
"Kalau aku tak mau pergi. Apa yang akan kau lakukan?" Rangga berteriak menantang.
" Terpaksa aku mengusirmu !" jawab mbah Ageng. Tangannya sudah bersiap dengan serangan.
Rangga tertawa seram. Mengangkat tangan dan mendorongnya sekuat tenaga ke arah mbah Ageng.
Mbah Ageng tak bisa menghindar karena serangan Rangga menggulung tubuhnya dari segala arah. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya mbah Ageng menahan serangan Rangga dan berusaha mengembalikannya.
Namun tenaganya yang sudah banyak terkuras untuk mendorong Rangga menjauh dari rumah Sasi tak mampu menahan seluruh serangan Rangga. Akibatnya sebagian serangan Rangga berhasil melukai tubuh renta itu.
Mbah Ageng terduduk sambil memegangi dadanya. Berusaha menahan tubuhnya agar tak jatuh ke tanah.
Rangga tertawa puas dan bersiap menyerang kembali dengan kekuatan lebih besar. Cahaya biru kembali bergulung menuju ke arah mbah Ageng.
Namun sebelum cahaya biru itu menyentuh mbah Ageng, seberkas sinar hijau terang menghalangi tubuh mbah Ageng.
Tommy sudah berdiri menghadang Rangga. Menyilangkan tangan di depan dada lalu merentangkannya lebar sambil mengibaskannya ke depan.
Pendar biru dari tangan Rangga yang bergulung-gulung diuraikan oleh aura hijau dari kibasan tangan Tommy. Menjadi sinar kecil-kecil yang menyebar lalu hilang di kegelapan malam.
Rangga menggeram murka. Kembali menarik tangannya lalu mendorongnya kencang ke arah Tommy yang kini jadi benteng mbah Ageng.
Tommy tampak tenang. Dia sudah mendapat wejangan dari mbah Ageng cara mengadapi Rangga . Dan dalam perjalanan tadi Tommy mendapati sebuah penglihatan bahwa Rangga tak bisa dilawan dengan kekuatan yang sama dengan kekuatannya. Melainkan harus dengan kekuatan berlapis yang sedikit demi sedikit menggerogoti kekuatan besarnya.
Maka dari itu Tommy tidak mengarahkan serangan langsung ke depan, tetapi menyalurkan tenaganya ke seluruh lengan yang terentang ke samping sehingga kekuatan yang dihasilkan menyebar, tak hanya terfokus ke depan. Hasilnya sungguh mengejutkan Tommy sendiri dan juga mbah Ageng yang masih lemah terkena serangan Rangga tadi.
Mbah Ageng tersenyum senang. Anak muridnya ini benar-benar calon pendekar yang mumpuni. Tommy mampu menggali kekuatan dan menyusun strategi sendiri menghadapi musuh. Tidak hanya terpaku pada ajaran mbah Ageng semata, namun juga mengembangkan kekuatan dirinya sendiri.
"Mbah Nggak apa-apa?" Tanya Tommy cemas sambil tetap waspada pada pergerakan Rangga.
" Mbah nggak papa, nggak usah dipikirkan. Fokus ke depan saja. Mbah akan memulihkan kekuatan sebentar. Kamu hadapi Rangga sendiri dulu ." gumam mbah Ageng menahan sakit.
Tommy mengangguk dan bersiap menyambut serangan Rangga berikutnya. Intinya Tommy tak mau jumawa dan menyerang terlebih dahulu. Dia hanya akan membalas serangan yang diakukan Rangga.
Bagaimanapun Tommy merasa baru mengenal dunia gaib seperti ini. Dia merasa belum bisa apa-apa sehingga sangat hati-hati dalam bertindak dan hanya bermaksud mempertahankan diri saja.
" Kenapa kamu diam saja? Ayo serang aku kalau kamu merasa hebat dan bisa menandingiku." teriak Rangga .
Nada bicara makhluk itu penuh amarah dan cemburu pada manusia di depannya. Orang yang sudah membuat Sasi berpaling dan membuka hatinya. Memudarkan dominasi dan kuasanya pada hati dan jiwa Sasi yang selama ini begitu kuat membelenggu Sasi.
Tommy diam saja. Ingin menjawab tapi tak tahu bagaimana. Apa dia harus menjawab? Apakah itu penting? Tommy cuma memandangi makhluk di depannya itu. Waspada pada apa yang akan dilakukan makhluk itu padanya.
Rangga mendengus mendapati Tommy tak terprovokasi sama sekali dengan tantangannya. Dia kesal sekali karena ternyata Tommy sangat tenang dan penuh perhitungan meskipun menurutnya Tommy masih bocah kemarin sore yang baru belajar ilmu kanuragan. Benar-benar tak bisa dianggap remeh ternyata.
