Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Ketika Sukma Terlepas dari Raga


__ADS_3

Tommy merasakan genggaman tangan Sasi mengerat ketika dari jarak beberapa meter tampak Baskara dan dua bocah kecil sedang bermain bersama di rumput taman.


Langkah Sasi tiba-tiba terhenti membuat Tommy menoleh ke arah kekasihnya itu.


" Kenapa sayang? Tommy melihat wajah Sasi memucat. Matanya melotot seperti melihat hantu. Keningnya berkerut seakan memikirkan sesuatu yang berat dan tak dimengerti.


Sasi tak menjawab pertanyaan Tommy karena sesaat kemudian pegangan Sasi ditangannya serasa lepas. Tubuh gadis itu kemudian menggelosor ke bawah seakan kehilangan tulang penyangganya.


" Sasiii..." teriak Tommy lalu refleks menyangga tubuh gadis itu yang tanpa daya.


" Baaaas...tolongin...! Tommy berteriak lagi sambil membopong tubuh Sasi.


Teriakan Tommy membuat semua yag ada disana sontak berlarian mendekat.


" Kenapa mas? Sasi kenapa? " Baskara membantu Tommy membopong tubuh Sasi dan kemudian membaringkannya di sofa panjang yang ada di teras samping.


Tommy berlutut disamping sofa sambil mengguncang pelan tubuh Sasi. Mengusap pipi gadis itu sambil berteriak tertahan.


" Sasi..., bangun sayang..kamu kenapa?"Jantung Tommy berdegup kencang mendapati tubuh Sasi berangsur dingin dan memucat. Ketika tangannya didekatkan ke hidung gadis itu, tak ada nafas disana. Wajah Tommy tegang dan pias.


" Bas...bawa mobil. Kita ke rumah sakit. Cepeet!" Tommy berteriak seperti kesetanan sambil melempar kunci mobil ke Baskara, lalu berlari ke mobil mengikuti Baskara yang lebih dulu melesat sambil membopong tubuh Sasi.


Barata dan Palupi tercekat di tempat mereka berdiri. Mereka membeku seperti batu.


" Mbak Sasi....?" seru suami istri itu bersamaan begitu melihat siapa yang dibaringkan Tommy dan Baskara di sofa.


Begitu shock dan terguncang, hingga mereka hanya mematung dan tak berbuat apapun melihat Tommy dan Baskara kalang kabut membawa Sasi yang pingsan ke rumah sakit.


Mereka baru sadar dari rasa shock mereka ketika Lily dan Rose mulai merengek dan menangis merasa tak ada yang menghiraukan.


" Ahh..ah...maaf sayang...sini-sini mama gendong..." Palupi merentangkan tangannya. Disambut sukacita dua gadis kecilnya yang langsung diam dari tangisnya.


Barata dan Palupi lalu duduk di sofa yang tadi digunakan membaringkan Sasi. Lily duduk di pangkuan Barata sementara Rose duduk dengan Palupi.


" Bagaimana bisa?" Gumam Barata bicara sendiri.


" Kenapa harus mbak Sasi? Keluh Palupi juga bicara sendirian.


Dua orang itu saling berdiam diri dan sibuk dengan pikiran masing-masing meski mereka duduk berdampingan.


Barata kemudian mendudukkan Lily di sofa dan mencium kening serta pipi kedua putrinya.


" Mas ke rumah sakit dulu dek. Mungkin mereka memerlukan sesuatu di sana. Kamu di rumah saja tunggu mas pulang." Pamit Barata pada istrinya.


Palupi cuma mengangguk. Suaranya seakan hilang. Dipandanginya punggung suaminya hingga hilang dibalik tembok rumah. Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya dan rasa tak percaya pada kenyataan yang sedang terjadi di depannya saat ini.


Calon istri yang akan dikenalkan Tommy pada Barata ternyata adalah mbak Sasi, kakaknya sendiri. Kenyataan macam apa ini.? Kenapa dunia begitu sempit?


Sebenarnya ibu sudah cerita beberapa saat lalu saat bertemu dengannya. Kata ibu Mbak Sasi sudah punya pacar dan berencana melamarnya sekaligus menikahinya dalam waktu dekat. Tapi siapa yang menyangka kalau pacar mbak Sasi adalah anak tirinya?

__ADS_1


Palupi saat itu hanya merasa senang sekali karena akhirnya kakak kesayangannya itu mau membuka hatinya untuk pria tanpa bertanya lebih jauh tentang siapa kekasih kakaknya.


