
Baskara dan Jono menjemput Sasi dan Tommy di Bandara. Hari itu pasangan pengantin baru itu tiba di kota mereka setelah seminggu lebih berada di Pulau Dewata.
Wajah Sasi dan Tommy tampak bersinar cerah. Senyum selalu mengembang di bibir mereka sejak kedatangan mereka.
Baskara sudah gatal ingin menggoda mereka.
" Woah...yang baru bulan madu, wajah kalian sudah bersinar seperti matahari. Sukses honeymoonya mas..Sudah isi belum Sas?" sapanya sambil mengambil alih koper yang dibawa Sasi.
Sasi tertawa mendengar pertanyaan Baskara. " "Yang bener aja Bas, emang bisa gitu honeymoon seminggu langsung ketahuan isi apa enggak ..hahaha..."
Baskara tertawa lalu memeluk Sasi , hanya sekilas karena Tommy buru-buru menyingkirkan tangannya dari bahu Sasi.
" Harusnya aku yang kamu peluk. Aku masmu" protes Tommy.
" Sasi kan mbakku juga mas. Ahh..dasar posesif. Lagian aku kangennya sama Sasi bukan sama mas. Kamu kangen sama aku nggak Sas?" Baskara tak peduli.
Sasi tertawa. " Kangen dong Bas. Adikku yag paling ganteng..." Sasi malah merangkul bahu Baskara akrab.
Tommy langsung melotot dan menarik pinggang Sasi. " Yaaang...nggak boleh peluk-peluk cowok lain, even itu adikku. Kamu hanya boleh disentuh Tommy saja. Dengar Bas?" Tommy menatap tajam Baskara.
Lelaki muda itu mendengus pelan. Namun tak membantah Tommy. " Pelit!" rutuknya lalu berjalan mendahului Tommy dan Sasi sambil membawa koper Sasi.
Sementara Tommy dan Sasi berjalan berangkulan. Tak terpisahkan. Mereka mengikuti arah Baskara berjalan. Tak lama kemudian mereka tiba di depan mobil yang sudah menunggu mereka. Jono sudah turun dan membuka pintu mobil untu'k bosnya dan istrinya.
" Selamat datang kembali Bapak dan mbak Sasi" Sapa Jono hormat.
" Karena Sasi sekarang istriku , kamu harus panggil dia ibu Jon" sela Tommy.
" Baik pak. Silakan Bapak dan ehm..ibu .." Jono mengulangi panggilannya.
" Bagus..." kata Tommy lalu mempersilakan Sasi masuk mobil, baru kemudian dia menyusul.
" Nggak perlu begitu mas. Aku nggak papa dipanggil mbak. Malah ngerasa awet muda...hahah..." Sasi tertawa.
" Nggak bisa begitu sayang. Aku ingin status kita jelas di mata semua orang. Kalau mereka menghargaiku, kamu juga harus dihargai sebagai istriku. Karena kamu adalah segalanya buat mas. Aku akan pastikan semua yang terbaik untuk istriku."
" Uhh jadi ngerasa istimewa. Makasih sayang..." bisik Sasi.
" Makasih saja? " Tommy sudah menyorongkan pipinya ke wajah Sasi.
" Hah...ternyata baiknya modus ...! gerutu Sasi namun tak urung melayangkan kecupan di pipi Tommy yang sudah dekat sekali dengan bibirnya.
Tommy tertawa senang. Demikian juga Sasi yang tersipu-sipu.
Baskara dan Jono cuma diam setengah kesal. Lagi-lagi mereka seperti penumpang gelap yang tak kasat mata karena kedua orang yang sedang mabuk kepayang itu berbuat sesukanya seakan dunia hanya milik mereka berdua.
" Bener-bener nggak punya perasaan, pamer kemesraan didepan jomblo akut." gerutu Baskara diangguki Jono.
Sementara di kursi belakang, Tommy sudah merebahkan badan di pangkuan Sasi. Tangannya melingkari pinggang istrinya itu erat, sementara wajahnya menelusup di perut Sasi.
Semula Sasi merasa risih karena mereka tak sendiri, ada Jono dan Baskara disana. Namun Tommy mana mau tahu? Akhirnya Sasi hanya bisa membiarkan tingkah Tommy sambil membelai lembut kepala dan rambut suaminya yang berada di pangkuannya.
" Yang, besok pulang ke apartemen saja ya?" guman Tommy. Suaranya kurang jelas karena wajahnya masih menyusup di perut Sasi.
" Iya sayang..." jawab Sasi. Tommy tersenyum dan mulai terlelap. Tak lama Sasi menyusul terlelap sambil duduk. Tangannya masih mengelus rambut Tommy.
