
Ibu mencubit lengan Sasi pelan.
" Kalian ini suka sembarangan. Tidak semua orang bisa menerima hal-hal seperti itu dengan pikiran terbuka. Bagaimanapun kita masih hidup di timur dengan adat dan kebudayaan yang berbeda dengan adat orang luar." nasehat ibu.
" Iya bu, Sasi tahu. Tadi nggak sadar. Maklumi sih bu...kangennya sudah sampai di ubun-ubun. Hehehe..." Sasi meringis malu.
" Untung saja tadi Lily dan Rose nggak ikut. Coba kalau ikut..sudah ternoda mata suci mereka" Retno ikut menggerutu.
Sasi cuma tertawa pasrah dihakimi ibu dan adiknya . Sudah terjadi juga. Mau bagaimana lagi?
Sampai di kamar Sasi terkejut. Kamarnya sudah disulap jadi kamar pengantin yang indah. Penuh taburan bunga yang dirangkai indah dengan harum semerbak mewangi. Sasi merinding. Ini kamar pengantinnya.
Sprei, sarung bantal guling dan bedcover serta tirai-tirai kamar sudah diganti dengan kain yang lembut dan warna yang indah. Otak Sasi langsung travelling ke mana-mana...Aduh!
Mbak Harti, juru paes yang bertugas menangani Sasi segera membantu Sasi mengenakan baju pengantin basahan untuk Sasi. Memperbaiki riasan Sasi dan menambahkan ornamen perhiasan lengkap untuk Sasi.
Satu jam kemudian Sasi sudah siap dengan riasan lengkap pengantin basahan. Wajahnya yang hampir tak pernah memakai riasan tebal tampak berubah sama sekali. Jauh lebih cantik dan bercahaya. Bahunya yang terbuka tampak putih bersih dan bersinar. Benar-benar seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Ibu terpana melihat putri sulungnya itu. Kecantikan yang paripurna. Tak bisa membayangkan jika Tommy melihat paras Sasi saat ini.
" Nduk..bagaimana kamu bisa secantik ini? " bisik ibu terisak haru. Membayangkan seandainya ayah Sasi masih ada. Dia akan berdampingan dengan suaminya , mengantar Sasi ke gerbang pernikahannya.
Mbak Harti menepuk lengan ibu lembut. " Sampun mular( jangan menangis) bu. Nanti mbak Sasi ikut nangis..." bisiknya sambil tersenyum ke arah ibu.
Wanita cantik paruh baya itu mengangguk dan buru-buru mengambil tisu untuk mengusap air matanya. Ini hari bahagia Sasi, ibu yakin suaminya pasti juga bahagia melihat Sasi saat ini.
Gending kebo giro* mengalun syahdu . Sasi keluar dari kamar diiringi para pager ayu. ( musik tradisional jawa untuk mengiringi acara panggih/ temu pengantin).
Pembawa acara segera mengarahkan pengantin untuk melaksanakan prosesi panggih. Dimulai dari Balangan Gantal. Yaitu pengantin saling melempar gantal, gulungan sirih yamg diikat dengan benang putih.
Pengantin pria melempar gantal ke arah dada pengantin putri sebagai simbol dia telah mengambil hati istrinya. Sementara pengantin wanita melempar gantal ke arah lutut sang pria sebagai tanda bakti pada suaminya.
Tommy sebenarnya sudah mendapat wejangan dari pemangku adat agar melempar gantal ke dada Sasi, tapi karena begitu terpesona pada wajah istrinya , Tommy malah melempar sembarangan dan mengenai hidung Sasi.
Tentu saja hal itu mengundang tawa dari semua yang hadir.
Tommy yang terkejut tak menyangka lemparannya mengenai hidung Sasi, lalu spontan berteriak" Sorry...sorry sayang...gak sengaja" sambil berusaha mendekati Sasi. Namun segera ditarik para pengiringnya.
Lagi-lagi hadirin ramai berseloroh dan tergelak. Sasi ikut tertawa lalu sengaja melempar gantal ke wajah suaminya itu. Tommy yang sigap malah menangkap gantal yang dilempar Sasi. Kemudian memamerkannya pada para hadirin.
Tambah hebohlah para hadirin. Ini pengantinnya kok ngawur begini. Nggak papa ya? Pengantin lain jangan meniru. Ini cuma untuk dunia halu...hehehe...
