
Minggu pagi yang ditunggu semua orang akhirnya tiba juga.
Tommy yang berharap segera bisa meminang Sasi setelah mengenalkannya pada papa.
Baskara yang bahagia tiada tara karena berhasil menuntaskan misi mempersatukan papa dan kakak kesayangannya.
Sasi yang masih ragu akan hatinya namun ingin mengenal lebih dekat keluarga kekasihnya.
Barata yang merasa bersyukur karena anaknya yang hilang telah kembali. Meskipun dengan alasan ingin mengenalkan kekasihnya. Never mind boy...Papa adalah orang yang paling bahagia hari ini.
Dan tentu saja Palupi, yang hatinya masih gamang, takut dan cemas dengan penolakan Tommy. Tapi yang pasti Palupi ikut bahagia untuk suaminya. Penantian Barata akan ampunan putra kesayangannya akhirnya tiba juga waktunya.
Tommy sudah bersiap di apartemennya. Dia akan menjemput Sasi di rumah gadis itu. Hatinya berbunga-bunga. Sejak pagi dia sudah menelpon Sasi untuk mengingatkan acara mereka pagi ini.
" Sayang, nggak lupa kan? Jam 8 aku jemput kamu ya?" Tommy langsung bicara saat Sasi mengangkat panggilannya.
" Iya mas..." serak suara Sasi seperti baru bangun tidur.
" Hey...anak gadis jam segini baru bangun?" Tommy menggoda Sasi.
Sasi tertawa, masih terdengar serak. "Ya udah mas aku mandi dulu. Biar kalau mas datang aku sudah siap."
" Oke. Ngga usah dandan aneh-aneh. Kamu sudah cantik.." Bisik Tommy lalu menutup panggilannya.
Sasi tersenyum mendengar kata-kata Tommy. Namun sesaat kemudian Sasi menjatuhkan badannya ke ranjang lagi. Ingatannya melayang pada mimpinya semalam.
Orang itu datang lagi. Pemuda tampan yang pernah menemuinya dalam mimpi. Sosok asing namun tak asing, karena Sasi seakan mengenalnya entah dimana. Jika pada pertemuan lalu dia tampak menatapnya dingin dan menusuk, kali ini Sasi dibuat terbuai dengan tatapan lembut dan penuh pesonanya.
Sasi tergugu. Seakan hatinya pernah merasakan hal yang sama. Terpesona pada wajah dan senyuman itu. Wajah yang tak pernah dilihatnya, namun terasa sangat dekat dan seakan telah lama mengenalnya .
" Sasi pasti masih ingat saya kan? Sasi sangat mencintai saya..dan akan tetap begitu" bisik lelaki itu . Suaranya seakan terngiang di kepala Sasi.
Sasi memijit keningnya. Kepalanya sedikit pusing. Tapi tak dihiraukannya demi melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 lebih . Harus cepat mandi karena Tommy pasti akan segera menjemputnya.
Sasi berjanji dalam hati nanti akan melihat semua foto-foto teman sekolah maupun kuliahnya dulu. Penasaran. Mungkin lelaki itu adalah salah satu temannya satu angkatan.Dia harus tahu siapa lelaki misterius yang sudah dua kali mendatanginya dalam mimpi itu.
Setelah mandi, Sasi segera ke meja makan dan mengambil setangkup roti tawar untuk sarapan. Saat itulah ibu datang bersama Tommy dari depan.
" Ini Tommy sudah datang, bikinin sarapan sekalian Sas....Ibu ke belakang dulu ya nak Tommy.." pamit ibu.
" Monggo...silakan bu" Tommy mengangguk.
Ibu langsung ke belakang sambil memanggil Rumi. " Rum Sasi minta susu beruang. Ambilin dua di kulkas ya..." dijawab angukan oleh Rumi.
" Mas,...sarapan roti ya? Mau selai apa nuttela?" Sasi langsung menawarkan sarapan pada Tommy.
" Selai strawberry aja." Tommy tersenyum menatap wajah Sasi, lalu duduk di sebelah gadis itu.
__ADS_1
Sasi segera mengangsurkan setangkup roti yang sudah dioles selai strawberry pada Tommy.
" Makasih sayang...cup!" Tommy menyambar kilat bibir Sasi saat gadis itu menoleh. Gadis itu melotot kaget, tapi Tommy pura'-pura tak melihat.
" Kebiasaan ih.Kalau ibu lihat gimana?" Sasi mencubit pinggang Tommy. Wajahnya merona.
" Aww....ampuuun...harusnya cium balas cium, masa balas cubit? " bisik Tommy sambil mengusap-usap pinggangnya.
Sasi mendecak kesal.Tommy malah terkekeh lirih.
" Mbak Sasi, ini susunya." Rumi meletakkan dua kaleng susu kemasan di meja dekat Sasi.
" Makasih mbak Rumi" Sasi memberikan satu kaleng susu pada Tommy sementara yang satu segera dibuka dan diminumnya sendiri.
Tommy juga segera minum susu yang diberikan Sasi setelah menghabiskan rotinya." Thanks" bisiknya .
Setelah minum air putih keduanya segera berpamitan pada ibu dan berangkat ke rumah Tommy.
" Mas, apa kita tidak perlu membawa buah tangan? " tanya Sasi ketika mereka sudah setengah jalan.
