Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#PSS Extra Episode 9.Ingin Mati Di pelukanmu


__ADS_3

Prahasti akhirnya makan dengan canggung. Karena Rangga ternyata tidak memesan makanan. Dan alhasil gadis itu menyisakan banyak sekali makanannya karena tak enak hati makan sendiri.


" Ngga usah sungkan, saya sedang kurang nafsu makan" Rangga menenangkan Prahasti yang terlihat salah tingkah.


" Saya sudah kenyang mas" Prahasti mengkhiri makannya dan mengelap bibirnya sopan. Prahasti memang tipe ideal yang sempurna untuk calon permaisuri. Cantik, berpendidikan tinggi dan jelas keturunan darah biru.


Bagi ibunda Rangga sebenarnya dia ingin menyerahkan urusan jodoh ke tangan Rangga sendiri. Mengingat perjodohan Rangga terdahulu tidak berjalan sempurna. Rumah tangga Rangga dan istrinya jauh dari kata bahagia. Kalau tak boleh dikatakan pernikahan diatas kertas saja.


Tak ada keromantisan dan kemesraan , bahkan sekedar bercanda tawa beesama pun tak pernah. Kalaupun saling tersenyum dan menyapa itu hanya untuk formalitas saat ada acara penting keluarga atau acara di istana. Ibu tahu Rangga dan ibunda Andra, Rahajeng sama-sama menderita.


Rangga hanya terpaksa menikah, sementara istrinya hanya bisa menyimpan luka karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sayangnya hingga lima belas tahun berlalu sejak kelahiran Andra putranya, sekaligus wafatnya Rahajeng Rangga tak tampak memiliki niat untuk menikah lagi. Jadi ibunda Rangga sebenarnya juga terpaksa menjodohkan Rangga lagi.


" Prahasti, sebelumnya saya minta maaf. Saya tidak bisa meneruskan ini. Sebelum semua makin runyam, kita akhiri saja sampai di sini. Kamu boleh mengatakan alasan apa saja pada orqng tuamu dan juga pada ayahanda dan kanjeng ibu. Kalau perlu alasan yang menjelekkan atau memojokkan saya. Saya nggak masalah. Ini demi kebaikan kamu sendiri. "


Prahasti terhenyak mendengar kata-kata datar Rangga. Tak mengira Rangga akan setega itu menolaknya mentah-mentah di kesempatan pertama bertemu. Wajahnya memerah menahan malu dan marah. Dia tak pernah merasa begitu terhina seperti ini. Prahasti langsung berdiri.


"Maaf...." Rangga menatap Prahasti yang tampak kesal dan marah.


Tanpa berkata apa-apa lagi Prahasti meninggalkan Rangga begitu saja. Kakinya menghentak lantai dengan keras. Hilang sudah sikap lembut dan elegan yang sejak tadi diperlihatkan gadis itu.


" Boss?" Bayu masuk ke ruangan dimana Rangga masih duduk disana sendiri. Pria itu baru saja melihat Prahasti keluar ruangan sambil menangis.


" Jangan tanya lagi Bay, apa kamu ingin ada Rahajeng yang ke dua? Apa kamu sudah lupa penderitaan kami gara-gara perjodohan seperti ini ? Haruskah aku mengulanginya lagi Bay?"" Rangga berkata tanpa menatap Bayu.


Bayu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tentu saja tidak boss. Aku adalah orang yang paling sedih melihatmu menderita. Dalam hati Bayu bicara, tapi dia yakin bossnya itu tahu isi hatinya. Dan sekarang Bayu harus bersiap melaporkan yang terjadi pada ayahanda dan ibunda Rangga.


" Bilang pada kanjeng ibu, agar memberiku waktu sebentar lagi. Aku akan melakukan segalanya untuk membawa calon permaisuriku sendiri ke hadapan ayah dan ibu."


" Kok saya yang harus bilang boss?" Bayu menyela.


"Halah Bay...ngga usah pura-pura lagi. Apa kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu selama ini jadi mata-mata ayah dan ibunda?" Rangga mendengus.


Bayu meringis sambil mengusap tengkuknya. "Maaf boss, saya nggak bisa menolak tugas negara...hehehe..."


" Dasar penghkianat..." Rangga pergi meninggalkan Bayu yang kemudian tergopoh-gopoh menyusulnya.


" Jadi sejak kapan kamu melaporkan semua kegiatanku pada orangtuaku?" Rangga masih kesal dan menginterogasi Bayu.


