Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Camerku iparku (3)


__ADS_3

Barata dan Baskara duduk di sofa mengikuti Tommy dan Sasi. Sementara Palupi yang merasa canggung dengan kehadiran Tommy memilih pergi ke dapur membantu ibu.


Lily masih bergelayutan pada Baskara sambil bercanda tawa dengan kakak tirinya itu. Baskara pun tampak begitu menikmati kebersamaaannya dengan Lily.


Barata memilih duduk di lantai yang beralas permadani lembut, menemani Rose yang bermain-main dengan bonekanya sambil menonton televisi.


Sasi dan Tommy masih duduk di sofa dekat Baskara dan Lily. Tapi karena sungkan melihat Barata yang duduk di bawah, akhirnya Sasi pun ikut duduk di bawah sambil menggoda Lily.


" Wahh..ada Mas Bas, budhe Sasi nggak disapa ya Lily... jadi lupa sama Budhe..?" Sasi mendekat ke arah Lily dan Baskara.


" Nggak lupa budhe...hehehe..." Lily tertawa lalu turun dari pangkuan Baskara dan pindah duduk di pangkuan Sasi di karpet.


Sasi tertawa dan menciumi keponakannya yang tembem itu. Membuat gadis kecil itu terkekeh-kekeh geli.


" Ehmmm...kirain Lily lupa sama budhe.." Sasi memeluk keponakannya lalu membawanya mendekat pada Tommy. Dia ingin mengenalkan Lily pada calon suaminya itu.


Tapi tiba-tiba Sasi terdiam. Lalu menoleh pada Tommy.


" Mas, kamu mau ku kenalin sebagai pak dhe nya Lily kaya aku budhenya, apa sebagai masnya kaya Baskara.?.hihihi.." Sasi cengar-cengir sendiri.


Barata yang mendengar pertanyaan Sasi langsung menoleh melihat Tommy. Kebetulan Tommy juga melihat ke arah Barata.


Barata tersenyum samar, namun Tommy malah mendengus kesal melihat papanya.


" Kenalin sebagai pak dhe nya saja. Nanti aku kan sama kamu terus. Pak dhe sama Bu dhe. Kalau panggil aku mas dia malah bingung. Masnya kok tinggal sama budhenya? Beda sama Baskara kan memang sering sama papa." ujar Tommy datar.


" Iya mbak Sasi betul itu, biar Lily nggak bingung. Nanti kalau sudah besar dan ngerti, pasti mereka akan kita kasih tahu bahwaTommy itu juga mas mereka." tiba-tiba Barata ikut menyahut.


Sasi tersenyum . " Iya pak. Saya setuju" Sasi menjawab Barata.


Tommy menatap Sasi sesaat lalu menatap Lily di pangkuan Sasi. Tiba-tiba Tommy turun dari sofa dan ikut duduk di karpet di sebelah Sasi.


" Ehh..!" Sasi terkejut melihat Tommy sudah duduk disampingnya. Tangannya merengkuh bahu Sasi. Sementara kepalanya disandarkan di pundak gadis itu.


" Mas...ada Baskara sama papamu. Malu ih" Sasi berbisik.


" Biarin.! Sahut Tommy sambil tangan satunya memegang tangan Lily yang ada di pangkuan Sasi.


" Lily, kenalin ini pak Dhe Tommy. Emm..calon suami budhe Sasi" Sasi menjelaskan pada Lily yang terlihat bingung saat Tommy menggenggam lembut tangan kecilnya.


" Pak Dhe Tommy?" tanya Lily sambil melihat Tommy. Yang dilihat mengangguk sambil tersenyum pada Lily. Gadis kecil itu ikut tersenyum.

__ADS_1


" Saudara Lily juga?" tanya gadis kecil itu polos.


" Iya sayang." jawab Sasi , dia membiarkan Tommy memangku Lily. Meskipun tak banyak bicara dan mudah akrab seperti Baskara , Sasi tahu Tommy juga berusaha dekat dengan adik kecilnya itu.


Pria itu tampak canggung dan seperti tak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi tak lama kemudian kecanggungan itu sudah berganti celotehan riang Lily yang berbalas dengan tawa dan candaan Tommy. Tak ada lagi raut kaku dan datar di wajah Tommy.


Lily benar-benar bintang kecil yang bersinar. Dalam sekejap mampu mencairkan suasana canggung diantara mereka. Apalagi kemudian Rose ikut-ikutan menggelayuti Tommy.


Mulanya Tommy kuwalahan bahakan meminta tolong pada Sasi.Tapi kemudian malah ikut bergulingan di karpet dengan dua bocah kecil itu. Benar kata Baskara, dalam sekejap dia sudah jatuh cinta pada dua gadis kecil putri papanya dan Palupi itu. Amazing !


Baskara ikut bergabung tak lama kemudian. Bergulingan dan tertawa-tawa denganTommy dan dua adiknya itu. Sasi pun sesekali ikut menimpali bercanda dengan mereka.


Di depan televisi Barata tersenyum-senyum sendiri. Dia pura-pura tak melihat ke belakang. Namun matanya berkaca-kaca penuh keharuan. Hatinya dipenuhi kebahagiaan melihat keempat buah hatinya bercanda tawa bersama.


Rasanya sempurna sudah hidupnya. Hilang sudah mendung yang selama empat tahun menggelayuti biduk rumahtangganya. Berganti pelangi yang seakan terbit dalam tawa bahagia keempat putra-putrinya. Bahagia memenuhi relung hatinya.