Rangga menghentakkan Kaki sambil mengangkat tangan. Cahaya biru bergulung-gulung kembali menerjang ke arah Tommy dan Mbah Ageng.
Tommy yang sudah bersiap mulai memusatkan kekuatannya pada kedua tangannya. Kali ini tangannya bergerak memutar membentuk lingkaran di depan tubuhnya. Tampak cahaya hijau terang yang keluar dari tangannya membentuk garis-garis lurus, seperti ribuan pedang mengoyak gulungan cahaya biru yang bergelombang datang ke arahnya.
Gelombang cahaya biru itu pun porak poranda dihancurkan ribuan pedang cahaya berwarna hijau milik Tommy. Bercerai-berai menjadi kilatan cahaya kecil-kecil yang kemudian redup dan hilang sebelum sampai ke tujuannya.
Rangga mulai kehabisan tenaganya. Kurang ajar sekali. Bagaimana anak ingusan itu bisa menghancurkan kekuatannya dengan mudah? Nyaris tanpa mengeluarkan keringat. Padahal ia sudah mati-matian mengeluarkan semua ilmu dan kekuatannya.
Dan lihatlah. Anak itu seperti tak punya emosi . Melihatnya dengan tenang tanpa rasa marah atau benci. Bahkan tak ada raut bangga atau sombong meskipun sudah berkali-kali berhasil menghalau serangannya yang bahkan gurunya, si lelaki tua itu pun tak sanggup menghadapinya hingga terluka.
Rangga mulai kehilangan rasa percaya dirinya. Anak muda di hadapannya itu bahkan tak menjawab tantangannya. Hati Rangga semakin kalut. Dengan sisa-sisa kekuatannya yang terakhir Rangga mengeluarkan jurus pamungkasnya. Kekuatan yang tak pernah digunakannya selama ini karena akan membahayakan jiwanya sendiri jika gagal.
__ADS_1
Taruhannya adalah menghilangnya jiwanya sendiri. Sangat riskan, namun dia harus mempertahankan harga dirinya di depan bocah ingusan yang sudah merebut miliknya yang sangat dicintainya. Mencuri calon pengantinnya, kekasih hatinya selama belasan tahun ,Sasi.
" Rangga, kenapa tidak menyerah saja?" Mbah Ageng kini tidak lagi memanggil Tuan pada Rangga. Mbah Ageng merasa Rangga tidak menghargainya padahal dia sudah berusaha merendah dan menghormatinya mengingat Rangga hidup jauh lebih lama darinya.
" Jangan sombong orang tua. Aku belum kalah. Kalian belum melihat seluruh kemampuanku" jawab Rangga sombong. Tangannya mengepal. Kakinya memasang kuda-kuda mempersiapkan jurus andalannya.
Mbah Ageng mendesah. Dia tahu Rangga akan bertindak nekat membahayakan jiwanya sendiri demi harga dirinya.
" Pikirkan sekali lagi Rangga. Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin kamu memahami dan menerima kodratmu yang berbeda dengan Sasi . Tinggalkan Sasi dan kita tetap bisa hidup damai berdampingan meskipun di alam yang berbeda. Tidak saling mengganggu dan mencampuri urusan masing-masing." lembut mbah Ageng mencoba mengetuk kesadaran Rangga.
Sejenak Rangga termenung mendengar kata-kata mbah Ageng. Sebenarnya ada ragu dalam hatinya mengingat kekuatannya hampir habis untuk bertarung dengan mbah Ageng dan Tommy tadi. Jika ia melakukan ini, taruhannya adalah jiwanya sendiri.
Namun begitu melihat Tommy dan segala kelebihan yang dimiliki pemuda itu, rasa sakit dalam dirinya memberontak dan terkoyak. Merasa hancur karena kalah telak dari pemuda ingusan itu. Kalah dalam merebut hati Sasi dan kini diambang kalah dalam adu ilmu. Rangga merasa tak berarti lagi berada di dunia dengan semua kekalahan itu.
Wajah Tommy yang dingin dan tanpa ekspresi semakin membuatnya merasa tak berarti dan terpuruk. Jadi sebelum semua terjadi, dia ingin berjuang hingga titik darah penghabisan. Dia tak akan menyerah semudah itu.
Rangga mengangkat wajahnya , menatap nyalang pada Tommy dan Mbah Ageng.
