
Sasi terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Matanya terasa berat untuk dibuka. Tubuhnya serasa remuk redam. Tapi entah mengapa hatinya merasa sangat bahagia. Seperti ada beribu kupu-kupu dan bunga bermekaran di sekelilingnya.
Sasi membuka matanya. Sinar matahari menyusup ke kamarnya dari sela sela kain gordyn yang menutup jendela kamarnya. Akh! Hampir saja Sasi memekik melihat tubuhnya. tanpa sehelai benang pun. Namun ingatannya segera melayang pada prosesi sumpah pernikahan dan panggih pengantin kemarin.
Aku benar-benar sudah menikah...dan semalam suamiku mengerjaiku habis-habisan. Hingga baru bisa tidur nyenyak dini hari tadi. Sasi menutup mukanya sendiri. Memalukan sekali...naked begini?
Lalu dimana pria mesum itu sekarang? Sasi merasakan pinggangnya ditiup-tiup halus. Buru-buru dibukanya selimutnya dan..ya ampuun Tommy?
Lelaki itu terlelap menghadap pinggangnya. Hidung mancung Tommy bahkan menyentuh kulitnya. Sasi meremang merasakan nafas halus Tommy seakan meniup-niup pinggangnya. Lengan dan kaki lelaki itu membelit pinggang dan betisnya. Tampak damai dan begitu lelap.
" Sayang....bangun. Sudah siang ini.." Sasi membelai lembut pipi Tommy. Namun tampaknya lelaki itu terlalu lelap dan lelah, hingga tak merasakan belaian Sasi ataupun mendengar panggilannya.
Sasi tersenyum. Tommy...bisa tepar juga suaminya itu. Mengingat tadi malam tenaganya seakan tak ada habisnya. Dia tak punya lelah dan puas memintanya lagi dan lagi.
"Masih Pengen sayang..." Katanya saat Sasi hampir terlelap setelah penyatuan mereka yang ke dua beberapa menit yang lalu. Hidung dan bibirnya sudah mengendus-endus ceruk lehernya.
Atau.." Pengen lagi yang..." bisiknya saat Sasi terbangun untuk minum tengah malam lalu langsung mendorong Sasi ke sofa dan melakukannya di sana.
Dia , suaminya itu benar-benar tak tahu malu. Mendesaknya dan memojokkannya di mana saja di dalam kamar untuk kemudian meminta yang diinginkannya. Apa dia tak tahu kalau istrinya masih harus menyesuaikan diri karena baru pertama mengalami ini?
Tapi entahlah...Sasi sendiri seakan ikut tak tahu malu. Menikmati semua yang dilakukan Tommy tanpa menolak sedikitpun. Sasi merasa tubuhnya seperti kecanduan sentuhan Tommy. Hingga selalu membalas hangat ketika Tommy menyentuhnya. Membuat pria itu semakin tergila-gila padanya.
Sasi menarik tubuhnya menjauh dari suaminya. Mengangkat pelan-pelan tangan Tommy yang melingkari pinggangnya, kemudian sedikit mendorong kaki Tommy yang menumpang di kakinya. Beranjak dari ranjang yang berantakan seperti kena badai itu bermaksud pergi ke kamar mandi.
Tapi apa ini?. Aww! Sasi memekik lirih. Bagian bawah tubuhnya terasa nyeri dan mengganjal. Sasi mendesis dan duduk kembali di sisi ranjang. Ahh...sakitnya baru terasa sekarang. Padahal dia tak merasakannya saat semalaman dia dan Tommy bergelut.
Sasi lagi-lagi menutup wajahnya dengan dua tangannya. Mengingatnya sangat memalukan..tapi melakukannya sangat melenakan. Haishh!
Saat Sasi sedang menunduk itulah, tiba-tiba Tommy menghambur memeluk Sasi. Menciumi wajah dan tubuh istrinya gemas sambil meracau. " Ini milikku, ini milkku, ini...semua milikku..." Tommy mencium semua yang ditunjuknya sebagai miliknya.
Sasi tertawa-tawa geli. Tapi membiarkan saja tingkah gila suaminya itu. Keduanya kemudian bergulingan di kasur sambil saling memeluk. Tertawa-tawa tanpa beban lalu saling menatap mesra.
Selanjutnya terserah anda...( hihihi...author trauma mau nulis yang panas-panas...takut terbakar..)
Satu jam kemudian Sasi dan Tommy baru keluar dari kamar dengan rambut yang masih setengah basah.
