
Sasi dan Tommy tersenyum bahagia di tengah Sorak dan suitan para tamu yang menyambut mereka. Tommy menatap istri cantiknya lekat seakan tak ingin kehilangan sedetik pun. Sementara Sasi tersipu-sipu dengan wajah merona dalam rengkuhan suaminya.
Tamu yang hadir memenuhi ruang resepsi sebenarnya tidak terlalu banyak. Tommy memang sengaja menuruti keinginan Sasi yang tidak ingin menggelar resepsi pernikahan yang terlalu ramai. Dia hanya mengundang kolega-kolega terbaiknya saja. Ditambah beberapa kolega papanya, Barata serta beberapa kolega ibu Sasi yang juga pengusaha perkebunan.
Tentu yang paling utama adalah kehadiran saudara terdekat dan sahabat-sahabat mereka berdua. Sasi ingin pesta dengan suasana hangat keluarga dan para sahabat yang saling mengenal dekat. Bukan pesta mewah dan melelahkan ditengah orang-orang yang bahkan tak mereka kenal.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara yang mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu.
Selanjutnya pembawa acara memanggil mampelai yang sudah siap di balik tirai pembatas ruangan resepsi.
Seluruh tamu berdiri dan bersorak ketika Sasi dan Tommy muncul dari balik tirai. Tommy tampak semakin tampan dengan tuxedo putih senada dengan gaun Sasi yang membalut indah tubuhnya.
Keduanya kemudian menuju pelaminan yang disana sudah menunggu keluarga besar mereka.
Barata dan Palupi serta Baskara, ibu Sasi dan Retno serta Emil yang mewakili ayah Sasi. Para pria mengenakan setelan jas yang menawan, sementara para wanita mengenakan gaun yang indah. Lily dan Rose yang dijaga baby sitter juga mengenakan gaun indah yang membuat mereka tampak seperti malaikat kecil.
Di barisan tamu paling depan tampak Reza dan Davin duduk dalam satu meja bersama para staf kantor mereka . Sasi melambaikan tangannya pada dua sahabatnya itu. Dibalas ciuman jauh oleh dua pria tampan itu. Tommy melengos kesal sesaat, namun kemudian ikut tertawa-tawa bersama Sasi.
Sasi melihat seorang gadis duduk di dekat Reza. Siapa dia? Sasi tak mengenalnya.
" Pacar Reza ya mas? " tanya Sasi berbisik pada Tommy . Matanya mengarah ke tempat Reza duduk.
" Mungkin. Dia itu anaknya dirut Wehaka. Namanya Siska kalau gak salah. Selama aku nggak ada kan Reza yang handle . Bagus lah kalau mereka saling tertarik." jelas Tommy.
Sasi mengangguk dan kembali melambai ke arah Reza dan Davin yang melambai ke arahnya.
" Cantik..mudah-mudahan jodoh kaya kita ya mas...." Sasi menatap Tommy. Pria itu membalas tatapan Sasi mesra.
"Heem.... Kamu cantik banget sih yang...jadi pengen ngamar aja, ngapain juga disini lama-lama" Tommy mendesis di telinga Sasi.
" Hush ngaco. Ini acara juga baru mulai main ngamar aja. Mereka hadir di acara ini untuk memberi selamat sama kita loh mas.." Sasi mencubit lengan Tommy. Suaminya itu cuma meringis dan mengaduh lalu tertawa. Tangannya sudah mendarat di pinggang Sasi lekat.
Sejak memasuki ruangan resepsi Tommy tak pernah melepaskan tangannya dari pinggang istrinya itu. Bahkan sesekali tampak Tommy menciumi rambut dan puncak kepala Sasi. Hal itu tak luput dari perhatian para tamu. Termasuk Reza dan Davin.
" Pak Tommy kayanya cinta banget ya Za sama istrinya" Siska membuka pembicaraan ketika tanpa sengaja melihat Tommy mencium pelipis Sasi lembut.
" Hmmm...iya tuh bucin banget dia. Cemburuan lagi. Sudah tahu kita sahabatan sejak lama, masih saja cemburu kalau aku sama Sasi ngobrol agak lama dikit" sahut Reza kesal.
" Terang aja cemburu Ja, orang Boss tahu kamu juga cin...." Reza buru-buru menutup mulut Davin dengan cake yang ada di atas meja.
" hummpf...humm...uhuk..." Davin tersedak cake yang disuapkan Reza. Buru-buru Reza mengambil air mineral yang terrsedia juga di meja dan menyerahkannya pada Davin.
