Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Siapa Rangga?


__ADS_3

Tommy menatap Sasi yang tengah terlelap. Wajah istrinya itu tampak damai meskipun sedikit pucat karena lelah. Ck...Tommy mendecak sambil tertawa lirih.


Mereka baru saja menyelesaikan sesi ke sekian kali dari rangkaian panjang petualangan cinta mereka yang panas dan membara.


Tommy benar-benar merasa bahagia dan beruntung bisa mempersunting gadis cantik pujaan hatinya itu. Jika ada penyesalan, itu adalah memgapa baru sekarang dia menikahi Sasi, padahal empat tahun dia hampir tiap hari bersama gadis itu.


Tommy merapikan rambut Sasi yang menjuntai menutupi wajahnya. Sasi...Sasi...gadis yang selalu tampak tenang dan lembut namun selalu membawa keceriaan itu benar-benar membuatnya makin jatuh cinta setelah menikah.


Sasi selalu membuatnya bahagia. Tak pernah sekalipun menolaknya meskipun dia meminta haknya berkali-kali dalam satu malam. Sasi yang lembut ternyata bisa begitu menggairahkan di ranjang. Dia begitu hangat dan memabukkan.


Tommy bahkan sempat terkesima dan kaget ketika mendapati istrinya itu kadang bersikap nakal dan menggodanya. Membuat darah lelakinya selalu bergejolak saat dekat dengan istrinya itu. Tapi tak jarang Sasi juga merayu, bersikap manja dan begitu memujanya. Sasii..Sasii...


Tomy mengecup penuh cinta kening istrinya. Menarik keatas selimut untuk menutupi bahu Sasi yang terbuka. Pria itu kembali terkekeh saat menyadari pundak dan leher istrinya penuh totol-totol merah kebiruan tanda cintanya.


Belum lagi di bagian dada, perut, punggung bahkan di bagian belakang tubuh istrinya itu. Kenapa aku bisa semesum itu..Ya. ampuun...Tommy mengecupi pundak istrinya gemas.


Tomy pelahan turun dari ranjang mereka yang berantakan seperti baru saja tersapu tsunami. Melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mensucikan jiwa dan raganya.


Malam ini Tommy terpaksa meninggalkan Sasi. Dia berniat untuk melihat Rangga lewat mata bathinnya. Dia merasa tak bisa lagi menahan diri pura-pura tenang dan tak khawatir dengan kehadiran Rangga di depan Sasi. Padahal sesungguhnya hatinya resah.


Sebelumnya Tommy sempat berharap Kehadiran orang bernama dan berwajah sama dengan Rangga yang dikenalnya hanya kebetulan belaka. Bukankah ada kemungkinan satu diantara beberapa ribu orang memiliki wajah mirip di dunia ini?


Namun ketika Rangga mulai menunjukkan rasa sukanya pada Sasi tanpa tedeng aling-aling (ditutupi) Tommy mulai berpikir. Apalagi ketika Sasi menerima kiriman buket bunga mawar merah dari orang berinisial R itu. Tommy makin curiga dengan keberadaan Rangga. Siapa Rangga sebenarnya?


Apakah kebetulan bisa datang terus menerus seperti ini? Kebetulan berwajah sama, kebetulan bernama sama dan sekarang kebetulan lagi menyukai Sasi yang jelas-jelas sudah jadi istri orang? Rasanya sudah cukup untuk menganggap itu sekedar kebetulan. Pasti ada benang merah dibalik semua kebetulan itu. Dan perasaan Tommy mengatakan ada sesuatu yang tak terlihat mata yang menyebabkan semua ini.


Berawal dari tekad itu,, Tommy terpaksa membuka kembali selubung mata bathinnya yang beberapa waktu lalu sudah berniat untuk dikuburnya dalam-dalam.


Tommy tak ingin lagi menggunakan ilmu yang berhubungan dengan hal-hal tak kasat mata setelah beberapa saat lalu yakin Rangga sudah pergi ke alam baka dan tak akan mengganggu Sasi lagi.


Tommy hanya ingin jadi orang biasa. Tak mau lagi menggunakan ilmu gaib. Tak ingin lagi berhubungan dengan hal-hal tak kasat mata karena baginya dunia tak kasat mata kadang sangat menakutkan.


Namun baru hari ke tiga pernikahannya, semua jadi sangat meresahkan pikirannya. Kehadiran Rangga mengusik ketenangan dan kebahagiaannya bersama Sasi.


