
Hari berganti, Rani dan Lily pun sudah mengikuti pelaksanaan wisuda dan mendapatkan gelar sarjana. Bahkan kini kedua gadis cantik itu sudah kembali mengurus adminiatrasi untuk melanjutkan ke jenjang S2.
Sebenarnya Rani banyak medapatkan undangan dan beasiswa dari beberapa universitas favorit di luar negeri, namun tentu saja Tommy tak akan mengijinkan putri kesayangannya itu pergi jauh darinya.
" Ayolah Pa,....Rani ingin sekali kuliah di Amerika. Rani dapat full beasiswa lagi. Sayang kalau kesempatan ini ditolak" Rani merengek manja pada papanya. Sambil memeluk dan bersandar di bahu papanya . Merayu dan membujuknya, berharap Tommy mengijinkannnya menuntut ilmu di negeri orang.
" Papa mau tanya, apa tujuanmu kuliah jauh-jauh di Amerika?"
" Kan keren pa?.Lulusan Amerika, pasti lebih bonafide dan dipandang tinggi saat mencari kerja."
" Jadi tujuanmu supaya mudah mencari kerja?" Tanya Tommy santai.
" Emm...nggak cuma itu pa. Rani juga mau menguji diri Rani sendiri,.mampu nggak kalau diadu dengan mahasiswa lain dari luar negeri. Rani juga ingin merasakan tinggal di luar negeri, bukan sekedar berkunjung atau vacation saja pa..." Rani belum lehilangan semangat membujuk Tommy.
" Sayang, kalau tujuanmu supaya mudah cari kerja, tanpa sekolah ke Amerika pun papa akan serahkan perusahaan papa sama kamu dan adik-adik kamu. Atau kamu mau kerja di perusahaan milik opa dan om kamu? Itu papa juga ada saham di sana. Nggak.perlu susah -susah sekolah ke Amerika."
"Kalau tujuanmu pengen menguji dirimu, ayo ikut papa. Kamu bisa mengimplementasikan kemampuanmu sekaligus praktek langsung. Bertemu klien berbagai negara. Ujilah dirimu dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Bukankah itu tujuan utamanya? Mengimplementasikan ilmu dalam kegiatan nyata?"
Rani cemberut. Tak bisa melawan kata-kata papanya sama sekali karena itu semua memang benar adanya. Papanya sama sekali tak salah.
" Dan pengen tinggal di Amerika? Oke, papa punya apartemen dan rumah di sana. Kamu boleh tinggal sepuasmu di sana dengan mama dan papa. So turuti papa sayang. Just stay here. Sekolah di sini saja. Kamu mau jadi profesor? Silakan , papa mama akan dukung kamu sampai kamu bosan belajar. Tapi jangan pernah pergi jauh dari papa sayang. Kamu dan mama harus selalu dekat papa. Hmm?" Tommy tetap teguh pada pendiriannya.
Rani menghambur ke Sasi saat mamanya itu datang. Bermaksud minta dukungan ibunya agar boleh bersekolah di Luar negeri. Namun Sasi malah menggeleng.
" Sudahlah mbak, kamu disini saja. Kalau kamu pergi nanti mama yang susah. Papamu bisa kehilangan akal dan tiap hari minta menyusul kamu ke Amerika. Bisa kacau perusahaan kalau papamu sibuk menguntitmu....hahaha..." Sasi tertawa, membayangkan Tommy akan bolak-balik ke luar negeri saat merindukan Rani. Mengingat betapa posesifnya suaminya itu padanya dan Rani. Tak melihat Rani di meja makan saja sudah membuat mood lelaki itu langsung anjlok. Apalagi berjauhan lintas negara...Ohh..jangan sampai....
" Mama ih..nggak asik Malah dukung papa..." Rani makin kesal dan akhirnya menyerah. Nasib anak kesayangan papa Tommy, jangankan sekolah ke luar negeri, ke luar kota pun tak akan mendapat izin.
" Mas, apa kita nggak keterlaluan ya, menghalangi cita-cita tinggi anak kita? Di luar banyak yang setengah mati pengen kuliah ke luar negeri nggak kesampaian. Nah Rani yang sudah diberi kemudahan malah tidak bisa menjalaninya karena kita larang."
Tommy yang sedang berbaring di pangkuan Sasi cuma diam, memejamkan mata dan memeluk pinggang Sasi erat. Tak berniat menjawab atau membantah ucapan istrinya itu.
Baginya sekali tidak tetap tidak. Sasi dan Rani adalah berliannya, cahaya mata dan hatinya. Harus selalu ada setiap dia membuka matanya.
Dan melihat sikap Tommy yang tak menjawab sepatah kata pun, sudah cukup bagi Sasi untuk tak membicarakan masalah itu lagi. Artinya, tidak! Titik tanpa koma...maaf Rani, mama tak bisa membantumu.