" Lawan aku bocah! Jika aku kalah aku akan pergi meninggalkan Sasi. Tapi jika kau yang kalah kali ini, kau pun harus merelakan jiwa Sasi untukku." geram Rangga.
Tommy mendesah. Sungguh pertaruhan yang maha berat. Tommy tak tahu sebesar apa kekuatan pamungkas Rangga. Jika ia meladeni tantangan Rangga, apakah ia bisa menang melawan Rangga?. Kalau ia kalah, ah! Tidak!
Tommy tak mau kalah. Dia harus menang demi Sasi. Tapi dia tak seyakin itu.
" Mbah?" Tommy menatap ragu pada guru spiritualnya itu. Mbah Ageng cuma tersenyum
Orang tua itu seakan berkata" Ini pertaruhanmu secara pribadi. Kalau kamu yakin, Sanggupi dan hadapi tantangannya. Tapi kalau kamu ragu, kita akan pikirkan jalan lainnya, Apa kamu tak berani berkorban untuk Sasi?"
" Saya rela berkorban nyawa sekalipun untuk Sasi mbah. Tapi saya tidak rela jika harus menyerahkan jiwa Sasi pada makhluk gila itu." gumam Tommy.
Tommy mengangguk dan tersenyum. Niatnya yang sempat goyah saat ini kembali menguat. Lagipula ada mbah Ageng, beliau ak akan membiarkan aku kalah dan menyerahkan Sasi begitu saja. Semangat Tommy membara.
Dua orang berbeda usia itu sadar bahwa Rangga tak menggubris permintaan perdamaian dari mbah Ageng. Makhluk itu bukannya mereda malah bermaksud menyerang kembali.
Mbah Ageng danTommy bersiap.
" Dia mengerahkan seluruh kekuatan inti jiwanya Tom. Berhati-hatilah." bisik mbah Ageng pelan.
Tommy mengangguk, sedikit gamang namun ditepisnya cepat. Aku harus menyelesaikan masalah Rangga malam ini juga jika ingin pernikahanku lancar. Bukan cuma lancar saat pesta pernikahannya, namun kehidupan rumah tangganya dengan Sasi selanjutnya , itu yang jauh lebih penting.
Tommy merasakan tanah yang dipijaknya bergetar. Makin lama getarannya makin kencang hingga menggoyahkan tumpuan kakinya.
Tommy menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelahan. Mencoba menyalurkan kekuatan dari dalam tubuhnya ke kakinya yang mulai gemetar. Pelan namun pasti kakinya kembali kuat berpijak. Bahkan seakan tertancap dan tak akan mudah goyah lagi.
Saat Rangga mengangkat tangan, hawa dingin segera menyergap di tempat itu. Kini serangan angin disertai cahaya berwarna biru menderu menerjangnya tanpa ampun.
Tommy sedikit terhuyung ketika menahannya. Namun tak lama matanya bisa melihat titik kecil berwarna biru tua bergulung di dalam angin yang menderu mengitarinya.
Tommy menaikkan kedua tangannya, kemudian tangannya seperti meremas dan menggulung , terus begitu makin lama makin cepat hingga tercipta sebentuk bola berwarna hijau terang di telapak tagannya. Dengan penuh kekuatan, Tommy menghantamkan bola cahaya di tangannya pada titik biru di tengah gulungan angin yang dikirimkan Rangga.
Telak mengenai sasarannya hingga terdengar ledakan dahsyat di malam gelap itu.
Duarr!!
Bersamaan dengan teriakan keras Rangga memecah keheningan malam. Sosok tampan beraura biru itu terjungkal ke belakang. Habis sudah. Matanya tampak sendu. Kepedihan begitu jelas melingkupi wajahnya yang bersinar.
__ADS_1
Mbah Ageng berdiri tertatih. Lukanya masih terasa menyesakkan dada. Tapi dia harus melihat akibat pertempuran Tommy dan Rangga.
Tadi, yang terlihat hanya Tommy yang tergulung dalam pusaran angin beliung berwarna biru. Mbah Ageng sempat panik, khawatir Tommy terluka tak bisa menghadapi Rangga yang mengerahkan segenap kekuatannya.
Namun harapannya terbit ketika melihat seberkas cahaya hijau memancar dari dalam gulungan angin ****** beliung yang mengurung Tommy. Cahaya itu makin lama makin besar hingga bayangan cahaya hijau berbentuk lingkaran memantul ke langit malam .
Tak lama terdengar ledakan dari dua kekuatan yang bertabrakan, disusul teriak kesakitan bergema memilukan.
" Tommy..!" mbah Ageng setengah berteriak memanggil nama Tommy.
