
Malam yang dingin mencekam. Tommy membuka matanya. Merasakan dinginnya lantai rumahnya menggigit kulit tubuhnya yang tengah duduk bersila tanpa alas.
Malam ini Tommy berada di rumahnya yang selama ini ditempati Baskara. Barata dan keluarganya serta beberapa saudara menginap untuk membantu persiapan pernikahannya dengan Sasi esok hari.
Tak ada seorangpun yang tahu , Tommy baru saja bertaruh nyawa menghadapi makhluk alam lain demi berlangsungnya pernikahannya.
Lelaki itu mendesah panjang. Menghadirkan kembali bayangan pertarungan panjang dan melelahkan dengan Rangga. Makhluk alam lain berwajah tampan yang sempat membuatnya cemburu dan marah, namun di sisi lain juga membuatnya trenyuh ( tersentuh) karena kisah cintanya yang malang.
Ditatapnya pakaian pengantin yang tergantung di sudut kamarnya. Sepasang pakaian adat jawa, dan sepasang tuxedo berwarna putih lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
Tommy tersenyum sendiri. Segera terbayang wajah cantik dan menggemaskan calon istrinya yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Rasanya perjalanan singkat namun penuh aral masa pacaran mereka terbayar hanya dengan mengingat senyum manis gadisnya itu.
Sasiii...mas boss coming soon at your room...Haisshh...Tommy tertawa lirih sendiri. Merebahkan badan terlentang di lantai yang dingin sambil terpejam membayangkan Sasi.
Tak lama Tommy bangun dan membersihkan diri. Setelahnya bergelung di ranjangnya yang hangat. Lelah dan kantuk yang sangat segera membawanya ke alam mimpi yang indah.
Di kamar Sasi...
Gadis itu tertidur di samping ibunda tercinta. Wajahnya tampak tenang dan damai. Dalam mimpinya Sasi kembali berada di taman itu. Taman indah tempat dia dan Rangga selalu bertemu.
Pria aneh tapi tampan itu mendatanginya lagi. Namun tidak ada lagi amarah seperti tadi saat menemuinya di kamarnya.
Rangga tersenyum tetapi Sasi malah merasa hatinya tersayat melihat senyuman mempesona itu. Aneh sekali. Senyuman Rangga bagai sembilu mengoyak relung kalbunya.
"Sasii...sayangku...kekasihku yang cantik, ini mungkin terakhir kali kita bertemu. Aku harus pergi. Maafkan aku yang selama ini membuat hatimu terpenjara dalam tubuhmu sendiri. Aku masih mencintaimu hingga saat terakhirku. Percayalah. Aku tak pernah menyerah untuk mencintaimu dan mendapatkan cintamu. Tapi tempatku ternyata memang bukan disisimu. Selamat tinggal Sasii..kenanglah aku yang tak pernah berhenti mencintaimu."
Ucapan Rangga yang lembut dan dalam membuat Sasi terisak dalam diam. Suaranya yang terdengar halus, seperti udara merasuk dalam rongga pernafasannya menyalurkan perasaan luka dan kasih tak sampai yang membuatnya ikut nelangsa.
" Maafkan aku..." bisik Sasi tercekat.
Rangga menggenggam tangannya erat lalu memeluk tubuh Sasi sejenak sebelum sosoknya menghilang dari hadapan Sasi.
Gadis itu tersentak lalu bangun dari tidurnya. Air matanya benar-benar meleleh. Bukan hanya dalam mimpi.
Sasi kembali memgingat-ingat pertemuannya dengan Rangga. Lelaki yang selalu muncul dalam mimpinya dan selalu mengaku kekasihnya.
Sasi selalu menganggap pertemuannya dengan Rangga selama ini adalah sekedar mimpi yang berulang. Namun saat Rangga menemuinya di kamar dan mengajaknya duduk di taman tadi malam, Sasi meraşa itu begitu nyata.
Bahkan saat itu Tommy dan dukun tua itu juga datang. Tapi saat ibu bilang tidak melihat siapapun bersama Sasi , dia menghalau pikiran itu. Mungkin memang semua hanya mimpi Sasi.
Apakah dengan pamitnya Rangga, mimpinya yang berulang tentang Rangga juga akan berakhir? Sasi sangat berharap akan hal itu. Bagaimanapun mimpi itu sangat mengganggunya.
Sasi tersadar dari lamunannya ketika mendengar pintu kamar diketuk Rumi.
" Mbak Sasi, juru paes( MUA) nya sudah datang. Mbak Sasi diminta siap-siap." kata Rumi saat Sasi membuka pintu kamarnya.
" Iya mbak. Suruh tunggu sebentar aku bersih-bersih dulu." jawab Sasi.
" Kasih minum dulu Rum.." ibu yang sudah terbangun menyahut dari dalam kamar.
" Sampun ( sudah) bu" Rumi mengangguk lalu pergi meninggalkan Sasi.
" Cepetan mandi yang bersih, yang wangi. Mau ketemu calon suami.." ibu tersenyum sambil menatap lekat putrinya.
