Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
# Menggali diri


__ADS_3

Hari itu cukup sibuk. Sasi dan Tommy lembur hingga pukul 19.00. Mereka akhirnya makan malam di sebuah resto yang mereka lewati dalam perjalanan pulang.


Tommy mengemudikan mobil keluar restoran saat ibu menelpon Sasi. Gadis itu menyentuh tombol loud speaker sehingga Tommy dapat mendengar suara ibu.


" Lembur Sas, kok belum pulang?" tanya ibu.


" Iya nih bu, banyak kerjaan . Ini baru saja makan sama mas Tommy. Habis makan Sasi langsung pulang" jawab Sasi.


" Ya sudah. Cepet pulang . Bilang Tommy, hati-hati dijalan ya.." ibu lalu menutup panggilannya.


Sasi tersenyum dan menoleh ke arah Tommy. Calon suaminya itu juga tersenyum sambil terus mengemudikan mobil .


"Kita mampir apartemen sebentar ya? Aku mau mandi sama ganti baju. Lalu antar kamu pulang" Tommy mengarahkan kemudi ke apartemennya.


" Mas nggak ke mbah Ageng lagi?" tanya Sasi.


" Iya habis ngantar kamu langsung ke mbah Ageng, makanya aku mau mandi dan ganti baju dulu. Biar nanti gak kelamaan."


" Jadi sekarang mas percaya dukun nih?" Sasi tertawa meledek Tommy.


Pria tampan itu cuma tersenyum tipis.


" Kalau dukunnya seperti mbah Ageng, terpaksa mas cabut pernyataan bahwa mas gak percaya dukun." jawab Tommy mendengar ledekan Sasi.


" Memang apa bedanya mbah Ageng dengan dukun-dukun yang lain?" Tanya Sasi masih denga nada sedikit meledek.


" Mas nggak mau ngomong kalau kamu masih aja ngeledek begitu." Tommy merajuk.


" Hahahaha....oke deh. Ngga akan ngeledek lagi. Cerita dong, kehebatan mbah Ageng yang bikin mas bossku jadi percaya dukun."


" Nanti saja. Takut kamu nggak percaya dan malah mikir yang nggak-nggak. Kamu percaya mas kan? Aku nggak akan sembarangan percaya hal-hal yang tanpa bukti kecuali kulihat dengan mata kepalaku sendiri"


" Wahh..jadi tambah penasaran. Emang mas diajari ngapain sih? "


Tiba-tiba Tommy mendapat ide untuk menjahili Sasi.


" Hmm..jangan kaget ya...mas diajarin ilmu pelet dan santet..." Tommy mendesis lirih.


Sasi langsung tercekat dan melotot ke arah Tommy.


" Mass...?? Yang bener?. Ihh...kalau gitu ngga usah datang lagi mas. Apaan ilmu begituan diajarin. Emang mas mau melet siapa, mau nyantet siapa.? Mau-maunya belajar ilmu kaya gitu.." Sasi langsung cemberut kehilangan mood.


Dia memang tak percaya hal-hal seperti itu. Tapi begitu melihat Tommy yang sangat tertarik dan bersemangat membicarakan mbah Ageng, mulai timbul keraguan di hatinya.


Jangan-jangan ilmu-ilmu seperti itu benar-benar ada. Jangan-jangan mbah Ageng benar-benar menguasai ilmu seperti itu lalu mengajarkannya pada Tommy...Ya ampuun aku nggak mau suamiku jadi dukun santet dan dukun pelet. Amit-amiit jabang bayii..Sasi bergidik ngeri.


Tommy pura-pura cuek. Padahal dia dengan jelas melihat wajah ketakutan Sasi.


" Katanya gak percaya ilmu gaib. Kok takut gitu mukanya? " Tommy mengusap lembut dagu Sasi. Gadis itu menatapnya khawatir. Hehehe...kena juga dikibulin...Tommy tertawa dalam hati.


" Bukan percaya, habisnya mas kaya yang excited banget gitu. Kan aku jadi mikir? Apa hal gaib itu bener ada? Lagian aku nggak mau ya, punya suami tukang santet dan tukang pelet. Big no! Aku gak setuju. Nanti aku yang bilang ibu agar gak maksa mas belajar sama mbah Ageng. Apaan tuh, budaya kok nyantet, ilmu pelet. Pokoknya mas gak boleh terusin!" Sasi mengomel panjang lebar dan menggebu-gebu.


Nafas gadis itu sampai tersengal-sengal. "Mana minum...?" tanyanya sambil mencari-cari botol minuman. Wajahnya tampak cemberut.


Tommy tertawa tergelak melihat wajah kesal Sasi. Diambilnya air mineral dari sandaran belakang joknya lalu diberikannya pada Sasi.


" Beuh..ngomel gak pake rem, sampai kehabisan nafas gitu...hahahaha...lucu kamu yang...yang..." Tommy masih tertawa-tawa sambil mengacak-acak rambut Sasi.


" Maksudnya apa ketawa gitu? Mas beneran belajar ilmu begituan?"

