Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Menuju Satu (2)


__ADS_3

Sampai di kantor, Sasi dan Tommy memisahkan diri ke ruangan masing-masing.


Seperti biasa Sasi akan menunjukkan jadwal kerja yang sudah disusunnya kepada Tommy. Disiapkannya tablet kerja dan beberapa berkas yang akan ditandatangani mas boss gantengnya itu.


Sasi duduk di kursinya sambil memejamkan mata. Kepalanya bersandar di jok kursi yang empuk. Sejak resmi menjadi pacar bossnya itu, Sasi jadi salah tingkah setiap kali akan menemui bossnya di ruangannya.


Apalagi saat pagi hari seperti ini. Karena boss sepi yang dulu dingin bak kulkas itu kini sudah bertransformasi jadi bos mesum yang panas membara. Hahh ! Yang selalu minta jatah kiss morning setiap pagi. Haissh! Sasi menutupi mukanya dengan dua tangannya.


Malu tapi mau mengingat ciuman Tommy yang selalu membuatnya lemah dan seakan kehilangan tulang hingga tubuhnya lembek bagai jelly. Bahkan harus bertumpu pada lelakinya itu untuk dapat berdiri .


Oh My...tolong Sasi yang kini ketularan mesum. Selalu merindukan kehangatan ciuman boss tampannya itu. Ciuman yang seperti roller coaster. Kadang lembut dan memabukkan. Tak jarang panas dan rakus mendebarkan. Membuat jantungnya seakan dipompa cepat hingga hampir meledak. He is the best kisser. Ever!


Sasi meneguk air mineralnya. Membawakan beberapa botol untuk ditaruh di kullkas Tommy seperti biasanya. Dan bergegas melangkah menemui bossnya.


Di ruangan Tommy, pria itu sedang memeriksa beberapa berkas di mejanya sambil mengawasi pergerakan saham dan kurs mata uang dari laptop di mejanya. Ketika tiba-tiba Tommy menatap ke pintu ruangannya dan berseru agak keras.


" Masuk Za. Nggak dikunci!"


Suara Tommy mengejutkan Reza yang berada tepat di depan pintu ruangan bosnya. Pasalnya dia bahkan belum mengetuk pintu atau mengucapkan sesuatu, tapi Tommy sudah menyuruhnya masuk.


Reza mengamati daun pintu di depannya dari atas sampai bawah. Tak ada kamera atau CCTV di sekitar tempatnya berdiri. Mungkin ada CCTV tersembunyi. Pikir Reza akhirnya.


Dengan masih kebingungan Reza membuka daun pintu dan bergegas masuk ke ruangan bossnya.


Dilihatnya Bossnya itu sedang memeriksa berkas sambil sesekali melihat ke arah laptopnya.


" Boss lagi ngecek CCTV baru ya? Kok tahu saya yang di depan pintu.? Padahal saya belum ngetok?"


" CCTV baru? Nggak ada. Nih saya lagi lihat pergerakan kurs rupiah." Tommy lalu memutar laptopnya hingga Reza dapat melihat bahwa boasnya itu memang tidak sedang mengawasi CCTV.


Tommy membiarkan Reza bertanya-tanya bingung. Sebab dirinya sendiri pun merasa bingung sekaligus heran dengan matanya, atau hatinya? Atau pikirannya? Bagaimana tiba-tiba saja dia tahu ada Reza di depan pintu?


Tommy tiba-tiba ingin segera bertemu mbah Ageng. Kemampuan dan kekuatan baru yang bertubi-tubi muncul mengelilingi dirinya kini membuatnya takut alih-alih bangga.


Reza menyerahkan beberapa berkas di tangannya kepada Tommy.


" Taruh dulu Za. Saya masih banyak yang harus diperiksa. Kamu boleh balik ke ruanganmu dulu. Nanti saya panggil " sambil bicara Tommy tak mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.


" Siap boss. Oh iya nanti ada meeting dengan klien di luar. Boss mau pergi dengan Sasi atau saya?" tanya Reza.


" Sementara ini kamu istirahat dulu Za. Biar saya sama Sasi yang urus klien.


Kecuali ada jadwal bentrok, kamu boleh handle." Jawab Tommy.