" Pulang ke mana mas Bas?" tanya Jono pada Baskara.
" Ke rumah Sasi. " Jawab Baskara sambil melihat spion tengah. Tampak di sana Sasi dan Tommy tengah terlelap. Sasi duduk sedangkan Tommy rebahan di pangkuan Sasi.
" Nggak nyangka pak boss bisa bucin gitu sama mbak Sasi...eh ibu..." Jono bergumam pelan tapi Baskara masih jelas mendengarnya.
" Emang dulu mereka kaya apa jon?"
" Walah mas...Pak Tommy dulu itu ndak pernah ngreken ( menganggap) mbak Sasi. Ngomong saja jarang-jarang. Kalau di mobil ya diem-dieman gitu. Mbak Sasi sendiri kelihatan males sama Pak Tommy karena sombong dan pelit ngomong. Mak Sasi kan orangnya supel, ramah. Temannya banyak, mana mau sama pak Tommy yang angkuh!" Jono mengingat-ingat bagaimana dulu Tommy dan Sasi yang seperti tidak saling mengenal selain masalah pekerjaan.
" Baru beberapa bulan lalu tiba-tiba pak Tommy nembak Mbak Sasi. Di mobil ini mas. Dan langsung ditolak sama mbak Sasi...hahaha..." Jono terkekeh mengingat betapa lucu kisah cinta bossnya itu.
" Surprise ditolak Sasi Jon? " Baskara mulai tertarik kisah cinta kakaknya itu.
" Iyalah mas, biasanya Pak Tommy dikejar-kejar cewek sampai sembunyi-sembunyi. Ehh ini ditolak.."
" Kena batunya dia Jon. Sasi itu banyak fans nya . Padahal aku yag naksir Sasi duluan Jon, eh malah Mas Tommy yang dapat." Baskara menggaruk kepalanya kesal.
" Mbak Sasi memang istimewa mas. Sudah cantik, baik, pinter, kadang suka lucu juga..komplit." Jino memuji-muji Sasi.
__ADS_1
" Berani kamu ngomong gitu. Kalau mas Tommy dengar langsung dipecat kamu Jon...hahaha..." Baskara menakut-nakuti Jono. Sopir setia Tommy itu langsung menoleh ke jok belakang. Takut-takut kalau Tommy mendengar perkataannya.
" Mas jangan ngagetin dong...Saya takut juga. Cician mobil saya masih panjang mas..." Jono memelas membuat Baskara makin keras tertawa.
Tenang saja Baskara dan Jono...Sasi dan Tommy nggak akan bangun kali ini. Kecapekan gara-gara Tommy tak henti minta jatah terakhir honeymoon. Buat kenangan tak terlupakan katanya. Dasar Modus.
Meskipun Sasi tahu Tommy cuma modus. Namun Sasi menuruti saja pinta suaminya itu. Dan begitulah semua terjadi malam itu dikamar pengantin mereka. Bahkan hingga pagi menjelang.
Mereka saling memuaskan diri. Dan memuaskan kekasih hati. Hampir saja terlambat sampai di bandara, gara-gara mandi terlalu lama. Entah apa saja yang mereka lakukan berdua di kamar mandi.
Beberapa saat berlalu, mereka telah tiba di depan rumah Sasi.
Sasi dan Tommy belum juga sadar dari lelapnya. Tampak ibu dan Rumi tergopoh menyambut kedatangan mereka.
Baskara turun dari mobil dan langsung menyalami ibu. Mencium tangannya takzim.
Ibu melongok ke arah mobil.
" Lho...Sasi sama Tommy nya mana to Bas?" tanya ibu ketuka orang yang diharapkannnya malah tidak muncul.
" Baskara membuka pintu belakang mobil. Dan tampaklah pemandangan paling membuat jomblo makin ngenes alias pedih.
Ibu tersenyum haru. Melihat anak dan menantunya yang terlelap. Tomny yang terlihat sangat manja tidur di pangkuan Sasi sambil memeluk erat pinggang istrinya.
Keduanya tampak tak terganggu sama sekali padahal Jono membuka bagasi belakang dan menurunkan semua koper dan bawaan mereka dengan suara yang cukup berisik.
" Dari bandara tadi sudah begini Bas?" tanya ibu sambil tertawa.
Baskara mendengus " Iya buu...duh keterlaluan bener mereka bu. Pamer kemesraan sama jomblo kaya aku sama Jono kok ndak kira-kira. Buuu...cariin jodoh buat Baskara to.." Baskara merengek ke ibu.
