Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Ada Apa dengan Rangga?


__ADS_3

Hari ini Rangga dan Bayu mengikuti acara offroad yang diadakan hotel untuk para tamu VIP yang sudah membooking untuk paket tour yang disediakan.


Pagi-pagi Bayu sudah siap dengan pakaian sporty membangunkan bossnya yang berada di kamar sebelahnya.


Bayu mencoba menelpon Rangga namun ponsel bossnya itu tak aktif hingga akhirnya Bayu terpaksa mengetuk pintu kamar bossnya itu.


Beberapa kali mengetuk baru terdengar suara Rangga menjawab panggilannya.


" Berisik kamu Bay..jam berapa ini?" sembur Rangga pada asistennya itu setelah membuka pintu.


" Jam 7 Pak, kita sarapan dulu. Acara offroad dimulai jam 8." jawab Bayu hormat.


" Hmm...ya sudah. Kamu tunggu sebentar. Aku siap-siap!" jawab Rangga lalu menutup pintu kasar.


Bayu mengelus dadanya kaget. Pria muda itu kembali ke kamarnya. Mempersiapkan semua yang akan dibawa saat tour nanti. Ketika lima belas menit kemudian keluar dari kamar, Rangga juga sudah siap dan baru saja keluar dari kamar.


" Selamat pagi pak? Mau sarapan di resto hotel atau ke tempat lain?" tanya Bayu sopan.


" Makan di hotel saja. Lumayan enak kok. Lagian males kalau masih cari-cari resto lagi" jawab Rangga.


" Baik pak. Silakan.." Bayu memberi jalan pada Rangga lalu mengikuti bossnya itu.


Tak lama keduanya sudah duduk berdua di resto hotel. Menikmati sarapan sambil berbincang tentang pekerjaan. Namun kali ini Rangga bertanya sesuatu yang membuat Bayu mengernyitkan dahi.


" Bay..kamu sudah punya pacar?" tanya Rangga


" Uhuk..".Bayu hampir tersedak mendengarnya. Buru-buru mengambil air mineral dan meneguknya cepat.


" Kenapa , kaget kamu? Memangnya nggak boleh tanya begitu?" Tanya Rangga sambil menahan tawa melihat wajah Bayu yang memerah karena tersedak.


" Bb..boleh pak...boleh saja. Saya sudah punya pacar pak" jawab Bayu malu-malu. Aneh banget. Tumben si Bos tanya masalah pribadi.


" Pacar kamu gak protes kamu pergi melulu sama saya. Kapan kamu kencannya?" Rangga tersenyum smirk..Mengejek Bayu, padahal dianya sendiri jomblo...haha...


" Kita sudah komitmen pak. Selama itu urusan kerja, nggak ada kata protes. Sebelum kenal dia saya sudah kerja sama Bapak. Jadi dia yang harus ngerti saya. Toh saya kerja buat masa depan juga."


" Baguus...kapan kawin?" tanya Rangga santai.


Lagi-lagi Bayu tersedak. Bos ngasih pertanyaan asal ngomong. Nggak mikir pertanyaannya bikin kening mengkerut untuk menjawabnya.


" Belum tahu pak..masih ngumpulin modal..hehe" Bayu cengar-cengir. Rangga tertawa.


" Kamu cinta sama pacarmu?" Tanya Rangga lagi.


Bayu menatap Rangga aneh. Ini bos mimpi apa semalam? Pagi-pagi sudah interogasi tentang asmara.


" Cinta pak!" Bayu menjawab jengah.


" Hmm...kamu tahu cinta itu apa..?" Rangga melanjutkan pertanyaannya.


Bayu makin melongo. " Emm...maksudnya gimana pak?" Bayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Kalau kamu ngaku cinta sama pacarmu, harusnya kamu tahu definisi dari cinta kan? Menurutmu cinta perasaan seperti apa? Saya pengen tahu. Dari penjelasanmu nanti saya bisa tarik kesimpulan, apa saya pernah jatuh cinta atau tidak. Ayo..cepet katakan seperti apa cinta itu versi kamu!'


Bayu meneguk ludahnya sendiri. Untung saja dia sudah selesai sarapan. Kalau tidak, mungkin dia tak akan sanggup menelan makanannya sendiri. Pertanyaan yang aneh. Tapi harus dijawab karena boss yang bertanya.


" Sebelum saya jawab, apa Bapak ingin menyatakan cinta pada seseorang? "Tanya Bayu.


" Nggak ada, saya cuma mau memastikan apa saya pernah jatuh cinta pada seseorang." Rangga menatap Bayu.


" Menurut saya, cinta itu rasa suka yang berlebihan, sayang, ingin memiliki, ingin melindungi, ingin selalu ketemu dan bersama, selalu rindu. Bahkan kadang kita jadi norak dan tak tahu malu demi orang yang kita cintai. Feel so deeply...merasa begitu dalam menyukainya. Begitu menurut saya pak.!"