__ADS_1


" Beneran lah...beneran bohong...hahahaha..." Tommy lagi-lagi tergelak.


"Mass! Hufh!" Sasi berteriak sambil.memukul lengan Tommy. Bernafas lega meski hatinya kesal. Kalau saja tidak sedang mengemudi pasti Sasi akan mencubiti habis pacarnya itu.


" Bohongnya gak lucu tahu!" Sasi masih menggerutu.


" Lagian kamu tuh gampang banget sih dikerjain? Coba menurut kamu, buat apa aku jadi dukun pelet ? Mau kirim ilmu pelet buat siapa? Aku sudah dapat calon istri yang paling cantik di seluruh dunia nyata dan dunia maya gini."


'Terus kalau mau jadi dukun santet juga buat apa? Uangku sudah banyak. Gak perlu jadi dukun yamg harus kerjain ritual macem-macem agar dapat uang dari klien. Ogah banget tau. Mau nyantet orang juga gak punya musuh. Jadi ngapain menyusahkan diri jadi tukang santet, susah tau syarat bisa nyantet orang ?"


Tommy tertawa dan menarik Sasi hingga gadis itu bersandar di bahunya. Tangan Sasi melingkar erat di lengannya.Ahh... Kenapa begini saja sudah bahagia banget rasanya ya? Batin Tommy berbisik.


Sasiii...sasii...kadang kamu ini mikirnya kaya anak kecil. Untung cantik..sudah gitu bikin hati adem dan tenang. Dibelain deh biar kekanak-kanakan juga..


Tommy membelokkan mobil ke basement apartemennya. Menggandeng tangan Sasi begitu mereka turun dari mobil dan langsung menuju lift ke lantai atas.


Di dalam lift Tommy merangkul pundak Sasi lembut sambil menciumi puncak kepala gadis itu. Hingga mereka tiba di lantai tempat apartemennya.


Sasi meremang. Ini pertama kali dia datang ke apartemen Tommy sejak dirinya resmi jadi pacar pria itu. Dia pernah beberapa kali kesini namun hanya sekedar duduk di ruang tamu menunggu dokumen ditandatangani atau mengantar dokumen untuk Tommy.


" Masuk sayang, biasakan, ini nantinya jadi rumahmu juga." Suara Tommy membuyarkan lamunannya.


Sasi masuk dan melihat-lihat sekeliling. Kamar yang mewah dengan perabotan serba lux dan otomatis. Namun kesan gelap dan maskulin lebih dominan. Kamar cowok. Bisik Sasi.


Kamu istirahat dulu. Atau mau keliling lihat -lihat? Asal jangan lihat mas boss mandi. Nanti kamu kepengen...hahahaha.." Tommy tergelak sambil melangkah ke kamar mandi.


Sasi cuma mendecak kesal setengah malu mendengar ocehan vulgar Tommy. Dasar orang itu...


Sasi mulai beekeliling, berjalan dari ruang tamu, lebih ke dalam ada ruang keluarga dengan home teathre besar, sebuah bed sofa dan beberapa bantal. Bersatu tanpa sekat dengan ruang makan, ada meja makan dan empat kursi cantik. Dapur juga terlihat dari sini meski sedikit tertutup partisi. Cantik sekali.


Ada tiga kamar disini.Satu kamar utama dan dua kamar berukuran sedang. Ruang cuci dan akhirnya Sasi membuka pintu kaca di ujung ruangan.


" Kenapa? Salah pintu ya?" Tommy tiba-tiba saja sudah memeluknya dari belakang. Harum sabun dan parfum Tommy menguar memenuhi rongga udara Sasi.


" Ehh..kaget tau mas.Cepet pulang yuk!" sergah Sasi canggung.


" Kenapa? Takut boss khilaf ya?" tanya Tommy tanpa melepas pelukannya.


" Iya.." jawab Sasi. Tempatnya mesumable gini. Takut ada setan lewat" Sasi meringis.


" Apa tuh mesumable? tanya Tommy


" Ituu..tenang, dingin...enak buat mesum...hahaha...Sasi tertawa lalu berjalan cepat meloloskan diri dari pelukan Tommy.


Tommy tertawa mendengar celetukan Sasi. Menyusul Sasi yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


" Kamu kaya yang takut banget gitu sayang? Dulu aja sering ke sini kamu santai." Tommy duduk menjejeri Sasi sambil memberikan sekaleng minuman bersoda pada Sasi. Dia sendiri juga mereguk minumannya.


" Makasih" Sasi membuka minuman dan mereguknya.


" Hadeuh...lain mas. Dulu mas kan anti cewek. Lihat cewek kaya yang gak doyan gitu..muka jutek, ngelihat juga enggak...hehehe.." Sasi cengar cengir.


Tommy tertawa. " Gitu ya? Emang sekarang gimana?" Tommy menggoda Sasi.


" Ngga tau ah..ayooo...pulang.." Sasi menarik tangan Tommy mengajaknya berdiri.


Tommy tersenyum , berdiri lalu merangkul Sasi. Berjalan berangkulan dengan Sasi , meninggalkan unitnya menuju lift.


