Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Sweet morning


__ADS_3

Dan kebucinan di kantor dimulai.


Pagi ini Sasi kembali masuk kantor. Dia merasa sudah benar-benar sehat. Vitamin dosis tinggi yang diberikan Tommy ternyata memberi efek yang sangat baik bagi tubuhnya. Sasi bahkan tak pernah merasa sebaik ini.


Apakah ini juga karena perhatian Tommy yang bertubi-tubi dicurahkan kepadanya? Atau karena Sasi tak pernah berhubungan dengan pria, dan kini sedang merasakan euforia dan sensasi merasakan cinta? Entahlah, karena darahnya serasa mengalir deras. Hingga langkahnya seakan melayang di udara. Takut dan malu tapi ingin segera bertemu pujaan hati. Yeahh...


Turun dari mobil Sasi melangkah ringan ke lobi kantor. Namun langkahnya mendadak terhenti kala di kejauhan dilihatnya mobil Tommy baru memasuki area parkir.


Sasi mempercepat langkahnya. Entah mengapa dia tak ingin bertemu Tommy di sini. Di tempat yang dilalui banyak orang. Namun baru beranjak, ponselnya berdering...


Mass boss calling...


" Tunggu aku, kita naik sama-sama" rupanya sang boss sudah menangkap kehadirannya lebih dulu. Tak bisa menghindar lagi. Sasii...bukankah kamu ingin bertemu dia..?


Batinnya bergejolak. Apakah jatuh cinta selalu senorak dan sememalukan ini? Kenapa jadi deg-degan hanya karena boss ngajak jalan bareng ke ruangan? Biasanya bahkan dia selalu bersama boss ke mana-mana dan tak merasakan apa-apa yang aneh. Tapi sekarang?


" Pagi sayang...." Tommy berbisik saat sudah dekat disisinya. Senyumnya merekah bak bunga matahari di pagi hari. Boss ,What happen with you. Jangan seperti ini. Lihat semua heran melihatmu tersenyum begitu. Apa kau tidak sadar kalau itu aneh? Apa kau sudah lupa dulu kau adalah sebongkah es yang beku? Apa kau sudah tak ingat bahwa dulu senyummu lebih mahal dari emas 24 karat?


Sasi tersenyum canggung. " Pagi mas.." lalu menunduk dan berjalan cepat disebelah bos ganteng kesayangannya itu.


Para karyawan yang kebetulan melintas menatap takjub pada mereka berdua. Sebenarnya lebih kepada Tommy. Mereka sudah biasa melihat Sang boss dan asistennya itu berdua kemana-mana. Tapi pagi ini ada yang lain dari big boss mereka.Sang boss dingin super jutek, jarang bicara dan tersenyum itu kini wajahnya secerah siang. Senyumnya selalu terkembang sejak turun dari mobil.


" Woahh..kalau senyum gitu si boss jadi 1000 kali lebih ganteng ya..?" bisik-bisik mereka.


Tommy dan Sasi berjalan beriringan. Diiring tatapan memuja karyawan wanita pada Tommy.


Berkali-kali tangan Tommy hampir menggenggam tangannya, tapi secepat kilat Sasi berdehem dan menarik tangannya menjauh. Tommy cuma tersenyum-senyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Sorry lupa.." bisik Tommy.


" Mas ish...!" desis Sasi lirih. Jangan bikin kacau rencana boss.


Masuk lift berdua, karyawan lain memilih membiarkan boss mereka naik berdua dengan Sasi. Merasa sungkan dan memberi privacy pada boss mereka.


" Kamu sudah beneran sehat sayang?" Tommy berdiri menghadap Sasi. Gadis itu mundur merapat ke dinding lift. Tommy maju tak memberi ruang Sasi untuk beranjak. Tangannya meraba kening lalu rahang dan sisi leher gadis itu dengan lembut.


Sasi merinding...


" Sudah kok mas, udah gak panas kan? Makasih, vitaminnya manjur.." Sasi tersenyum.

__ADS_1


Melihat senyum Sasi Tommy makin mendekatkan dirinya ke Sasi, tangannya kini sudah bertumpu di dinding lift,mengungkung tubuh Sasi di depannya , saat itulah...


"Ting" pintu lift terbuka.


Sasi mendorong pelan tubuhTommy yang menekannya ke dinding. Tersenyum mengejek dan keluar lift tanpa menunggu Tommy lagi.


" Damn!" Tommy mengumpat sambil tersenyum masam.


Sasi sudah masuk ruangannya namun belum sempat menutup pintu,.ketika Tommy datang dan berseru " Langsung keruanganku!"


Sasi belum sempat mengangguk atau menjawab, Tommy sudah berlalu ke ruangannya sendiri.


Apa dia marah karena aku menolak disentuhnya ? Terserah! Sasi berkata-kata sendiri dalam hati. Mengambil tablet kerja dan beberapa berkas, lalu bergegas ke ruangan Tommy.


Tanpa mengetuk pintu lagi Sasi masuk ke ruangan big bossnya itu.Tommy sudah menunggu di sofa.


