
Aku Palupi. Anak ke dua dari tiga bersaudara yang kesemuanya putri. Usiaku memang masih muda, baru 23 tahun. Tapi aku sudah punya dua orang putri dari pernikahanku dengan suamiku Barata.
Ya, aku menikah muda. Saat itu aku baru saja lulus dari SMA dan tengah menjadi mahasiswa baru di sebuah universitas di kotaku. Tapi orang bilang jodoh siapa yang tahu? Aku yang selalu jadi incaran cowok-cowok populer di sekolah maupun di kampus, malah berjodoh dengan seorang pria dewasa yang lebih cocok jadi ayahku.
Mas Barata begitu aku memanggilnya, adalah salah satu dari sekian banyak relasi kantor perkebunan kami. Lebih tepatnya konsumer dari tembakau dan cengkih produksi kebun kami.
Keluarga kami memiliki kebun cengkih dan tembakau yang cukup luas. Boleh dibilang, di kota ini keluarga kami adalah pemilik perkebunan bahan baku rokok yang terluas , warisan ayah yang kami kelola.
Mas Barata adalah pemilik pabrik rokok terbesar di kota ini. Tentu saja kami saling terhubung karena pekerjaan dan usaha kami.
Dulu ibu dan ayah yang mengelola perkebunan kami, tapi sejak ayah tiada, ibulah yang mengurus segalanya. Kakak tertuaku Sasi, sibuk belajar dan enggan mengurus perkebunan. Setelah lulus dia pun bekerja sesuai ilmu yang dipelajarinya. Tak berminat pada bidang perkebunan.
Sedangkan adik bungsuku Retno, masih SMA, layaknya ABG yang masih suka main dan senang-senang . Tentu saja tak akan mau jika harus mengurus perkebunan .
Terpaksa akulah yang akhirnya turun tangan membantu ibu. Sejak aku masuk SMA dulu , sepulang sekolah aku mulai belajar administrasi kantor perkebunan kami. Hingga awal kuliah, setelah mengerjakan tugas kuliah aku mulai mengelola administrasi perkebunan. Ibu menuntun ku hingga akhirnya ibu menyerahkan segala urusan kebun padaku.
" Kamu sudah pinter Lupi, ibu serahkan semua padamu. Jangan kuatir ibu akan tetap bantu-bantu kalau kamu lagi sibuk. Ibu mau istirahat. Capek nduk, pengen santai di rumah." Ujar ibu kala itu.
Aku pun tak bisa menolak. Aku tahu ibu lelah dan mulai merasa tak semangat sejak ayah tiada. Cukuplah susah payah beliau, Biar aku yang menggantikan ibu sebagai baktiku. Toh pekerjaanku juga tak terlalu berat dan aku pun masih bisa membagi waktu dengan kuliahku.
Saat itulah , suatu hari aku bertemu Mas Barata.. Dia memang sudah berumur , mungkin saat itu usianya sekitar awal limapuluhan. Tapi wajahnya masih tampak awet muda. Bahkan kukira dia masih berumur awal empatpuluhan. Orangnya enerjik. Rapi dan sikapnya sangat elegan.
Kulihat di pembukuan, dia memang klien lawas kami. Tapi kata ibu , Pak Barata jarang ke kantor kami. Dia biasanya mewakilkan urusan bahan baku pada anak buahnya. Tapi anehnya sejak aku yang memegang kantor, dia rajin datang ke kantor kami.
Alasannya macam-macam. Aku rasa dia menyukaiku. Anehnya aku pun mulai memperhatikannya. Kami sering berdiskusi masalah kwalitas bahan baku rokok yang lumayan aku kuasai.
Kami juga sering makan bersama hingga akhirnya dia menyatakan perasaannya padaku.
Awalnya aku tak berani menerima perasaannya. Jiwa mudaku tentu saja menolak untuk mengakui bahwa aku pun menyukainya. Dia sudah tua, pikirku saat itu.
Apa kata teman-temanku kalau aku pacaran dengan om-om setengah tua. Memang penampilannya tak mengecewakan. Tapi...aku malu. Apa pula kata mantan-mantanku? Itulah pikiranku saat itu. Pikiran anak 19 tahun yang tiba-tuba terjebak cinta pria matang.
Kami berbeda hampir 30 tahun. Bahkan dia cerita anaknya yang pertama berusia 4 tahun lebih tua dariku. Sementara putra keduanya berusia sama denganku. Aku tak bisa membayangkan seperti apa kehidupanku jika aku bersamanya apalagi sampai menikahinya.