Siang itu ibu, Tommy dan Sasi mengunjungi makam mbah Ageng. Hari itu adalah hari peringatan meninggalnya mbah Ageng. Ibu dan Tommy selalu rutin mengunjungi makam mbah Ageng sebagai bentuk penghormatan mereka pada sang guru spiritual yang sudah banyak membantu mereka semasa hidupnya.
Sasi kebetulan sedang bersama Tommy dan ibunya di luar. Mau tidak mau dia pun mengikuti ibu dan suaminya. Sasi sebenarnya juga pernah beberapa kali ke makam mbah Ageng yang berada di belakang rumah orang tua itu.
Selesai mendoakan mbah Ageng, ibu dan Sasi bergegas ke mobil, mereka tidak menunggu Tommy karena kebiasaan Tommy yang selalu berdoa di makam mbah Ageng dalam waktu yang lumayan lama.
__ADS_1
Sementara Tommy yang sedang berdoa penuh kesungguhan, tiba-tiba mendapatkan penglihatan dalam tunduknya. Sekelebat bayangan tergambar jelas di kepalanya. Tommy melihat Rani yang tampak berbahagia bersama seorang pria yang teramat sangat dikenalnya. Rangga
Jantungnya kian berdebar meihat putri kesayangannya saling bergandengan tangan dengan Rangga, dan Rangga tampak memeluk Rani erat. Seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Keduanya tertawa dan saling menatap penuh rasa.
Tommy tersentak , sangat terkejut hingga tanpa sadar terbangun dari kekhusukannya berdoa dan membuka matanya. "Apa itu tadi?" Dia segera berdiri dan berlari ke depan mengejar Sasi dan ibu.
" Yang, Rani dimana?" Tommy bergetar, suaranya nafasnya terengah-engah. Wajahnya memerah karena marah.
Sasi dan ibu terkejut melihat Tommy yang tiba -tiba menanyakan Rani. Apalagi melihat wajah Tommy yang tegang dan tampak gusar.
" Tadi kan Rani sudah pamit mas juga. Dia mau urus administrasi S2 nya sama Lily. Mungkin dia sudah di rumah sekarang mas?" Sasi menggenggam tangan Tommy, memberikan sebotol air mineral ke suaminya yang tampak sangat tegang itu.
Tommy menghembuskan nafasnya pelahan. Menenangkan dirinya. Diminumnya air dari Sasi. Lalu berucap pelan. " Kita pulang yang..."
Sasi mengangguk. " Biar aku yang bawa mobilnya mas, Kayanya mas kurang fit." Sasi mengusap rahang suaminya yang masih tampak mengeras. Bahkan dilihatnya tangan lelaki itu mengepal rapat seakan menahan ledakan amarah.
Sebenarnya ia penasaran apa yang membuat Tommy tiba-tiba menanyakan Rani dengan nada marah dan gusar seperti itu. Tapi dia tak ingin membuat Tommy makin gusar. Biarkan tenang dulu, pikirnya.
Ibu yang melihat ada yang tidak beres dengan menantunya itu cuma mengusap halus tangan Sasi. Seakan memberi isyarat Sasi bersabar dulu .
Tommy menyerahkan kunci mobil pada Sasi. Dia bukan kurang fit, tapi hatinya sedang terbakar. Kepalanya seakan mau meledak melihat pemandangan yang menurutnya sangat mengejutkan dan tak pernah dibayangkannya .
Dan itu karena putri kesayangannya. Rani, apa yang kau lakukan di belakang papa sayang? Hatinya berbisik lirih Masih berharap apa yang di lihatnya melalui mata batin tadi salah. Mengingat sudah bertahun-tahun Tommy tak pernah lagi menggunakan mata batinnya untuk melihat sesuatu. Dan tiba-tiba saja kekuatannya muncul begitu saja dengan gambaran yang sangat menghancurkan hatinya
Diketuknya pelahan kamar Rani. Sangat berharap gadis itu ada di dalam kamar sehingga memastikan mata batinnya salah. Namun harapan tinggal harapan. Rani tak kunjung membuka pintu. Hingga mbak Rumi menghampirinya.
" Mbak Rani belum pulang Pak " Seru Rumi kemudian berjalan ke depan sambil membawa sapu.
Tommy mengguyar rambutnya sendiri. Wajahnya semakin muram. Mata batinnya tak pernah salah. Ya Tuhan apa lagi ini.?
Sasi yang sudah mengamati Tomy dari tadi segera mendekati suaminya itu. Memeluknya erat lalu membawanya masuk ke kamar mereka. Tommy cuma diam dan menurut saja. Mengikuti langkah Sasi sambil tetap berpelukan.
" Mas mau cerita?" Sasi berbisik sambil membelai rambut Tommy yang lagi-lagi berbaring di pangkuan Sasi. Tempat favoritnya akhir-akhir ini jika hatinya sedang gundah.
" Yang apa salahku? Kenapa ini harus terjdi padaku, pada kita? Apa dosa masa laluku terlalu besar?" Tommy meracau sendiri.