" Ciee yang baru kawin...bangun kesiangan..." Suara jahil Baskara menyambut mereka di meja makan.
Wajah Tommy dan Sasi langsung memerah. Semua keluarga berkumpul dan Baskara seenaknya saja bicara vulgar seperti itu.
Tommy menatap tajam Baskara lalu mengarahkan tangannya ke leher dengan gerakan manipulatif memotong. Kek!
Baskara tercekat. Waduh! Alamat jatah uang jajan bulanan dipotong nih! Baskara langsung memasang wajah memelas.
Sasi tertawa lalu berbisik di telinga Baskara yang duduk di sebelahnya. " Sukurin...! Kali ini aku mendukung mas Tommy" Sasi tersenyum jahat. Membuat Baskara makin kehilangan harapan .
" Kalian makan yang kenyang. Habis gini langsung ke venue. Semua sudah disiapkan EO" Baskara memberi tahu Sasi dan Tommy.
Sasi dan Tommy cuma mengangguk sambil makan dengan tenang. Hanya ada mereka di meja makan karena semua sudah sarapan sejak jam delapan tadi.
Setelah sarapan mereka segera berangkat ke resort tempat diadakannya resepsi pernikahan mereka malam nanti.. Ibu dan Retno serta suaminya juga beberapa anggota keluarga nanti akan menyusul mereka sebagai keluarga mempelai.
Baskara tersenyum-senyum melihat Sasi agak kesulitan berjalan. Mulutnya terasa gatal ingin menggoda pengantin baru itu. Tapi otaknya masih bekerja dengan baik, tak mau menaggung resiko dipotong tunjangan bulanannya oleh kakaknya . Akhirrnya Baskara cuma menyimpan ejekannya dalam hati.
Tommy dengan sabar berjalan pelan mengimbangi agar Sasi tak kesakitan.
" Masih sakit sayang?" bisik Tommy di telinga Sasi.
" Sedikit.." jawab Sasi tersenyum kecut. Ah...bagaimana semalam begitu nikmat dan sekarang begitu sakit? Keluhnya dalam hati.
" Nanti mampir apotik Bas, ada yang mau dibeli!" titah Tommy pada Baskara yang mengemudikan mobil.
" Siap boss!"
Ketika melihat apotik, Baskara segera menepikan mobilnya. Tommy turun dan tak lama sudah kembali dengan obat dan sebotol air mineral.
" Minum dulu sayang, biar hilang nyerinya" bisik Tommy . Sasi.mengangguk dan langsung meminum obat yang diberikan Tommy.
" Kamu tidur saja sayang. Nanti kalau sudah sampai mas bangunin. Biar cepet sembuh hm?" Tommy mengusap bibir Sasi yang sedikit basah terkena air.
Sasi mengangguk lalu menyandarkan kepala ke pundak Tommy. Memejamkan mata sambil melingkarkan tangannya ke lengan Tommy. Jemari keduanya saling bertaut.
__ADS_1
Baskara mendecak pelan. Keterlaluan sekali. Dirinya merasa jadi obat nyamuk sekarang. Tak dipedulikan . Begini amat nasib jomblo...Baskara merutuk kesal.
" Berapa ronde mas, sampai susah jalan gitu?" tanya Baskara asal.
Tommy mendecak kesal. Sasi yang hampir lelap terpejam jadi melotot dan bangun lagi.
" Baasss....." geram Sasi dan Tommy bersamaan. Baskara tergelak melihat betapa kompaknya pengantin baru itu kesal padanya.
" Sudah sayang, jangan dengerin bocah semprul itu. Kamu bobo aja ya..." Tommy membelai lembut punggung Sasi.
Sasi yang mulai terpengaruh obat yang diminumnya pelahan benar-benar terlelap dalam dekapan Tommy.
Lagi-lagi Baskara mendecak. " Mentang-mentang pengantin baru. Mikir..ada jomblo di sini..ck...! " Baskara menggerutu, tapi masih biaa di dengar Tommy.
" Ngiri kamu? Kelarin tuh kuliah, main melulu! Habis itu kerja, baru kawin..." ejek Tommy.
Baskara mendengus kesal." Iyaaa...iyaa mas, janji tahun depan skripsi kelar. Langsung kawin juga aku." gerutu Baskara kesal.
Tommy tak menggubris Baskara sama sekali. Asik.merapikan rambut Sasi, membelai punggung dan rambutnya. Sesekali menciumi puncak kepala gadis itu.