Cahaya biru yang menggulung Tommy pelahan memudar. Kini hanya cahaya hijau yang melingkupi tubuh pemuda tampan dan gagah calon suami Sasi itu.
Tangan Tommy masih menggulung bola hijau yang menyala. Pelahan Tommy menempelkan kedua telapak tangannya, hingga bola hijau yang dipegangnya menghilang. Pemuda itu kemudian menghela nafas sambil membuka matanya.
" Mbah?" serunya sambil berlari menghampiri mbah Ageng yang tercekat berdiri menatapnya.
Dipeluknya erat pemuda tampan itu. Orang tua itu begitu bersyukur mendapati Tommy tak kurang suatu apa. Hanya baju dan seluruh tubuhnya saja yang basah bermandi keringat.
" Maturnuwun Gusti Allah" mbah Ageng mengucap syukur sambil menepuk-nepuk punggung Tommy.
" Ayo kita lihat Rangga Tom.." mbah Ageng melangkah ke arah Rangga yang tampak tergeletak tak berdaya.
" Apa dia masih hidup mbah? " tanya Tommy. Di lubuk hatinya yang terdalam Tommy masih berharap luka Rangga tak terlalu parah dan masih bisa diselamatkan.
Tommy tiba-tiba merasa hatinya ngilu. Membayangkan jika dia adalah Rangga. Jiwa kesepian yang menemukan cintanya pada orang yang salah. Dan sekarang harus kehilangan segalanya. Cintanya, kekuatannya bahkan mungkin nyawanya.
Jiwa yang pergi dalam kesunyian tak bertepi. Tanpa seorangpun yang peduli atau sedikit memberi empati. Tommy menangis untuk Rangga.
" Dia sudah pergi Tom.." gumam mbah Ageng sedih. Tubuh Rangga mulai kehilangan auranya. Dan pelahan namun pasti menghilang tanpa bekas sedikitpun.
Tommy makin keras terisak. " Maafkan aku. Aku tak bermaksud begini. Aku hanya mempertahankan diri." keluh Tommy dalam isaknya.
" Bukan salahmu. Kita sudah berusaha yang terbaik untuknya. Tapi dia memilih jalan ksatrianya sendiri. Dia pergi dengan kehormatan yang dijaganya hingga akhir" mbah Ageng menepuk- nepuk punggung Tommy yang tampak terguncang.
" Apa tidak ada yang bisa kita lakukan mbah?" tanya Tommy masih berharap Rangga selamat.
" Ada. Tapi tetap tidak bisa mengembalikan jiwanya ." jawab mbah Ageng.
" Maksudnya gimana mbah?" Tanya Tommy tak mengerti.
" Rangga bilang rumah Sasi itu rumahnya. Mbah curiga dulu rumah Sasi adalah istana pemuda itu. Nanti kita periksa rumah calon istrimu. Siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk siapa Rangga. Mungkin kita bisa memberi penghormatan terakhir yang layak pada Rangga. Agar jiwanya tenang di alam baka" mbah Ageng berbisik lirih
" Iya mbah. Saya setuju. Saya yakin dia sebenarnya orang yang baik. Hanya salah jalan saja gara-gara dibutakan cinta. Saya tidak membencinya. Malah sekarang merasa iba padanya mbah." Tommy menatap langit yang gelap. Membayangkan betapa tragis nasib Rangga
Cinta...derita tiada ujungnya....
" Ayo pulang Tom. Kamu besok menikah, malah sekarang tarung. Harusnya kamu istirahat tenang supaya besok fit saat ketemu Sasi...hahaha..malah berantakan begini Tom?" mbah Ageng terkekeh. Tommy ikut tertawa.
" Setelah ini baru saya bisa tidur tenang mbah. Tak ada lagi yang mengganggu Sasi ataupun keluarga kami kelak. Saya tidak tahu bagaimana cara saya membalas budi dan berterima kasih pada mbah. Kalau tidak ada mbah, mungkin saya tidak akan pernah menikah dengan Sasi." Tommy mengucap terima kasihnya pada mbah Ageng dengan tulus.
Mbah Ageng tertawa.
" Ini bukan karena mbah. Ini adalah ketentuan dari Gusti Allah yang Maha Kuasa. Mbah cuma perantara yang kebetulan mendapat mandat untuk membimbingmu Tom. Dan mbah bersyukur kita bisa menyelesaikan apa yang sudah jadi rencanaNya dengan baik."
Tommy dan mbah Ageng saling berpelukan. Lega...meskipun terasa sesak karena terpaksa ada yang harus pergi dengan luka. Namun yakin, kiranya niat yang baik akan mendapat ampunan dariNya.
__ADS_1