Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Asal Kau Bahagia


__ADS_3

Kalau nggak suka yang bucin-bucin , skipp dulu ...takut ngga kuat. Maklumin saja, bagaimana rasanya hampir ditinggal mati pas lagi sayang-sayangnya...happy reading...


*********


Tommy menunggu dengan sabar dokter memeriksa Sasi. Tatapan matanya tak lepas sedikitpun dari gadis itu. Membuat Sasi menjadi jengah. Kadang tersenyum membalas Tommy, tak jarang melengos membuang pandangan karena merasa Tommy terlalu lekat menatapnya, seperti akan menerkamnya.


" Bagaimana keadaan Sasi Dokter? " tanya Tommy ketika dokter mulai merapikan peralatan tanda pemeriksaan usai.


" Syukurlah mas, istrinya benar-benar sudah sehat. Tidak ada tanda kelainan fisik maupun psikis. Mungkin besok pagi kalau tidak ada keluhan lagi, setelah pemeriksaan dokter, sudah boleh pulang."


Sasi dan Tommy berpandangan kemudian sama-sama tertawa geli mendengar kata istri yang diucapkan dokter. Tapi mereka tak ingin mempermasalahkan atau memprotes hal itu. Anggap saja doa..


" Terima kasih Tuhan...Terima kasih dokter." Tommy merasa bahagia sekali. Digenggamnya lembut tangan Sasi.


"Silakan beristirahat. Kalau ada yang penting atau mendesak, silakan panggil saya " kata dokter lagi kemudian keluar dari ruangan diikuti perawat yang datang bersamanya."


Setelah dokter pergi, Tommy kembali mengunci pintu kamar.


" Kamu nggak ingin makan apa-apa sayang?" bisik Tommy sambil membelai pipi Sasi.


" Haus mas..." Sasi berusaha duduk. Tommy langsung membantunya dan mengatur posisi ranjang hingga Sasi duduk dengan nyaman.


" Ini minum dulu sayang." Tommy mengambil air mineral yang tadi dibawakan ibu. Membukanya dan mengambil sedotan untuk memudahkan Sasi minum.


' Makasih mas..." Sasi segera minum dengan rakus dan tergesa, seakan benar-benar kehausan. Hingga air di botol mineral itu hampir habis.


Tommy tersenyum melihatnya.


" Haus banget ya..sampai kesurupan begitu minumnya.." godanya pada gadisnya itu.


Sasi cuma mencebikkan bibirnya.


" Sasiii, itu lho dikondisikan..tidak boleh menggoda boss di rumah sakit. Nanti boss khilaf" Tommy menunjuk bibirnya.


Keduanya tertawa. Sasi mencubit lengan Tommy. " Ihh..siapa yang menggoda...mas aja yang ge er"


Bukannya kesakitan dicubit ,Tommy malah mencium tangan Sasi yang mencubitnya.


" Mau cubit dimana lagi sayang, nih...mas rela pedih-pedih seluruh badan kamu cubitin daripada kamu tinggal pingsan kaya tadi." Tommy menatap lembut mata Sasi. Gadis itu makin merona..


" Maass...sudah jangan ngerayu melulu. Bisa pingsan lagi aku karena gak kuat dengar gombalanmu."


" Ini bukan merayu sayang, kamu nggak tau kan rasanya aku hampir gila waktu dokter bilang kamu sudah tak bernyawa? Aku rasanya mau ikut kamu saja sayang.." mata Tommy berkaca-kaca.


Sasi menarik tangan Tomy untuk duduk disisi ranjang lebih dekat dengannya. Dibelainya lembut pipi Tommy. Wajah mereka saling menatap dalam dan penuh rasa.


Sasi bisa melihat wajah kuyu dan kelelahan Tommy meskipun pria itu selalu tersenyum sejak dia sadar tadi.


Belum sempat mandi, masih keringetan. Nunggu Baskara bawain baju ganti...


