
Sudah diputuskan bersama, lamaran resmi Rangga kepada Rani akan dilaksanakan dalam waktu seminggu ke depan. Sementara pernikahan akan dilangsungkan sebulan kemudian sesuai hari yang sudah ditentukan tetua adat istana.
Lamaran dan akad nikah akan dilakukan di rumah Rani sebagai mempelai wanita, sedangkan resepsi dan perayaan pernikahan akan diadakan di istana.
Mengingat Rangga sudah pernah menikah secara besar-besaran pada pernikahan pertamanya dengan Rahajeng, ibunda Andra, maka untuk pernikahan kedua ini tidak ada perayaan besar-besaran lagi. Namun perayaan sederhana pernikahan yang dilanjutkan perayaan besar pengangkatan Rangga sang Putra Mahkota menjadi Raja menggantikan ayahandanya.
Setelah lamaran yang dilangsungkan dengan meriah, tibalah hari pernikahan Rani dan Rangga. Rumah Sasi yang luas dan kental nuansa tradisi kembali jadi saksi bersatunya dua insan saling mencinta. Setelah dulu pernikahan Tommy dan Sasi kini, putri kesayangan mereka akan melangsungkan sumpah pernikahannya di rumah penuh cinta ini.
Seluruh keluarga telah bersiap sejak usai lamaran seminggu yang lalu. Rumah utama yang besar sudah sejak beberapa hari lalu dipenuhi saudara-saudara dekat yang tak ingin melewatkan pernikahan saudari mereka yang mendapatkan jodoh seorang raja.
" Sayang, kamu cantik sekali" bisik Sasi melihat Rani keluar dari ruang rias. Gadis itu sudah mengenakan kebaya putih dan kain sidomukti. Rangga dan Rani akan segera memgucapkan sumpah perniikahan mereka.
" Tentu saja dia cantik. Dia anakku, sayang suaminya tua.." Tommy mendengus. Entahlah pria tampan suami Sasi itu seperti masih belum rela m2enyerahkan putri kesayangannya untuk Rangga. Padahal beberapa saat lagi mereka akan resmi jadi sepasang suami istri.
" Papa...?"
" Mass?"
Rani dan Sasi mendesis bersamaan sambil menatap Tommy kesal. Tapi Tommy tampak acuh. Sama sekali tak terganggu tatapan kesal dua wanitanya itu.
Di pendopo rumah yang akan dijadikan venue sumpah pernikahan, Rangga dan keluarga raja sudah menunggu Rani, sang pengantin cantik. Rangga sudah bersiap di altar bersama pemuka agama.
Tak terbayangkan betapa rindu hati Rangga kepada belahan jiwanya itu. Karena sesuai adat istana, Rani harus dipingit selama sebulan penuh tanpa bisa bertemu dengan Rangga sama sekali.
Rangga hanya bisa mencuri-curi pandang pada gadis itu melalui foto dan video yang dikirimkan Jono yang kini jadi mata-matanya. Itupun tidak begitu banyak mengingat Jono harus selalu mengikuti Tommy.
Dan ketika dari kejauhan pengantin cantiknya itu muncul dengan digandeng sang papa,Tommy, Rangga tak bisa lagi menahan gejolak hatinya. Perasaannya mengharubiru. Dadanya penuh sesak oleh rasa cinta, rindu, kebahagiaan yang tak terkira hingga matanya tiba-tiba saja mengabur, tertutup air mata yang tergenang begitu saja di pelupuknya.
Melihat putranya menagis bahagia, ratu tak bisa lagi menahan air mata harunya. Raja merangkul dan mengusap pelahan bahu ratu yang tersedu di sampingnya. Ucapan syukur mengalun dalam hati ibunda Rangga itu.
Akhirnya Tuhan memberikan putranya kebahagiaan itu. Rasa cinta dan saling memiliki yang tak pernah direguk putranya, kini seakan nyata dirasakannya. Berbahagialah putraku...bisik hati kedua orang tua Rangga.
MUA yang melihat Rangga menangis jadi kalang kabut. Buru-buru menghampiri Rangga dan menghapus air mata sang pangeran sambil berbisik." Den Mas jangan menangis, nanti riasannya rusak" bisik MUA istana itu.
Rangga mengangguk, mengambil nafas panjang dan menenangkan hatinya. Namun makin dekat langkah Rani dan Tommy ke arahnya, detak jantungnya justru makin bertalu.