" Please Vin...aku lagi PDKT sama ini cewek. Jangan kau hancurkan kesempatanku dodol!" bisik Reza setengah menggeram di telinga Davin.
Davin terkekeh-kekeh mendengar gerutu Reza. Namun dia tak lagi meneruskan ejekannya pada Reza. Davin juga ingin Reza move on dari Sasi, seperti dirinya yang juga harus move on dari cintanya pada gadis yang kini telah resmi jadi milik boss mereka. Dia ikut bahagia melihat Reza sudah bisa membuka hatinya untuk mengenal gadis lain.
" Good luck bro.." seru Davin sambil mengacungkan jempolnya ke arah Reza.
" Thanks broo.." Reza tertawa lepas.
Siska tampak terbemgong melihat tingkah dua lelaki yang duduk semeja dengannya itu.
" Kamu sudah kenal Siska kan Vin?" tanya Reza
" Putrinya bapak dirut Wehaka kan? " jawab Davin.
" Siska" Siska mengulurkan tangannya.
" Davin" Davin menyambut dan menggenggam tangan Siska yang terulur.
" Sudah jangan lama-lama nanti gosong.." Reza melepaskan genggaman tangan Davin dan Siska.
"Cih...belum apa-apa sudah posessif" gerutu Davin. Siska tertawa saja mendengar gumaman Davin.
" Sana cari yang lain. Yang ini sudah gue tandai" Reza menyikut Davin.
__ADS_1
Keduanya kemudian saling melengos tapi tak lama kemudian tergelak bersama-sama. Siska pun ikut tertawa melihat kelakuan lucu dua sahabat itu.
Tibalah saat para tamu yang hadir dipersilakan memberi selamat kepada mempelai.
Satu -per satu tamu berbaris dan bergiliran menyalami mempelai dan keluarga. Hingga tiba giliran Davin dan Reza serta staf kantor yang ikut hadir.
" Cantik..selamat ya. Mudah-mudahan langgeng dan segera dikaruniai anak-anak yang lucu." Davin memberi selamat pada Sasi sambil menggenggam erat tangan Sasi.
Tommy menatap tajam pada Davin saat mendengar Davin masih memanggil Sasi dengan panggilan kesayangannya.Tapi Davin seakan tak peduli. Ini terakhir kali ia bisa menyentuh dan menatap Sasi, mengucapkan selamat untuk pernikahan Sasi sekaligus selamat tinggal pada perasaan cintanya untuk gadis itu.
Berbahagialah cantikku. Boss layak untukmu. Aku melihat cinta yang begitu dalam untukmu dimatanya. Mata Davin berkaca-kaca.
" Makasih Vin. Kamu juga segera nyusul kawin ya. Keburu tua.." Sasi menjawab ucapan Davin sambil bercanda. Davin tertawa.
" Cariin..." rengeknya. Membuat Sasi tertawa geli
" Sudah...Vin lama amat sih? Tuh banyak yang ngantri" Reza mendorong Davin ke depan Tommy karena Davin masih saja mengobrol dengan Sasi.
Davin mendengus namun menurut juga dan sekarang menyalami Tommy yang menampakkan wajah jutek padanya. Davin terlihat santai, namun wajahnya yamg semula tersenyum berubah meringis kecut ketika Tommy meremas tangannya.
" Eww...aduh...selamat Boss. Semoga bahagia" Davin kemudian buru-buru berlalu dari depan bossnya itu. Dasar posessif, gerutu Davin. Lama sedikit salaman dengan boss, bisa patah jari-jari tangannya.
Reza yang tadi menegur Davin ternyata juga tak berbeda, malah mengobrol lama dengan Sasi.
" Selamat ya Sas. Semoga awet sampai kaki nini (kakek nenek). Diberi momongan yang banyak dan lucu-lucu. Nanti kalau anak kamu cewek, simpen buat aku. Aku akan tunggu sampai dia dewasa." Reza berbisik-bisik di dekat Sasi.
Sasi tergelak-gelak mendengar ocehan Reza. "Ogah banget, anakku kawin sama kakek-kakek dong.." Sasi masih tergelak.
" Eh..jangan gitu, noh Palupi, cantik muda dapetnya kakek-kakek juga kan? Reza melirik ke arah Palupi.
" Udah ah ngaco kamu. Makanya cepetan dilamar tuh Siska, biar gak gila terus kamu" Sasi mendorong tubuh Reza ke depan Tommy.