" Cihh..lebay banget Bay...!" Rangga tertawa mengejek Bayu. "Nggak enak banget dong jatuh cinta. Bikin menderita."


" Kalau tak berbalas memang begitu pak. Seperti di neraka. Tapi kalau saling mencinta...wahh seperti di surga...rasanya seperti habis doping. Bahagia...melayang...senyum terus seharian. Bahkan hanya karena ingat namanya." Bayu membayangkan wajah pacarnya.


" Dasar lebay...!" Rangga bersungut-sungut.


" Berarti Bapak belum pernah jatuh cinta. Nanti deh pak kalau Bapak sudah merasakan seperti yang saya bilang tadi, tandanya bapak sudah jatuh cinta!"


" Ah sok tahu kamu!" Rangga memyangkal Bayu. Keyataannya dia memang belum pernah jatuh cinta. Tak ada satu pun dari gadis-gadis yang dikenalnya bisa membuatnya ingin terus bersama, rindu, ingin meliliki, senyum-senyum terus.... Cihh..apa-apaan itu. Kecualiii....Sasi...!


Kadang sebagian batinnya menginginkan Sasi, ingin memiliki, ingin selalu melihatnya . Dan wajah lembutnya itu, membuat siapapun ingin mendekap dan melindunginya. Ya ampun! Aku sudah sinting! Rangga merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


Di saat bersamaan Rangga menolak mentah-mentah suara dari sudut hatinya untuk merebut Sasi. Gila apa? Aku terlalu terhormat untuk jadi pebinor. Apa kata dunia. Dunia saja memujanya , tak terhitung gadis tergila-gila padanya.


Rangga memegang dahinya sendiri. Aku butuh psikolog.


" Bay, besok tolong jadwalkan sekalian carikan psikolog yang bagus di sekitar tempat kita. Saya mau konsultasi. "


" Baik pak. Nanti saya kabarkan kapan Bapak bisa datang dan berkonsultasi . Maaf boleh saya tanya ...anu..eh...nggak jadi pak!" Bayu mengurungkan niat bertanya. Masih ragu. Apakah Boss sakit dan tak mau berterus terang?


" Ngga usah mikir macem-macem kamu Bay. Intinya saya sehat, cuma konsultasi rutin saja." Rangga menjawab kekhawatiran Bayu.


' Siap pak!" Bayu mengangguk hormat. Bayu khawatir Rangga mengidap penyakit berbahaya yang membuatnya frustasi hingga harus berkonsultasi dengan psikolog.


Bagaimana harus memberitahukan kepada ayah Rangga yang sudah menitipkan Rangga padanya. Bossnya itu selama ini terkenal playboy. Suka gonta -ganti wanita. Dan nampaknya kini sedang depresi karena jatuh cinta dan ditolak mungkin?. Entah pada siapa . Bayu cuma bisa bertanya dalam hati.


Mereka akhirnya tiba di sebuah arena offroad yang sengaja dibangun di area hotel meskipun letaknya agak jauh agar tidak mengganggu tamu hotel.


Rangga dan Bayu berpetualang dengan motor trail mereka bersama beberapa tamu yang memiliki hobby sama.


Rangga merasa stressnya gara-gara Sasi sedikit berkurang saat adrenalinnya terpacu diatas motor trail yang dikendarainya di arena offroad yang lumayan menantang. Beberapa kali Rangga dan Bayu harus berkalang tanah dan terjatuh bersama motor mereka. Namun itu malah membuat kedua boss dan asisten itu merasa fresh dan senang.


Wajah dan tubuh keduanya sudah kotor penuh tanah dan lumpur. Namun keduanya malah tertawa-tawa puas.


" Wah...untung gak jadi check out ya Bay. Ini sangat menyenangkan." Rangga bersandar di sebatang pohon di pinggir lintasan setelah motornya jatuh menggelosor. Tubuhnya sempat terpental, namun baju khusus melindungi tubuhnya dari luka dan cidera.


" Iya pak. Saya tahu dulu bapak suka ngetrail. Setelah memimpin perusahaan Ayahanda Bapak, pasti tak sempat lagi melakukan hobby bapak dulu. Makanya begitu ada paket tour plus off road ini langsung saya booking. Bapak pasti senang. Setidaknya bisa sedikit bernostalgia" Bayu tersenyum senang melihat wajah cerah Rangga.


Rangga tertawa. " Good job Bay..."


Tengah beristirahat sambil minum. Perhatian Rangga teralihkan dengan suara mobil APV di lintasan yang lain dekat lintasan motor trail.


Rangga sebenarnya tidak begitu memperhatikan, namun suara seorang wanita yang dikenalnya mbuatnya menelusuri lintasan APV itu dengan matanya.


