Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Sekar Maharani Bastomi


__ADS_3

Mereka saat ini berada di ruang dokter obigyn, seorang dokter wanita yang cantik dan kalem.


" Mas kenal dari mana dokter cantik begini?" tanya Sasi.


Tommy tertawa.." Cemburu kamu yang?"


" Nggak tuh!" Sasi mengelak. Padahal dalam hati nyut-nyutan juga. Bisa-bisanya Tommy kenal baik sama dokter muda dan cantik begini. " Teman kuliah, teman sekolah atau teman apa nih?" bisik Sasi , Sang dokter masih mencatat-catat sesuatu di tabletnya.


" Hehehe...istriku bisa cemburu juga rupanya" Tommy bergumam, Sasi cuma mendengus malas.


" Ini tuh aku dikasih tahu sama papa. Adikmu sejak hamil Lily sampai Rose periksanya sama Dokter Cinta ini. Kata papa sih orangnya baik, sabar dan berpengalaman." Tommy tersenyum.


Huff...puji saja terus sampai ke langit, mana namanya Cinta lagi. Sasi menggerutu dalam hati. namun tak urung tersenyum juga saat Dokter Cinta menyapanya.


" Ini mbak Sasi ya? Kakaknya Mbak Palupi istrinya Pak Baskara?"


" Iya Dokter, Saya Sasi" Sasi menerima uluran tangan sang dokter cantik. Dia juga menjabat tangan Tommy. Tapi Tommy cuma melihatnya sekilas. Membuat Sasi sedikit lega. Awas saja sampai jelalalatan, aku mau minta ganti dokter yang dulu saja, menggerutu lagi dalam hati Sasi.


" Ada keluhan mbak Sasi?" tanya Dokter Cinta sambil memeriksa catatan kesehatan.dan kehamilan Sasi.


" Nggak ada dokter. Cuma lebih mudah capek saja" jawab Sasi.


" Oh, itu wajar mbak Sasi, asalkan tidak mengganggu aktivitas dan kesehatan ibu dan bayi secara umum. Nanti saya resepkan vitamin saja agar tubuh lebih sehat dan kuat. Masih minum susu kan?" Sasi mengangguk. Dokter Cinta mulai memeriksa denyut nadi Sasi. " Bagus, normal kok. Kita langsung USG saja ya?"


Sasi dan Tommy saling pandang lalu bersama-sama.melihat layar yang menampilkan gambar janin di perut Sasi. " Dede udah besar mas..." Sasi menyeka air matanya. Hatinya begitu dipenuhi rasa haru melihat kehidupan lain dalam tubuhnya. Buah cintanya dengan Tommy.


" Bukan dede sayang, tapi Kakak. Kamu sulung, aku juga. Biarpun paling muda, dia dituakan. Semua harus memanggilnya kakak. Mbak atau Mas kalau cowok" Tommy berbisik di telinga Sasi.


'" Iya mas bener juga. Baru sadar kita sama-sama mbarep (sulung). Ini mas apa mbak ya?" Keduanya menatap penasaran pada layar yang terpampang di depan mereka.


" Hmm...ini sepertinya putri mbak Sasi, Mas Tommy. Dokter Cinta mengarahkan krusor pada gambar janin. " Nih hamburgernya*) ini tanda vital perempuan. Sehat , detak jantung normal. Air ketuban juga bagus. Secara umum janinnya sehat"


"Puji Tuhan...sehat. Aku akan punya putri sayang.." Tommy mengecup kening Sasi. Sasi terlihat kurang bersemangat.


" Padahal aku pengennya cowok mas..."


" Hus, nggak boleh gitu. Kita harus mensyukuri apa yang sudah diberikan Tuhan. Aku malah senang dapat anak cewek. Anak cewek tuh lebih nurut dan sayang orang tua."


" Ah siapa bilang, anak cowok juga banyak yang sayang orang tua..." Sasi duduk dan membenahi pakaiannya. Perawat sudah membersihkan sisa-sisa gel di perutnya. " Aku bosan merawat bayi cewek yaang. Mulai Palupi, Retno, Lily, Rose. Kan pengen juga pengalaman baru pegang bayi cowok."


" Pegang aja si kembar anaknya Retno. Beres kan?"


" Iya tapi pengen punya yang bikinan kita sendiri..." Saai tersenyum nakal sambil berkedip ke suaminya. Tommy tertawa lirih dan menggeleng.

__ADS_1


" Jangan menggodaku di sini yang. Kamu mau kita bikin bayi di sini?" jawab Tommy berbisik. Sasi mencubit pinggang Tommy membuat suaminya yang tampan itu meringis menahan pedih di pinggangnya.


" Aduh yang, sejak hamil cubitanmu makin mantep!"


Sasi tertawa terkekeh.." Makanya jangan sembarangan kalau ngomong, aku kan jadi membayangkan pas kita bikin....." Tommy melotot mendengar ucapan Sasi. Keduanya kemudian tertawa geli.