" Ku serahkan hartaku yang paling berharga untuk kau miliki, kau cintai dan kau bahagiakan. Seumur hidup dia tak pernah merasakan sakit dan derita dalam lindunganku, air matanya terlalu mahal untuk menetes. Kuharap dia lebih berbahagia bersamamu yang dicintainya."
Tommy menyerahkan tangan Rani kepada Rangga dengan suara bergetar menahan air mata. Namun tak urung pria gagah ayahanda Rani itu tak bisa menahannya juga. Air matanya luruh membasahi wajahnya yang halus.
" Papa...." Rani mengusap lembut air mata sang papa. Air matanya ikut luruh. Tiba-tiba saja suasana jadi hening. Hanya terdengar isak tangis tertahan. Tommy mengangguk pada Rani. Gadis itu pun melepaskan tangan Tommy dan menerima uluran jemari Rangga.
" Terima kasih. Aku tak akan pernah mengecewakanmu ataupun putrimu. Karena aku pun sangat mencintainya sepertimu." Rangga menatap tegas wajah Tommy. Seakan memantapkan janji hatinya di depan mertuanya itu.
Tommy tersenyum sekilas dan berbalik badan meninggalkan altar. Bergabung dengan Sasi dan ibu serta semua saudara yang menyaksikan peristiwa sakral Rani dan Rangga itu.
Sasi menyambut dan memeluk erat tubuh Tommy yang tampak limbung "Sayang percaya saja padanya. Dia sudah tua, gak mungkin nyakitin Rani. Yang ada dia yang takut ditinggal Rani."
Tommy terkekeh di sela tangisnya mendengar ucapan istrinya. Dadanya yang sesak sedikit longgar kala mendengar kekonyolan Sasi. Dicubitnya gemas hidung mancung istrinya yang selalu membuatnya bahagia itu.
" Sakit mas!" pekik lirih Sasi.
" Salah sendiri ngomong asal!" Tommy tertawa sambil merangkul pundak Sasi. Keduanya tertawa lalu saling menghapus air mata di mata pasangannya.
Haru dan bahagia melihat dan mendengar Rani dan Rangga saling mengucap sumpah dan janji pernikahan. Sasi memeluk erat pinggang Tommy. Di sisi lain, tangannya memeluk pinggang Bhumi, putra ke dua nya. Tommy pun memeluk Sasi dan Tara, si bungsu yang ada di sebelahnya.
Tak lama Rani dan Rangga ikut bergabung setelah selesai mengucapkan ikrar. Dengan manja Rani menghambur ke pelukan Tommy dan Sasi. Meninggalkan Rangga yang berdiri canggung menyaksikan Rani dan keluarganya berpelukan.
Tommy memeluk Rani erat dan menciumi kepala putrinya itu penuh kasih. Matanya memerah menahan isak.
__ADS_1
" Berbahagialah sayang. Papa akan selalu mendoakan kalian."
" Makasih papa. Maafin Rani terlalu cepat ninggalin papa. Belum sempat membalas budi pada papa dan mama." Rani pun terisak dalam pelukan Tommy.
"Melihatmu bahagia sudah cukup sayang. Kamu sudah jadi kebanggaan papa dan mama selama ini."
Rani melepaskan pelukannya pada keluarganya dan beralih ke Rangga. Pria itu tampak jengah dan bingung. Tapi kemudian segera menghambur memeluk Tommy.
" Maaf..." ucap Rangga lirih kala Tommy menyambut pelukannya.
" Dasar sahabat brengsek. Musuh dalam selimut. Untung saja Rani mencintaimu. Aku akan mengawasimu!" gumam Tommy lirih sambil menepuk punggung Rangga keras-keras.
" Papa mertua, apa kau mau membuatku bengek dengan pukulanmu itu? Jangan sampai aku sakit dan tak bisa memuaskan putrimu nanti malam." Rangga menahan rasa sakit di punggungnya.
" Cih. Nggak sudi aku kau panggil papa. Awas, jangan pernah panggil aku papa. Mesum!!." ketus Tommy.
" Kalau nggak mesum...nanti gagal papah punya cucu dari putrimu yang cantik itu." Rangga menggoda Tommy.
Tommy mendengus. " Jangan pernah panggil aku papa. ****" Keduanya tertawa lalu kembali berpelukan. Sasi melihat kedua lelaki itu sambil tersenyum haru. Akhirnya kedua sahabat itu kembali bersatu setelah sekian lama saling menjauh.