Acara dilanjutkan dengan ngidak tigan atau ngicak endhog. Dimana pengantin pria akan menginjak telur ayam sebagai simbol pengharapan akan keturunan, kemudian pengantin wanita akan membasuh kaki pengantin pria sebagai tanda kasih sayangnya.
Tommy menatap lekat wajah cantik Sasi dihadapannya. Rasanya tak tahan untuk merengkuhnya. Melihat tatapan mesum kakaknya pada Sasi, Baskara segera berbisik di telinga Tommy.
" Tahan dulu bambaang...acara belum selesai ini. Mau main terkam saja!"
Tommy tertawa lirih. " Iyoo..iyoo Bas...ah!" lalu mengikuti petunjuk pembawa acara untuk menginjak telur yang ada di nampan di bawahnya. Begitu telur pecah, Sasi yang sudah berlutut di depannya segera membasuh kakinya dengan air yang sudah disediakan.
Tommy menatap tak berkedip punggung Sasi yang membungkuk sambil membersihkan kakinya. Tangan lembut gadis itu membasuh kakinya yang kotor terkena telur dengan hati-hati hingga bersih. Hati Tommy mendesah haru. Merasakan basuhan tulus Sasi di kakinya.
" Terima kasih sayang.." bisik Tommy lirih. Namun entah mengapa Sasi seakan bisa mendengar ucapan Tommy dan mendongak ke atas. Matanya bertemu dengan tatapan teduh Tommy. Keduanya saling mengulum senyum.
" Beuhh...dasar bucin akut!" gerutu Baskara lagi-lagi ketika melihat Tommy merengkuh pundak Sasi dan menariknya berdiri.
" Eeee...belum waktunya pegang-pegang mas..."seru pembawa acara.
Tommy kaget lalu melepaskan bahu Sasi. Duh Toom....sabar napa?
Acara diteruskan dengan tradisi sinduran.Bapak pengantin wanita yang diwakili sesepuh keluarga Sasi membawa kedua mempelai menuju pelaminan sambil menyelimuti keduanya menggunakan kain merah putih sebagai pertanda , ayah mempelai mengantarkan mempelai memasuki kehidupan pernikahan. Kain berwarna merah putih sebagai simbol harapan agar mempelai berani dan bergairah , penuh semangat menghadapi hidup dalam pernikahan mereka.
Sesampai di pelaminan Bapak mempelai wanita memangku kedua mempelai dalam prosesi Bobot timbang. Sebagai simbol bahwa orang tua mempelai sudah menganggap menantu mereka sama dengan anak mereka. Jadi timbangan bobot ( berat) kasih sayang mereka pun sama untuk kedua mempelai.
__ADS_1
Baru setelah itu Tommy dan Sasi duduk berdua di pelaminan untuk ritual rujak degan. Yaitu meminum air kelapa muda bagi pengantin dan keluarga sebagai simbol pembersihan rohani .
Dilanjutkan dengan kacar kucur. Tommy mengucurkan uang, beras dan biji-bijian ketanga Sasi sebagai simbol tanggung jawab seorang suami dalam memenuhi kebutuhan hidup istrinya.
Sepanjang acara Tommy dan Sasi tak pernah lepas saling menatap dan tersenyum. Seakan dunia benar-benar hanya milik mereka berdua saja. Riuh rendah suara hadirin dan pembawa acara serta musik yang membahana seakan tak terdengar oleh mereka selain suara manis dari pujaan hati di sisinya.
Apalagi saat prosesi dulangan. Tommy dan Sasi saling menyuap dan memberi minum dengan penuh cinta. Saling mengusap bibir pasangannya penuh sayang. Membuat yang hadir merasa iri dan terbawa suasana. Baper berat.
Baskara sampai melongo melihat bagaimana Tommy dan Sasi seakan tak punya malu saling memanjakan pasangannya. Padahal sorak-sorai menggoda para hadirin riuh menyambut mereka. " Bucin tingkat dewa!"
Seluruh rangkaian acara panggih ( temu pengantin) diakhiri dengan acara sungkeman ( mohon maaf dan doa restu) kepada orang tua mempelai wanita dan pria.
Ibu dan sesepuh keluarga Sasi duduk berdampingan. Sementara di sisi lain Barata dan Palupi sebagai orang tua Tommy juga duduk berdampingan.
Tommy dan Sasi kemudian bergantian sungkem kepada orangtua mereka .
Saat membungkuk di depan Barata dan Palupi Tommy membayangkan mamanya yang ada dihadapannya. Matanya berkaca-kaca. Betapa bahagia andai mama yang ada dihadapannya saat ini.