" Sejak hamil, mesum kamu melebihi aku yang..." bisik Tommy lagi. Ganti Sasi yang melotot, tapi jadi merona malu karena menyadari ucapan Tommy benar. Dia jadi lebih agresif dan ingin selalu bermesraan dengan suaminya itu. Ahh!


" Tapi aku malah seneng. Kamu jadi hot...fanas dan menggairahkan. Mas jadi makin cintaaa sama kamu"


Mereka melanjutkan obrolan mesum mereka di mobil. Dan Jono sekarang makin kebal. Meski kadang juga tak tahan pengen pesan pacar online saja rasanya! Jangan Jon,.pinjaman online aja gak beres, bikin orang susah tambah susah, Apalagi pacar online....


Sebenarnya Sasi ingin anak pertamanya laki-laki. Tapi Tommy malah ingin anak pertamanya perempuan. Tommy membayangkan anaknya akan secantik dan semenyenangkan Sasi, dan Tommy sudah membayangkan bermain bersama versi kecil dari istri cantiknya itu.


Sementara Sasi akhirnya.membuang jauh-jauh rasa kecewanya karena janinnya ternyata perempuan. Kata dokter psikologis ibu sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangam janin. Dia tak ingin putrinya kelak merasa dia tak menginginkannnya. Apalagi ternyata Tommy lebih bahagia karena berharap punya seorang putri. Bagaimanapun ia bersyukur Tuhan mempercayakan mereka untuk mendapatkan seorang putri.


Dan beberpaa bulan kemudian, Sasi melahirkan putri cantiknya. Putri kesayangan Tommy .


" Lihat baby, dia secantik dirimu. Aku selalu memimpikan dua orang bidadari memenuhi hidupku. I'm so happy." Ia merasa jadi pria tertampan didunia yang memiliki dua bidadari. Diciuminya wajah Sasi yag masih berkeringat usai berjuang melahirkan putri cantiknya.


Tommy menemaninya di ruang bersalin. Ikut memeluk dan memberi kekuatan Sasi. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang putri pertama kali bernafas di dunia. Tommy menangis haru bersamaan dengan tangisan pertama buah cintanya dengan Sasi.


Dia merasa jadi pria sejati yang diberikan kepercayaan Tuhan untuk menjadi ayah dari seorang putri. Sekaligus merasa makin mencintai Sasi yang sudah berjuang untuk kelahiran sang buah hati.


" You know me so good baby...Aku akan cemburu kalau putramu lahir. Aku hanya ingin satu pria saja yang boleh menyentuh dan memghisapmu" Tommy melirik bagian dada Sasi yang kini dihisap dengan rakus oleh Maharani, demikian Tommy memberi nama putri cantiknya itu. Sekar Maharani Bastomi.


Sasi terkekeh pelan. " Kamu gila ya mas, cemburu sama anak kamu sendiri? Pokoknya aku mau habis ini kita bikin anak cowok!" Sasi mendengus geli melihat tingkah Tommy.


^ Iya...kita bikin yang banyak...cepet sembuh ya...biar cepet bisa bikin lagi...bagus kalau jadi cewek lagi...hahahha.." Tommy meraba paha istrinya lembut, menggoda Sasi.


Sasi mencubit hidung Tommy. " Papamu nakal sayang. Bersiaplah jadi putri pingitan. Dia tak akan membiarkanmu disentuh cowok lain.:" Sasi mengerling ke arah Tommy yang sedang menggendong Rani. Beberapa saat dekat dengan Rose membuat Tommy lihai menggendong bayi. Tampak tenang dan tak canggung lagi.


Pria itu cuma tertawa sambil memandangi Rani dalam gendongannya penuh haru dan cinta. Tak hendak membantah kata-kata istrinya. Dia akan selalu menjaga dua wanitanya itu seperti berlian paling berharga dalam hidupnya. Matanya berkaca-kaca. Sesekali diciuminya bergantian istri dan putri cantiknya.


Tak banyak drama terjadi dalam kelahiran Rani. Selain Tommy yang posesif dan mengawasi sendiri tumbuh kembang buah hatinya itu bahkan sampai hal sekecil makanan dan cara mengasuh Rani.


Beberapa baby siter yang membantu merawat Rani selama Sasi masih dalam masa pemulihan setelah melahirkan, merasa tak kuat dan memilih mundur karena tak tahan dengan kerewelan papa si bayi. Semua harus perfect untuk Rani. Tommy tak mau berkompromi.


Akhirnya setelah baby siter ke tujuh yang mundur atau diberhentikan Tommy, mereka baru menemukan mbak Debora, baby siter kelahiran Flores yang bisa memenuhi ekspektasi Tomny.


Debora yang akrab dipanggil Debby sejauh ini mampu bertahan lebih dari seminggu. Dia lucu dan tahan banting. Cekatan merawat bayi dan Cepat belajar mengerti kemauan papa si bayi. Catat! Papa bayi, bukan si bayi yang rewel. Sasi saja hanya bisa mengelus dada dan memberi pengertian pada sang baby siter agar sebisa mungkin menurut saja pada kemauan Tommy soal Rani.