Sementara itu Rani sudah berada dalam pelukan Sang Ratu dan Sang Raja. Ratu menciumi wajah cantik Rani penuh kasih.
" Cah ayu. Kamu sudah jadi istri kangmasmu. Terima kasih karena sudah membawa kebahagiaan untuk kami. Untuk Rangga yang sudah lama sekali hidup dalam kesendirian. Cintai dan sayangi Rangga sepenuh hati. Karena dia juga sangat mencintaimu." Ratu terisak lirih.
" Iya ibunda, ayahanda. Doakan kami" bisik Rani dalam pelukan kedua orangtua Rangga.
Sang pangeran yang menyaksikan hal itu mengusap air mata yang tanpa sadar telah mengalir di pipinya. Betapa gadis cantik putri Tommy dan Sasi itu sudah membawa kebahagiaan tak terkira dalam hidupnya, dalam kisah cintanya yang kelam selama ini.
" Ayahanda, ibunda..." Rangga memeluk Rani lali mememluk kedua orang tuanya penuh haru.
Hari ini semua larut dalam air mata kebahagiaan. Kiranya Tuhan telah menentukan jodoh untuk masing-masing umatnya adalah sebuah keniscayaan.
Rangga menatap penuh cinta Rani yang kini bersandar di pelukannya.
" Baby, katakan aku tidak bermimpi bahwa kamu sudah jadi milikku sekarang" Rangga membelai pipi Rani. Matanya menatap lembut wajah ayu sang istri.
Rani tersenyum, makin mendekatkan dirinya kepada Rangga. Hingga kini dahi dan hidungnya bertemu dengan dahi dan hidung Rangga. Tangannya mengusap lembut jemari Rangga di pipinya.
Pelahan bibirnya mengulum dan menyesap lembut bibir Rangga. Pria itu seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan bibir manis nan basah itu makin dalam memagutnya.
" Aku milikmu seutuhnya kangmas, selamanya " bisik Rani saat ciumannya terjeda.
Rangga tertawa lirih. Penuh kasih dipeluknya gadis cantik belahan jiwanya itu.
" Baby, katakan semua yang kau inginkan. Aku akan melakukannya untukmu. Asal kau bahagia, asal jangan kau suruh aku pergi atau kau meninggalkanku."
" Aku hanya ingin berada di pelukanmu selamanya kangmas. Itu sudah cukup bagiku" bisik Rani sambil membalas pelukan Rangga tak kalah eratnya.
" Baby, katakan, apa aku harus menunggumu siap untuk memilikimu seutuhnya?"
" Maksud kangmas apa?" Rani mengerutkan dahinya.
Rangga tersenyum jengah. Matanya sudah berkabut menahan sesuatu yang terus mendesak di bagian tubuhnya yang lain.
" Itu..." bisik Rangga sambil menatap dada Rani " dan ini " membelai lembut paha Rani lalu makin naik menyusupkan jemarinya ke bawah gaun tidur Rani.
Gadis itu mengesah merasakan tangan Rangga merabai bagian sensitifnya di bawah sana. Rani menggigit bibirnya sambil mengerang manja.
Gerakan tangan Rangga yang lembut dan membuai membuat Rani seakan terbakar. Tubuhnya menghangat, menginginkan sesuatu yang lebih dan menuntut. Hingga tanpa sadar gadis itu menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Rangga. Mencium dan menyesapi leher pria tampan itu seakan melampiaskan perasaannya yang membuncah oleh gairah akibat sentuhan Rangga.
__ADS_1
" Kangmas...." bisiknya.
Rangga mengerang merasakan bibir Rani yang menyesapi lehernya penuh hasrat. Matanya terpejam dan kepalanya menengadah. Menikmati bibir dan lidah Rani yang kini menari di dadanya.
" Baby..." lenguhan Rangga makin membuat Rani menggila mencumbui tubuh Rangga. Sementara tangan Rangga sudah merayap ke.mana-mana.
" Baby..kangmas sudah nggak tahan lagi sayang...kamu.nakal banget sih...?" desis Rangga sambil menarik gaun tidur Rani sembarangan lalu melemparnya jauh. Pria itu tak menyangka istri kecilnya itu begitu mudah terbakar gairah dan berani menggodanya.
Rani tersentak merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya kala pakaiannya sudah terbang entah kemana. Tapi tak lama ia kembali terkejut ketika dengan rakus Rangga mulai melahap bagian tubuhnya satu per satu.