Kakinya melangkah cepat ke arah bukit tempat tadi Tommy dan Sasi melihat Sunset. Tommy tak ingin Sasi berpikir macam-macam jika mengetahui Tommy menggunakan ilmu kebatinannya. Jadi dia sengaja menjauh dari kamar mereka di resort agar Sasi tak melihatnya jika sewaktu-waktu terbangun.


Di sebuah tempat datar diatas bukit, terlindung sebatang pohon besar, Tommy duduk bersila. Kedua tangannya menapak diatas paha, matanya terpejam. Berdoa dan menyerahkan diri pada Sang Pencipta. Memohon ampun atas segala kesalahan dan dan memohon pertolongan atas segala yang terjadi.


Merendahkan diri dan mengosongkan pikiran dari segala hawa *****, kesombongan , iri dengki dan kebencian. Segalanya hanya milikNya dan hanya atas perkenan dariNya semua bisa terjadi.


Beberapa saat kemudian Tommy sudah menemukan dirinya sendiri. Tengah duduk dilingkupi aura hijau yang menyiaukan mata.


Tommy segera memusatkan pikirannya pada seraut wajah yang beberapa saat terakhir selalu mengusiknya..Rangga..!


Nun jauh di sana..terpisah puluhan kilometer dari tempat Tommy , Rangga tampak sedang duduk di sebuah batu di taman.


" Sampai kapan kamu bermain-main terus seperti ini nak?" seorang wanita paruh baya duduk di depan lelaki tampan itu.


" Maksud kanjeng ibu apa?" Rangga tersenyum.


" Kamu cuma main-main dengan satu gadis dan berganti gadis lainnya esok hari. Apa kamu akan menjelajahi setiap gadis di kota ini?" tanya sang wanita yang dipanggil ibu.


" Bukan saya yang memaksa, mereka sendiri yang datang menyodorkan diri. Saya juga tidak memanfaatkan mereka. "


" Tapi orang luar tidak tahu. Reputasimu diluar, kamu itu palyboy, suka gonta-ganti wanita, don yuan. Belum lagi wanita-wanita itu berebut mengatakan kamu pacarnya." sang ibu menggeleng resah.


" Bagaimana lagi, putramu ini punya seribu pesona yang tak bisa ditolak kanjeng ibu. Ini karena wajahku yang tampan menuruni garis wajah kanjeng ibu. Apa salahku?" Rangga merayu ibunya.

__ADS_1


"Lambemu lamis( mulutmu manis), itulah yang membuat perempuan-perempuan itu menggilaimu. Segeralah pilih salah satu yang terbaik dari mereka. Jadikan istri. Sampai kapan kamu akan berpetualang?"


Rangga tertawa samar. Terlihat melamunkan sesuatu. Dan bibirnya menggumam pelan" Sasi..."


" Siapa..siapa namanya? Siapa yang membuat wajahmu memerah seperti ini?" sang ibu tampak penasaran.


" Ada seseorang yang istimewa bu, satu-satunya yang mampu membuatku jadi seperti orang gila. Tapi sayang dia sudah jadi milik orang. Saya terlambat ."


" Cah bagus, amit-amit! Lupakan dia segera. Jangan sampai mencoreng nama kanjeng romomu sebagai orang yang dihormati. Jangan sampai kamu jadi pebinor. Itu akan sangat memalukan. Bagaimanapun kamu calon pengganti kanjeng romomu. " sang ibu berdiri karena gusar.


Rangga tertawa. Menggenggam lembut jemari ibunya. " Ibu, jangan tegang begitu. Saya juga tahu diri bu...tak mungkin saya meneruskan rasa suka saya pada istri orang. Putramu ini masih jadi most wanted man to die for di kota ini. Saya pasti akan menemukan seorang gadis yang lebih dari wanita itu."


" Mulo to ngger( makanya nak) segeralah menikah. Jangan jomblo kelamaan. Jadi aneh kelakuannya kan ? Jatuh cinta sama istri orang. Amit-amit..Sudah malam. Ibu mau istirahat. Kamu juga istirahatlah. Jangan kemalaman , apalagi sambil memikirkan istri orang. " sang ibu mengelus kepala Rangga, lalu mencium kening putranya itu.


" Inggih kanjeng ibu. Sugeng dalu.." (Iya bu, selamat malam)


Rangga menatap ibunya yang berjalan menjauh hingga hilang dibalik tembok megah istana.


Andai saja semudah itu melupakan wanita itu bu. Dan betapa akupun ingin membuang bayangan gadis itu dari pikiranku. Tapi selalu saja ada bagian lain dari diriku yang seakan memunculkan kembali gambaran wanita itu.


Rangga berjalan meninggalkan taman itu sambil meremas rambutnya sendiri.