Jika mbak Sasi menikah setidaknya akan menghapus rasa bersalahnya karena telah melangkahi kakaknya itu ( menikah lebih dahulu ) .


Meskipun Sasi tidak mempermasalahkan hal itu, tetap saja dalam hati kecil Palupi merasa bersalah. Apalagi sampai dia punya dua putri dan adik bungsu mereka Retno melahirkan sepasang bayi lelaki kembar, Sasi tak kunjung menemukan jodohnya. Makin besarlah rasa bersalahnya.


Jangan-jangan Mbak Sasi susah jodoh gara-gara dilangkahi dua adiknya. Begitu pikir Palupi.


Pernah suatu saat Palupi memaksa Sasi untuk meminta pelangkah padanya. Pelangkah adalah syarat yang diajukan pihak yang dilangkahi dengan tujuan agar yang didahului menikah tidak kecewa sekaligus sebagai penolak bala agar yang dilangkahi tidak susah jodoh. ( mitos jawa)


Namun Sasi malah menolak mentah-mentah. Palupi tahu kakaknya itu sangat anti mitos-mitos seperti itu. Akhirnya atas inisiatifnya sendiri Palupi membelikan kebaya, kain, sepatu dn satu set perhiasan bertahtakan berlian untuk Sasi.


" Apa-apaan ini Pi...? tanya mbak Sasi kala itu.


" Sudah mbak ga usah protes. Terima saja. Ini belinya pake uang halal. Aku niatkan sebagai pelangkah agar mbak Sasi gak susah jodoh meskipun adikmu ini nikah duluan dari mbak."


Sasi tertawa tergelak. " Owalah nduk...sudah dibilang nggak usah aneh-aneh, kok ngeyel. Jodoh itu sudah ada yang ngatur. Nggak ada hubungannya sama adiknya kawin duluan atau nggak."


" Wes ta (sudahlah) mbak. Tinggal bilang iya aku terima saja ,kok mbulet ae ( banyak pertimbangan, bertele-tele) . Iki( ini) berlian asli lo mbak. Ada sertifikatnya. Mas Barata itu yang beliin. " Palupi kesal karena Sasi masih saja beralasan untuk menolak.


" Ya wes, iyaaa..aku terima . Tapi sebagai hadiah saja darimu dan suamimu. Bukan sebagai apa tadi langkah-langkahan. Nggak ada itu. Makasih ya Piii..langsung kaya nih...boleh dijual Pi? hahhaha..." Sasi menimang-nimang kalung berlian dari Palupi.


Palupi cuma tersenyum melihat tingkah kakaknya yang saat itu tampak seperti anak kecil dikasih permen. "Mbak...mbak..kelakuanmu....mau kok dol ( kamu jual) atau mau kok (kamu)buang itu hakmu. Sudah jadi milikmu"


Palupi tergeragap dari lamunannya ketika mendengar Rose dan Lily tertawa. Dua anaknya itu sedang makan black forest dari Sasi. Wajah kedua gadis cilik itu sudah berlepotan coklat dan cream . Wanita muda itu tergopoh memgambil tisu dan membersihkan wajah dua bocah cantik itu. Setelahnya tana sadar Palupi kembali melamun.


Di rumah Sakit...


Tommy bergegas membopong tubuh Sasi ke IGD rumah sakit terdekat.


Dokter jaga segera menangani Sasi yang tubuhnya mulai dingin. Selang oksigen segera dipasang. " Bapak Tolong tunggu di luar, kami akan berusaha menyelamatkan pasien." Perawat mencegah Tommy dan Baskara masuk ruang IGD.


" Negative dok! " seru seorang perawat setelah memeriksa denyut nadi dan detak jantung sasi.


" Siapkan pacu jantung!" seru dokter. Para perawat segera melaksanakan perintahnya.


Di luar ruangan Tommy tampak mondar-mandir di depan pintu IGD. Baskara duduk terpekur di kursi tunggu.


" Duduk mas...pusing aku lihatnya" Baskara menggerutu karena Tommy terus saja mendesah dan bergerak kesana kemari tak mau diam.


" Sasi pasti baik-baik saja mas.Doa saja" lanjut Baskara.


" Kamu enak ngomong gitu. Badan Sasi tadi dingin banget Bas, trus aku rasain nafasnya ngga ada." Tommy bergetar mengatakannya.


Baskara menatap kakaknya nanar.


" Kok bisa sih mas? Tiba-tiba Sasi pingsan gitu?"


