Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Keresahan


__ADS_3

Tommy berada di rumah mbah Ageng. Dua lelaki beda generasi itu sedang menyusun rencana untuk menghentikan Turangga Seta yang kini merasuk ke dalam.jiwa Rangga.


Dengan bantuan Papa , Tommy akan mencoba mendekati dan mempengaruhi orangtua Rangga agar dalam pelaksanaan penobatan sebagai putra mahkota nanti diselipkan acara pembersihan jiwa sebagai sarana untuk mengusir Ruh Turangga Seta yang kini bersemayam dalam jiwa Rangga.


Sementara mbah Ageng akan mempengaruhi orang tua Rangga melalui alam bawah sadar lewat dorongan batin. Memberikan penglihatan kepada orang tua Rangga bahwa putra mereka kini jiwanya sedang dikuasai oleh jiwa penasaran Turangga Seta.


" Saya tidak yakin mbah, soalnya saya tidak mengenal keluarga Rangga. Saya baru mengenalnya sejak dia bekerja sama dengan saya dalam pembangunan pabriknya. Itu pun kalau dihitung baru tiga kali saya bertemu Rangga. Sedangkan orang tuanya malah saya belum.tahu sama sekali"


"Sebenarnya dalam acara penobatan biasanya sudah termasuk acara pembersihan jiwa. Nanti mbah akan hadir disana, agar saat acara mbah bisa menambah kekuatan pemangku adatnya sehingga bisa benar-benr membersihkan jiwa Ragga dari segala pengaruh buruk, baik duniawi maupun astral seperti Turangga Seta itu.


" Apakah mbah Ageng perlu undangan agar bisa hadir dalam acara, nanti saya usahakan." Tommy.


" Ndak perlu, mbah malah mau pinjam wadakmu ( ragamu) saja. Kita bisa mengerahkan kekuatan bersama menggunakan wujudmu. Kemarin saat kita memasuki Rangga untuk melihat isi jiwanya,mbah sempat merasakan kekuatan mbah berlipat kali lebih besar saat berada dalam tubuh dan jiwa"mu. Jadi kita bisa bekerja sama Tom" jelas Mbah Ageng panjang lebar."


" Baik mbah, saya menurut saja. Apa yang menurut mbah baik, saya akan mengikutinya, yang penting masalah Turangga Seta ini benar-benar tuntas mbah, agar tenang hidup saya dengan istri saya"


" Iya Tom, mbah sendiri juga tidak akan tenang kalau masalahmu ini tidak tuntas.


Acara itu masih seminggu lagi. Dan hari ini Tommy akan menemui Rangga untuk membicaraka lebih lanjut tentang proyek bersama mereka.


Sebenarnya Tommy bermaksud mengajak Reza saja dalam pertemuan dengan Rangga, namun ternyata ada pekerjaan lain yang harus dilakukan Reza di luar kota, dan Tommy tak mau Sasi yang harus pergi ke luar kota, jadi terpaksa Tommy mengajak Sasi bertemu Rangga siang ini.


" Ayo berangkat sayang...sudah hampir jam satu." Sasi masuk ke ruangan Tommy, sudah siap ke kantor perusahaan Rangga.


" Sini dulu yang..." Tommy menepuk pahanya. Sasi tersenyum menggelengkan kepalanya. Dia sudah tahu sejak awal Tommy tak nyaman jika Sasi bertemu Rangga. Namun Tommy juga tak bisa pergi sendiri. Banyak data dan dokumen yang harus dipersiapkan. Tommy tak mungkin menanganinya sendiri.


Sasi melangkah mendekati suaminya. Tommy sudah menekan tombol lock pada remote pintu ruangannya. Dengan gerakan menggoda Sasi naik ke pangkuan suaminya yang sudah menyambutnya dengan merentangkan tangannya.


" Tadi pagi kan sudah, masa masih kurang?" Sasi mengalungkan tangan ke leher suaminya. Lalu mulai mencium lembut bibir Tommy. Disambut Tommy dengan lu ma tan rakus dan sedikit kasar. Seakan mengungkapkan kegundahan hatinya. Bahkan Tommy mencium


Sasi dengan suara menggeram dan melenguh keras..


Sasi membalas penuh gairah. Dia ingin kegundahan di hati Tommy lenyap karena yakin istrinya itu sangat mencintainya. Meladeni ciuman menuntut Tommy dengan balasan gairah, sehingga saat Tommy melepaskan ciuman mereka hatinya terpuaskan. Wajah lelaki itu merona kemerahan. Senyum kepuasan tersungging di bibirnya yang sedikit bengkak dan memerah seperti istrinya.


" Ohh...vitamin siangku sangat nikmat" bisik Tommy sambil mengecup telinga istrinya.


"Sudah dapat vitamin, siap berangkat?" bisik Sasi dengan bibir menempel di bibir suaminya. Tommy mengecup Sasi dalam, lalu mengangguk pasti.


Sasi merapikan dasi dan rambut Tommy yang berantakan. Lalu turun dari pangkuan suaminya dan merapikan pakaiannya yang tak kalah amburadul. Keduanya bertatapan lalu tertawa bersama.