" Nggak perlu, sudah bagus aku mau datang ke rumah" jawab Tommy datar.
" Maass..gak boleh gitu. Ikhlas gak sih ini datang ke papa mas?" Sasi menggelengkan kepala melihat sikap Tommy yang masih terkesan ogah-ogahan.
"ikhlass...ikhlas dong, demi Sasi..." Tommy tersenyum manis melihat Sasi.
" Ya udah kalau gitu kita beli cake aja. Kata mas , papa mas punya anak kecil kan? Pasti suka cake."
Setelah membeli satu box black forrest dan beberapa macam cake, mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah kawasan perumahan elit.
Semeru Gold Residence , sebuah gapura perumahan yang megah menyambut mereka.
Sasi berdebar. Apakah semua akan berjalan lancar seperti harapannya?
Tommy pun mulai gelisah. Apakah empat tahun waktu yang cukup untuk membuang semua rasa benci dan sakit hatinya? Bisakah dia bersikap baik di depan papa dan istri barunya?
" Mas grogi ya?" gumam Sasi melihat perubahan air muka Tommy.
" Hmmm...." Timmy cuma mengangguk.
" Ikhlaskan....semuanya sudah takdir mas.." Sasi menggenggam tangan kiri Tommy yang saat itu juga meraih tangannya.
" Hmmm...aku sudah ikhlas. Aku juga merasa salah karena pikiran burukku selama ini. Mungkin itu yang bikin perasaan aku gak enak."
Mereka telah tiba di aebuah rumah berpagar tinggi dengan tembok di sekeliling.
Seorang lelaki paruh baya berlarian membukakan pintu pagar. Wajah pria itu tampak cerah dan gembira demi melihat wajah Tommy melongok dari jendela mobil.
__ADS_1
" Mas Tommy.....walah maasss makin ganteng saja. Monggoo...monggo mas silakan. Semua sudah nunggu di dalam..." seru pria itu.
Tomy tersenyum." Makasih Pak De, makin subur sampean. Cocok susune yo..?" Tommy membalas sapaan pria itu. Tangannya mengemudi pelan sambil tetap membuka kaca mobil
Pria itu tertawa keras. Jelas to mas, susu asli tur ( dan juga) suegerr..." dua pria berbeda usia itu terus berbalas candaan sambil tertawa-tawa.
Sasi mendecak mendengar obrolan setengah vulgar mereka. " Emmh..cocok tuh ketemu sesama penyuka susu.."
Mendengar gerutu Sasi Tommy makin keras tertawa. " Aku juga cocok sama susumu Sayang.." bisik Tommy sambil mengerling menggoda Sasi.
" Maasss! Mesum...!" Sasi melotot.
" Jangan marah dulu, maksudku susu beruang yang tadi loh...aku juga suka minum. Jadi cocok toh?"
"Alasan..." Sasi mendengus. Tapi tak urung tertawa juga ketika mendengar pria tadi melucu lagi sambil membuka pintu mobil untuk Tommy dan juga Sasi.
" Nah itu mas, pabrik susunya.." Lelaki yang dipanggil pak De itu menunjuk seorang perempuan berbadan subur yang tergopoh mendatangi mereka.
Tommy makin terkekeh. Demikian juga Sasi. Canda tawa mereka sedikit meredakan ketegangan Sasi dan Tommy.
Sasi menyerahkan bawaannya pada perempuan itu.
" Taruh di dalam Bu De.." kata Tommy.
Yang dipanggil Bu De mengangguk lalu berbisik, tapi jelas terdengar oleh Sasi.
" Yayangnya ya mas Tommy...?"
Tommy mengangguk bangga, " Cantik to bu De?" tanya Tommy tak tau malu.
" Suiiipp pokoke mas, cocok Ganteng sama ayu.." Perempuan itu melirik ke arah Sasi.
Mereka berempat tertawa sambil beriringan menuju rumah.
Tampaknya semua sudah datang karena mobil Baskara dan papa sudah terparkir di garasi.
" Langsung ke taman samping saja mas. Tadi Bapak sama mas Bas lagi duduk -duduk sambil menemani anak-anak main.
" Hmmm...." Tommy cuma berdehem. Lalu melangkah ke samping rumah diikuti Sasi.
Deg....deg....deg...suara detak jantung keduanya seakan terdengar jelas di sela langkah mereka.
Jemari Sasi dan Tommy saling menggenggam erat. Sayup-sayup mulai terdengar suara celoteh anak-anak dan suara tawa beberapa orang dewasa..
Deg!
Jantung Sasi seakan berhenti berdetak bersamaan dengan langkahnya yang juga langsung terhenti. Netranya menangkap sosok dua bocah cantik yang begitu dikenalnya. Keponakan kesayangannya sedang bergulung-gulung di rerumputan taman dengan Baskara.
__ADS_1
Sekarang bahkan dua bocah itu duduk di punggung Baskara . Mereka menjerit-jerit senang memperlakukan Baskara seperti tunggangan.
Sementara Sasi terlolong di tempatnya berdiri. Beribu lebah seakan berdengung di otaknya. Kepalanya yang dari tadi pusing kini semakin nyeri berdenyut. Lambat laun suara canda tawa Baskara dan keponakannya seakan menjauh...jauh dan menghilang...lalu semuanya menjadi gelap.