" Itu..anu...sejak....lama boss" Bayu terbata-bata. Habis sudah. Bisa kacau kalau begini. Dia tak akan bisa memata-matai Rangga lagi.


" Apa beliau berdua tahu juga tentang Rani?" tanya Rangga.


" Tidak boss, khusus masalah Rani sedianya saya akan memberitahu sinuwun dan ibunda boss saat sudah yakin dan pasti tentang hubungan kalian. Tapi...." Bayu tak melanjutkannya lagi melihat wajah Rangga yang mulai berembun saat nama Rani disebutkannya. " Jadi saya belum memberitahu beliau berdua" sambung Bayu. Kalian keburu putus, lanjut Bayu dalm hati.


Rangga termenung. Bagaimana kabarmu baby? Hatinya kembali mengharubiru. Rindu dan perasaan tak berdaya membuatnya luluh lantak. Mati-matian menahan embun yang hendak turun menjadi hujan dari netranya. Wajah jelita itu sudah menjadikannya pria cengeng yang begitu mudah menangis hanya karena sebuah nama.


Di dalam sebuah mobil mewah yang membelah jalan raya, Rani merasakan ulu hatinya tiba-tiba perih. Dan seraut wajah tampan terlintas dalam benaknya. Kangmas, apa kabarmu? Air matanya luruh begitu saja tanpa bisa lagi terbendung.


Hampir sebulan dia menyibukkan diri demi melupakan kenangan indahnya bersama Rangga.. Tapi semua sia-sia. Nama itu sudah terlalu dalam berakar sejak puluhan tahun lalu. Dan tampaknya tak akan pernah bisa tercabut dari kedalaman hatinya.


Hari-hari dilaluinya dengan berpura-pura ceria di depan keluarganya terutama mama dan papa. Tetap bercanda, menyapa dengan gembira seperti biasa. Namun saat sendiri di kamar, atau seperti saat ini, air matanya akan mengalir deras menyampaikan rindunya yang terlarang.


"Bagaimana aku bisa melupakanmu?" bisiknya. Apakah aku sanggup bertahan berpura-pura seperti ini seumur hidupku? Matanya buram tertutup air mata. Hingga saat berpapasan dengan sebuah mobil lain yang hendak berbelok, Rani terkejut dan mengerem mendadak menghindari tabrakan, mobilnya oleng dan menabrak pohon di kiri jalan. " Aaaahhh...!!" Rani menjerit.

__ADS_1


Rani memejamkan matanya. Kepalanya agak nyeri terantuk kemudi.


" Rani....baby....kamu baik-baik saja sayang?" Rani bergeming mendengar suara yang begitu dirindukannya. Ya Tuhan saking rindunya aku sampai berhalusinasi. Rani bergumam dalam hati.


Rani masih enggan membuka mata. Namun kaca mobil yang diketuk terus-menerus membuatnya terpaksa membuka mata dan menoleh ke arah ketukan itu.


" Buka pintunya baby...."


" Tolong buka pintunya Rani"


Suara-suara itu membuatnya pelahan sadar. Dan saat membuka pintu mobil,Rani terpaku ditempatnya. Matanya nanar melihat sesosok tubuh berdiri tegak dihadapannya. Air mata kembali menggenang di pelupuknya yang terasa panas dan pedih.


" Kangmas..." bisiknya hampir tak terdengar. Sebuah tangan yang lembut dan halus menariknya ke dalam pelukan. Merengkuhnya erat dan hangat. Membelai rambutnya dan menciumi puncak kepalanya penuh perasaan. Ini bukan mimpi kan?


Rani terhanyut. Tak bisa berpikir lagi. Membiarkan tubuh mengikuti kata hatinya. Makin dalam membenamkan wajahnya di dada bidang yang hangat itu. Menciumi aroma favoritnya yang seakan sudah seabad tak dirasainya lagi.


Bayu melengos membuang pandangannya. Sudut matanya ikut berembun. Sisi hatinya ikut merasakan pedihnya rasa yang terhalang jurang dan aral diantara dua insan yang kini saling mendekap erat. Meluapkan semua rindu yang seakan hendak meledakkan kedua hati yang saling cinta namun dipisahkan keadaan.


" Bay bawa mobil Rani ke bengkel. Biar Rani ikut aku saja." titah Rangga.


Bayu mengangguk dan segera memasuki mobil Rani yang ringsek di bagian kiri depan. Namun tak terlalu parah , masih bisa dijalankan.


Pelahan mobil Rani yang dikemudikan Bayu meninggalkan tempat itu.