Rani tak henti menjerit dan memekik ketika Rangga mulai melancarkan kepiawaiannya membangkitkan hasrat Rani. Dari ujung kepala hingga ujung kaki Rani tak luput dari ciuman dan jilatan bibir dan lidah Rangga.
Gigitan dan sesapan Rangga di sekujur tubuh gadis itu membuat kulit putih sehalus pualam itu kini berubah jadi kemerah-merahan di mana-mana. Bahkan punggung dan bagian bawah pinggul hingga betis gadis itu telah penuh tanda cinta Rangga.
Puas memuja tubuh indah Rani, Rangga merengkuh lembut tubuh sehalus sutera itu. Dibaringkannya dengan hati-hati dengan tatapan penuh cinta. Rani yang sudh terbakar api gairah menatap Rangga penuh harap. Membuat pria itu tersenyum bahagia.
" May I baby?" bisiknya.
" Jangan menggodaku kangmas, lakukan sekarang...." Rani mengerang.
" Jangan menangis baby, kamu yang minta.." Rangga menggeram sambil melu**at bibir Rani yang terbuka. Keduanya berpagutan penuh hasrat. Sementara dibawah sana milik Rangga mulai memasuki tubuh Rani dengan gerakan lembut. Tak ingin Rani merasakan kesakitan yang sangat. Namun selembut apapun Rangga melakukannya, tak urung membuat Rani menjerit saat Rangga berhasil menembus mahkotanya yang berharga.
" Maaf baby. Apa kamu ingin berhenti dulu?" bisik Rangga sambil menciumi mata Rani yang berurai air mata.
Ràni masih terpejam merasakan bagian tubuhnya yang seakan terbelah karena rasanya begitu perih dan penuh sesak. Dilain sisi Juga merasakan kecupan Rangga di seluruh wajahnya.
" Lanjutin kangmas, kata mama habis sakit nanti enak" sambil meringis Rani menatap Rangga yang kini mengungkungnya.
Rangga tak dapat menahan tawa mendengar jawaban polos Rani. Tubuhnya sampai terguncang. Membuat Rani ikut terguncang karena tubuh mereka masih menyatu.
" Baby...Ya Tuhan...kamu...ahh...kangmas akan bikin kamu ketagihan.." bisik Rangga lalu mulai menggerakkan tubuhnya. Menghentak sedikit keras dan mendorongnya dalam sambil terus mengucapkan kata-kata cinta dan pujaan pada istrinya yang cantik jelita.
Rani merint*ih beberapa saat karena rasa sakit yang masih mendera saat Rangga menghujam tubuhnya, namun buaian lembut Rangga membuatnya terlena dan akhirnya ikut menggila menikmati gerakan Rangga yang penuh hasrat dan gairah.
Suaminya itu membuatnya melayang berkali-kali malam itu. Dan Rangga pun menggeram panjang berkali-kali juga didalam tubuh istrinya. Sungguh malam indah yang seakan menghapus segala duka dan lara asmara yang selama ini melingkupinya.
" I love you baby. My Rani, ratuku ...cintaku..." Rangga tak bosan mengecupi wajah ayu yang kini hampir terlelap di dalam pelukannya.
" Capek baby?"
" Emmh..." des*ah Rani. Matanya sudah sayu hampir terpejam.
" Tapi enak kan? Benar seperti kata mama kamu?"
" Kangmas....!" Mata Rani terbuka sebentar lalu terpejam lagi. Gadis itu makin menyurukkan wajahnya ke dada Rangga. Tubuhnya meringkuk manja dalam dekapan suaminya tercinta.
Rangga tertawa gemas, mendekap erat tubuh Rani dan menyelimuti tubuh polos mereka berdua lalu menyusul Rani mengarungi mimpi indah mereka.
T A M A T
************
Akhirnya tamat juga. Leganya...seakan habis bayar utang yang nggak lunas bertahun-tahun...hehehe.... Usai sudah petualangan Tommy-Sasi dan Rangga-Rani.
Terima kasih atas kebersamaan kalian para reader PSS terlove mengukuti kisah khayalan author butiran debu ini. Matur nuwun sanget buat like, komen, koin, poin dan perhatian kalian semua. Sungguh itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi author sebagai pengakuan akan karya, sebagai dukungan dan penghargaan yang membanggakan bagi author untuk terus berkarya.
Mohon maaf jika ada kesalahan, kurang peka, kurang ini itu dimana-mana. Karena kesempurnaan hanya Tuhan yang punya.
Sampai ketemu di karya author yang lain.
__ADS_1
Love u all...