" Hahahha...mesakke banget to anakku iki ( kasihan sekali)..Oke nanti ibu kenalin sama keponakan ibu yang cantik-cantik.." jawab ibu sambil merangkul Baskara.
" Saya juga mau bu..!" tiba-tiba Jono ikut nyeletuk dekat mereka. Membuat ibu dan Baskra terbahak mendengarnya.
" Hahaha....oalah..kasihan banget sih kalian. Iya..iya..nanti ibu carikan juga buat Jono...hahha..." ibu makin terkekeh.
Suara tawa ibu dan Baskara membangunkan Sasi dan Tommy. Keduanya mengerjapkan mata mengembalikan kesadaran.
Sasi menoleh ke arah pintu mobil yang terbuka dan mendapati ibu dan Baskara menatap dirinya dan Tommy sambil tertawa.
" Bas..kok nggak dibangunin sih?" seru Sasi menyalahkan Baskara.
" Hah..apa yang? Sudah sampai rumah ya..?" Serak suara Tommy menyahuti Sasi. Lelaki itu pun bangkit dari pangkuan Sasi dan ikut menoleh ke arah pintu mobil yang terbuka.
" Eh...aduh..ibu..?" Maaf bu ketiduran. Ngantuk!" suara Tommy terbata-bata. Namun matanya menatap Baskara. Tatapan menyalahkan. Baskara malah menjulurkan lidahnya.
" Ya sudah ayo turun..!" ibu masih tersenyum.
Begitu Sasi turun ibu langsung memeluk anak sulungnya itu erat-erat.
" Gimana kabarmu nduk? Baik-baik liburannya? Seneng kamu sampai gak sempat nelpon ibu ?"
Sasi meringis mendengar pertanyaan ibu. Dia benar-benar melupakan semua orang. Karena suaminya tak memberinya waktu memikirkan orang lain. Hanya boleh memikirkan Tommy, melayani Tommy, dan menuruti Tommy saja...Luar biasa...!
Tommy menyentuh tengkuknya sungkan. Mereka memang lupa daratan saat hanya berdua saja.
" Maaf bu..hehehe..." Tommy juga meringis malu. Lalu mencium tangan ibu. Dibalas tepukan lembut di punggung Tommy.
Sudah ayo masuk semua. Ibu sudah siapkan makan untuk kalian.
Mereka segera masuk rumah dan langsung menuju meja makan. Makan bersama di meja makan berlangsung penuh canda dan tawa. Baskara tentu saja yang membuat Sasi dan Tommy jadi bulan-bulanan untuk diledek, digoda dan di bully.
" Mas, berapa kali semalam?" tanyanya vulgar.
" Apanya ?" Tommy cuek.
" Itunya..." Baskara tertawa.
" Bas kamu minta disunat ya?" Sasi yang menyahut karena risih dengan pertanyaan Baskara.
" Wah...Sasi sekarang ikutan galak kaya mas Tommy...benar-benar kalau jodoh memang jadi mirip ya.." Baskara mendecak.
Tommy dan Sasi melotot ke arah Baskara beraamaan. Jono yang tak berani berkomentar cuma tersenyum-senyum sendiri mendengar perdebatan sang boss dan adiknya itu.
" Jon kita pulang. Antar aku ke Semeru. Terus mobil bawa saja." Baskara mengajak Jono pulang.
__ADS_1
" Iya mas. Besok pagi saya langsung ke kantor saja. Apa Pak Tommy besok sudah masuk?" Jono menatap bossnya yang sedang disuapi istrinya. Dasar buciiìn....?
" Nggak, kamu langsung kantor saja. Minggu depan saya baru masuk."
Saat itulah terdengar ponsel Tomy berdering.
" Reza...hmm...iya za!" Tommy mendengarkan sambil menatap Sasi. Lalu mengecup bibir istrinya, membuat Sasi tertawa sambil menggelengkan kepala. Bisa-bisanya?
" Ada yang pending? Kenapa?" Tanya Tommy.
" Oke nggak masalah kalau mereka mau tunggu saya. Kamu gimana kabarnya? Enak jadi direktur Za? " Tanya Tommy sambil tersenyum mengejek.
Entah Reza menjawab apa karena Tommy malah terbahak-bahak kemudian.
" Makanya, jangan dipikir enak jadi pemimpin, jadi boss. Apa-apa tinggal tunjuk dan perintah. Sekarang kamu paham kan kenapa boss hobby marah? " Tommy tertawa lagi.
" File yang kamu kirim sudah saya periksa semua. Sejauh ini good. Revisi juga sudah saya kirim ke email kamu." Tommy masih saja bicara padahal makanannya belum habis, akhirnya Sasi menyuapi suaminya. Tommy tersenyum menerima suapan Sasi.
