Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Tiga Pria


__ADS_3

Tepat jam satu siang Tommy dan Reza keluar dari resto dengan wajah cerah. Meeting berjalan lancar dengan hasil positif.


" Thanks Za, you are the best!" Tomy menepuk pundak Reza. Sang empunya pundak tersenyum bangga.


" Terima kasih boss!" pekiknya riang.


" Ready for next job?"


" Maksud boss?" Reza mengernyitkan dahinya.


" Kira-kira di devisi kamu siapa yang kompeten gantiin kamu?"


" Wahh, saya dipecat boss?" Reza memucat. Baru saja diterbangkan ke awan dengan pujian, sekarang dihempaskan ke jurang dengan berita mutasi. What do you want boss?


" Saya suka kerja di marketing boss" Suara Reza tercekat.


" Kamu nanti tetap ngurusin marketing juga. Tapi job deskmu tambah luas. Kamu mau saya plot ke posisi sekretaris."


" Owh...yakin boss? Lalu Sasi?"


" Sasi tetap asisten pribadi saya. Kamu Sekretaris umum sekaligus wakil saya.. Kasihan dia kalau terus merangkap jabatan. Sekarang skala kantor kita sudah makin luas dan berkembang terus. Jelas pekerjaan juga semakin banyak. Sudah harus mulai di bantu dia. Kamu siap bekerjasama dengan Sasi dan saya?" Tommy menatap Reza intens.


Reza tercengang. Jantungnya seakan berhenti berdetak saking kagetnya. Mimpi apa semalam, hingga boss mendaulatnya sebagai wakil direktur dan sekretaris umum perusahaan?


" Tentu saja saya siap boss. I'll do my best!" seru Reza mantap.


" I like your style..hahaha." Tommy kembali menepuk-nepuk pundak Reza.


" So..siapa yang kamu rekomendasikan gantiin posisi kamu? Kamu pasti lebih ngerti anak buah kamu yang kompeten selama ini."


" Saya rekomendasikan Risma boss. Meski cewek, dia bagus dan kapabel. Dia banyak bantu saya selama ini."


" Good, saya setuju. Risma cukup bagus , tinggal kasih kepercayaan, pasti bisa berkembang."


" Terima kasih boss. Tapi maaf, apa ini masih berhubungan dengan rencana Sasi menikah?"


Tommy tersenyum " Bisa dibilang begitu.."


" Maaf lancang, tapi boss tahu calonnya Sasi? Reza takut-takut bertanya. Daripada mati penasaran pikirnya.


" Tahu dong..." Lagi -lagi Tommy menjawab sambil tersenyum smirk.


" Kalau boleh tahu, siapa boss?"


Tommy hampir keceplosan bilang 'aku' kalau saja tak ingat Sasi yang minta waktu untuk merahasiakan dulu hubungan mereka.


" Sasi melarang saya kasih tahu orang lain dulu sebelum resmi, coba kamu tanya dia sendiri nanti." Tommy bermisteri lagi.


" Siap boss, nanti saya tanyakan sendiri sekalian besuk dia."

__ADS_1


" Saya ikut!" Tommy menyela.


Reza menoleh ke arah bossnya.


" Boss mau ikut saya besuk?"


" iya. Gak boleh?"


" Bbb..boleh aja . Tentu saja boleh pak..." Reza menggosok tengkuknya.


Aneh banget si boss ini. Ngapain coba ikut besuk segala, kan jadi gak bebas ketemu Sasi. Ini kan kesempatan buat bicara hati ke hati dengan gadis incarannya itu? Reza masih belum percaya bahwa Sasi akan menikah seperti yang dikatakan Tommy, sebelum mendengarnya sendiri dari mulut Sasi. Reza menggerutu dalam hati, tapi tak kuasa menolak bossnya.


Dia baru saja mendapat promosi jabatan . Bukankah harus baik-baikin boss?


Reza akhirnya malah mengajak Davin sekalian ke rumah Sasi.


" Vin si cantik sakit, kamu tahu?" Reza memancing Davin. Kalau Davin tahu berarti ada kemungkinan Davin lah calon Sasi. Masa iya calon suami gak tau calon istrinya sakit?


" Hah Sasi sakit? Sakit apa, nggak tahu aku!" Jawaban Davin mematahkan asumsi Reza. Jadi Davin juga bukan calon Sasi.


" Pulang kerja lihat Sasi yuk, ada berita juga yang mau aku kasih tau ke kamu."


" Oke. Pake mobil kamu aja, aku tadi nggak bawa mobil. Lagi service di bengkel" Davin langsung mengiyakan ajakan Reza.


"Siip. Nanti ketemu di bawah" balas Reza.


Sampai di rumah Sasi Rumi sudah membuka pintu pagar halaman, sehingga mereka bisa langsung memasukkan mobil ke halaman.


" Monggo...silakan duduk dulu. Saya panggilkan mbak Sasi."


" Oh nggak usah mbak, biar kami saja yang ke kamar Sasi. Dia lagi sakit, kasihan. " Reza menyela Rumi.


" Mbak Sasi tadi bilang ,mbak Sasi yang akan menemui mas-mas disini. Mbaknya sudah sembuh kok . Begitu katanya mas.." Rumi tersenyum.