" Kunci pintu" seru Tommy ketika Sasi akan menutup pintu kembali.


Sasi menoleh sebentar ke arah Tommy mendengar suara bossnya itu. Dahinya berkerut heran. Tak urung menurut juga mengunci pintu ruangan.


Sasi tersenyum kecil lalu memasukkan beberapa botol air mineral ke dalam kulkas di pojok ruangan.


" Apa sih liatin terus, naksir ya?" goda Sasi ketika Tommy tak juga menyapanya.


" Sini kamu!" Tommy menunjuk sofa disisinya.


" Mas boss marah ya?" Tanya Sasi sambil berdiri di depan Tommy.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Tommy menarik tangan Sasi hingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuannya.


Sasi terkejut setengah mati, tapi terlambat menghindar, karena Tommy sudah mengunci pinggangnya sedemikian rupa hingga Sasi tak bisa bergerak lagi.


" Kiss me..please.." bisik Tommy sambil menatap Sasi penuh hasrat.


" I've been waiting this moment for a long time..honey..please give me your love.." Tommy mendesah lirih.


Sasi bergetar...jantungnya serasa berloncatan.


" Mas...?" ditatapnya wajah tommy yang penuh harap.

__ADS_1


"Please..." lembut Tommy memohon.


Dan Sasi tak bisa menahannya lagi.


" I love you.." desah Sasi lalu memberanikan diri menyentuh wajah kekasihnya nan rupawan itu. Membenamkan cinta dan rindunya dalam sesapan dan belitan hangat penuh hasrat menggebu.


Tentu saja Tommy segera membalas dengan sukacita serangan Sasi . Menyambut benda kenyal merah muda nan lembut itu penuh cinta. Menikmati sepenuh jiwa rasa manis nan memabukkan seakan ini adalah yang terakhir untuknya.


" Ouhh, you are so sweet baby..You dont know how I crazy abaout it..."desah Tommy di sela decapan bibirnya yang menyesap habis Sasi. Satu tangannya merengkuh erat pinggang gadis pujaannya itu. Sementara satu lagi mengusap lembut tengkuk Sasi.Tak memberi kesempatan gadis itu melepas tautannya.


Hingga Sasi memukul-mukul dadanya karena kehabisan nafas.Tommy terpaksa melepas ciumannya. Nafas Sasi tersengal-sengal. Nafas Tommy pun tak kalah memburu.


Keduanya saling menatap, kemudian tertawa bersama.


" Mas...kamu gila ya...? Nggak lucu kan kalau kita masuk rumah sakit kehabisan nafas gara-gara ciuman? Hah..hah..." Sasi memukul pundak Tommy. Nafasnya masih satu-satu.


" Iya sayang, I was crazy because of you...Aku bahkan rela mati demi ciumanmu honey.." Tommy kembali mengecup bibir Sasi lembut. Tersenyum penuh cinta.


" Stop it, you are really crazy boss..!" Sasi memundurkan wajahnya ketika Tommy akan melanjutkan lagi aksinya.


" Please mas, kita sudah hampir telat meeting.." Sasi berdiri dari pangkuan Tommy. Merapikan bajunya yang sedikit berantakan.


Tommy tertawa, membiarkan Sasi beranjak lalu menjatuhkan kepala ke sofa. Menatap wajah merah Sasi yang setengah gemetar menyiapkan berkas meeting.


"Maasss...." Sasi menghentakkan kaki manja. Merasa malu karena Tommy masih saja memandanginya seakan mau menerkamnya. Tommy bahkan mengusap-usap bibirnya sendiri dengan tangannya. Seakan enggan kehilangan momen mereka berdua baru saja.


"Sasiii....oh sayang...aku sudah gila karenamu. Marry me please...I want you so much.." Tommy meracau-racau.


Sasi menggelengkan kepala melihat tingkah konyol kekasihnya itu. Menarik tangan Tommy agar lelaki itu berdiri.


" Mana sisir?" Sasi mencari-cari benda itu karena melihat rambut Tommy berantakan. Rambutnya juga.


" Di laci" Jawab Tommy malas. Dia malah memeluk Sasi dari belakang dan mengikuti Sasi menuju laci meja. Sasi mendecak, namun membiarkan saja tingkah manja Tommy.


" Sadar boss, meeting...meeting...!" Sasi mengambil sisir dan mendorong tubuh Tommy duduk di kursi..


" Sisiran gih, kaya habis gelud..." Sasi tertawa dan menyerahkan sisir pada Tommy setelah dia juga merapikan rambutnya yang tak kalah awut-awutan.


Tommy tertawa.." Gelud enak. Mau lagi sasiii..." Tommy merengek. Dibalas pukulan keras Sasi ke tangan Tommy.

__ADS_1


Oh My God...Sasi mendecak. Dunia jungkir balik. Boss kulkasku sudah jadi microwave...panasss....Sasi jadi berpikir ulang tentang pernikahan. Jika begini caranya, itu memang harus disegerakan. Karena kenyataannya, diapun tak kuasa menahan dan menolak, malah ikut terlena dan tenggelam dalam lautan asmara.


__ADS_2