Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Memburu Pengganggu


__ADS_3

Sore itu setelah menyelesaikan pertemuan dengan klien dari Jepang, Tomy dan Sasi tidak kembali ke kantor tapi langsung pulang.


" Yaang...langsung pulang ke apartemen ya. Tadi aku sudah suruh Baskara panggil orang untuk ambil barang-barang kita yang mau dibawa ke apartemen."


" Kan belum pamit ibu sayang.." Sasi membelai rambut Tommy yang saat ini sudah berbaring di pangkuannya.


" Kemarin kan sudah pamit mau pindah hari ini?" Tommy menyusupkan wajah ke perut istrinya


" Tapi tetap harus pamit hari ini sayang. Masa langsung ngilang begitu saja. Kasihan ibu nanti pasti mikir macam-macam." jawab Sasi.


" Iya..iya...nanti kita pulang ke rumah dulu pamit ibu. Tapi malam tidur di apartemen ya..? Tommy menatap Sasi dari tempatnya berbaring manja.


Sasi mengangguk. " Mas beneran sakit ini kayanya. Mukanya pucat..manja banget lagi.." Sasi mencubit hidung suaminya.


Tommy tertawa, " Iya yang...demam cinta...hahahaha..." Tommy memang merasa tenaganya terkuras sejak dirasuki mbah Ageng tadi, namun di tahannya saja karena tak mungkin mengatakannya pada Sasi.


" Huss...didengar Jono tuh! " sergah Sasi


" Biarin. Salah sendiri, hobby kok jomblo..!"


Jono memgelus dadanya Sudahlah dipameri adegan 18++ tiap hari, sekarang ditambah pula diolok dan diejek-ejek. Boss memang nggak ada akhlak. Untunglah boss nggak pelit dan suka ngasih bonus. Jadi Jono tetap betah jadi sopir pribadi Tommy.


Sampai di apartemen, sudah ada beberapa box dan koper tersusun di ruang tamu. Itu adalah barang-barang yang sudah dirapikan Sasi tadi malam untuk dibawa ke apartemen..


Sasi hendak menata barang-barang itu, namun Tommy malah menarik pinggangnya dan memeluknya erat. Kemudian tanpa ampun mengecupi seluruh wajah istri cantiknya itu, berakhir memagut bibir merah muda yang selalu menggodanya itu.


Sasi melenguh saat Tommy mulai menyusuri lekuk lehernya dan turun ke bahu mulus istrinya mendorong blouse yang dikenakan Sasi dengan tangannya hingga terlepas dan menyisakan tubuh topless Sasi.


" Ahh ...kamu ternyata memang cuma demam cinta sayang..." bisik Sasi ketika Tommy merebahkannya ke sofa ruang tamu.


Tommy menyeringai, siap menerkam istrinya .


" Emmm...sudah lama pengen bercinta disini baby...." Tommy melepas kemejanya sendiri lalu mengarahkan tangan Sasi untuk membuka sisa pakaiannya yang lain.


Wajah Sasi memerah. Tetap saja ia merasa malu setiap kali Tommy berdiri polos dihadapannya meski sudah tak terhitung dia menggeluti tubuh gagah itu.


Segera saja ruang tamu apartemen itu bergemuruh oleh suara percintaan mereka.


" Sasi....I love you....argh...ahh..." Tommy berteriak di sela hasratnya memacu Sasi.


" Sah...yang...jangan teriak-teriak.." Sasi menutup mulut Tommy...suaminya tak peduli.


" Aaargh...Sasiii....kamu cantik sayang...uugh.." lagi-lagi Tommy berteriak sambil melenguh saat Sasi meliukkan tubuh diatas pangkuannya. Wajahnya menyusupi dada istrinya hingga Sasi menggeliat dan mendongakkan kepalanya ke atas karena tak tahan merasakan kenikmatan yang diberikan suaminya.


"Aahh...Tommmyy....sayaang..." Sasi meneriakkan nama suaminya saat tubuhnya melayang mencapai nirwana, lalu terkulai di pangkuan suaminya, bersamaan dengan Tommy memuntahkan seluruh hasratnya.


" Sasiiii....ahh..sayang...!" Tommy mendekap erat tubuh istrinya di pangkuannya.


" Gilaaa..luar biasa...!"Keduanya tertawa sambil mengatur nafas.


Bercinta sambil berteriak bebas membuat jiwa mereka seakan lepas dari belenggu. Di sini mereka bebas melampiaskan hasrat mereka tanpa takut mengganggu ketenangan penghuni lain.


Dinding apartemen yang dibuat kedap suara dan hanya mereka yang tinggal di sini, seakan mewujudkan keinginan mereka tentang dunia milik berdua...Yeahh...