Tapi tak lama,. Tommy merasa semua sudah diatur Sang Maha Kuasa. Mama pasti juga sudah bahagia di tempatnya berada saat ini. Seperti halnya papa yang juga bahagia dengan keluarga barunya.
" Semoga keluarga kalian selalu dikaruniai kebahagiaan." bisik Palupi lirih sambil mengusap kepala Tommy.
" Terima kasih" balasTommy singkat.
Barata mengelus kepala Tommy yang bersimpuh di pangkuannya.
" Berbahagialah Nak, doa papa selalu menyertaimu" bisik papa bergetar haru.
" Terima kasih pa." Jawab Tommy.
Di sisi lain Sasi bersimpuh di pangkuan ibunya. Ibu dan anak itu bertangisan sambil saling memeluk. Sasi memeluk erat pinggang ibu. Sementara ibu merengkuh erat punggung Sasi di pangkuannya.
Keduanya sama.-sama terkenang akan ayah dan suami mereka yang telah mendahului mereka.
" Ayah..." Isak Sasi di pelukan ibunya. Ibu pun terisak semakin dalam.
Keduanya mengangguk dan melepas pelukan kemudian Sasi bangkit dan bertukar tempat dengan Tommy untuk memohon doa restu pada orang tua Tommy.
Barata mengusap kepala Sasi sambil mengucapkan doa. " Semoga keluarga kalian selalu dikaruniai kebahagiaan."
Sasi tersenyum dan menjawab pelan. " Amiin . Terima kasih pa "
Mendengar jawaban Sasi Barata tertawa lirih. Mendengar Sasi memanggilnya papa membuat hatinya mengharubiru. Diusapnya kembali kepala Sasi lembut. Lalu mencium puncak kepala gadis itu.
Sasi tiba-tiba terisak haru. Seakan ayahnya mencium kepalanya melalui Barata. "Terima kasih pa". Bisiknya haru lalu bangkit dan berpindah ke hadapan Palupi.
" Akhirnya keturutan juga disungkemi mbakku yang paling galak ini" bisik Palupi di telinga Sasi.
Keduanya kemudian terkekeh-kekeh geli sambil saling berpelukan.
" Ojo seneng disik ( jangan senang dahulu) Pi. Iki aku terpaksa. Nggak tulus. Pokoke pantang bagiku menyembah kamu. Ini cuma demi njangkepi ( melengkapi) prosesi saja." ketus Sasi. Namun kakak beradik itu tetap berpelukan. Palupi membungkuk memeluk Sasi.
" Pancen( memang) mantu durhaka" bisik Palupi.
" Kamu yang durhaka, mbak e disuruh nyungkemi!" rutuk Sasi.
" Aku nggak nyuruh" sangkal Palupi.
Keduanya kembali tergelak sambil tetap berpelukan. Sampai pembawa acara menegur mereka karena terlalu lama sungkem.
Barata cuma tertawa sambil menggelengkan kepala melihat dua wanita kakak beradik itu.
Selesai sudah prosesi panggih Tommy dan Sasi. Kini keduanya duduk di kursi pelaminan diapit kedua orang tua mereka .
Acara berlanjut hingga sore hari. Mereka sengaja tidak mengundang banyak orang untuk acara hari ini, karena mereka baru akan mengundang relasi dan kolega mereka saat resepsi di resort esok hari.
__ADS_1
Menjelang malam, semua sudah selesai. Tommy dan Sasi beranjak dari pelaminan ke kamar Sasi yang kini jadi kamar mereka.
Mbak Harti dan beberapa asistennya membantu Sasi melepaskan aksesoris dan pakaian pengantin mereka.
Tommy yang pakaiannya tidak terlalu banyak aksesoris sudah berganti pakaian rumahan dan sekarang sedang duduk di sofa di pojok.ruangan. Memperhatikan Sasi yang sedang dibantu melepaskan segala aksesoris yang melekat di tubuhnya.
Lambat laun, karena terlalu lama menunggu Tomny tertidur di sofa . Hingga Sasi pun kini sudah mengganti pakaiannya setelah mandi dan membersihkan tubuhnya.
Sasi mendekati Tommy yang tertidur di sofa. Menatap lekat lelaki tampan yang kini sudah resmi jadi suaminya itu.
Sasi tersenyum sendiri. Merapikan rambut Tommy yang sebagian jatuh di keningnya. Ahh pria ini, yang selalu menempel padanya saat berdua. Yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhnya di mana saja.
