
POV Rangga
Apakah ini takdir? Aku sudah berusaha menghindarinya untuk tidak mempermalukan diriku sendiri karena menggilai istri orang.
Tapi apa? Di pesawat komersil first class yang kupikir lebih bisa menjaga privacy karena jumlah penumpangnya terbatas, lagi-lagi aku bertemu mereka. Aku bertemu dengannya.
Sasi. Perempuan itu. Orang yang sejak pertama kutemui sudah mampu membuatku terikat padanya. Sekuat apapun aku melawan rasa itu, bagian hatiku mengatakan aku harus memilikinya. Kadang aku merasa aku sudah gila.
Dan kenapa waktu dan jarak seakan memperparah keadaan. Ke manapun aku pergi dia seakan mengikutiku. Pasti diapun merasa aku mengikutinya. Sial! Rupanya dia pergi bulan madu ke Bali dengan suaminya. Tentu saja..dia istri seseorang..
Sadarlah Rangga! Kadang aku merutuki diriku sendiri karena cemburu pada suaminya. Mereka begitu mesra. Suaminya itu sepertinya sangat mencintainya.
Dan aku terpaksa menjelaskan pada mereka bahwa aku ke Bali untuk menemui klien. Padahal sebenarnya aku tidak perlu menjelaskan apapun pada mereka. Tapi begitu melihat keterkejutan di mata mereka, aku tahu mereka pasti merasa kuikuti. Kesal rasanya mendapati tatapan menuduh itu dari Tommy.
Kenyataannya memang aku sama sekali tidak mengikuti mereka. Gila apa? Buat apa aku menguntit orang bulan madu?
Beberapa hari berpikir, kurasa kata-kata ibuku benar adanya. Aku harus segera menikah, agar pikiranku jadi benar dan tidak dirasuki perasaan aneh, seperti ini contohnya , menginginkan istri orang. Duh!
Ku ingat-ingat lagi diantara banyaknya gadis yang menyodorkan diri padaku. Atau diantara mantan-mantanku yang kebanyakan aku yang memutuskan mereka. Tak ada satupun yang berkesan.
Apakah karena aku yang tak pernah bersungguh-sungguh dalam berhubungan dengan wanita? Terlalu asik bermain-main sekedar menyenangkan hati. Atau memang aku tak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta? Aku mudah sekali bosan. Bahkan pada beberapa gadis sesama bangsawan yang diperkenalkan ayah dan ibu padaku.
Mereka yang punya gelar kebangsawanan sepertiku sejatinya adalah gadis-gadis yang menarik. Bukan cuma secara fisik, umumnya kami yang bergelar bangsawan memiliki standart khusus tentang unggah-ungguh (adab, sopan santun) dalam berperilaku.
Di masa globalisasi seperti sekarang biasanya para orang tua kaum priyayi akan memberikan pendidikan terbaik sebagai bekal agar kami tak kalah terpelajar dari orang lain.
Singkatnya sebenarnya gadis bangsawan adalah paket komplit calon istri idaman. Cantik, terpelajar, terhormat dan umumnya berada. Atau paling tidak orangtua mereka adalah orang terhormat yang punya kedudukan di masyarakat. Seperti pejabat pemerintahan atau para ahli dibidangnya seperti dekan, rektor atau profesor.
Sayangnya tak satupun dari mereka mampu menarik perhatianku, lebih tepatnya tak ada yang membuatku terpesona seperti saat aku melihat... Sasi...Oh tidak!...Sasi lagi?
Apakah aku harus menuruti ibu untuk dijodohkan saja? Konyol! Bagaimana kalau beberapa hari kemudian aku bosan pada istriku seperti aku muak pada gadis-gadis yang pernah kukenal? Itu akan lebih konyol lagi bukan? Dan kutepis menjauh wacana perjodohan. Husss...!
Kuingat lagi, kubuka memoriku pada beberapa gadis yang masih kuingat. Dan yang kudapati hanya alasan kenapa aku meninggalkan mereka. Bosan, muak, tak menarik lagi, tak masuk ke hati, bahkan tak ingin sekedar melihatnya lagi.