__ADS_1


" Cerita mas, maksudnya aku nggak bernyawa itu gimana? Bukannya aku cuma pingsan?" Sasi masih bingung dengan kata-kata Tommy.


Tommy memeluk erat tubuh Sasi. Seakan tak ingin lepas lagi. Sangat erat sambil tak henti menciumi puncak kepala gadis itu. Membuat Sasi lama-lama merasa sesak dan mendorong tubuh Tommy.


" Hah..hah...sesak mas. Mau bikin aku pingsan lagi ya? Sasi mengomel ketika Tommy dengan terpaksa melepas pelukannya.


Tommy tertawa...


" Jangan sayang...sudahlah kamu boleh marah, ngomel, nyubit mukul atau nyium aku sesukamu sepuasmu asal jangan tinggalin aku lagi...ya..I love you" Tommy menangkup pipi Sasi dengan dua tangannya.


Sasi ikut tertawa.." Ish..maunya dicium enak mas dong...modus terus...pacar sakit masih aja ngambil kesempatan modus.." Sasi menggerutu namun sambil tersenyum.


" Halah sayaang...Padahal kamu juga enak kan kalau dicium?" Tommy mengulum senyum menggoda Sasi.


Lagi-lagi gadis itu mencubit pinggang Tommy.


" Aduh ! Boleh balas nggak nih?" Tommy menggosok- gosok pinggangnya.


" Tadi katanya rela dicubit seluruh tubuh, kok sekarang mau bales? Bohong tuh!" rutuk Sasi.


" Nggak bohong sayang...aku balesnya nyubit pakai ini..." Tommy lagi-lagi menunjuk bibirnya.


" Maaas...." Sasi merajuk manja. Tommy tertawa senang.


Tommy lalu duduk merapat di samping Sasi. Dipeluknya pinggang kekasihnya itu erat. Sasi menyandarkan kepala dibahu bidang lelaki itu.


Tommy pun menceritakan awal kejadian Sasi pingsan , anfal, dinyatakan meninggal hingga bangkit dari kematian dan bernafas lagi.


" Maafin Sasi ya mas, sudah bikin mas susah" bisik Sasi setelah Tommy selesai bercerita.


" Nggak...mas yang minta maaf. Keluargaku yang bikin kamu jadi sakit begini.."


" Nggak...mas juga gak boleh ngomong gitu. Kalau mas nyalahin pak Barata berarti mas juga nyalahin Palupi, adik aku. Ini sudah takdir mas."


Tommy mengangguk dengan wajah murung.


" Jadi gimana ini mas? Aku jadi tambah ragu sama hubungan kita. Mungkin kita harus pikir-pikir lagi soal pernikahan mas." Sasi menerawang. Membayangkan keruwetan hubungan kekeluargaan mereka nanti.


" Kamu ngomong apa? Setelah mau bikin aku kehilangan kamu gara-gara pingsan kelamaan, sekarang kamu mau ninggalin aku lagi cuma gara-gara mertuamu adalah adik iparmu?"


Wajah Tommy merebak sedih. Tatapan matanya memelas menohok hati Sasi. Bahkan suaranya bergetar menahan perih. Takut kehilangan dan ditinggalkan lagi.


" Salahku apa Sasi? Bukan aku yang minta begini. Kenapa kamu malah menimpakan kesalahan dan kesedihan ini padaku?"


Hati Sasi jadi bingung. Di satu sisi tak ingin melukai Tommy. Disisi lain tak ingin menjalani kehidupan pernikahan yang penuh kecanggungan dengan Barata dan Palupi.


" Ibu bilang itu tidak masalah sayang. Kita tidak sedarah dan tidak ada kekerabatan dekat maupun jauh. Kenapa itu jadi masalah buatmu?"


Sasi menggeleng. " Entahlah mas..aku merasa ada yang salah dengan hubungan kita ini"


" Ngga ada yang salah sayang...sudahlah. Kamu ngga usah mikir macam-macam lagi. Kamu harus pulihkan tenaga dan pikiranmu agar kembali fit seperti sedia kala ya?"