Pria pertama dan berharap jadi yang terakhir untuknya. " Mas , bangun sayang..." bisik Sasi lembut di telinga Tommy.
Tommy menggeliat merasakan geli di telinganya. Dan saat membuka mata, dilihatnya Sasi sudah berada dekat di depan wajahnya.
" Wah...ada bidadari..." serunya menggoda.
Sasi tersenyum. "Baru bangun sudah gombal. Makan malam dulu yuk baru tidur lagi" Sasi mengusap lengan Tommy.
" Nggak pengen makan. Nggak lapar" jawab Tommy sambil menarik tangan Sasi hingga gadis itu jatuh menimpa tubuhnya.
" Mas!" Sasi memekik tertahan. Tapi tak melawan ketika Tommy merengkuhnya dalam pelukan.
Wajah keduanya kini saling bersentuhan.
" Nggak pengen makan, terus pengennya apa? Mau aku buatin minum?" bisik Sasi sambil mengangkat tubuhnya. Tapi Tommy tak melepaskan pelukannya. Malah makin dalam menarik Sasi menempel ke tubuhnya.
Sasi menyerah. Menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Tommy yang terbaring di sofa.
" Pengen makan ini saja.." Jawab Tommy sambil membenamkan wajahnya dalam-dalam ke wajah Sasi.
Sasi mendesah pelan ketika suaminya itu mulai menyentuhnya lembut. Mengecupi seluruh bagian wajahnya tanpa tersisa sejengkal pun, lalu meraup rakus bibir basah Sasi yang selalu jadi candunya.
Tommy membalikkan tubuhnya hingga Sasi kini terperangkap di bawahnya tanpa melepas pagutannya. Mendesak , merangsek dan menggapai keseluruhan tubuh gadis itu tanpa ampun. Tubuh keduanya kini saling membelit dan merengkuh.
Tommy mengangkat tubuh Sasi lalu mendudukkannya di pangkuannya. Menyusupkan wajahnya dalam-dalam ke dada gadis itu yang membusung. Mengesah, menikmati surga dunia yang selalu jadi mimpi terliarnya, dan kini jadi miliknya seutuhnya.
" Sayaang...Sasiii...sayangku....cintaku...." hanya rayu dan puja yang terucap dari mulut Tommy dalam dekapan Sasi. Dan hanya desah, dan lenguhan penyerahan Sasi yang membalasnya.
" Aku milikmu sayang...." Sasi meraih lembut rambut Tommy yang sedang terlena menikmati harum tubuhnya. Menghirup dan menyesap dalam-dalam leher, bahu dan dada Sasi yang kini hampir terbuka seluruhnya.
Tangan pria itu kini sudah merayap ke bawah pakaian Sasi . Menyentuh lembut dan penuh godaan kulit halus gadisnya itu. Membuat tubuh Sasi menggeliat merasakan gelora yang tak pernah dirasakannya. Mendebarkan...
Tommy yang merasa sudah tak bisa menahan hasratnya lagi segera menarik lepas pakaian Sasi....tiba-tiba...
" Mbak, Mas Tommy. Ayo makan dulu. Sudah ditunggu di meja makan" Suara Retno mengetuk pintu kamar.
Hasrat yang sudah membubung tinggi ke angkasa mendadak jatuh melesak ke jurang.
" Iya Ren...bentar lagi kita turun." teriak Sasi dengan nafas yang masih tersengal. Menjauhkan kepala Tommy dari dadanya dan menatap wajah tampan yang kini tampak berantakan itu.
" Ahh....!" desah kasar Tommy sambil menjatuhkan kepala ke pundak Sasi.
Sasi tertawa dan membelai lembut rambut Tommy. Berbisik lirih ke telinga Tommy "Makan dulu yuk. Nanti dilanjut lagi..biar kuat sampai pagi"
Tommy langsung mendongakkan kepalanya mendengar kata " sampai pagi" Wah...wah Sasi?
" Sasiiiii...kamu bener- bener bisa bikin mas mati karena cinta..." geram Tommy sambil mendekap erat tubuh Sasi sejenak. Melepaskannya dan memasang kembali kancing baju gadis itu yang hampir saja menampakkan bagian atas tubuhnya.
Panas....
**********
Hai hai reader setia PSS, maafin ya atas keterlambatan dan ke tidak jelasan isi up date bab-bab akhir ini.
__ADS_1
Masih terima buwuhan koin, poin, vote, kado, like dan komen untuk pengantin baru kita...ditunggu ya...❤
Happy reading....