Dan matanya segera melihat pemandangan yang membuat dadanya panas dibakar cemburu. Tommy sedang menyetir mobil APV mengelilingi lintasan. Sementara istri cantiknya bersandar manja di bahunya. Tangannya melingkar di lengan Tommy yang tengah menyetir.


Kedua sejoli pasangan pengantin baru itu tampak tak begitu memperhatikan sekitar. Asik bercanda tawa dengan pasangannya . Sesekali Tommy mencuri ciuman di pipi, kadang di dahi dan ...di bibir yang ranum milik Sasi. Dan Sasi pun membalasnya tak kalah mesra.


Rangga membuang pandangannya dari Sasi dan Tommy namun suara mereka masih bisa didengarnya.


" Yuk jalan lagi Bay!" Rangga menggeber motor trailnya dengan suara yang menderu -deru. Sengaja diputar-putarnya tuas gas sehingga suara mesin motor trail itu makin keras memekakkan telinga.


Namun sejurus kemudian mereka sudah lupa karena terlalu asik dengan pujaan hatinya. Bahkan mereka tidak tahu sama sekali kalau Rangga yang menggeber motor karena wajah dan tubuhnya penuh lumpur. Mereka melanjutkan perjalanan offroad mereka tanpa terusik.


Meninggalkan Rangga yang memacu motornya seperti kesetanan . Melampiaskan amarah dan cemburu dengan menggeber motornya serampangan.


Bayu ketar-ketlir melihat kelakuan Rangga yang sama sekali tak memikirkan keselamatan dirinya. Sebisa mungkin Bayu mengikuti kecepatan motor Rangga.


Dan kekhawatirannya menjadi kenyataan ketika Rangga kehilangan keseimbangan di sebuah tikungan tajam yang berlumpur. Motor Rangga terrgelincir ke samping. Sementara tubuh Rangga terpental jauh.


Bayu berteriak kencang lalu menghentikan laju motornya. Berlari panik ke arah Rangga jatuh terpental. Dilihatnya tubuh bossnya itu tak bergerak , tergeletak di tanah berbatu.


" Pak! Pak Rangga! Pak Rangga!" pekik Bayu sambil mengguncang tubuh Rangga.


Tak lama kemudian tampak beberapa petugas medis yang memang disiapkan hotel di beberapa titik lintasan ofroad datang membawa tandu. Beruntung tempat jatuh Rangga tak jauh dari tempat parkir ambulans sehingga bisa cepat dibawa ke rumah sakit.


Bayu mengikuti masuk ke ambulans. Selang oksigen sudah dipasang ke mulut Rangga. Bayu tak melihat luka menganga atau darah di tubuh Rangga, namun Rangga yang pingsan dan belum bangun hingga sekarang membuatnya khawatir ada bagian dalam tubuh Rangga yang terluka atau cidera.


" Bagaimana dokter? Kenapa dia belum siuman juga?" Tanya Bayu pada dokter yang merawat Rangga di ambulans.


" Saya belum bisa memastikan. Kelihatannya ada luka memar di belakang kepalanya. Kemungkinan itu yang membiat pasien pingsan. Untuk lebih jelasnya harus dilakukan rontgen, agar bisa diketahui dengan jelas apa yang terjadi dengan pasien." jelas dokter membuat Bayu semakin khawatir.


Aduh! Boss sih sembarangan. Tadi senang-senang. Kenapa tiba-tiba kesetanan ngebut nggak jelas? Bayu tak habis pikir dengan apa yang dilakukan bossnya. Apakah penyakit mentalnya parah? Sampai kelakuannya berubah-ubah secepat itu?


Tak lama mereka sudah sampai di rumah sakit dan Rangga langsung dibawa ke IGD untuk penanganan lebih lanjut.


Bayu mengurus administrasi sambil harap-harap cemas dengan kondisi bossnya. Ingin mengubungi ayah sang bos namun Bayu merasa harus menunggu pemeriksaan dokter dahulu, jadi bisa menjelaskan jika ditanya.


Pemuda itu duduk terpekur didepan IGD. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan.


" Keluarga pasien atas nama Rangga Syailendra Prastawa!" seru dokter.


" Saya dok. Bagaimana keadaan boss saya?" Tanya Bayu cemas.


" Sesuai pemeriksaan dan hasil rontgen, ada cidera di kepala pasien. Beruntung pasien menggunakan APD lengkap saat jatuh jadi cideranya tidak membahayakan. Masa kritisnya sudah berlalu."

__ADS_1


" Syukurlah. Terima kasih dok, apa dia sudah siuman?" tanya Bayu.


" Belum, ada satu lagi. Kita menunggu pasien siuman untuk mengetahui apakah syaraf di kepala yang cidera mempengaruhi ingatan pasien. Ada kemungkinan pasien terganggu ingatannya . Tapi tidak berbahaya, kemungkinan bersifat sementara saja karena tidak terlalu serius cidera." jelas dokter lagi


" Boleh saya lihat dokter?" Tanya Bayu.