Sasi memang sudah tahu kalau mereka akan datang. Tommy dan Reza sudah menelponnya tadi.


" Ooohh...begitu..." Kompak Tommy, Reza dan Davin menjawab. Membuat Rumi tertawa geli.


Ini orang pada ganteng begini dulu emak nya ngidam apa sih? Rumi jadi bengong dan lupa sama Kusno pacarnya. Malah asik melirik-lirik genit kepada tiga lelaki tampan yang kini duduk di kursi kayu di tengah pendopo. Sebelum berlalu ke dalam rumah untuk memanggil nona mudanya.


Yang dilirik sedang bergumul dengan pikiran masing-masing.


Reza masih berkutat dengan asumsinya tentang orang yang jadi calon suami Sasi. Mungkinkah?? Reza menatap Tommy dari samping.


Davin masih terheran-heran dengan kedatangan Tommy sang big boss bersama mereka. Bahkan Reza yang dia tanya tadi juga tidak tahu alasan boss membesuk Sasi. Mengingat betapa cueknya boss selama ini pada cewek termasuk Sasi. Apalagi kata Reza Sasi cuma masuk angin. Apa iya sampai boss pun perlu datang membesuk?


Sementara Tommy juga terpekur. Entah apa yang dipikirkannya.


" Wahh...kok bisa barengan gini? " Suara Sasi mengagetkan ketiganya. Sasi mengenakan sandal bulu, sehingga langkahnya sama sekali tak terdengar ketiga lelaki itu. Apalagi ketiganya juga sedang sama-sama melamun.

__ADS_1


Ketiganya sontak berdiri.


Sasi tersenyum lalu duduk di kursi panjang yang masih kosong.


Tommy , Reza dan Davin seakan beradu balap untuk duduk di sebelah sasi. Tapi Reza dan Davin spontan mundur ketika tahu Tommy juga maju hendak duduk di dekat Sasi.


Tommy tersenyum menang dan duduk di sebelah gadis itu. I am a boss . Hahaha... Batinnya congkak...


Sementara Reza dan Davin kembali ke kursi mereka masing-masing dengan muka kesal.


Sasi menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Tommy dan dua rekannya itu. Apa sih kalian ini?


" Sudah enakan badannya say...em...Sasi?" Tommy hampir saja kepeleset lidah memanggil Sasi. Membuat gadis itu melotot. Tommy malah tersenyum-senyum.


" Sudah sehat kok. Cuma masuk angin ini. Bukan sakit parah. Kalian ngapain juga repot-repot ke sini. Siapa yang ngasih tahu ?" Mode cerewet Sasi mulai on. Jadi dia memang benar-benar sudah sembuh.


" Boss" seru Reza


" Reza" jawab Davin


Tadi boss ngajak aku meeting gantiin kamu. Makanya aku tahu kamu sakit, dikasih tau Boss. Davin aku yang ngajak dia ke sini."


" Syukurlah kalau kamu sudah sehat" Davin menatap Sasi sambil tersenyum. " Kantor sepi kalau nggak ada kamu" lanjutnya setengah menggoda.


Sasi tertawa " Sa ae kamu Vin..."


Wajah Tommy mengeras mendengar Davin bicara. Apalagi Sasi juga tertawa. Jago sepik juga manajer personalia satu ini. Batin Tommy kesal.


" Vin mulai sekarang jaga mulutmu. Jangan asal ngerayu-rayu Sasi lagi. Dia sudah mau kawin tahu. Bisa digampar calon suaminya kamu.." Reza segera menyahuti kata-kata Davin.


" Yang bener kamu. Iya Sas?" Wajah Davin langsung memucat. Terkejut dan tak percaya mendengar kata-kata Reza. Ditatapnya wajah Sasi penuh tanya.


Sasi pun ikut terkejut. Apa-apaan? Ditatapnya wajah kedua temannya. Lalu menatap Tommy yang malah pura-pura melihat ke arah lain.


" Kamu dapt berita dari mana Za. Sok tahu baget." Sasi memelototi Reza.


" Boss yang bilang. Katanya boss, kamu sudah punya pacar. Dan dalam waktu dekat akan segera menikah. Aku percaya lah. Masa iya boss bohong"


Reza menjawab sambil menekuk wajahnya. Kelihatan sekali kecewa dan marah, tak terima kalau berita ini benar.


Davin makin terbengong-bengong namun tak melepaskan tatapan dari Sasi. Wajah penasaran sekaligus khawatir kalau-kalau apa yang dikatakan Reza benar adanya.


Sasi mendesah panjang. Haaahhh!! Sasi menatap Tommy . Tapi Tommy pura-pura tak peduli. Malah santai menyandarkan punggungnya ke kursi. Seakan-akan menyerahkan semua ke tangan Sasi.


" Iyaàa...aku sudah punya pacar.." akhirnya sebuah jawaban keluar dari mulut Sasi. Gadis itu menjawab sambil menatap kedua temannya satu per satu. Lalu menunduk.


Duarrr!!


Bagai petir di sore hari. Reza dan Davin membeku menatap Sasi. Hanya ada kegelapan dan mendung di wajah mereka . Sementara Sasi merasa bersalah tak tahu harus bagaimana.

__ADS_1


__ADS_2