Jeng...jeng....Reza langsung blingsatan. Bos dengar obrolan gue sama Si cantik gak ya? batin Reza ketar-ketir.
" Hilangkan semua pikiran kotor mu dari otak kamu tentang calon anak saya. Atau kamu berakhir jadi OB .! " geram Tommy.
" Bercandamu gak lucu tau!" lanjut Tommy.
Reza segera menyalami Tommy yang dibalas genggaman keras tangan Tommy, seperti pada Davin tadi. Hampir patah ....Uuhh...bos arogan. Anaknya juga belum tentu jadi, sudah main hantam patahin tangan orang saja. Reza segera ngeloyor pergi dari depan bos galaknya itu.
Satu persatu tamu sudah memberikan selamat pada Sasi. Acara dilanjutkan makan bersama mempelai dan para tamu. Di semua meja yang terdapat di tempat resepsi sudah terhidang berbagai makanan lezat yang mengundang selera.
Pengantin dan keluarga segera bergabung dengan para tamu undangan. Ketika asyik berkeliling ke meja undangan, Sasi, Tommy dan semua tamu dikejutkan dengan kehadiran sesosok lelaki tampan yang tampak sendirian melenggang memasuki tempat resepsi.
Barata berdiri menyambut sang tamu yang ternyata adalah koleganya. Ayah Tommy itu segera membawa tamunya untuk menemui Tommy dan Sasi.
" Wahh...akhirnya boss muda kita datang juga. Ayo sudah ditunggu !" Barata berpelukan dengan sang tamu lalu membawanya ke meja Tommy dan Sasi.
Sampai di meja Pengantin, sang tamu segera menyalami Tommy dan Sasi yang sudah berdiri menyambutnya.
Tomy dan Sasi membeku di tempatnya berdiri ketika dari dekat mereka bisa dengan jelas melihat wajah kolega Barata itu. Wajah keduanya memucat dan tanpa sadar menyebutkan sebuah nama bersamaan
" Rangga!?"
Sasi hampir saja terjatuh karena terkejut. Dengan cepat Tommy meraih tubuh istrinya. Tommy sendiri tak kalah shock melihat orang yang berdiri di depannya.
" Wah kalian sudah mengenal beliau ini rupanya?" tanya Barata. Tak urung dia heran juga karena wajah putra dan menantunya itu pucat seperti melihat hantu saat melihat Rangga.
" Iya saya Rangga. Saya kolega pak Barata. Sudah lama ya pak? Hampir lima tahun ini. " Orang yang bernama dan berwajah sama dengan Rangga itu dengan santai mengulurkan tangan ke arah Tommy.
Tommy mengangkat tangannya pelahan seakan belum yakin dangan apa yang dilihatnya dihadapannya saat ini.
" Selamat atas pernikahan kalian. Semoga langgeng dan bahagia selalu" kata Rangga dengan wajah ceria.
" Terr..terima kasih!" Tommy terbata-bata menjawabnya.
__ADS_1
Selanjutnya Rangga menyalami Sasi. " Selamat ya? Semoga bahagia. Apa kita pernah bertemu?" Tanya Rangga pada Sasi. Lelaki yang seumuran dengan Tommy itu tampak menatap wajah Sasi beberapa saat.
" Terima kasih. Saya rasa saya tidak pernah bertemu anda" Sasi menjawab sopan. Namun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas kehadiran laki-laki yang wajahnya sempat menghantui mimpi-mimpinya beberapa saat yang lalu.
Tangan Sasi terasa dingin saat bersentuhan dengan lelaki itu. Sasi merapatkan dirinya ke arah suaminya yang juga masih nanar menatap Rangga. Tommy merengkuh Sasi ke dalam pelukannya ketika merasakan istrinya itu merapat dan seakan mencari pegangan. Tommy bisa merasakan ketakutan Sasi.
Siapa lelaki itu? Mustahil dia orang yang sama, karena Rangga yang Tommy tahu adalah mahkluk tak kasat mata, lelembut dari alam lain. Dan telah lenyap, jiwanya menghilang saat bertarung dan kalah melawannya saat itu.
Sementara bagi Sasi Rangga hanyalah makhluk khayalan yang selalu muncul dalam mimpinya berulang-ulang. Sosok yang tak pernah ditemuinya di alam nyata. Dan sekarang? Dia muncul begitu saja di depannya seolah hantu yang menjelma di siang bolong.