" Bujang lapuk ketemu perawan cantik, gini nih jadinya. Bucin kelewatan. Hadeehh..." Baskara mengomel sendirian melampiaskan kecemburuannya meihat kemesraan Tommy pada Sasi
Tommy tanpa diduga menoyor kepala Baskara dari belakang. " Aduh!" pekik Baskara tertahan.
" Diam kamu, nanti istriku keganggu tidurnya" kata Tommy ketus.
" Iyaa..iyaa...yang sudah punya istriii." Baskara mencibir.
Perjalanan ke resort membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Namun baru tiga puluh menit Tommy sudah tidur menyusul Sasi yang lebih dahulu terlelap.
" Halaah...fix nih jadi sopir cabutan. Malah ditinggal tidur berdua..dasar bambaaang.." Baskara menggerutu sendiri. Akhirnya untuk mengisi sepi ia mengenakan head set dan mendengarkan lagu dari ponselnya.
Baskara memaklumi kedua pengantin baru itu yang pasti kecapekan setelah malam pertama mereka. Apalagi Sasi sampai susah berjalan seperti itu. Bisa dipastikan Kakaknya sudah menghajar kakak iparnya itu habis-habisan.
Baskara tersenyum-senyum sendiri. Kakaknya yang berniat jadi bujang lapuk ternyata mengingkari niatnya sendiri karena Sasi. Gadis yang sempat membuatnya terpesona itu memang istimewa, tak heran kakaknya yang dingin dan bahkan berniat membujang selamanya itu sampai tergoda dan membatalkan niatnya.
Baskara melihat ke arah jok belakang mobil lewat spion. Tampak kakak dan iparnya tidur dengan saling bersandar. Sasi mememeluk lengan Tommy . Jemari keduanya saling bertautan erat. Wajah mereka tampak bahagia meskipun tak bisa menyembunyikan kelelahan.
Beberapa orang lalu lalang mempersiapkan pesta yang akan digelar sore nanti.
" Mas Baskara!" seorang gadis memanggil nama Baskara.
" Ya?" jawab Baskara sambil menghampiri gadis itu. Dia adalah salah satu dari anak EO yang menangani pernikanhan Sasi dan Tommy.
" Mbak Sasi sama mas Tommy mana? MUA nya sudah siap" kata gadis itu.
" Tuh ketiduran di mobil" tunjuk Baskara ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. " Kasihan kecapekan, nanti kalau bangun aku bilangin sudah ditunggu" lanjutnya.
" Oke mas. Saya tinggal dulu" kata gadis itu lalu meninggalkan Baskara.
Dengan santai Baskara berjalan menyusuri pantai yang relatif sepi karena sudah ditutup untuk umum oleh pihak resort.
Tiba di sebuah batu karang yang cukup tinggi Baskara duduk diatasnya. Memandangi ombak yang berkejaran menuju pantai.
" Ngelamun aja!" Baskara terkejut ketika seseorang menepuk bahunya. Sasi sudah tersenyum di belakangnya.
" Mana pacar kamu? Ngga ada yang diajak Bas?" tanya Sasi.
Baskara terkekeh. " Yang mau aku jadiin pacar malah kawin sama masku"
" Ngaco kamu. Kalau mas Tommy dengar bisa disunat uang jajanmu..hahaha.." Sasi tertawa.
" Beneran , masa ga ada pasangan Bas? " desak Sasi.
" Ngga ada Sasiii. Belum ada yang memenuhi syarat dijadiin pacar" Baskara menunduk. Memainkan kulit kerang yang ditemukannya lalu melemparnya ke laut.
Kenyataannya dari sekian banyak TTM nya tak ada satu pun yang mampu membuatnya berdebar atau terpesona. Biasa saja. Karena itulah Baskara tak pernah mengakui mereka sebagai kekasih atau pacar.
" Ya setidaknya bawa salah satu lah koleksimu yang serenteng itu. Masa nanti di poto kawinanku kamu seperti angka satu?" Sasi menggoda adik iparnya itu.
Baskara tertawa. " Nanti kalau aku bawa salah satu dia jadi baper, dipikir aku milih dia. Yang lain pasti baper juga ngerasa nggak diakuin. Mending gak dibawa semua. Bebas. Siapa tahu nanti dapat jodoh disini?"
__ADS_1
"Dasar playboy cap kapak" Sasi meninju lengan Baskara.
" Mana mas Tommy? " Tanya Baskara" Gak nyariin , kamu ngilang sendiri gini.?" matanya berkeliling mencari keberadaan Tommy.