" Berdoalah nduk, mohon petunjuk Yang Maha Kuasa. Dengarkan isi hatimu. Kalau kamu merasa yakin, ibu akan mendukungmu. Tapi kalau kamu ragu-ragu jangan dipaksakan juga. Tidak baik akhirnya" Ibu menasehatiku ketika aku meminta pendapatnya.
__ADS_1
Aku sempat menghindarinya beberapa hari untuk menguji dan meyakinkan hatiku. Apakah aku memang menyukainya atau hanya terpesona pada ketampanan dan sikap kebapakannya.
Dua minggu sudah aku bersembunyi darinya. Semua pegawai perkebunan kami sudah kupesan agar dia tidak bisa menemuiku. Mereka akan bilang aku tak ada meskipun aku ada di kantor.
Mas Barata tetap sabar, datang ke kantor dan duduk menungguku barang satu atau dua jam. Begitu terus meski aku tak pernah menemuinya..
Dia tak pernah marah atau memaksa bertemu. Tetap mengirimkan pesan ke ponselku meski aku tak pernah menjawabnya. Malah sekarang dia rajin mengirimkan makanan lewat aplikasi online. Dia benar-benar militan. Semangatnya semakin meluluhkan hatiku yang ragu.
Aku tak berani memblokir nomor hpnya karena bagaimanapun dia tetap customer terbesar kami. Itu malah membuatku terkesan kekanak-kanakan dan tidak profesional.
Hingga akhirnya di hari ke 15 aku bersembunyi darinya, dia datang ke rumah. Dia menemui ibu dan bilang ingin menemuiku. Ibu tak mau mendukungku berbohong.
" Hadapi Lupi, jangan sembunyi dan lari terus. Ibu ndak enak, dia itu teman sekaligus kolega ibu dan ayahmu sejak lama. Masa ibu ikutan kamu bohong? Kalau memang ndak mau ya sudah ngomong terus terang. Biar dia ndak berharap sama kamu" ibu menasehatiku.
Terpaksa aku menemuinya. Padahal aku masih belum punya jawaban atas pertanyaannya. Apakah aku menerima atau menolak persaannya padaku.
Aku duduk di depannya dengan kaku. Menunduk tak berani mengangkat wajahku. Takut bertemu mata teduh yang menentramkan itu. Takut hatiku akan luluh dan meleleh karenanya.
" Lupi kenapa menghindari saya?" sapanya lembut.
Hatiku bergetar. Suara itu membuat tubuhku seakan lantak tak bertulang. Lemas.
" Coba jawabnya sambil lihat saya. Biar saya yakin yang ngomong benar-benar Lupi. Kalau nunduk gitu saya kan nggak tahu , siapa tahu rekaman?"
Aku tertawa tertahan. Haiss...orang ini. Bisa-bisanya menggodaku disaat-saat genting begini.
Akhirnya kuberanikan diri menatapnya. Dan...mataku seakan terkunci dalam lautan cinta di netranya. Aku tenggelam dan tak bisa lari lagi. Hatiku tercabik-cabik melihat kilatan rindu dan kesedihan dimatanya. Aku pun merindukannya. Dan hatiku tak kalah sakit saat menghindarinya
" Terima kasih sudah mau menemui saya. Saya hampir mati karena tak bisa ketemu Palupi. Jangan menghindar lagi. Lupi boleh membenci saya tapi biarkan saya tetap bisa melihat Lupi." ucapnya memelas. Seakan pengemis mengharap belas kasihku. Matanya berkaca-kaca penuh kesungguhan.
Aku tersedu. " Maafkan saya. Saya nggak akan menghindar lagi. Saya juga sedih melihat mas terluka"
Dia tersenyum sumringah. Menyeka air mata yang sempat menetes di ujung matanya.
" Jadi Lupi mau menerima saya?"
__ADS_1
Aku cuma mengangguk. Rasa cintaku padanya ternyata mengalahkan rasa malu dan rasa-rasa lain yang sempat membuatku ragu menerima cintanya. Dan anehnya hatiku merasa lega setelah aku menerimanya. Ternyata aku memang mencintainya.
" Lupi keberatan nggak kalau saya secepatnya melamar dan menikahi Lupi? " Tanyanya tanpa basa-basi. Mungkin beginilah jalan pikir pria dewasa. To the point.
" Saya masih pengen terusin kuliah mas. Kantor juga masih butuh saya" aku keberatan. Aku nggak mau kehilangan masa mudaku.