__ADS_1


Sasi mengangguk, menatap dalam.wajah satu-satunya lelaki yang mampu membuatnya jatuh cinta itu. Apakah dia harus melepaskan cinta yang sedemikian sulit untuk digapainya itu? Apakah dia mampu meninggalkan dan melupakan the one and only nya yang tampan itu?


" Kenapa, ngelihatnya gitu amat? Kalau mau dicium bilang aja, ngga usah ditahan-tahan gitu" Godaan Tommy membuat wajah Sasi merona lagi.


Tommy mendekatkan wajahnya ke wajah Sasi. Tapi kemudian menjauhkannya lagi ketika Sasi mulai salah tingkah.


" Nanti saja ya...mas masih bau, belum mandi. Kalau sudah mandi boleh minta apa saja.."


Sasi langsung memukuli punggung Tommy gemas. Malu setengah mati karena sudah salah sangka kalau Tommy akan menciumnya. Ya ampun Sasi...dia merasa dialah yang mesum sekarang.


Tommy tertawa-tawa senang. Pukulan sasi serasa belaian buatnya. Jiahh...kamu tidak akan pernah merasakannya sebelum kamu jatuh cinta dan mengenal arti kata bucin....hahaha...


Ponsel Tommy berdering.


Baskara calling..


" Kamu sudah sampai mana Bas?"


" Sekalian beli makan malam ya...sup iga di resto biasa. Nasinya juga. Dua porsi aja kalau kamu sudah makan. Jus strawberry sama.coffee latte dingin"


" Buat aku dan Sasi. Sasi sudah sadar Bas.."


Tommy tampak bersemangat menjawab telpon dari Baskara. Sambil menjawab mata dan bibirnya tak lepas tersenyum pada Sasi.


Gadis itu menggeleng jengah sambil membalas senyum Tommy. Merasa dicintai dan begitu berharga dimata pujaan hatinya yang tampan itu.


Meninggalkan Tommy yang begitu bahagia, di rumahnya yang angker mbah Ageng tampak waspada dalam semedinya.


Mata tuanya terpejam namun mata bathinnya nyalang menatap sesosok mahkluk berwujud pemuda tampan yang tampak menggeram marah di hadapannya.


Pemuda itu menatap tajam mbah Ageng. Calon pengantinnya dicuri dari istananya. Ini semua gara-gara lelaki tua itu yang selalu ikut campur urusan cintanya dengan kekasih hatinya , Sasi.


" Maaf tuan, dia sudah punya kekasih yang sama dengannya, sesama jalma manusia. Relakanlah dia. Beri sedikit iba dari hati Tuan agar da bahagia. Tuan bisa lihat sendiri kan, betapa dia bahagia dengan kekasihnya.?"


" Dia akan lebih bahagia bersamaku.!" bentaknya marah.


" Dengan membunuhnya lebih dahulu? " Mbah Ageng menyela.


" Jangan ikut campur urusanku!" serang pemuda itu lagi.


" Maaf, tapi saya tetap akan menjaganya . Dan saya harap kita tidak perlu saling berbaku serang Tuan. Saya ingin kita menyelesaikan ini dengan kepala dingin"


Pemuda berselimut aura biru itu mendengus keras.


" Aku belum selesai denganmu!" menunjuk wajah mbah ageng lalu menghilang begitu saja.


Mbah Ageng menghela nafasnya dengan pelahan, lalu mengeluarkannya lagi lebih pelahan. Membuka matanya dan melangkah menuju halaman belakang rumahnya yang geLap gulita. Membakar dupa dan meletakkannya di bokor di atas meja batu seperti biasa.


Menatap kegelapan tanpa rasa takut sedikitpun.


" Mungkin ini pertaruhan terakhirku, semoga yang kulakukan benar di mata Sang Pencipta" Mbah Ageng berbisik dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2