Bukan..bukan mereka yang salah. Akulah yang salah. Aku yang mudah bosan. Aku yang merasa tak mendapatkan apapun dari hubunganku dengan gadis-gadis itu.
Bukankah aku harus merasakan kenyamanan saat besama seseorang yang kucinta? Apalagi untuk calon istri yang akan bersama denganku seumur hidup? Bahkan yang kurasakan cuma perasaan dimanfaatkan saja.
Dimanfaatkan untuk dikeruk hartanya, dimanfaatkan agar mendapat status sebagai orang penting di sekitar istana, atau dimanfaatkan karena wajahku yang tampan yang bisa menarik penggemar di media sosial mereka Cihh...! Bagaimana aku tak muak?
Siapa yang bisa aku pilih dari gadis-gadis kurang ajar itu? Tak satupun dari mereka yang kurasa tulus. Tak satupun... Dan yang akhirnya muncul malah wajah Sasi...lagi...ahh
Kenapa dia sangat cantik. Kenapa dia yang malah muncul di anganku? Dan kenapa dia harus istri orang. Damn!
" Pak, masih sore, semua pekerjaan sudah selesai. Boleh saya jalan-jalan? " Suara Bayu menyadarkanku.
" Boleh. Aku juga mau jalan-jalan. Dan Bay, kamu batalin saja reservasi untuk besok. Kita nggak jadi menginap dua hari. Besok pagi kita langsung check out saja!"
" Kenapa pak? Eh..maaf maksud saya sayang sekali karena kita sudah terlanjur membayar untuk paket liburan dua hari, tidak bisa dibatalkan kalau waktunya kurang dari 24 jam pak. Uang kita tetap hangus!"jawab Bayu
Ahh..ini gara-gara Sasi. Sebenarnya aku memang ingin refreshing sejenak di Bali mumpung ada pekerjaan disini. Tapi melihat Sasi dan Tommy moodku langsung hilang. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini .
Tentu saja aku tak mau dianggap mengikuti dan sengaja mengganggu bulan madu mereka. Dan ya...harus kuakui aku cemburu setiap kali melihat kemesraan mereka yang tak tahu tempat itu. Lihat saja bahkan mereka tak malu saling menyuapi dan berciuman ditempat umum. Huhh!.
__ADS_1
Tapi benar juga kata Bayu, rugi karena aku sudah terlanjur membayar untuk paket wisata besok. Lagipula kenapa aku harus terpengaruh oleh keberadaan mereka? Masa bodoh!
Mulai sekarang aku akan mencoba cuek. Tak mempedulikan mereka. Selama aku tidak melakukan tindakan kriminal. Aku juga berhak bersenang-senang disini.
" Wah bener juga Bay. Ada acara apa besok ?" Biasanya ada paket tour untuk tamu hotel ini dengan biaya khusus.
" Ada offroad pak. Disediakan motor trail atau mobil APV . Biayanya sudah termasuk dalam paket yang kita ambil kemarin pak." Bayu menerangkan dengan antusias.
Aku tahu dia sangat ingin mengikuti acara itu. Dia bilang baru pertama ke Bali. Dan aku tak tega membuatnya kecewa. Jadi kuputuskan aku bertahan tinggal disini hingga pulang lusa pagi sesuai reservasi semula.
" Lumayan menarik. Oke kita ikut Bay...lagipula sayang juga buang duit dua juta kalau kita pulang besok." Kuputuskan pulang lusa.
Bayu bersorak " Yess!! Makasih Pak. Bapak is the best!" dia cengar-cengir.
" Kalau begitu aku istirahat dikamar saja Bay. Agar besok fit buat ikut off road. Kamu boleh jalan-jalan. Awas jangan sampai mabok. Besok masih banyak acara .." pesanku pada Bayu.
Anak itu suka sembrono. Dia suka minum, tapi pekerjaannya bagus. Jadi aku masih bisa mentolerir kebiasaan buruknya selama tidak mengganggu pekerjaannya.