" Beres, ibu. Deby tak akan melawan apapun kata pak Tommy" Sasi tertawa mendengar logat Deby yang terdengar lucu. Perempuan muda berambut keriting itu sedang menjemur Rani di taman samping. Sementara Sasi duduk di samping mereka.

__ADS_1


Ya sejak beberapa bulan sebelum melahirkan Sasi sudah kembali ke rumah ibu. Tak terbayang bahagianya ibu Sasi saat putri sulung dan menantunya itu pulang ke rumah.


" Kamu akan terus di sini kan nduk? Menemani hari tua ibu?" tanya ibu saat itu.


" Iya bu...Sasi sama mas Tommy akan menetap di sini dengan anak-anak kami. Biar ibu nggak kesepian lagi." Sasi tersenyum menatap Tommy. Pria itu mengangguk sambil membalas senyum Sasi


" Apapun untukmu sayang" bisiknya sambil merangkul pundak istrinya. Pada akhirnya memang harus ada yang mengalah dan membuang jauh ego. Meski tinggal di rumah sendiri lebih nyaman, namun kebahagiaan orang tua tak boleh diabaikan begitu saja. Tommy sangat menyayangi Sasi, dan dia akan menyayangi ibu seperti Sasi.


Hari berlalu, tak terasa sebulan sudah usia Rani, Tommy mengadakan perayaaan dan syukuran kelahiran putrinya besar-besaran di kantor perusahaannya. Dia ingin berbagi kebahagiaan dengan semua karyawannya. Ada give away untuk semua karyawan dan door prize berupa tabungan yang jika ditotal bernilai hampir 1 milyar. Dibagi dalam beberapa tabungan.


" Wah Pak Tommy benar-benar menyayangi putrinya. Brokohan dan selapan ( Peringatan kelahiran dan usia sebulan bayi) saja Begini mewah. Kita ikut senang jadinya"


" Mudah-mudahan aku yang dapat 50 juta nya" harap seorang karyawan.


" Berapapun yang kudapat, aku bersyukur"


" Belum tentu kamu dapat "


" Yee..bisanya sirik. Ucapan adalah doa. Aku pasti dapat 50 juta"


" Aku dapat yang 10 juta juga nggak papa"


Ramai sorak-sorai dan celetukan karyawan perusahaan Tommy ikut berbahagia. Entah karena hadiahnya, atau yang memang sungguh-sungguh ikut berbahagia atas kelahiran Rani. Karena putri kecil itu, boss mereka jadi begitu murah hati.


Perayaan digelar di aula perusahaan, Tommy mengundang beberapa kolega besar dan yang mengenalnya dengan cukup dekat. Sudah pasti Rangga juga di undang.


Tommy dan Rangga bahkan kini sudah bersahabat seperti juga Barata yang bersahabat dengan Rangga . Selain karena pekerjaan yang membuat mereka sering bekerja sama, Rangga tampaknya juga tidak lagi berusaha mengganggu rumah tangga Tommy dan Sasi. Bahkan santer terdengar kabar, Rangga akhirnya menerima perjodohan yang diatur pihak istana dan orang tuanya.


Menjelang siang, perayaan telah usai dengan wajah-wajah bahagia karyawan Tommy yang mendapatkan doorprize puluhan juta uang tabungan maupun sekedar mendapat buket bunga terbuat dari uang senilai dua ratus ribu rupiah sebagai hadiah hiburan.



Saat ini Tommy, Sasi keluarga besar mereka dan beberapa kolega yang mengenal dekat Tommy dan Sasi masih berkumpul. Semua ingin menggedong dan memeluk si cantik Rani.


Sekar Maharani Bastomi



Rangga yang ikut berkumpul disana tak bisa menahan diri untuk mengagumi putri kecil itu. Matanya begitu lekat menatap bayi cantik yang lelap tertidur dalam buaian Sasi.


" Sasi, boleh aku gendong Rani?" Sasi tersenyum dan mengangguk. Sekarang Sasi sudah tidak khawatir lagi pada Rangga. Karena Tommy pun sudah yakin Rangga bukan ancaman untuknya. Apalagi setelah Rangga membenarkan bahwa sebulan lagi dia akan menikah dengan gadis pilihan keluarga istana. Sasi menyerahkan Rani ke pelukan Rangga.


Lelaki itu nampak sangat bahagia. Matanya berkaca-kaca menatap lembut dan haru pada makhluk kecil dalam dekapannya. Entah mengapa hatinya mengharubiru. Seakan ada sesuatu yang membuatnya begitu terikat pada bayi mungil itu sehingga ada rasa sejuk dan damai menelusup.masuk, mengalir memenuhi relung hatinya saat memandang wajah cantik Rani. Dia jatuh cinta pada bayi cantik putri Sasi itu.

__ADS_1


__ADS_2