Sasi tertawa malu lalu menghambur ke pelukan ibunya. Kerinduan yang tak tertahan pada Tommy membuat wajahnya bersemburat merah hanya karena mendengar ibu menyebut kata calon suami.
__ADS_1
" Kangen berat ya...?" ibu malah makin menggoda Sasi.
" Ibuuuu....!" Sasi makin erat memeluk ibu sambil mengusel-usel pipi ibu.
"Eh..ini ibu Sas...bukan Tommy..." Ibu tertawa-tawa sambil membelai rambut dan punggung Sasi.
" Ibuu..ah..kok ngomong gitu sih?" Sasi makin malu.
" Hahaha....sudah sana, mambu ( bau) ! Belum mandi sudah ngusel-usel ibu.." ibu memeluk Sasi lagi lalu melepaskannya. Mendorong tubuh putrinya ke kamar mandi.
Sasi masih menggelayuti lengan ibunya, tapi kemudian menurut dan masuk ke kamar mandi. Berendam dengan air di bathtube yang sudah dicampur air aroma teraphy dan bunga berbagai warna yang harum semerbak. Hari ini ia kan jadi ratu sehari. Ratu cantik dari Raja tampan pujaan hati. Mas Tommy tersayang...
" Ayo Sasi...kok lama mandinya..? " Suara ibu membuyarkan lamunan Sasi.
" Iya bu..ini sudah selesai" Sasi buru-buru memakai pakaiannya lalu beranjak keluar dari kamar mandi. Juru paes sudah menunggunya di sofa kamar.
" Wah pengantinnya cantik banget." Sasi tersipu mendengar pujian sang juru paes.
Selanjutnya Sasi cuma menurut apa saja yang dikatakan dan dilakukan juru paes itu padanya. Sasi cuma diam sambil sesekali menjawab jika ditanya atau diajak bercanda.
Beberapa saat kemudian ibu datang ke kamarnya sudah dalam keadaan dirias dan memakai kebaya lengkap dengan kain dan sanggul cantik. Ibu memakai baju yang seragam dengan Palupi yang bertindak sebagai wakil orang tua Tommy.
Sasi tersenyum. " Ibu cantik banget" serunya.
Ibu tertawa. " Tentu saja, kamu pikir kecantikanmu menurun dari mana?" Ibu menatap wajah cantik Sasi yang kian bersinar setelah dirias.
Semua tertawa mendengar seloroh ibu.
" Wah wah...ternyata ibuku narsis juga..." balas Sasi , lagi-lagi disambut tawa semua yang ada di kamar Sasi.
" Cantiknya anakku!" ibu berkaca-kaca melihat Sasi sudah siap dengan kebaya putih dan riasannya untuk acara sumpah pernikahan pagi ini.
" Bu , mas Tommy sama keluarganya sudah datang" Rumi yang pagi itu juga tampak cantik dengan kebaya warna peach memberitahu ibu.
" Iya...ayo Sas...bojomu( suamimu) wes teko.." ibu berseru bahagia.
" Belum bu..masih calon bojo...Bu..aku deg-degan ini.." sahut Sasi. Wajah gadis itu merona.Tangannya yang menggengam tangan ibu terasa dingin.
Sampai di pendopo yang sudah dihias indah, Sasi makin gemetar. Apalagi ketika dilihatnya rombongan keluarga Tommy yang sudah menunggunya di depan altar pernikahan.
Dari jauh Tommy sudah menatapnya tajam. Senyumnya mengembang seakan air pegunungan mengaliri hatinya yang gersang.
"Mas Tommy.." bisiknya lirih. Rindunya tak tertahan lagi hingga rasanya melesak dari dadanya dan menjelma jadi air bening yang merebak dari netranya. Haru...
Kalau boleh Sasi ingin segera berlari dan menghambur ke pelukan lelaki tampan itu. Namun yang terjadi Sasi malah terpaku di tempatnya.
Hingga ibu menyentuh tangannya dan menyadarkan Sasi dari lamunannya.
Akhirnya Tommy dan Sasi sah menjadi suami istri setelah keduanya mengucap sumpah pernikahan.
Tommy mencium kening Sasi penuh perasaan. Sasi menatap Tommy dalam. Keduanya saling menatap mesra dan tersenyum.
" Terima kasih sudah jadi milikku ...cinta sejatiku" bisik Tommy. Mata lelaki itu berkaca-kaca.
" Terima kasih sudah menjadi belahan jiwaku...yang pertama dan terakhir" balas Sasi terisak melihat mata Tommy yang menggenang.
__ADS_1
Tommy meraih pinggang Sasi dan mendekapnya erat. Keduanya kemudian berciuman mesra di depan pemuka agama yang menikahkan mereka. Disambut tepuk tangan semua yang hadir pagi itu.
Ibu menangis di pelukan Retno dan Emil yang mengapitnya. Putri bungsunya itu pun berlinang air mata melihat kebahagiaan kakak sulungnya yang paling mereka khawatirkan kehidupan percintaannya. Namun kini terbayar sudah dengan kehadiran Tommy, sang penyelamat tampan yang seakan membebaskan Sasi dari kutukan cinta.