Tiba di rumah Sasi sudah hampir jam sembilan malam.

__ADS_1


Tommy turun dari mobil namun tidak masuk rumah Sasi.


" Pamitin ibu ya...mas langsung ke mbah Ageng. Sudah malam ini." Tommy mengusap pipi Sasi lembut.


Sasi mengangguk. "Hati-hati. Ingat jangan mau diajarin ilmu macam-macam!" ancam Sasi.


Tommy tertawa " Siap ndoro ayu..." candanya sambil berlalu.


Sasi tersenyum dan segera masuk rumah. Sementara Tommy mengemudikan mobilnya cepat ke rumah mbah Ageng.


Suasana sunyi mencekam menyambut Tommy. Namun anehnya Tommy merasa biasa-biasa saja. Bahkan sekarang Tommy memandang sekeliling rumah itu tajam . Kerosak dedaunan yang tertiup angin tak membuatnya takut. Beberapa kali dilihatnya binatang-binatang malam melintas di antara pepohonan.


Tommy merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Seakan ada perasaan haru dan syukur di hatinya bisa melihat semua keindahan alam.ciptaan Yang Maha Kuasa. Bahkan dalam keadaan gelap gulita seperti sekarang.


Perasaan yang tak pernah dirasakannya. Mengingat kehidupannya selama ini bagai roda yang terus berputar. Penuh ketergesaan, ketegangan, intrik, strategi bisnis, saling sikut dan jegal lawan dalam bisnis adalah biasa. Pure duniawi, mengingat Tuhan hanya kala merasa kalah dan tak berdaya.


"Kenapa? Merasa kalau jarang bersyukur pada Sang Pemberi hidup?" Mbah Ageng tiba-tiba sudah berdiri di samping Tommy.


Tommy menoleh, lalu menyalami orang tua itu.


" Sugeng dalu (selamat malam)mbah" Tommy mengucap salam dengan sopan.


Mbah Ageng berjalan ke arah halaman samping rumahnya. Terus menelusuri jalan kecil di tengah rimbun tanaman dan pepohonan. Menuju ke pendopo di halaman belakang rumahnya.


Tommy mengikuti langkah pria tua itu dengan hati-hati.


Dan seperti kemarin , keduanya kemudian duduk bersila berhadapan di lantai pendopo yang dingin.


" Bagaimana, sudah kamu pikirkan ucapan mbah kemarin? Kamu ke sini berarti kamu sudah memutuskan akan meneruskan belajar kawruh( pengetahuan) kejawen kan?"


" Iya mbah" jawab Tommy singkat.


" Syukurlah kamu sadar kalau ini penting. Bukan cuma buat Sasi tapi juga buatmu sendiri."


" Iya mbah. Tapi terus terang saya malah agak takut mbah. Kemarin..." Tommy lalu menceritakan kejadian kecelakaan yang dilihatnya dan juga kejadian saat dia bisa melihat Reza dan Sasi dari balik pintu.


"Mbah Ageng tertawa terkekeh. Jadi kamu sudah sadar kalau kamu itu punya kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.?" tanya mbah Ageng.


" Bagaimana bisa semua begitu saja saya kuasai. Saya kan nggak pernah belajar. Dan selama ini saya tidak punya kekuatan apa-apa. Bagaimana bisa sekarang saya jadi punya banyak kelebihan?" Tommy mengutarakan keheranannya pada mbah Ageng.


Lagi-lagi pria itu tertawa. " Bukan tiba-tiba sakti Bastomiii. Kamu itu sudah punya kelebihan sejak dulu, tapi tidak tahu dan tidak bisa menggunakannya. Nah sekarang kamu sadar dan tahu cara menggunakan kekuatan batinmu. Itulah yang terjadi."


" Saya maaih belum percaya mbah" jawab Tommy ragu.


" Apa ini akan bermanfaat atau malah mengganggu saya nantinya." Tommy menunduk.


"Jangan bingung dan stress menghadapi ini. Biarkan mengalir saja. Ikuti kata hatimu. Berlatih menggunakan semua kekuatan yang kau miliki. Berlatih menyimpannya bila tak perlu dan mengeluarkannya di saat mendesak. Nanti mbah Ajari caranya." mbah Ageng menepuk-nepuk bahu Tommy.


" Apa saya bisa mbah. Saya nggak sanggup kalau suruh ritual yang macam-macam. Mending nggak usah belajar ilmu begini kalau harus menyusahkan diri." Tommy menyampaikan isi hatinya.


" Ritual opo? Paling mbah suruh kamu puasa tiga hari menjelang pernikahanmu. Mosok sekuat kamu gak bisa puasa?" Mbah Ageng menjelaskan pada Tommy


" Kalau cuma puasa sih saya sanggup mbah" Sahut Tommy cepat.


Mbah Ageng tersenyum. " Ayo pelajaran kedua kita mulai."


" Baik mbah, saya siap" jawab Tommy lalu mulai bersiap menenangkan diri. Memasrahkan diri pada Yang Kuasa.


.

__ADS_1


__ADS_2