" Siap pak! Tidak minum, saya cuma ingin jalan-jalan saja mumpung disini pak..hehe.."
" Oke...have fun!" kutinggalkan Bayu . Aku melangkah ke kamarku sendiri. Dan apa yang kudapati?
What the f**k? Aku memasuki lift dan melihat mereka di dalam lift.
" Pak Rangga. Wah sepertinya kita berjodoh . Kebetulan lagi dan lagi? " Tommy menyapaku sambil tersenyum masam. Sasi juga menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan.
" Mungkin benar Pak Tommy. Ini sungguh tidak saya duga. Pesawat dan hotel yang sama. Bahkan lantai yang sama? " aku melirik ke petunjuk disamping pintu lift yang menunjukkan angka lantai yang sama denganku.
" Pak Rangga sendirian saja? Maksud saya, tidak ada pasangan?" Tommy tampak penasaran.
" Sayang sekali , kalau Pak Rangga ada pasangan kita bisa double date. Kalau begini kan nggak bisa...hahaha..iya nggak yang..?." Tommy menatap mesra istrinya sambil tertawa.
Sasi cuma tersenyum. Matanya terlihat memperingatkan Tommy. Mungkin agar tidak berbuat tak sopan padaku, teman papanya. Tapi Tommy tampaknya cuek. Dia seakan mau menunjukkan bahwa dia sama.sekali tak segan atau takut padaku.
Aku ikut tertawa. " Wah Pak Tommy meledek saya?"
" Ohh tidak..tidak...bukan begitu. Maaf kalau menyinggung Pak Rangga. Saya cuma bercanda.." Tommy tampak pura-pura menyesal. Aku tahu dia sengaja meledekku. Sialan bocah itu. Papanya saja segan padaku. Dia malah berani meledekku.
Tak terasa kami sampai di lantai kamar kami. Sasi menyeret suaminya keluar buru-buru dari lift.
" Kami duluan Pak Rangga" suaranya yang lembut dan merdu menyapaku.
" Silakan Sasi, Pak Tommy.." balasku sopan. Lalu bergegas keluar lift di belakang mereka.
Tommy masih sempat menatapku tajam. Aku mengabaikannya . Membuka kamarku dengan kunci pass yang kubawa. Dan Taraaa...kamarku dan kamar mereka berseberangan. Betul-betul mantap permainan waktu atas kami.
POV Author..
Tommy dan Sasi masuk ke kamar mereka dengan hati kesal. Lagi-lagi mereka bertemu Rangga. Bahkan kini mereka tahu Rangga menginap dikamar yang berhadapan dengan kamar mereka.
" Kurang ajar orang itu. Bisa-bisanya dia ngikutin kita sampai di sini." Tommy bersungut-sungut.
" Jangan menuduh tanpa bukti mas. Itu fitnah namanya. Mas lihat sendiri kan? Dia benar-benar menemui kliennya.." Sasi mencoba meredakan Tommy yang kesal.
" Tapi kebetulan terus menerus ini apa mungkin Sasi?" Tommy bertanya gusar
__ADS_1
'Ssh...sudah, jangan mikirin Rangga lagi. Pikirin yang ada di depan mata aja..hmm?" Sasi berbisik manja.
Melingkarkan lengannya ke leher suaminya dan duduk begitu saja di pangkuan Tommy yang bersandar di sofa.
Tommy langsung menegakkan tubuhnya. Menarik pinggang Sasi lebih dekat ke tubuhnya. Lupa sudah semua kesal dan resah gelisah. Hanya wajah cantik mempesona sang bidadari yang menariknya terbang ke awang-awang.
Menyesapi manisnya madu Sasi. Menelusuri tiap inci rongga mulut istri cantiknya itu. Melesakkan lidahnya untuk membelit dan mengeksplor keseluruhan bibir Sasi.