" Apaan sih mas? Pakai bawa dosa masa lalu segala.?" Sasi menatap wajah tampan yang selalu dicintainya itu sambil tertawa. Merasa aneh dengan pertanyaan Tommy.
" Apa pendapatmu kalau Rani pacaran sama orang yang lebih pantas jadi bapaknya?"
" Mas ngomong apa sih? Rani itu selalu kita awasi ketat selama ini. Dia nggak punya pacar di kampus. Teman-temannya pun kita tahu semua. Dan yang naksir Rani pasti sudah nyerah sebelum perang karena takut sama intimidasi mas."
__ADS_1
" Aku gagal yang. Ternyata aku nggak bisa menjaga putri kita."
" Apa sih mas? Kok makin ngelantur. Aku ngga ngerti. Mas ngomong yang jelas dong"
" Rani yang...dia pacaran sama Rangga." Tommy mendesah lemah. Kehabisan daya dan kata-kata.
Sasi melotot mendengar ucapan lirih Tommy. Masih belum percaya dengan pendengarannya barusan.
" Apa mas? Jangan asal kalau ngomong. Apa maksudnya Rani sama Rangga?" Sasi meradang. " Dari mana mas tahu?"
" Aku baru saja melihat mereka.." Tommy bergumam ragu. Masih berharap itu hanya ilusi.
Sasi menegang, segera diambilnya ponsel yang ada di tasnya dan menekan nama putrinya. Namun hingga berkali-kali panggilannya tidak diangkat. Sasi makin panik. Lily! Lily pasti tahu. Mereka tadi berangkat bersama.
"Tuuut....tuuut....Halo budhe...!" Suara Lily di seberang sedikit melegakan Sasu.
" Nduk, mana Rani, budhe mau bicara. Budhe telpon nggak diangkat sama Rani."
" Rani sudah pulang budhe. Ini Lily juga sudah di rumah. Ya kira-kira satu jam lalu, mungkin dia pergi lagi sama teman-teman "
Sasi mendesah gundah. Jawaban Lily membuatnya gelisah dan mulai berpikir buruk. Apa benar sekarang Rani sedang bersama Rangga? Haruskah dia menelpon Rangga? Tiba-tiba Rani teringat Bayu. Aseisten Tangga itu pasti tahu dimana Rangga sekarang.
" Mas, apa aku telpon Bayu ya? Dia pasti tahu dimana dan dengan siapa Rangga sekarang."
" Percuma yang. Kalaupun tahu, dia pasti akan menutupi informasi tentang bossnya. Kita tunggu Rani pulang saja. Biar dia jelaskan semuanya pada kita."
" Aku sudah nggak tahan mas...ini harus secepatnya dijelaskan. Rani...Rani...apa sih maumu nak?" Sasi memijit keningnya sendiri.
" Kalau benar Rani suka sama Rangga, gimana yang?" Tommy kembali meracau. Pikirannya sudah kalut.
" Aku nggak tahu mas. Bisa-bisanya si Rangga menusuk kita dari belakang. Aku nggak terima!" Sekarang Sasi pun merasa marah. Kurang ajar sekali Rangga berani merayu putrinya. Apa dia tidak sadar berapa umurnya? Tapi kemudian Sasi teringat pada mertuanya yang menikah dengan Palupi. Dengan jarak usia hampir tiga puluh tahun.
Dan Rani? Gadis itu sungguh membuatnya tak habis pikir. Bagaimana dia bisa tertarik pada orang seumuran dengan papanya?
" Tapi mas tahu dari mana ? Mas lihat Rani dan Rangga di mana?" Sasi bertanya penasaran. Mengingat tadi dia bersama Tommy tapi dia sama sekali tak melihat Rani dan Rangga. Tahu-tahu Tommy membawa berita tentang Rani dan Rangga.
" Aku tahu yang. Aku kan pernah bilang bisa menerawang. Kamu sih nggak pernah percaya mas..."
Sasi tertawa , " Jadi ini cuma terawangan mas saja? Dan mas sudah kebakaran jenggot begitu. Aku pikir mas melihat mereka di mana , di mall atau di tempat lain. Mas...mas...jangan terlalu posesif pada Rani. Sampai menghayal begitu...hahha..."
Tommy bangun dari pangkuan Sasi lalu memeluk erat Sasi yang sedang tertawa tergelak. Mencubit hidung wanitanya itu gemas.
__ADS_1
" Tertawalah sepuasmu kalau nggak percaya sama mas. Karena setelah ini kamu mungkin akan menangis.. kehilangan anakmu. Digondol duda tua...." Tommy berdiri dan berlalu ke kamar mandi. Mungkin guyuran air shower akan mendinginkan hatinya yang panas.
Sementara Sasi masih tersenyum. Menganggap semua yang dikatakan Tommy cuma karena keposesifan suaminya itu pada putri kesayangannya.