Mereka masih asik berpelukan dan berpangkuan meresapi sisa kenikmatan bercinta ketika tiba-tiba pintu apartemen terbuka dari luar.


" Dam'n! ****...!! Gilaaa!! " Baskara berteriak kaget, lalu buru-buru keluar dan menutup pintu lagi. Setan!! Jin, Demit...semua umpatan keluar dari mulutnya mendapati pemandangan paling gila yang pernah dilihatnya.


Tommy dan Sasi yang juga kaget mendengar teriakan Baskara cuma bisa saling menatap pasrah. Sudah tertangkap basah, mau apalagi.


Tommy berdiri tanpa melepas pelukannya pada istrinya. Menggendong Sasi melangkah cepat ke kamar mandi di kamar mereka. Di sana mereka tertawa-tawa geli membayangkan Baskara melihat mereka dalam keadaan ...yah...begitulah...


" Keterlaluan kalian ! Main di sofa nggak kira-kira!" rutuk Baskara saat mereka sudah bersama di ruang tengah.


" Salah sendiri kamu masuk rumah orang sembarangan.!" balas Tommy cuek.


" Heh mas, sejak kapan aku ijin dulu masuk ke sini? Mana ku tahu kalian sudah di rumah sesore ini. Mana ku tahu kalian lagi mantap-mantap di sofa. Banyak kamar juga malah main di sofa...dasar gendeng..." Baskara mengomel panjang lebar. Tommy terkekeh tak tahu malu.


Sasi pura-pura tak mendengar. Mukanya merah menahan malu , sesekali di sembunyikannya dibalik punggung suaminya.. Dia sibuk menggonta-ganti chanel televisi padahal tidak melihatnya. Ish!!


" Ngapain kamu ke sini?" tanya Tommy.

__ADS_1


" Ehh..sejak kapan ke sini harus pakai alasan?" Baskara sewot .


" Sejak sekarang. Mau ke sini harus ijin dulu. Kalau nggak, terserah saja. Jangan salahkan kalau kamu akan sering melihat yang kaya tadi.." Tommy tertawa.


Baskara mendengus kesal." Dasar ngga ada akhlak. Mentang-mentang sudah punya istri!"


" Emmm...makasih ya Bas..sudah bantu angkat barang-barang dari rumah.." Sasi akhirnya angkat bicara setelah bisa mengatasi rasa malunya.


" Sama-sama cantik... Tuh aku cuma antar makanan dari ibu. Ibu tuh kuatir kalian kelaparan. Sasi kan nggak bisa masak" Nada bicara Baskara masih kesal, namun tak tega bicara ketus pada Sasi.


" Ah ibu....padahal kan bisa pesen online. Gak bakalan kelaparan. Lagipula nanti kami masih pulang sebentar kok Bas, mau pamit ibu" Sasi menjawab lirih. Dia tahu ibu belum rela melepasnya keluar dari rumah.


" Iya sebaiknya begitu. Ibu kelihatan sedih. Ya sudah aku mau langsung pulang saja. Kalian silakan lanjutkan acara mantap-mantapnya." Baskara melempar bantal sofa ke arah Tommy.


Kakaknya yang tengah ndusel-ndusel( menyusup dan mengendus...baru ketemu terjemahannya ) ke tubuh Sasi itu cuma tertawa melihat kekesalan Baskara.


" Bisa gila aku lihat kalian disini" Baskara masih menggerutu sambil melangkah ke pintu apartemen.


Tommy dan Sasi terkekeh melihatnya. " Ke rumah ibu sekarang saja yuk!" ajak Sasi


" Boleh...tapiii....main dulu sekali lagi... ya...?" tanpa menunggu jawaban Sasi, Tomny melucuti strinya dan menariknya berdiri bersandar ke dinding.


Sasi menjerit kaget ketika tiba-tiba saja Tommy mengangkat tungkainya dan menyatukan mereka saat itu juga.


" Aaahh...Tommy...gilaaa..." teriak Sasi merasakan hentakan tiba-tiba dari Tommy..


Tommy mendengus sambil tertawa mesum. "Aku tahu kamu sudah siap sayang..sudah basah" nafasnya memburu...


" Gimana ngga basah...mas ndusel-ndisel terus...emmh...." Sasi mengerang, menumpukan tangannya ke bahu gagah sang suami yang memacunya penuh gairah.


" Kamu yang bikin mas pengen mesum terus...ahh" Tommy mendongakkan kepalanya, memejamkan mata , sementara Sasi menggigit bahu suaminya ketika gelombang nikmat membuncah menggulung keduanya dalam pusaran bahagia...