Sasi membalas penuh gairah sentuhan Tommy yang melenakannya. Membuka bibirnya dan memagut Tommy tanpa ampun. Membuatnya ikut menggila bersama suaminya yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang.
"Ahh Sasiii...kenapa.aku selalu tergoda olehmu sayang? Aku tak bisa menolakmu cintaku..." Tommy meracau ditengah gerakannya mengikuti liukan tubuh Sasi diatasnya.
" Sayang...katakan kau mencintaiku..." desah Sasi merayu.
" Aku mencintaimu Sasiii..." erang Tommy. Kepalanya tengadah , tak tahan merasakan nikmatnya cumbuan istrinya.
" Katakan kau hanya milikku...Tommy sayang..." bisik Sasi menggoda.
" Aku milikmu Sasi...hanya kamu sayaang..." Tommy melenguh panjang. Makin menggila menikmati gerakan Sasi yang makin menghemtak memberikan kenikmatan padanya. Ohh..hanya kata puja dan puji yang keluar dari mulut Tommy untuk Sasi.
" Cantikku..."
" Sayangkuuuu"
" Bidadariku..."
" Sayaaaanggg...aahh...ini luar biasa......"
Dan Sasi memeluk suaminya erat ketika gelombang kenikmatan menghampiri keduanya. Erangan panjang keduanya mengakhiri permainan menyenangkan mereka di atas sofa. Tubuh penuh peluh mereka berpelukan erat setelah menikmati petualangan dahsyat disofa hotel yang empuk .
" Kamu makin nakal sayang...mmuah...bikin mas makin cintaaa..." Tommy menciumi bibir istrinya bertubi-tubi.
Tanpa melepaskan diri Tommy mengangkat tubuh istrinya. Sasi melingkarkan kakinya ke pinggang suaminya yang perkasa. Sementara tangannya melingkari bahu bidang Tommy.
Mereka berpagutan mesra. Saling menyesap dan mengulum satu sama lain tanpa jeda.
Tommy menjatuhkan tubuh Sasi ke ranjang dan mengungkungnya dalam dekapan. Mencumbuinya lagi, membangkitkan kembali gelora bercinta dua insan yang sedang dimabuk asmara. Melanjutkan petualangan mereka mereguk bahagia. Berkubang dalam nikmatnya madu cinta. Basahh...
Peluh dan keringat mengaliri tubuh mereka yang panas membara. Gerahh..!
Malam masih panjang. Seakan tak pernah lelah untuk saling menyentuh, memuja dan saling menikmati segala yang ada di tubuh pasangan mereka.
" Yaaang...kamu sudah tidur?" Tommy memeluk tubuh istrinya dari belakang. Sasi tak bergeming.
Rupanya dia benar-benar sudah tidur. Kelelahan tentu saja. Suaminya yang tak tahu malu itu meminta jatahnya lagi dan lagi sepanjang sore tadi hingga malam ini.
Tommy yang masih belum puas menyeringai kecil.Menggerayanngi tubuh sintal istrinya sendiri. Menikmatinya dan memuaskan hasratnya sendiri .
Sasi yang merasakan sesuatu memasukinya terkaget bangun. Namun begitu menyadari suaminya tengah memuaskan dirinya , Sasi segera mengikuti gerakan suaminya dengan lembut namun penuh gairah.
" Sayang...kamu bangun? Maaf...mas ngga tahan lagi sayang..." seru Tommy terbata sambi terus menghentak.
" ...ahh...mass..." Sasi mengerang . Tommy benar-benar perkasa. Bahkan dia sama sekali tak merasa capek. Melihat Sasi sudah mencapai puncaknya, Tommy makin mempercepat gerakannya . Dan lenguhan panjangnya kembali bergema di kamar. Menandakan puncak kenikmatannya telah dia raih.
Keduanya kembali berpelukan . Menyalurkan gelombang kenikmatan yang baru saja meŕeka dapatkan kembali .
__ADS_1
Malam makin larut. Seperti Saai dan Tommy yang larut dalam kebahagiaan tak terperi beesama kekasih hati...