Tak berapa lama dari kedatangan keluarga Barata, datanglah Retno beserta suami dan dua bayi kembarnya. Mereka membawa seorang baby sitter.


Seperti Palupi, Retno langsung memeluk Sasi, kakak kesayangannya itu. Dia dan suaminya lalu menyalami Barata, Baskara dan Tommy yang ada di ruangan itu.


" Kalian sudah kenal pak Barata kan? Tommy dan Baskara ini putranya beliau" kata Sasi mengenalkan pada Retno dan suaminya.


Retno dan suaminya mengangguk-angguk. Kemudian suami Retno segera bergabung dengan Barata karena sudah mengenal lebih dahulu sebagai suami Palupi. Sebelumnya dia menyerahkan anak mereka yang digendongnya pada Retno.


Retno segera menurunkan bayi yang digendongnya. Baby sitternya juga membaringkan kembaran anaknya di ranjang.


" Mbak tolong jagain ya. Saya keluar. Susu sudah saya siapkan di cooler box" Retno bicara pelan pada baby sitternya.


" Iya bu. Siap!" jawab baby sitter itu.


" Sini mbak. Ayo jelasin semua. Ceritain sama aku. Bojomu seng endi ?" (suamimu yang mana)


" Yang paling ganteng dong...ralat, calon bojo (suami)." Sasi terkekeh.


" Ganteng semua kok. Yang tadi mangku Lily ya?" Retno menebak.


" Ho oh" jawab Sasi sambil tertawa.


" Bojomu ganteng banget mbak. Jadi njomblo selama ini nunggu yang ini to? Nggak rugi deh!" Retno tertawa bahagia. Seperti halnya Ibu dan Palupi, Retno pun sangat mengkhawatirkan jodoh Sasi. Dan sekarang mereka benar-benar bahagia karena akhirnya perawan terakhir keluarga mereka akan segera berubah statusnya.


" Trus kowe (kamu) panggil Barata piye mbak?" tanya Retno terkikik. Dia sudah mendengar cerita Palupi tentang Tommy dan Barata.

__ADS_1


" Yo tetep Pak koyo ( seperti) biasa." Piye meneh? ( bagaimana lagi)


" Wahh..koyo sinetron yo mbak..hahaha.." Retno terkekeh-kekeh. Sasi mencubit lengan adiknya.


" Ngeledek kamu ya..?"


" Aduh! Loro (sakit) mbak! " Retno memekik. Tapi kemudian tertawa lagi.


Sasi meninggalkan adiknya dan berjalan ke dapur. Retno mengekori kakaknya.


Rupanya Ibu, Rumi dan Palupi sudah selesai mempersiapkan makan siang. Sasi dan Retno yang baru datang segera membantu menata makanan di meja makan besar di ruang makan dekat dapur.


Ruang makan setengah terbuka karena menghadap langsung ke taman samping rumah dengan pintu krepyak ( pintu kayu berlipat) yang bisa dibuka atau ditutup sebagai dinding.


Meja marmer oval besar dengan dua belas kursi jati berukir, sudah penuh berbagai makanan. Piring dan sendok garpu serta gelas berisi air putih sudah tertata rapi.


Ruangan ini jarang sekali digunakan kecuali seperti saat ini. Saat keluarga besar berkumpul bersama.


" Pi, sana ambil anakmu dulu. Suruh semua ke ruang makan." titah ibu pada Palupi.


" Biar aku saja bu yang panggil mereka. Lily sama Rose kayanya tidur. Biar Palupi pindahin mereka ke kamar dulu" Sahut sasi.


" Lho..kasihan belum makan kok sudah tidur? " sesal ibu mengkhawatirkan cucunya.


" Sudah bu, tadi sebelum berangkat sudah makan. Makanya ngantuk. " Jawab Palupi.


" Oh ya wes. Pinter kamu. Kalau gitu ayo...cepet dipanggil semua buat makan siang" Kata ibu lagi.


Tak lama semua orang sudah berkumpul di meja makan. Ibu duduk di ujung meja. Di sebelahnya ada Sasi dan Tommy. Sementara di sebelah kirinya ada Palupi, Barata dan Baskara . Terakhir Retno dan suaminya.


" Sebelum mulai makan saya mau mengumumkan berita penting. Kebetulan sekali kalian anak-anak ibu semua kumpul disini. Besok mbakmu Sasi akan ada acara lamaran. Calon suaminya sekaligus calon mertuanya sudah ada disini. Nak Tommy calon suami Sasi ini anaknya pak Barata."


Semua yang memang sudah tahu ceritanya cuma tersenyum senyum menggoda Sasi dan Tommy. Kecuali Barata yang tampak salah tingkah.


"Lucu ya...tapi gimana lagi. Takdirnya begini. Yang penting tidak melanggar aturan. Jadi kalian ndak usah pulang dulu. Pulang besok saja sekalian habis acara lamaran Sasi . Nggak papa kan?" tanya ibu.


" Inggih bu.." Hampir bersamaan semua anak dan mantu ibu menjawab serempak.


" Ya wes. Ayo calon mantu pimpin doa." ibu menunjuk Tommy memimpin doa.


Tommy terkejut mendapat mandat tiba-tiba. Tapi kemudian segera menguasai diri dan memimpin doa bersama sebelum makan.

__ADS_1


Pengalaman pertama berada dalam keluarga besar Sasi. Sangat mendebarkan.


__ADS_2