Malam itu juga mereka kembali berpamitan pada ibu...


" Bu...mulai malam ini kami pindah ke apartemen ya..Ibu ngga usah khawatir. Sasi nanti pelan-pelan belajar masak. Sementara makan pesen online dulu...hehehe...ya mas?" Sasi menatap Tommy mesra.


Suaminya yang baru mendapat asupan nutrisi jiwa cuma tersenyum mengangguk. " Apapun untukmu sayang..."


" Iya...ibu nggak papa kok. Baik-baik ya Tom. Jaga Sasi untuk ibu. Sering-sering mampir rumah ya Sas...?"


" Iya Bu..." Jawab Tomy dan Sasi bersamaan.


Sepulang dari rumah ibu, Sasi dan Tommy duduk berdua di sofa balkon. Sasi berbaring dengan berbantal paha suaminya.


" Yang , kalau mas bilang Rangga yang ada di dalam mimpi kamu itu benar-benar ada, kamu percaya nggak?" Tanya Tommy sambil membelai lembut pipi Sasi.


" Nggak lah...aku nggak pernah ketemu dia di alam nyata, berarti dia nggak ada" jawab Sasi santai.


" Kalau mas bilang Rangga itu makhluk gaib, jadi gak bisa dilihat di alam nyata cuma bisa dilihat di dalam mimpi atau di alam bawah sadar, kamu percaya nggak?" lagi Tommy mencoba mengenalkan Sasi pada dunia gaib.


Sasi malah tertawa terkekeh. " Aduh mas, nggak banget sih pertanyaannya...gak ada yang lain apa?"


Hufft...Tommy mengesah. Mentok, jalan buntu. Sasi tak akan pernah mengerti ataupun belajar memahami tentang dunia lain ini.


Padahal Tommy ingin setidaknya Sasi menyadari bahwa dirinya kini sedang diintai oleh makhluk astral yang begitu terobsesi padanya. Tommy ingin istrinya itu setidaknya waspada akan bahaya tak kasat mata yang selalu mengikuti langkahnya. Namun sepertinya memang dirinya lah yang harus selalu melindungi istrinya itu dari hal-hal diluar nalar yang mengganggu Sasi


Istrinya itu sama sekali tak biaa menerima apapun di luar logikanya. Logika Sasi benar-benar tak bisa menerima apapun yang berbau gaib. Bagi Sasi gaib berarti tidak ada. Dan Alam lain itu cuma dongeng semata. Titik


Sudahlah ...Tommy tak mau lagi memaksakan Sasi untuk mengerti.


Esoknya Sasi dan Reza bertugas bersama menemui klien.


" Za, kamu sama Sasi yang ke Semarang ya. Kita bagi tugas. Saya mau ketemu klien dari Singapore. Dia mau langsung ketemu saya." Tommy membagi tugas pada Reza dan Sasi.


" Siap pak!" jawab Reza.


" Baik mas!" Jawab Sasi.


" Ingat Za , jaga jarak. Istri boss ini, jagain jangan sampai lecet, tapi jangan dekat-dekat!" titahnya tegas.


Reza dan Sasi malah tertawa tertahan.

__ADS_1


" Mas, jangan lebay deh!" Sasi tertawa.


Tommy langsung menarik pinggang istrinya itu dan memeluknya mesra di depan Reza. Sasi Benar-benar malu. Apalagi ketika dengan cuek Tommy memagut Sasi penuh perasaan.


Reza memalingkan wajahnya. Bosnya itu benar-benar gila. Dengan menutup mata, Reza keluar dari ruangan Tommy.


Sementara Tommy sudah melepaskan pagutannya.


Sasi mencubit pinggang Tommy. " Kamu gila ya mas?"


" Biar ingat terus, ada mas nunggu kamu disini..jangan lihat cowok lain!" Tommy mengecup mata Sasi. " Jangan senyum ke cowok lain" mengecup bibir Sasi.


Sasi tertawa. " Ngga ada cowok lain. I'm yours hubby.." Bisik Sasi, mencium suaminya penuh cinta. Tommy tersenyum.


" Love you..." bisik Sasi.


" Love you more" balas Tommy. Dan drama perpisahan beberapa jam itu berakhir.


" Aku jadi takut sama bos Sas. Mau berpisah sehari saja kaya mau pisah tahunan.Padahal pergi sama aku, kaya takut istrinya hilang ..."Reza bergidik mengingat tingkah posesif Tommy pada Sasi.


"Jangankan sama kamu, sama adiknya sendiri dia cemburu Ja.." keluh Sasi. " Tapi gimana lagi, aku juga cinta sama dia.." Sasi tersenyum.