" Kamu tenangin diri, santai-santai dulu siapkan tenaga. Karena nanti mulai hari H pernikahan saya dan Sasi sampai dua minggu kemudian, kamu yang akan handle semua pekerjaan Saya dan Sasi."

__ADS_1


" Wahh ini sih namanya berenang- renang dahulu berakit- rakit kemudian. Dienakin dulu, terus dikerjain kemudian...boss emang jago kalau mau ngeprank anak buah.." Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tommy terbahak mendengar gerutu Reza.


" Kenapa? Nggak sanggup kamu? Mau digantiin Manager lain jadi wakil direktur?" Tantang Tommy.


" Wahh..jangan dong boss. Masih betah di ruangan baru saya yang keren. Belum sebulan masa iya mau diturunin jabatan...hehehe..." Reza meringis.


" Kamu harusnya bersyukur saya kasih kepercayaan. Saya yakin kamu bisa. Justru ini bisa jadi ajang pembuktian kamu. Jadi ajang latihan kamu. Siapa tahu ke depan kamu bukan lagi jadi bawahan saya. Tapi jadi partner bisnis saya. Kamu gak pengen jadi boss Za?"


"Siap boss. Boss tenang saja. Saya akan jalankan tugas sebaik-baiknya!"


" Nah..gitu dong semangat. Nanti saya suruh Davin atau Risma bantuin kamu. Atau kamu pengen dibantuin yang lain? "


" Nggak boss, Davin saja. Terima kasih boss. Kirain nggak dikasih bantuan sama sekali...hehehe"


"Makanya dengerin dulu, pahami. Kuatir, ngedown, diduluin. Zaa...zaa.." Tommy tersenyum mengejek. Reza cuma meringis.


" Oke. Saya ke ruangan dulu boss" Reza mengangguk hormat lalu meninggalkan ruangan Tommy.


" Hmm..." jawab Tommy tanpa melihat Reza.


Beberapa saat kemudian Tommy tersenyum-senyum sendiri sambil menatap pintu. Bayangan sang bidadari tampak sedang berdiri di depan pintu ruangannya. Lagi-lagi Tommy terkaget-kaget sendiri dengan kemampuan barunya ini. Bisa melihat sesuatu yang ada di balik pintu.


" Masuk aja sayang..." serunya riang.


Sasi belum sempat bertanya bagaimana Tommy bisa tahu dia sedang di depan pintu, saat Tommy sudah bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah pintu dan menguncinya.


" Sebelum nikah, kunci pintu harus sudah diganti yang otomatis pake remote nih" gumamnya bicara sendiri. Tapi Sasi bisa mendengarnya dengan baik.


" ish..mas..mas..kamu tuh yang dipikirin ituu melulu..." Sasi menggerutu sambil menggeliat geli, karena kini Tommy sudah memeluknya dari belakang sambil mengendus-endus pipinya dari samping.


" Ini kebutuhan utama pria sayang. Kalau kebutuhan yang ini nggak terpenuhi, bisa kacau dunia." Bisik Tommy sambil membalikkan tubuh Sasi dan mendekapnya erat.


Dengan lembut mengangkat tubuh Sasi dan mendudukkannya di atas meja kerja. Lalu...


" Morning kiss...baby.." desahnya berat. Menarik pinggang Sasi erat dengan sebelah tangan dan meraih belakang leher gadis itu lembut dengan tangan lainnya. Menundukkan wajahnya yang penuh kabut hasrat hingga tak berjarak dengan wajah merona Sasi.


" Mass..." suara Sasi menghilang. Berganti decapan dan desah nafas dua orang yang sedang dimabuk hasrat menggebu. Saling memagut , menyesap dan mengulum bagian wajah ternikmat yang tak pernah bosan mengecap kehangatannya. Saling membelit indera perasa dan bertukar saliva.


Menikmati manisnya bibir dan seisi rongga mulut Sasi bagai mereguk madu bagi Tommy. Dan merasakan gelora hasrat Tommy mengeksplor seluruh bagian wajahnya bagai candu yang memabukkan Sasi.


" Ahh...hah..hah.." Tommy dan Sasi saling menatap dan tersenyum puas. Tersengal Berebut udara untuk bernafas saat mereka melepas ciumannya.