Palupi juga menangis haru di pelukan suaminya. Dia adalah yang paling merasa bersalah karena menikah lebih dahulu dari Sasi kakaknya. Bahkan sempat percaya mitos bahwa kakak perempuan yang dilangkahi ( didahului) menikah oleh adiknya akan susah jodoh. Mengingat hingga beberapa bulan lalu Sasi tak kunjung punya pasangan.
Kini, melihat Sasi berada di depan pemuka agama yang telah menikahkan mereka, melihat Sasi dalam pelukan Tommy yang telah sah berstatus suaminya...hilang sudah beban rasa bersalah itu. Palupi tak henti bertepuk tangan bahagia, air matanya tak terbendung lagi.
Palupi bahkan memeluk erat Barata untuk melampiaskan kebahagiaannya atas pernikahan Sasi dan Tommy.
Barata tersenyum dan menepuk-nepuk lembut punggung istrinya yang sangat dicintainya itu.
" Sudah dek...nanti riasanmu luntur" bisik Barata bercanda.
Palupi mencubit pinggang Barata yang tengah dipeluknya erat.
" Aduh...cubitanmu mantep tenan dek!" Barata meringis menahan pedih. Namun tetap tersenyum bahagia. Hari ini putra kesayangannya menikahi gadis yang dicintainya. Tommy tampak sangat bahagia.
Sasi membalas erat pelukan Tommy. Menikmati ciuman pertama Tommy sebagai istri dari pria tampan itu. Tommy membenamkan wajahnya dalam-dalam seakan melampiaskan semua rindu yang selama seminggu ini mereka tahan.
Mereka begitu menikmati pagutan mereka hingga lupa mereka masih ditonton banyak orang.
Baskara yang sadar keadaan bisa makin panas, langsung maju ke arah kakaknya yang masih asyik bergulat bibir dengan istri barunya. Oh No!
" Mas..stop. Lanjut dikamar nanti malam. Lihat sekelilingmu"
Tommy dan Sasi terkejut melihat Baskara ikut maju ke depan.. Sasi langsung menjauhkan wajahnya dari Tommy begitu melihat Baskara.
Tommy pun setengah terpaksa melepaskan pagutannya . Keduanya kemudian menatap berkeliling sambil tersenyum salah tingkah.
" Dasar mesum! " rutuk Baskara di dekat telinga Tommy. Dibalas tawa tergelak Tommy. Sementara para tamu yang hadir makin ramai menyoraki pengantin baru itu.
Tommy benar-benar lupa daratan merasakan manisnya bibir istrinya itu. Melupakan bahwa saat itu mereka masih di depan para tamu yang ikut memyaksikan sumpah pernikahan mereka.
" Iri bilang boss! " sahut Tommy sambil tetap mendekap erat sasi.
" Ck...dasar bucin. Ayo cepet turun. Habis gini acara temu manten. Kalian masih harus ganti kostum lagi." desak Baskara melihat Tommy dan Sasi yang masih saja lengket seperti perangko.
Tommy terpaksa melepas pelukannya pada Sasi. Mereka harus berpisah lagi sejenak. Keduanya masih harus melaksanakan prosesi temu manten setelah ini.
Tommy mendesah berat. Ditatapnya wajah Sasi yang sudah merah merona akibat ciuman panjang mereka barusan. Melihat wajah merona dan bibir basah Sasi membuat Tommy mendesak Sasi lagi.
Baskara buru-buru menarik tangan Tommy. Sementara Retno menarik tangan Sasi. Mereka dibawa ke tempat berbeda untuk berganti kostum adat pengantin jawa dan melaksanakan prosesi temu manten.
Tommy mendecak kesal namun menurut saja dibawa Baskara. " Tahan bentar sih mas. Malu-maluin aja . Masih banyak orang sudah main nyosor gitu...hadeehh..." Baskara menggerutu.
Tommy mendesis." Kamu nggak tahu sudah puasa seminggu ini gak ketemu Sasi sama sekali. Harusnya kamu paham" Tommy mendesah kesal. Dia masih harus menjalani prosesi yang panjang lagi, padahal rindunya pada Sasi sudah mau meledak rasanya.
" Iya tahu. Pengen cepet unboxing kan?. Tapi ya tahan dulu boss.." Baskara mengomel.
Tommy tertawa . " Unboxing gundulmu itu!" sambil menoyor pelan kepala adiknya itu. Tak urung membayangkan yang iya-iya juga...ahh dasar!
Sementara Sasi yang dituntun Retno dan ibu kembali ke kamarnya. Sepanjang jalan Sasi menunduk malu. Mengingat ciuman panas mereka yang dilihat banyak orang barusan. Aduh!
" Mbak...mbak...ngebet yo ngebet...tapi yo mikir..koyo ngono kuwi si Baskara lak yo kepengen..." Retno menggerutu. (kalau seperti itu Baskara kan jadi kepingin)
__ADS_1
" Mboh(ngga tahu) Ren...aku yo gak sadar...hahaha.." Sasi tertawa malu.