Reza memdengus kesal. " Dasar bucin!" keluhnya. Sasi cuma tertawa . Baginya sudah biasa melihat dan merasakan perlakuan yang kadang berlebihan suaminya padanya.


Sementara Tommy kini sedang melajukan mobilnya sendiri. Jono sengaja dikirimnya menemani Sasi dan Reza agar istrinya lebih aman.


Mobil Tommy membelah jalanan memuju pinggiran kota. Ke rumah mbah Ageng. Dia sengaja tidak memberitahu Sasi hal ini. Karena istrinya itu pasti tak akan mengerti. Bahkan mungkin akan menentangnya.


Sebenarnya Tommy tak sepenuhnya berbohong, nanti sore memang ada pertemuan dengan klien dari Singapore.


Sampai di rumah guru spiritualnya itu Tommy disambut hawa dingin yang menusuk tulang. Mbah Ageng tengah duduk bersila memejamkan mata di tempat kebesarannya.


Tommy duduk di depan lelaki tua itu khidmat. Ikut bersila dan memusatkan diri pada Sang Pencipta.


Tak lama Tommy sudah bisa bertemu dengan mbah Ageng di alam ruh.


" Kamu datang Tom" sapa Mbah Ageng.


" Inggih mbah. Saya tidak bisa mengajak Sasi. Iatri saya itu terlalu polos mbah. Tidak bisa diajak melintas batas raga dan jiwa." keluh Tommy


Mbah Ageng tertawa maklum. " Sudahlah. Memang cuma segitu batas pengetahuan istrimu tentang hal gaib Tom. Mungkin ini yang terbaik baginya. Tugasmu menjaga dan melindunginya."


" Inggih Mbah, saya paham. Sebaiknya apa yang harus kita lakukan pada Rangga? Apa kita harus berperang lagi seperti saat kita menghadapi jiwa Turangga Seta dulu mbah?"


" Ini lebih sulit Tom. Kita harus bisa mengusir Turangga dari tubuh dan jiwa Rangga tanpa melukai pemuda itu. Dia tak bersalah. Nasibnya saja yang sial hingga dirasuki ruh Turangga Seta."


" Bagaimana caranya mbah?" Tommy tak mengerti.


" Sebenarnya ada cara ruwatan untuk membersihkan jiwanya dari pengaruh jahat Turangga Seta. Masalahnya apa Rangga bersedia menjalaninya mengingat jiwanya kini sedang dikuasai Turangga Seta. Makhluk itu pasti menolak ritual pembersihan jiwa seperti itu. kecuali kita memanfaatkan seseorang yang tak bisa ditolak Rangga."


" Maksud mbah Ibunya atau Ayahnya?"


" Benar sekali Tom. Mbah akan coba pengaruhi orangtua Rangga untuk menyelamatkan Putra mahkota mereka dari pengaruh buruk Turangga. Kamu mbah tugaskan mendekati lewat alam nyata agar hasilnya lebih cepat terasa. Kita harus bergegs, sebelum Turangga nekad menjalankan rencana gilanya."


Tommy mengangguk mengerti. Demi Sasi, dia harus melakukan semua yang diperlukan.


Siang itu, sepulang dari rumah mbah Ageng Tomy menghubungi papanya, Barata. Mereka bertemu di kantor Barata.


" Pa..Papa kenal baik sama Rangga kan?" tanya Tommy.


" Oh iya. Papa bersahabat baik dengan Rangga, bahkan papa dikenalkan dengan orang tuanya, Sang Prabu dan Permaisuri. Ada apa?"


" Wah bagus sekali. Papa bisa ngenalin Tommy ke orang tuanya kan? Bukan apa-apa pa, saat ini kami sedang ada proyek bersama. Sekedar tahu saja." jawab Tommy.


" Oh..begitu. Tentu saja bisa. Kebetulan bulan depan ada acara penobatan Rangga sebagai putra mahkota . Papa diundang, kamu boleh ikut agar bisa bertemu orangtua Rangga."


Papa mengajak Tommy. Tentu saja Tommy menyetujuinya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Semoga semua dilancarkan Yan'g Maha kuasa. Sehingga Sasi maupun Rangga segera terbebas dari ancaman makhluk tak kasat mata yang penasaran itu.


**********


Reader tercinta...kisah Tommy , Sasi dan Rangga ini akan segera berakhir. Tapi author nggak mau menggantung cerita. Semua harus tuntas, jadi sabar saja ya...maafkan dengan jadwal up yang byar pet ( hidup segan mati tak mau)

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2