Jauh di puncak bukit di pinggir pantai, Tommy mengepalkan tangannya . Dia telah bangun dari heningnya membangkitkan kekuatan batin.


Jadi dia ini, si Rangga ini benar-benar menyukai istrinya. Pria gila? Pria waras macam apa yang menginginkan istri orang saat banyak gadis mengejarnya?. Dia bahkan bisa mendapatkan gadis seperti apapun yang dia mau dengan ketampanan dan kekayaan serta status pangeran yang dimilikinya.


Tommy tercenung lama. Pria pengagum Sasi ini rupanya seorang bangsawan juga seperti Turangga Seta. Bahkan Rangga yang ini adalah calon raja pengganti ayahnya.


Meskipun di jaman sekarang kedudukan raja hanya sekedar gelar belaka, namun itu tidak menghilangkan derajat tinggi mereka sebagai kaum bangsawan berdarah biru yang dimuliakan.


Tommy mendesah gusar. Namun ada sedikit kelegaan bahwa Rangga sebenarnya sadar bahwa perbuatannya salah. Tommy berharap cukup sampai disini Rangga berbuat salah. Mudah-mudahan dia tak akan melanjutkan niat untuk merebut Sasi misalnya. Semoga dia masih waras untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri dan keluarganya dengan perbuatannya.


Apalagi Tommy juga tak melihat Rangga sebagai ancaman yang menakutkan seperti Turangga Seta. Rangga yang dilihatnya bahkan tak punya kelebihan kanuragan yang istimewa. Auranya tidak terang seperti mbah Ageng atau Rangga si lelembut itu.


Rangga yang ini auranya tipis hampir tak terlihat. Sama seperti kebanyakan orang. Ini berarti Rangga tak memiliki kekuatan jiwa yang istimewa. Tommy setidaknya tak melihatnya sebagai ancaman yang bisa membahayakan Sasi dan dirinya seperti halnya Turangga Seta.


Baru saja beranjak untuk kembali ke resort, Tommy melihat sesosok bayangan menaiki bukit. Mendekat ke arahnya. Wajah sosok itu tak terlihat karena suasana gelap.


" Mas..! Ngapain di sini?" Tommy terjingkat mendengar suara Sasi menyapanya.


" Ya ampun sayang...kaget mas. Kamu kok bisa sampai disini? Gak takut malam-malam jalan sendiri?"


Tommy tak menjawab pertanyaan sesosok tubuh yang ternyata Sasi itu. Lelaki itu malah meraih tubuh istrinya yang tersembunyi dalam selimut yang dibawanya. Memeluknya erat dan menciumi kepalanya.


" Kalau diculik orang gimana? Kalau ada dhemit ( jin, hantu, setan yang tak kasat mata) naksir terus dibawa ke alam lain gimana?" Tommy melanjutkan merutuki Sasi. Setengah bercanda, setengah berkata khawatir sesungguhnya.


Dulu mungkin ia akan tertawa mendengar ada orang diculik jin. Tapi sejak bisa melihat hal-hal gaib dan mengenal alam lain, Tommy benar-benar khawatir. Apalagi mengetahui kenyataan Sasi mati suri karena jiwanya disandera Rangga. Semua ternyata benar adanya. Bukan sekedar isapan jempol tak bermakna.


Sekarang Sasi yang tertawa terkekeh. Merasa lucu karena suaminya itu terdengar seperti sedang menakut-nakuti anak kecil dengan cerita hantu.


" Hahaha..mas pikir aku bocah takut diculik wewe *?"( hantu yang suka menculik anak-anak dan disembunyikan dalam buah dadanya yang besar seperti bantal* mitos jawa).


Tommy tertawa. " Wewe sih enggak yang, tapi pangeran tampan mungkin iya. Kamu akan ikut dengan senang hati. Lalu aku akan menangis kehilangan kamu.." Tommy mencubit hidung Sasi. Dia membayangkan Rangga si pangeran tampan itu menculik Sasi...hah!!


" Pangeran tampanku ada didepanku. Lelaki tertampan di dunia." bisik Sasi merayu. Membuat wajah Tommy memerah. Dan langsung menghadiahkan kecupan ke bibir istrinya.


Sasi memukul-mukul pelan dada Tommy. " Mas kok ninggalin aku sendirian di kamar? Aku lebih takut ditinggal kamu daripada takut duculik dhemit" Sasi merajuk. Kesal sekali karena Tommy meninggalkannya tanpa pamit.

__ADS_1


" Maaf..maaf sayang. Cintaku...sayangku...cantikku.. Ini terakhir kali. Mas ngga akan ninggalin kamu tanpa pamit lagi. Hmm? Maaf ya?" Tommy makin erat mendekap Sasi.