" Lipstickmu habis yang...hahaha" Tommy lalu mengambil lipstick Sasi yang ada di lacinya dan memulasnya di bibir Sasi dengan hati-hati.


Sasi tersenyum. " Sudah rapi?" tanyanya saat Tommy selesai. Suaminya mengangguk dan mengembalikan lipstick ke laci. Keduanya kemudian keluar dari ruangan beriringan. Tommy membawa tas laptop, sementara Sasi membawa tas dokumen. Tangan Tommy melingkari pinggang istrinya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, di mobil mereka masih membicarakan proyek mereka dengan Rangga yang nilainya memang besar. Hingga tak terasa mereka telah sampai di gedung kantor Rangga.


Sudah ada staff yang mengantar mereka ke ruangan Rangga. Dan saat memasuki ruangan, Rangga dan Bayu asistennya sudah siap menyambut mereka.


Rangga berdiri dan menyalami tangan Sasi. Matanya berbinar penuh damba. Menatap tanpa berkedip wajah di depannya bagai seorang kekasih yang lama tak berjumpa. Menggenggam tangan lembut Sasi dengan senyum secerah mentari. Sasi sampai jengah dan salah tingkah. Namun tak bisa bersikap kasar ataupun marah. Sabar Sasi...keluhnya dalam hati.


Sementara Tommy sudah mengepalkan tangannya erat-erat. Sabar Tom...tunggu tanggal mainnya. Jangan gegabah, jangan mengundang amarah makhluk biru di dalam tubuh pemuda ini. Agar tidak mengacaukan rencana untuk mengusir makhluk penasaran itu untuk selamanya. Kata-kata mbah Ageng terngiang di kepalanya. Hingga kepalan tangan yang mengeras pelahan mengendur, dan menghembuskan nafas pelahan sebagai pelampiasannya.


Namun tak urung Tommy pun maju ke depan dan mengulurkan tangannya. Sehingga dengan terpaksa Rangga melepaskan genggamannya pada tangan Sasi dan juga tatapan kerinduannya pada istri Tommy. Kemudian membalas uluran tangan Tommy dan menggenggamnya sesaat.


" Silakan duduk Pak Tommy dan mbak Sasi.." Bayu menyilakan kedua tamu mereka duduk.


Beberapa saat kemudian mereka sudah terlibat dalam pembicaraan yang serius. Hampir satu jam kemudian mereka baru selesai. Dan mereka sepakat pelaksanaan proyek kerja sama mereka akan dimulai dua minggu kemudian setelah semua draft kerja sama mereka selesai disusun.


Saat mereka sudah berbincang santai, Rangga masih sempat menanyakan kabar Barata pada Tommy.


" Papa baik Pak Rangga, oh iya malah saya diajak datang ke acara penobatan pak Rangga minggu depan"


" Oh saya senang sekali kalau pak Tommy dan Sasi datang. Sebenarnya saya juga sudah menyiapkan undangan untuk kalian berdua. Syukurlah kalau pak Barata sudah menyampaikan pada kalian."


" Sebenarnya saya juga kurang nyaman dengan acara besar-besaran seperti ini, tapi saya juga tidak bisa mengabaikan adat yang harus dijunjung tinggi." kata Rangga.


" Saya maklum, dan malah salut Pak Rangga masih menjaga nilai luhur kebudayaan kita. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan warisan mulia leluhur kita?"


" Saya dulu juga cuek dan tidak peduli Pak, namun ada satu peristiwa yang membuat mata hati saya terbuka. Bahwa tidak selamanya pengetahuan tentang leluhur itu kuno dan tidak bermanfaat. Bahkan jika mempelajarinya jiwa kita akan lebih kuat bahkan bisa menyelesaikan masalah dengan lebih bijak. Banyak rahasia luar biasa yang bisa kita ketahui."


Tommy mengingat lagi semua wejangan mbah Ageng yang merubah pola pikirnya dan juga pandangannya tentang dunia lain. Termasuk tentang Rangga dan Turangga Seta yang saat ini mengganggu pikirannya.


Sasi cuma diam, tak terlalu memperhatikan pembicaraan Rangga dan Tommy. Dia malah sesekali bicara dengan Bayu tentang berbagai hal, terutama tentang proyek baru mereka. Dia sama sekali tak tertarik membicarakan masalah adat atau budaya.


" Pak Bayu sudah lama kerja di sini?" tanya Sasi.


" Panggil Bayu saja mbak Sasi." Bayu tersenyum." Saya lebih muda dari mbak Sasi."


" Oke, Bayu...haha" Sasi tertawa melihat Bayu yang tampak canggung dipanggil Pak.


" Saya sudah kerja sama pak Rangga sejak lulus kuliah dua tahun lalu. Sebenarnya saya dulu kerja sama Sinuwun(Raja) ayahanda Pak Rangga, tapi lalu saya ditugaskan menjaga sejaligus membantu Pak Rangga sampai sekarang."


