama sekali tak ada rasa cinta didalamnya.


" No...nggak akan ada lagi perjodohan. Aku bahkan rela melepas gelar putra mahkotaku jika ayahanda mengharuskan aku punya istri. Apalagi dijodohkan lagi. Cukup sekal!"


Tommy menepuk-nepuk pundak Rangga. " Aku yakin jodohmu segera tiba. Orang yag sangat kau cintai dan mencintaimu" Entah darimana, Tommy mendapatkan intuisi bahwa sahabatnya itu akan segera berbahagia menemukan tambatan hatinya.


Rangga tertawa terbahak. " Kamu seperti cenayang saja Tom?"


" Percaya padaku Raden Rangga Syailendra." Tommy berucap yakin.


" Sebaiknya anda percaya pak Rangga. Boss saya ini tak pernah salah dengan insting dan intuisinya" Reza ikut meyakinkan Rangga. Membuat lelaki itu makin terkekeh.


" Oke...anggap saja doa dari kami Ngga!" Tommy kembali menepuk punggung Rangga.


" What ever, tapi thanks doanya...kalau aku menikah lagi, oramg pertama yang aku undang adalah kalian berdua...hahaha..." Mereka tertawa bersama, namun dalam hati Bayu mengaminkan perkataan Tommy. Dia merasa nasib tuannya sangat buruk dalam hal cinta.


Jatuh cinta pada istri orang, belum move on sudah dijodohkan dengan pilihan orangtuanya. Dan saat Rangga mulai berusaha ikhlas menerima perjodohannya, istrinya malah meninggalkannya untuk selama-lamanya saat melahirkan putranya.


Cinta...benar-benar hanya derita bagi Rangga.


" Rani bagaimana Tom? " Rangga tiba-tiba teringat gadis cantik putri sahabatnya itu. Gadis cantik yang semenjak bayi sudah membuatnya berdebar karena wajah rupawan yang dimilikinya. Atau karena mirip Sasi yang jadi kasih tak sampainya?


" Ahh...dia sekarang ngilang terus. Sejak bawa mobil sendiri, aku sudah kehilangan dia. Dia bilang sudah mau sidang skripsi besok."


" Hati-hati Tom, dia terlalu bersinar. Mengundang serangga mengerubutinya..".Rangga sudah membayangkan wajah bak pualam milik Rani. Bagai pahatan sempurna tak bercela meski tak pernah tersentuh alat make up dan kosmetik.


" Hmm...kau benar Hidupku tak tenang gara-gara Rani. Dia terlalu bebas dan seenaknya sendiri. Dia pikir dunia ini seperti pikirannya yang polos."


Saat itulah tiba-tiba mereka dikejutkan kedatangan orang yang mereka bicarakan.


Rani menghambur ke papanya dan memeluknya dari belakang lalu menciumi pipi Tommy bertubi-tubi. Lelaki itu tertawa-tawa bahagia. Merengkuh pundak putrinya ke dalam pelukannya.


" Dari mana kamu? Kenapa tadi nggak pamit papa? Besok lagi, kalau mau pergi, bangunin kalau papa tidur. Telpon kalau papa ngga ada. Jangan bikin papa kuatir"

__ADS_1


" iyaaa..papa ih, kan kemarin sudah bilang. Eh..Om Rangga..." Rani tersipu menatap sahabat papa dan mamanya itu. Lalu mengulurkan tangan dan mencium takzim punggung tangan Rangga.


Rangga tersenyum dan mengusap lembut kepala Rani. Tak ada yang tahu betapa bahagia Rangga bisa menatap begitu dekat gadis cantik kesayangan Tommy itu. Seperti juga tak ada yang tahu, Rani mati-matian menyembunyikan rona bahagia bisa bertemu lagi dengan om ganteng yang wajahnya seperti tak pernah menua itu. Tetap setampan itu sejak belasan tahun yang lalu.


__ADS_2