" Tadi ngomong serius sama EO, lama jadi aku tinggal."
" Balik ke resort yuk. Nanti suamimu bingung." ajak Baskara lalu melangkah diikuti Sasi disampingnya.
Benar saja dari kejauhan Tommy berlari-lari ke arah mereka.
" Sayang..kok main pergi aja sih? Ayo kamu sudah ditunggu MUA !" kata Tommy
" Ok. Aku pergi dulu ya Bas? " pamit Sasi dibalas anggukan Baskara.
Kedua suami istri itu bergegas ke kamar mereka di bagian utama resort.
Sasi segera menemui MUA yang disediakan EO. Mereka menuju ke kamar Sasi. Tommy ikut dibelakang mereka.
Menunggu Sasi dirias Tommy bermain game di ponselnya sambil melihat berita . Namun tak lama karena kurang tidur semalam, Tommy sudah terlelap di sofa.
Sasi sudah selesai dirias. Demikian juga ibu, Retno, Palupi dan seluruh anggota keluarga.
Tommy yang masih tertidur segera dibangunkan Sasi untuk berganti pakaian yang sudah disiapkan.
" Sayang..bangun" Sasi menepuk nepuk pipi Tommy.
Tommy membuka matanya dan langsung mencium Sasi begitu melihat wajah istrinya itu.
" Aduh mas..jangan cium-cium dulu. Nanti make upnya berantakan..." MUA yang tadi merias Sasi menggerutu melihat Tommy mencium Sasi.
Tommy tidak menjawab, cuma tersenyumo-senyum sambil beranjak ke kamar mandi. Membersihhkan badannya di bawah kucuran shower. Lalu mengenakan tuxedo yang sudah disiapkan EO.
" Parfumku mana sayang?" seru Tommy agak keras. Sasi segera membawakan yang di minta Tommy dan masuk ke kamar mandi.
" Mbak..make upnya jangan sampai berantakan lagi ya.." pesan sang MUA.
Sasi dan Tommy yang mendengarnya tertawa geli.
" Tuh mas..dengerin mbak MUA!" Sasi menarik hidung Tommy gemas.
Tommy terkekeh dan malah menggoda Sasi dengan mendekatkan wajahnya sampai hampir menempel ke wajah Sasi.
" Mas! " teriak Sasi. Tommy makin keras tertawa
" Habis kamu cantik banget sih. Kan jadi nggak tahan akunya.." Tommy merengek lucu.
" Ih lebay tahu. Kok jadi kolokan gini sih mas?" Sasi tertawa' sambil menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh Tommy.
Selesai menyemprotkan parfum, tiba-tiba Tommy memeluk istrinya yang sudah mengenakan gaun resepsi dan make up flwless itu. Sasi hendak protes namun Tommy menyentuh bibir Sasi dengan telunjuknya.
" Sssstt...jangan ribut. Mas cuma mau peluk iatri mas yang cantik ini. " Bisik Tommy lalu memeluk erat Sasi dan menciumi puncak kepalanya.
" Awas rambutnya berantakan maass.." ingat Sasi.
" Ssshh...iya mas tau" bisik Tommy lagi. Sasi tersenyum. Merasakan haru merasuki dadanya merasakan pelukan erat Tommy yang seakan menyalurkan ketenangan kedalam hatinya. Pria ini benar-benar mencintainya. Sasi pun kemudian membalas pelukan Tommy tak kalah erat.
Setelah berpelukan beberapa lama, panggilan dari MUA memaksa mereka melepaskan pelukan dan keluar dari kamar mandi.
Sang MUA dan asistennya cuma memggeleng dan tersenyum melihat Pakaian dan rambut keduanya sedikit berantakan. Mereka tak banyak bicara segera merapikannya seperti semula.
Tak lama Tommy dan Sasi sudah memasuki ruang resepsi diaambut para tamu yang sudah hadir.
******
Readers ter love...maaf ya baru bisa up date lagi. Jadi trauma ditolak ini...Maaf juga part 76 akhirnya hilang karena author belum berhasil merevisi. Masih ditolak😭😭
Kalian yang penasaran dengan bab yang hilang dan punya akun FB silakan mampir ke FB author @ Diana Novita . Author sudah share di sana.
Dukungan like , komen, koin,poin, vote dan kado dari kalian membuat semangatku yang down jadi naik lagi. Thanks ya...
Hapoy reading...
__ADS_1