Rangga mengajak Rani masuk ke mobilnya sambil tetap memeluknya seakan takut gadis itu hilang. Kemudian mengemudikan mobilnya melesat cepat ke apartemennya. Begitu tiba di apartemennya, Rangga mendudukkan Rani di sofa. .


" Apa ada yang sakit? Kamu baik-baik saja baby?" Rangga menangkup pipi Rani yang halus bak pualam.


Rani menatap Rangga penuh rindu membara. Rangga tak kalah bergelora , rasa sakit itu kini menjelma jadi gelombang yang menggulung keduanya dalam pusaran keputus asaan. Menyerah pasrah pada keinginan dan hasrat mereka yang terpendam. Melahirkan keberanian dan ketidak pedulian mereka akan segala hal.


Apa yang akan terjadi nanti atau esok hari? Masa bodoh, Rindu ini akan jadi belati yang membunuh mereka dari dalam jika tak segera dilepaskan dan dilampiaskan.


Rangga memeluk erat pinggang gadis itu, menariknya mendekat dan menghimpit tubuhnya. Sementara Rani dengan posesif mengalungkan lengannya ke leher Rangga. Tak ada jarak lagi diantara mereka. Saling mendorong dan membenamkan diri dalam perasaan mereka yang indah namun menyakitkan.


Rangga meraup rakus semua milik Rani yang ada di depannya. Menyesap, menjilat, mel*umatnya tanpa ampun. Sang gadis membalas tak kalah lapar semua yang dilakukan lelakinya. Aku hanya milikmu kangmas, bisik hatinya lirih. Jika harus kiamat hari ini, biarlah aku melampiaskan semua perasaanku padanya. Hati keduanya berbisik menggemakan perasaan yang sama. Erangan dan geraman bersahutan seakan lagu kepedihan yang terungkap dari jiwa keduanya yang sakit tak tertahan.


Rangga hampir saja kalap dan melakukan semuanya, merenggut madu gadis pujaannya, namun ternyata cintanya pada Rani jauh lebih besar dari naf*sunya sendiri. Dia tak ingin merusak berliannya yang sangat berharga. Meskipun Rani tak menolak dan tampak pasrah seakan rela menyerahkan segalanya untuk pria yang dicintainya.


Rangga mengancingkan kembali baju Rani yang sudah terbuka hingga tubuh bagian atasnya hampir terekspos sempurna. Rani memejamkan matanya dan memalingkan wajahnya malu. Rangga tersenyum dan memeluk erat gadis itu setelah merapikan pakaiannya.


"Maafin kangmas baby, kangmas terlalu merindukanmu. Rasanya mau mati saja" keluh Rangga di ceruk leher Rani. Menciuminya dan mencecapnya dengan hati pilu.


Rani mengesah, tak ingin menjawabnya. Hanya ingin menikmati semua yang dilakukan kekasihnya. Nafas keduanya masih memburu. Rangga masih menikmati wangi tubuh gadis itu yang kini duduk di pangkuannya.


" Aku rela mati sekarang juga baby. Begini saja, dalam pelukanmu. Agar kita tak perlu berpisah lagi." Rangga menjatuhkan wajahnya di dada Rani. Gadis itu merem*as rambut Rangga dan menciumi puncak kepala pria itu yang kini tunduk di dadanya. Tubuh keduanya seakan melekat tak terpisahkan. Tangan Rangga seperti gurita merayapi punggung Rani.


Diam berpangkuan beberapa lama tanpa kata. Keduanya seakan meresapi perasaan masing-masing lewat sentuhan dan pelukan. Hingga mereka tak sadar pintu apartemen terbuka dari luar. Tiga pasang mata yang muncul dari balik pintu seketika melebar sempurna melihat pemandangan di depan mata mereka.


" Rangga!!" suara menggelegar penuh wibawa menyentakkan Rangga dan Rani yang tengah terlena.


Rangga pelahan melepaskan pelukannya pada tubuh Rani dan mengangkat wajahnya dari dada gadis itu. Dari atas bahu Rani ,Rangga dapat melihat siapa pemilik suara menggelegar itu. Tapi hatinya tak gentar sedikitpun. Diturunkannya pelahan tubuh Rani dari pangkuannya.


Rani menatap Rangga ketakutan. Apalagi kala tiga orang itu mulai mendekat ke arah mereka. Tangannya mencengkeram erat lengan Rangga.

__ADS_1


" Kangmas...Rani takut..." mata gadis itu mulai berembun.