" Silakan. Pasien sedang dipindahkan ke kamar rawat inap."


" Terima kasih dokter" Bayu meninggalkan ruang IGD menuju kamar Rangga dirawat.


Rangga tampak masih belum sadar. Kepalanya dibebat perban. Secara kasat mata tak ada yang terluka di tubuh pria itu.Bayu msih menimbang-nimbang apakah perlu memberitahu keluarga bossnya itu ketika dilihatnya mata Rangga bergerak-gerak.


" Pak Rangga?" Pak!" seru Bayu mendekat ke arah bossnya itu.


" Bay...ini dimana?" tanya Rangga.


" Di rumah sakit pak. Syukurlah bapak sudah sadar. Mana yang sakit pak? " Bayu ingin memastikan bossnya itu baik-baik saja.


" Kepalaku agak pusing Bay" kata Rangga. " Apa aku jatuh tadi?" lanjut Rangga bertanya.


" Iya pak. Bapak tiba-tiba ngebut lalu jatuh." Bayu menjelaskan singkat. Rangga berusaha duduk dibantu Rangga.


" Aku nggak papa bay."


" Bapak sudah ingat semuanya?" tanya Bayu mengingat dokter mengatakan kemungkinan Rangga mengalami amnesia sementara.


" Hmm...aku ingat." Rangga tertawa masam. Teringat kemesraan Sasi dan Tommy yang tiba-tiba membuatnya terbakar cemburu. Membuatnya hilang akal dan melampiaskannya dengan kebut-kebutan berujung celaka.


Anehnya saat ini Rangga malah semakin merasa ingin memiliki Sasi. Tak ada lagi perasaan bersalah karena menginginkan wanita yang sejatiya tak pantas dan tak boleh diingini karena sudah jelas milik orang lain. Bahkan kini timbul tekadnya untuk menyingkirkan Tommy dari sisi Sasi. Hatinya dikuasai amarah.


Rangga melepas alat bantu pernafasan yang terpasang di mulutnya.


" Panggil dokter Bay. Biar dipastikan aku baik-baik saja. Tak ada cidera serius. Sehingga kita bisa langsung pulang." titah Rangga pada Bayu.


Asisten setianya itu segera menekan bel yang terpasang di sisi brankar.


Tak lama kemudian dokter datang bersama seorang perawat.


" Syukurlah pasien sudah sadar. Mari saya periksa" dokter segera memeriksa Rangga.


" Bagaimana dokter?" tanya Bayu.


" Semua baik. Apakah bapak merasakan sakit?" tanya dokter pada Rangga.


" Hanya pusing sedikit dan nyeri di belakang kepala dok" jawab Rangga.


" Apa bapak bisa mengingat siapa bapak dan kejadian yang dialami?"lanjut dokter lagi.


" Bisa dok. Saya ingat semuanya." jawab Rangga yakin.


" Bagus, berarti memang tak ada luka serius. Cuma cidera memar ringan di belakang kepala. Akan hilang beberapa hari ke depan. Obatnya tolong diminum untuk meminimalis rasa sakit."


" Terima kasih dokter. Saya boleh pulang kan?" tanya Rangga antusias.


" Silakan. Setelah memyelesaikan administrasi bisa pulang. Jika ada keluhan, langsung bawa ke rumah sakit ." jawab dokter lalu keluar dari ruangan.


" Ayo pulang Bay...banyak yang harus kulakukan!" Rangga bangkit dari brankar dengan semangat membara. Ada yang harus aku rebut dan perjuangkan. Hatinya bergelora.


Bayu sampai heran. " Biar saya urus administrasi dulu pak. Bapak tunggu di sini dulu." sergah Bayu melihat Rangga bersiap keluar kamar.


" Kelamaan Bay...ayo aku tunggu di luar saja!" Rangga bergegas keluar kamar setelah melepas sendiri perban di kepalanya.


Memang tak ada luka menganga. Hanya memar yang tak tampak karena tertutup rambutnya yang tebal.


Bayu tergopoh-gopoh menyusul bossnya itu.


**********


Readers tersayang...maafin ya upnya jadi tersendat-sendat begini...


Author ngga mau bikin alasan lagi deh...cuma maaf kalau mood baca kalian jadi terganggu...


Pasrah deh mau dihakimi juga...Yang pasti author janji tetap akan menyelesaikan cerita ini hingga akhir ...

__ADS_1


So...yang masih setia baca meski sambil bersungut-sungut, masih ngasih like komen, poin koin dan hadiah meski sambil ngomel-ngomel...hehe...author berterima kasih sekali...kalian luar biasaaa...


Hapoy reading....


__ADS_2