Untunglah Barata segera mengajak Rangga bergabung dengan para koleganya di meja lain.
" Sayang, kamu baik-baik saja?" bisik Tommy. Tangannya meraih pinggang Sasi dan memeluknya erat. Mengambil segelas air dan memberikannya pada Sasi.
Sasi segerra meneguk air yang diberikan Tommy untuk menetralisir jantungnya yang seakan berhenti berdetak barusan.
" Apa ini mimpi lagi mas?" Sasi menatap lekat suaminya.
Tommy mencubit lengan istrinya .
" Aww! Kok nyubit sih mas? Sakit tau!" Sasi cemberut.
Tommy terkekeh. " Berarti bukan mimpi. Buktinya masih sakit dicubit."
Sasi masih cemberut tapi kemudian membalas mencubit Tommy. " Nih rasain, biar sadar kalau dicubit itu sakit"
Keduanya tertawa-tawa.
" Mas, apa mas kenal orang itu? Dia itu yang selalu muncul di mimpiku mas, maksudku wajahnya sama persis. Tapi lain sih. Di mimpi dia itu kelihatan agak seram. Dingin dan agak aneh. Tapi kalau Rangga yang ini kaya orang biasa . Ya wajar gitu sikapnya" Sasi masih saja penasaran dengan Rangga. Matanya masih menatap Rangga di kejauhan.
"Mas tahu kamu mimpiin Rangga , tapi mas gak kenal orang ini." Apakah kebetulan saja orang ini bernama Rangga? Atau ada misteri yang tersembunyi? Tommy bergumam dalam hati. Otak Tommy mulai berpikir keras. Dia pun masih menatap ke arah Rangga berada.
Tapi papa kenal dia sudah lima tahun? Jadi orang ini benar-benar manusia biasa . Pengusaha kolega papa yang kebetulan wajah dan namanya sama dengan makhluk gaib pengganggu Sasi itu. Baiklah, buang pikiran aneh-aneh. Tidak mungkin orang ini ada hubungannya dengan Turangga Seta itu. Mungkin dan mudah-mudahan ini hanya sekedar kebetulan semata.
"Jangan-jangan kamu memang pernah ketemu dia sayang. Kok bisa mimpiin orang dengan wajah sama?" Tommy menatap Sasi.
" Enggak mas. Aku yakin gak pernah ketemu dia selain dalam mimpi" jawab Saasi yakin.
" Aku jadi cemburu loh, masa istriku mimpiin cowok lain? Mana dia ganteng lagi?" Tommy pura-pura menggoda Sasi padahal dia tahu benar Sasi didatangi makhluk gaib berwajah tampan itu. Bukan sekedar mimpi.
Sasi tersenyum. " Suamiku jauh lebih tampan" bisik Sasi. Tanpa sadar tangannya mengusap lembut rahang tegas suaminya .
Tommy meraih jemari Sasi yang membelai wajahnya lalu menciumnya mesra.
" Sabar boss tunggu pesta selesai...jangan bikin live streaming adegan dewasa...!" Baskara tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka.
Sasi tersipu malu. Sementara Tommy cuek. Malah mencium pipi Sasi dari samping.
" Mas?" Sasi merona sambil mendorong bibir Tommy yang mulai mencari sasaran selanjutnya.
Baskara mendecak kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entahlah, kakaknya yang dulu terkenal dingin dan kaku itu mendadak berubah jadi pria mesum sejak mengenal Sasi, apalagi kini mereka sudah menikah.
Pesta terus berlanjut. Sasi dan Tommy tampak sangat berbahagia malam itu. Tak ada yang tahu sepasang mata tampak selalu lekat mengawasi dua sejoli pengantin baru itu. Lebih-lebih kepada Sasi. Mata itu seakan menusuk dalam dan ingin menerkam Sasi. Siapa dia?
*******
Readers tersayang, maafin ya atas ketidak teraturan up date nya. Author masih trauma ditolak, jadi gak semangat up..padahal ceritanya masih panjang...
So, thanks banget yang masih setia membaca dan beri dukungan pada karyaku. Itu memberi author semangat untuk kembali melanjutkan kisah Sasi dan Tommy.
Makasih buat like,komen, vote,hadiah dan poin maupun koin yang sudah kalian kirim buat author.
Untuk yang pengen baca bab yang hilang tapi belum nemu akun FB author, ini author share link FB author Diana Novita
Https://www.facebook.com/profile.php?id\=100071731390087
__ADS_1
Happy reading...