Rangga menatap lembut wajah jelita itu dan tersenyum menenangkan. " Jangan takut baby, kangmas akan melindungimu. Kangmas nggak akan membiarkan siapapun mengganggumu." Rangga berbisik dekat di wajah Rani. Pria itu kemudian berdiri di depan Rani. Seakan jadi tameng untuk gadis itu. Tubuh ramping Rani terhalang tubuh tinggi dan tegap Rangga.


" Apa-apaan kamu Rangga...Kamu sudah bukan masanya berbuat gila seperti ini. Ingat umur nak...?" Rani menutup mulutnya. Seorang wanita seumuran neneknya menjewer Rangga dan mendorong pria itu dari hadapannya.


" Awwh ampun ibunda, tolong jangan sakiti Rani.." Rangga masih berusaha bertahan di depan Rani namun Bayu dan lelaki bersuara tegas berwibawa tadi menyeret Rangga duduk di sofa. Rangga tak berkutik. Diapit Bayu dan sang Raja, ayahandanya.


Kini Rani berhadapan dengan sang wanita yang tadi menjewer telinga Rangga. Ya, dialah ibunda sang pangeran.


Flash back..


Saat membawa mobil Rani ke bengkel , Bayu mendapat telpon dari ibunda Rangga.


" Bayu, apa yang sudah dilakukan Rangga pada Prahasti, dia nangis-nangis dan ibunya mengadu padaku."


" Maaf kanjeng ratu, Pangeran menolak gadis itu terang-terangan. Meminta gadis itu agar tak bertemu lagi dan mengakhiri perjodohan saat ini juga." Bayu tak bisa lagi mengelak.


" Ranggaaaa...dasar anak itu ya...apa maunya coba? Dimana dia sekarang, aku mau bertemu dia sekarang juga!"


" Emm..anu...itu...boss sekarang masih...itu..." Bayu bingung , haruskah mengatakan pangerannya itu sedang di apartemen dengan Rani?


" Dia di kantor? Aku akan ke kantor dengan sinuwun sekarang juga! " tegas sang ibunda.


" Pangeran sedang di apartemen kanjeng.." Bayu menahan nafasnya. Maaf pangeran, mungkin ini jalan agar kalian bisa bersatu. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Bayu. Jika dengan cara baik Rani dan Rangga tak beroleh restu, mungkin sedikit cara licik akan memuluskan jalan cinta mereka.


" Saya akan antar kanjeng berdua ke apartemen pangeran." putus Bayu akhirnya.


" Baik, kami tunggu kamu sekarang juga." Ibunda Rangga menyetujui usulan Bayu untuk mengantar mereka, mengingat mereka belum pernah berkunjung ke apartemen yang baru di beli Rangga beberapa bulan lalu itu.


Tak lama berselang, Bayu sudah berada di istana untuk menjemput ayahanda dan ibunda Rangga. Bayu sengaja tidak mengatakan apapun kepada kedua orang tua itu tentang Rangga yang kini sedang bersama Rani.


" Bayu, kenapa Rangga menolak Prahasti. Kurang apa dia? Cantik, berpendidikan dan jelas bibit bebet dan bobotnya." Ibunda Rangga menggerutu. Ayahandanya cuma terdiam. Sudah lama mereka putus asa mencarikan jodoh untuk Rangga.


"Nyuwun pangaksami (mohon maaf) kanjeng, dulu Den Ayu Rahajeng pun sama. Tapi apa Den Mas Rangga bahagia menikah dengannya?"


Kedua orang tua itu tak menjawab. Wajah keduanya tampak muram dan putus asa. Mereka hanya diam sampai tiba di apartemen Rangga.


Bayu segera membuka pintu dengan pass card yang dimilikinya. Rangga memang memberikan pass card pada Rangga untuk mempermudah akses asistennya itu.


Flash back off


***********


O..o...Rangga ketahuan...ketemu lagi sama si Rani....


Apakah rencana Bayu akan berhasil atau malah kacau dan berantakan? Apa yang sebenarnya direncanakan Bayu untuk mempersatukan junjungannya dengan sang gadis pujaan?


Terima kasih untuk yang masih mau membaca kisah Rani dan Rangga...Yang murah hati memberi hadiah, poin dan koin, like serta komentar. Kalian adalah bayaran jerih payahku menulis. Karena sumpah demi apa...author sama sekali belum pernah menerima sepeserpun dari MT dan NT meski sudah nulis ratusan part...✌✌...serius ini.


So, jangan pelit bayarin author pake like n komen ya...Love u..


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2