" Mana kutahu? Tadi baik-baik saja. Kami sempat sarapan bareng malahan.. Pas ngelihat kamu sama dua anak kecil tadi dia langsung pingsan" Tommy akhirnya duduk meskipun matanya masih nyalang menatap pintu ruang IGD yang tertutup rapat.

__ADS_1


Baskara tampak berpikir keras. Kira-kira apa penyebab Sasi pingsan.


" Bagaimana mbak Sasi?" Suara Barata yang baru datang mengejutkan Tommy dan Baskara.


" Mbak Sasi?" Tommy dan Baskara berseru bersamaan. Penuh tanda tanya.


" Papa? Papa kenal Sasi?" Baskara menatap papanya lekat. Tommy pun menatap tajam Barata.


" Sasi itu kakaknya Palupi.." lemah suara Barata hampir tak terdengar. Tapi terasa bagai petir bagi Tommy dan Baskara.


" Pantesan Sasi pingsan..." keluh Baskara.


Sementara tubuh Tommy lunglai bersandar di kursi. Hatinya bagai tertusuk ribuan sembilu. Apa lagi ini? Hatinya belum sepenuhnya menerima pernikahan Papa dan Palupi. Sekarang malah ditambah parah lagi dengan kenyataan bahwa Sasi ternyata kakak dari ibu tirinya itu. Apa yang harus dilakukannya ?


" Maaf Tom...papa juga nggak tahu." lirih penyesalan Barata. Tommy sudah tidak tahu lagi bagaimana perasaannya saat ini.


Tiba-tiba pintu IGD terbuka. Dokter keluar dengan wajah datar namun keningnya sedikit berkerut.


" Maaf, pasien sudah tidak bernafas saat sampai disini. Kami tidak bisa menyelamatkannya.."


Duarrr!


Untuk kedua kalinya petir seakan menghentak tubuh Tommy. Kata-kata dokter selanjutnya sudah tak didengarnya lagi. Tubuh tinggi tegap itupun ambruk. Tommy jatuh terkulai ke bahu Baskara yang duduk disebelahnya.


" Dokter...dokter...tolong kakak saya! " teriak Baskara panik.


" Tenang dik, mas ini cuma pingsan. Mari kita bawa ke IGD." Barata dan Baskara mengangkat tubuh Tommy dan membaringkannya di brankar tepat di sebelah brankar Sasi .


Air mata Baskara mengalir tak tertahan melihat garis lurus di alat deteksi detak jantung yang masih terhubung ke tubuh Sasi. Dia tak bisa membayangkan bagaimana Tommy melihat Sasi saat sadar nanti. Semuanya terjadi begitu cepat hingga tak bisa dipahami otaknya.


Kenapa jadi seperti ini? Seperti mimpi. Mudah-mudahan hanya mimpi. Isak Baskara tertahan, bergantian menatap Sasi dan Tommy yang sama -sama terbaring tak berdaya. Berharap segera bangun dari mimpi buruk ini.


Dua orang perawat mulai melepaskan selang oksigen dan kabel alat deteksi detak jantung yang masih menempel di tubuh Sasi. Mengambil selembar kain putih dan menutup seluruh tubuh Sasi.


" Sasiiiiii.." Baskara menangis tak tertahan. "Mas..., sasi mas...gimana ini? Bangun Mas...Sasiii" Baskara meracau , menangis menghiba sambil mengguncang tubuh Tommy yang pingsan.


" Suster, jangan ditutup dulu...tolong usahakan lagi...tolong dokter..." Baskara menangis tersedu-sedu .


Dokter dan perawat cuma menggeleng pelan.


" Maaf. Kami sudah menjalankan prosedur pertolongan pertama.. Tapi sayang sudah terlambat. Pasien sudah meninggal sebelum sampai di rumah sakit" .


Kata-kata dokter membuat Baskara makin keras menangis. Dia sudah tak peduli rasa malu lagi. Hatinya sakit membayangkan betapa sedihnya Tommy saat sadar nanti. Mas..kenapa begini?


*********


Jangan marah...? Jangan ikutan pingsan.


Mungkin ada yang bilang, Nggak mungkin orang meninggal mendadak padahal gak punya riwayat sakit jantung. Tapi ternyata kasus seperti itu banyak terjadi. Gagal nafas dan gagal jantung bisa dialami siapa saja bila terkejut berlebihan, stress berlebihan apalagi jika kondisi badan sedang tidak fit seperti Sasi. Coba browsing atau tanya mbah booble agar lebih jelas. Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2