" Kerasan kamu Bay?"


" Lumayan mbak, sebenarnya ini lebih pada pengabdian saya pada Sinuwun, kami sekeluarga turun-temurun adalah abdi dalem ( pegawai istana). Jadi sudah menjadi tekad kami meneruskan tradisi keluarga. Lagipula Pak Rangga dan keluarganya juga sangat baik pada saya dan keluarga. Sekolah saya ditanggung 100 persen. Jadi membalas budi mereka sama sekali tidak memberatkan saya. Malah saya merasa terhormat..dan satu lagi gajinya besar...hahahah...."


" Itu yang utama ya Bay..?"

__ADS_1


Sasi dan Bayu tertawa mengundang dua orang pria yang berjalan di depan mereka menoleh tak suka. Dua pasang mata yang menatap cemburu. Bagaimana Sasi bisa langsung akrab dengan Bayu seperti itu?


Rangga menatap Bayu tak suka. Jangan mendekati wanitaku! Seperti itu yang dibaca Bayu dari tatapan Rangga. Hei boss, kenapa seperti kekasih yang cemburu? Dia ini istri orang. Heran hati Bayu. Apa bosnya punya perasaan pada Sasi? Hatinya mulai bertanya-tanya.


Sementara Tommy menatap Sasi kesal. Jangan main api sayang...? Begitu kira-kira makna tatapan Tommy pada istrinya.


Sasi dan Bayu yang merasa tak melakukan kesalahan hanya memandang heran pada dua orang pria berwajah masam itu. Aneh sekali, mereka.bahkan berjalan agak berjauhan. Apa salahnya mengobrol santai.


Mereka hanya tidak tahu bahwa kecemburuan itu bisa merusak logika. Bahwa prasangka buruk itu bisa mengaburkan fakta yang yang terpampang di depan mata.


" Senang bekerja sama dengan Pak Tommy" Rangga menjabat tangan Tommy saat mereka akan berpisah di lobby kantor Rangga.


" Semoga semua berjalan lancar ya Sasi" Rangga kembali menggenggam tangan Sasi erat dan lama.


Dalam hatinya sudah mengatur berbagai rencana pendekatan pada Sasi dan cara memisahkan Sasi dari Tommy. Bibirnya menyeringai.


" Amin. Semoga pak Rangga." Jawab Sasi sopan sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Rangga yang kian erat. Tommy yang melihat itu berinisiatif menarik pinggang Sasi lebih mendekat ke arahnya.


Terpaksa Rangga melepaskan genggamannya pada tangan Sasi. Tommy dan Sasi mendesah lega . Pria ini benar-benar sudah gila. Dia terang-terangan menggoda Sasi di depan suaminya.


Tommy sudah hampir kehilangan kesabarannya , namun tekadnya mengusir Turangga Seta meredakan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.


" Sepertinya Pak Rangga butuh pendamping, jangan hanya Bayu saja yang selalu berdua dengan pak Rangga!" Tommy menyindir Rangga.


" Hahaha...tentu pak Tommy, saya sudah punya calonnya.Doakan saja!" jawab Rangga sambil menatap Sasi .


Sinting! Rutuk Sasi dalam hati ketika melihat tatapan tajam Rangga padanya. Tubuhnya meremang, tatapan itu mengingatkannya pada sosok dalam mimpinya beberapa bulan lalu. Bagaimana bisa dia menatapku seperti itu di depan suamiku?


Sasi takut terjadi pertikaian, hawa di sekeliing mereka mulai memanas. Segera saja Sasi menarik tangan Tommy ke mobil yang sudah menunggu mereka.


" Sampai ketemu lagi Pak Rangga. Selamat siang!" Sasi melangkah cepat diikuti Tommy yang wajahnya masih mengeras.


Bagaimanapun dia menahan diri untuk tidak membuka konfrontasi dengan Rangga, pemuda itu seakan sengaja memancing kemarahannya. Dasar setan! umpatnya dalam hati. Namun diikutinya juga langkah kaki Sasi menuju ke mobilnya.


Jono sudah membukakan pintu untuk mereka. Keduanya segera masuk ke mobil. Dan mobil segera meninggalkan halaman perusahaan Rangga.


" Yang...sudah, jangan serem gitu mukanya. Aku takut" Sasi mengusap lembut pipi Tommy.


" Dasar setan. Sudah tahu istri orang masih di gangguin juga. Kalau nggak ingat terlanjur tanda tangan kontrak kita, sudah kuhajar bre ng sek itu!" rutuk Tommy jengkel.


" Sudah sayang, next kan aku ngga ikut lagi. Kamu sama Reza saja. Biar dia nggak bisa macam-macam lagi" Sasi mengecup bibir suaminya. Membuat senyumTommy pelahan tebit di wajahnya.


Dipagutnya sesaat istrinya itu dengan lembut menyesapnya penuh cinta, dan lepaslah seluruh kekesalan di hatinya. Sabar Tom..sabar...tak akan lama lagi waktunya untuk menghempas setan penasaran itu dari dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2