" Lupi tetap boleh kuliah dan bekerja setelah menikah. Saya tidak akan membatasi Lupi. Kamu tetap boleh main sama teman kamu. Saya mau Lupi tetap bahagia meskipun sudah menikah dengan saya. Bahkan kalau bisa harus lebih bahagia." Dia mengatakan dengan penuh kesungguhan didepanku. Aku makin terpesona padanya.
" Baiklah terserah mas saja." akhirnya aku menyerah takluk padanya.
Masalah baru mulai membayangi hubungan kami ketika aku diperkenalkan pada dua putra mas Barata.
Bastomi, putra pertamanya sangat menentang hubungan kami. Entah mengapa, baru pertama bertemu dia sudah memasang wajah keruh dan tak bersahabat. Wajah tampannya tersapu aura kemarahan, kebencian dan tampak sangat merendahkanku. Apa salahku? Bahkan dia sama sekali tak mengenalku. Aku tak berani menyapanya. Aku cuma diam dan menggandeng erat tangan mas Barata. Takut-takut dia berbuat kasar padaku.
Baskara adik Bastomi. Dia seperti Retno adikku. Masih tampak polos dan cuek khas remaja. Boleh dibilang sikapnya masih kekanak-kanakan padahal usianya sama denganku. Dia tampak datar saja. Tidak menolak atau menerimaku dengan baik. Dia lebih kelihatan membebaskan papanya melakukan apa saja. Terserah papa. Mungkin begitu pikirannya kalau aku lihat sekilas.
" Tak usah terlalu dipikirkan. Mereka begitu karena belum mengenalmu. Kalau mereka tahu selembut apa hatimu, mereka akan jatuh cinta seperti saya." Mas Barata menghiburku.
" Kita akan tinggal sendiri. Kamu nggak perlu takut pada mereka. Lambat laun, kebaikan hatimu akan meluluhkan mereka. Percayalah, buktikan setelah kita menikah. Oke Lupi?" Mas Barata menguatkanku.
Pernikahan kami pun digelar dengan meriah. Kami sangat berbahagia meskipun dua anak mas Barata tak menghadiri pernikahan kami. Biarlah. Becik ketitik, ala ketara ( yang baik dan yang buruk akan terlihat pada akhirnya).
Aku bertekad, akan membuat dua anak mas Barata setidaknya menerimaku dan tak lagi membenciku. Mereka harus tahu isi hatiku. Bahwa jika aku mencintai mas Barata, aku juga mencintai semua yang ada padanya. Termasuk putra-putranya.
Lambat laun Baskara yang sikapnya lebih netral mulai mau mendekat pada kami. Apalagi sejak kehadiran dua buah hatiku dengan mas Barata. Dua putriku Lily dan Rose begitu lengket dengan Baskara. Dan tampaknya Baskara pun sangat menyayangi adik-adiknya. Hubungan kami dengan Baskara mulai mencair.
Tinggal Bastomi yang jadi pe-er ku. Susahnya menghadapi anak tiriku yang lebih tua 4 tahun dariku itu. Dia tak pernah sudi menemui papanya. Apalagi aku. Bagaimana bisa meluluhkan hatinya, jika bertemu pun dia tak sudi.
Aku hampir putus asa dan menyerah ketika tiba-tiba Baskara datang membawa kabar gembira.
" Mbak Lupi,tolong bilang papa, Minggu mas Tommy mau ketemu papa sama mbak di rumah Semeru. Dia mau ngenalin calon istrinya. Mungkin mau minta dilamarkan juga" kata Baskara sambil menggendong Lily dan Rose di pundak dan dadanya. Dua putriku tertawa-tawa bahagia dalam rengkuhan kakaknya.
Hatiku menghangat. Karena interaksi Baskara dan anak-anakku. Dan karena Tommy mau bertemu dengan kami setelah empat tahun berlalu. Apapun alasannya, aku bahagia.
Aku tak sabar menunggu hari Minggu. Kusiapkan semua makanan kesukaan Tommy dan Baskara. Aku akan jadi ibu yang baik untuk mereka. Aku akan menjamu mereka. Setidaknya mereka akan merasa aku juga menyayangi mereka seperti halnya suamiku menyayangi anak-anaknya.
__ADS_1
********
Part terpanjang. Sabar ya...biar kalian kenal dengan baik semua tokoh. Dan makin seru mengikuti alur ceritanya. Happy reading...