" Ngapain nanya istri saya? Tentu saja dia baik-baik saja. Malah sangat baik." Tommy membelai pipi Sasi Entah apa yang ditanyakan Reza hingga Tommy tampak kesal.
Tiba-tiba Sasi merebut ponsel Tommy. " Za udahan nelponnya biar Mas Tommy makan dulu! " lalu memutuskan panggilab Reza dan menaruh ponsel di meja.
" Yang...kan belum selesai ngomong sama Reza?"
" Nanti lagi sayang...makanannya dihabisin dulu. Nggak baik nunda-nunda makan yang belum habis" Sasi melanjutkan menyuapinTommy. Hingga makanan di piringnya habis.
" Reza ngomong apa mas?" tanya Sasi setelah makanan mereka habis dan mereka kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
" Nggak apa-apa. Mas juga selalu pantau kok meski mas nggak ada."
" Kapan mas ngecek kantor? Perasaan selama di Bali mas ngecekin aku saja kerjaannya?" Sasi mencibir ke arah Tommy.
" Hahahha...iya sih kalau kamu pas nggak tidur aku wajib ngerjain dan ngescekin kamu. Nah baru pas kamu tidur aku ngerjain kerjaan kantor. Kamu saja yang nggak tahu. Habis olah raga ranjang pasti langsung tidur." Tommy memeluk Sasi gemas.
" Mas sih kalau lagi pengen pasti nggak mau sebentar. Gimana gak kecapekan. Apalagi pengennya sehari bisa empat lima kali. Kalah orang minum obat mas.." Sasi cemberut.
" Halah yaang , kamu juga mau-mau terus kok. Malah minta lagi mas...ahh...terus mas...cepetan mas..." Tommy meracau menggoda Sasi hingga wajah istrinya itu merona malu.
" Enggaaak...nggak pernah aku gitu..." Sasi mencubit pinggang Tommy. Tapi tangan Sasi malah ditangkap dan ditarik Tommy hingga keduanya jatuh ke ranjang bergulingan.
" Nih kaya gini, modus aja kan sebenarnya kamu pengen juga kan? Terus godain mas, mana masmu ini gak bisa kesenggol dikit labgsung tegangan tinggi..Maunya kamu apa?" Tommy mengungkung tubuh Sasi.
Sasi yang merasakan bagian tubuh Tommy menegang, pikirannya jadi ikut travelling ke mana-mana.
" Mandi dulu yuk!" ajak Sasi.
" Kadung (terlanjur) tegang yang...main dulu terus mandi.." Tommy langsung bergerak cepat tanpa menunggu persetujuan Sasi.
Melucuti semua yang menempel di tubuh mereka berdua dengan lihai, secepat kilat, hingga keduanya kini tak ada lagi yang menghalangi.
Sasi menelan salivanya, membiarkan Tommy mulai menelusuri dataran, lembah, gunung dan cerukan hingga celah sempitnya. Membiarkan sentuhan suaminya yang lembut dan menggoda, menikmati keindahannya dan merasakan tubuhnya melayang oleh rayuan Tommy lewat bahasa tubuhnya.
" Ahh..." lagi dan lagi kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu saling menatap penuh hasrat menggebu wajah pasangan jiwanya.
Geliat dan gerakan mereka menikmati sentuhan belahan jiwa bagaikan melihat tarian surga yang melangutkan jiwa. Berkubang kenikmatan yang tak ingin dilepaskan walau hanya sekejap saja. Ingin selalu menikmati apa yang tersaji indah di depan mata.
" Sasiii...." Tommy memanggil nama kekasih hatinya saat tiba di puncak pengembaraannya.
" Mas Tommy...." Suara Sasi yang mendayu penuh kepuasan memenuhi hati Tommy dengan kebanggaan dan kebahagiaan .
" Cintaku...." bisiknya sambil mendekap erat wanita kesayangannya itu.
************
Readers tersayang...
Maafin ya...author sungguh minta maaf karena sekarang up nya tersendat-sendat.
Sungguh, itu juga jadi beban author, tapi author tak mau mengeluh dan cari alasan lagi.
Thanks untuk yang masih sabar mengikuti cerita Sasi Tommy dan Rangga. Author sangat menghargai kesetiaan kalian.
Sabar ya...meski nggak bisa up tiap hari, cerita ini akan author selesaikan pelahan saja. Boleh skip dulu, tunggu babnya banyak biar gak nunggu-nunggu..
Thanks juga yang masih setia baca, ngelike, ngevote, kasih hadiah poin dan koin. Author sangat berterima kasih dan menghargainya.
__ADS_1
Happy reading...