" Mas...lipstick ku ..." Sasi tertawa sambil menunjuk bibirnya yang terasa panas dan bengkak.

__ADS_1


Tommy tertawa dan mengecup sekilas bibir merah yang selalu nembuatnya mabuk itu. Mendekap erat tubuh Sasi dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


Tommy menjauhkan wajahnya sejenak dari wajah Sasi, namun masih tetap memeluk pinggang gadis itu.. Lalu di rabanya bibir Sasi. Merapikan lipstick yang sudah tak karuan bentuknya. Tommy tertawa lirih melihat akibat perbuatannya pada bibir dan lipstick Sasi.


Dengan lembut diusap dan dibersihkannya bibir Sasi dari lipstick yang berlepotan. Setelah bersih, Tommy membuka barang yang tadi diambilnya dari saku celana. Menyapukannya lembut pada bibir Sasi.


Sasi mendongak dan mengambil tangan Tommy.


" Apaan ini mas? Coklat kok dioles ke bibir sih? Bisa dikerubungi semut bibirku mas?" Rutuk Sasi.


Tommy tertawa lalu menyerahkan lipstick yang dibawanya pada Sasi.


" Wow...ini edisi terbaru lipstick xxx itu. Mas dapat dari mana? Di toko belum ada lho!"


" Hm...dari toko resminya langsung di Paris. Mas pesan via online.Mas punya akses karena termasuk member utama. Mas mu ini orang yang bertanggung jawab. Berani berbuat harus berani tanggung akibatnya.." Tommy tersenyum smirk.


Sasi mendecak sambil memutar lipstick di tangannya. Lipstick sewarna bibirnya dengan aroma coklat yang manis yang memang diincarnya sejak launching produk beberapa hari lalu.


" Ya iyalah...mas yang bikin lipstick ku cepet habis.." Sasi mencebikkan bibirnya sambil berusaha turun dari meja .


Tapi Tommy tak beranjak dari tempatnya.


" Sasiii..nggak boleh menggoda boss di kantor. Boss sudah khilaf ini..." geram Tommy tak tahan melihat Sasi mencebikkan bibirnya.


" Boss yang mesum kok..bukan aku yang menggoda. Memang bossnya hobby khilaf..." Sasi tertawa, mengangkat wajahnya dan menarik tengkuk Tommy hingga wajah pria itu mendekat, lalu memberi kecupan panjang di bibir Tommy.


Pria itu tersenyum puas. Membiarkan gadisnya turun dari meja dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


" Mana jadwalku...? " Tommy menarik lengan Sasi yang tengah mengambil berkas dan tablet di meja. Lalu mendudukkan gadis itu di pangkuannya.


Masih saja kuraaang...?? Sasi mendecak kesal. Tapi tak mencoba memberontak. Membiarkan pria kesayangannya itu menuntaskan hasratnya pagi itu. Jika tidak, sepanjang hari dia akan mengekor kemanapun Sasi pergi. Jadi sudahlah...nikmati aku sepuasnya...begitu pikir Sasi. Jadi setelah ini aku bisa bekerja dengan tenang.


Tommy membaca tablet dan memeriksa berkas sambil ndusel-ndusel ( apa sih ? Itu lho...aduh gimana ngomongnya? pokoknya enak kata Tommy ) Menikmati aroma tubuh Sasi yang jadi candunya...


Jomblo...cepet cari pasangan. Biar gak ngiri sama Tommy...Bisa praktek sendiri..


*********


Readers tercinta...terima kasih untuk dukungan koin, vote, hadiah, like dan komen kalian. Kalian bikin semangat author menggebu-gebu untuk menulis.


Tapi apa daya kadang tubuh dan otak tak sinkron...hehehe..pas otak pengen ngebut , penuh ide, tubuh lembek gegara vaksin kemarin . Tidur seharian gak mau bangun. Giliran tubuh fit buat nulis, otak ngeblank , kosong tak ada ide...hihihi...


Moon maaf ya...


Happy reading...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen terus ya...biar author juga famous kaya author yang lain..hehehe...ngarep tor..tor... ( biarin mumpung ngayal masih gratis)


__ADS_2