" Ngapain coba malam-malam keluar terus naik bukit kaya gini?" Sasi masih kesal.


" Mas gerah sayang. Ngga bisa tidur. Ngga tau kenapa. Kalau tetep di kamar takutnya malah pengen lagi...hehehe...kasihan kamu, kelihatan sudah capek gitu. Mas suka gak nahan kalau lihatin kamu. Apalagi pas ga pake baju gitu...hehehe..." Tommy terkekeh. Setengahnya bohong, tapi setengahnya benar bahwa dia paling tak tahan melihat tubuh istrinya itu di kamar. Maunya pengen terus....pengen ini itu terus...


" Mesum!" pekik Sasi karena Tommy menggigit gemas telinganya.


" Hahaha...balik ke kamar yuk!" Tommy merangkul pundak Sasi dan mengajaknya beranjak. Namun Sasi menahan langkahnya.


" Kenapa Sayang?" Tanya Tommy heran.


" Lihat langitnya indah banget mas. Banyak bintang, dan bulan juga bersinar terang. Apalagi suara ombak samar-samar terdengar. Wah, nggak nyangka suasana malam di bukit ini indah sekali. " seru Sasi.


" Kamu ingin disini dulu? " tanya Tommy.


Sasi mengangguk dan langsung duduk di tanah yang ditumbuhi rerumputan. Tommy menyusul duduk dibelakang Sasi. Memeluk erat tubuh istrinya itu dari belakang.


Sasi membuka selimut yang menggulung tubuhnya lalu menyelimuti tubuh Tommy dan tubuhnya sendiri. Sasi lalu menyandarkan tubuhnya ke dada suaminya yang memeluknya dari belakang. Matanya menatap langit yang bertaburan bintang.


" Pantesan mas betah disini. Indah banget.." bisik Sasi.


Tommy menatap wajah Sasi dari samping. " Iya cantik banget.." bisiknya sambil.menempelkan pipi ke pipi Sasi.


Sasi tersenyum , makin merapatkan diri ke tubuh suaminya yang hangat. Tommy menjatuhkan dagunya ke bahu Sasi.


Malam kian larut merambat hampir tiba di ujungnya. Pagi menjelang pelahan. Tommy merasakan nafas Sasi terdengar pelan dan teratur. Istrinya itu tertidur di pelukannya. Bersandar di dada bidangnya bergelung selimut.


Tommy ingin membangunkannya dan mengajaknya kembali ke resort , namun melihat wajah tenang dan damai Sasi yang bersandar di pelukannya , Tommy tak tega mengganggunya.


Dibiarkannya Sasi terlelap meski punggungnya mulai pegal menahan berat badan Sasi yang bertumpu padanya.


Hingga hampir satu jam kemudian Sasi menggeliat.


" Mas..?" Sasi membuka matanya dan mendapati Tommy masih mendekapnya dari belakang dan menahan tubuhnya.


" Kamu bangun sayang?" Tommy mengecup pipi Sasi.


" Aku ketiduran ya mas? Kok gak dibangunin?" tanya Sasi.


" Ngga tega yang...kamu kelihatan nyaman banget dipeluk mas.." Tommy menggoda Sasi sambil tertawa.


Sasi ikut tertawa.." Ck..pasti capek ya nahan aku?"


" Hmm capek dikit seneng banyak. Bisa cium-cium sepuasnya.." Tommy tertawa nakal.


" Hah...mesum terooss..." Sasi tertawa gemas lalu menciumi seluruh wajah suaminya itu. Keduanya tertawa-tawa. Apalagi Tommy, seperti mendapat asupan gizi berlebih. Hilang sudah pegal-pegal badan dan resah gelisah di pikiran. The power of love...


**********


Readera terlove...maafin author ya..


Beberapa hari ini up date terkendala urusan teknis. Mulai dari review bab yang hilang yang ditolak admin , lalu gangguan aplikasi milik author yang eror, berakibat semua data draft yang belum terkirim / terupdate hilang dari aplikasi.


Duh bayangin , nulis 2 bab sampai lebih dari 2000 kata terus hilang begitu saja. Gara-gara reinstal aplikasi.😭😭😭jadi patah semangat ngulang nulis lagi...


Maafin ya..mudah-mudahan masih bersemangat mengikuti perjalanan cinta Sasi dan Tommy...

__ADS_1


Yang masih setia baca, apalagi kasih like, komen, kirim vote, kado, poin dan koin...kalian luar biasaa...author bertahan menulis karena dukungan kalian...love you...


Happy reading...


__ADS_2