Pelet Salah Sasaran

Pelet Salah Sasaran
#Debaran


__ADS_3

Siap-siap bucin....


Tommy bergegas keluar dari kamar Sasi. Merasa mendapat sekarung emas karena bisa mencuri kecupan di kening gadisnya.


First kiss nya pada Sasi bagi Tommy.Sekedar kecupan di kening tapi efeknya sungguh dahsyat. (Hanya Sasi, readers dan author yang tahu bahwa Tommy bahkan sudah pernah mencium bibir Sasi, ternyata Tommy memang benar-benar tak sadar dan menganggapnya mimpi saat itu.)


Sepanjang perjalanan ke kantor pikirannya dipenuhi wajah merona Sasi yang terbengong-bengong setelah bibirnya mendarat sempurna di kening Sasi.


Gadis itu bahkan tak menjawab saat dia berpamitan. Sasi cuma menatapnya dengan mulut sedikit menganga. Membuatnya ingin melahap benda merah kenyal nan menggoda itu. Hingga Tommy segera melesat pergi, takut tak kuasa menahan diri.


Tommy tersenyum-senyum sendiri. Cinta memang benar-benar aneh. Bagaimana sebuah kecupan saja bisa membuatmu seakan terbang melayang di awan. Dengan bunga-bunga putih dan wajah merah merona yang terbayang di pelupuk mata.


Tommy bahkan harus berdiam sejenak saat sampai di area parkir kantor demi menenangkan hatinya.. Menyandarkan kepala ke jok sambil memejamkan mata. Seolah perjalanan dari rumah Sasi ke kantor tak mampu meredakan dadanya yang berdebaran tak karuan.


Dirabanya dadanya yang berdegup kencang. Meraih air mineral dalam botol di sisi tempat duduknya dan meneguknya hingga tak bersisa.


" Sasi...sasi...aku sudah rindu lagi.." Gumam Tommy pelan. Bayangan wajah cantik Sasi meskipun baru bangun tidur menari-nari di kepalanya. Membuat tangannya tanpa sadar meraih ponsel dan menyentuh sebuah nama My dream girl.


" Iya mas? Ada yang ketinggalan kah?" sapa merdu Sasi dari seberang.


" Ada.." Tommy mendesah pelan.


" Apa mas? Biar nanti dikirim Kusno ke kantor."


" Hatiku..." Bisik Tommy lirih.


" Mas ih...pagi-pagi sudah gombal" Suara Sasi manja mendayu.


" Beneran Sayang, ini baru sampai parkiran aku sudah kangen lagi.." Tommy menjawab mesra.


" Mas, aku nggak jadi cuti ya... Aku mau ke kantor sekarang juga.!" Sasi membalas.


" Kenapa?Jangan sayang .Kamu masih demam gitu. Gak papa sayang istirahat aja dulu."


" Aku mau antar hatimu...kalau tetap kubawa, nanti hatimu kosong.." Sasi tergelak di ujung ponsel.


Tommy ikut tertawa.


" Sayaang...gemes tau. Jadi pengen balik lagi ke rumah kamu. Ibu belum pulang kan?" Tommy lagi-lagi menggoda Sasi.


" Belum. Emang mas mau apa kalau ibu ngga ada?" Sasi jadi terpancing ikut menggoda bossnya itu.


" Emang kamu mau diapain?"


" Ish, yang mau ngapa-ngapain kan mas?"


" Iya sayang...tapi kamu mau kan diapa-apain sama mas ?"

__ADS_1


" Mas ,ngomong apa sih ini? Gak jelas banget. Dah sana kerja sayaang . Cari duit yng banyak buat modal kawin..Hmm? I love you" Sasi menutup panggilan.


Tommy melemparkan punggungnya ke sandaran . Gadis itu benar-benar membuatnya mabuk kepayang .


" I love you more..." bisiknya pelan dan mengirimkan gambar hati merah sekeranjang ke nomor Sasi.


Sasi,yang baru ditelpon mesra dan dikirim sekeranjang cinta sedang berguling-guling di kamar sambil tertawa-tawa sendirian. Apakah Sasi gila? Iya mungkin. Gila karena cinta. Yang pernah muda dan pacaran pasti maklum dan pernah merasakan, termasuk bertingkah gila seperti Sasi. Jomblo tau apa?


Turun dari mobil Wajah Tommy yang bercahaya bak matahari pagi segera disambut para karyawan yang sudah banyak berdatangan ke kantor.


Memasuki lift , beberapa karyawan yang kebetulan mau masuk bersamaan segera memberi jalan pada boss mereka.


Beberapa ikut masuk namun berdiri agak menyamping di kanan kiri Tommy , Tak berani berdiri di depan boss. Yang lain memilih menunggu lift selanjutnya atau lewat tangga.


Saat pintu lift terbuka , Tommy berpapasan dengan Reza yang baru naik lewat tangga.


" Reza ikut ke ruangan saya!" titah Tommy.


" Ya pak." singkat jawab Reza..


" Duduk. Ini kamu pelajari berkas yang sudah disiapkan Sasi. Kamu nanti ikut saya gantiin Sasi, ketemu klien." Tommy menyerahkan map berisi berkas dan sebuah tablet yang biasa dipakai Sasi.


" Sasi nggak masuk Boss?" Tanya Reza sambil menerima map dan tablet.


" Hmm..sakit dia. Tadi malam habis ketemu klien sama saya. Kecapekan."


" Mau apa kamu?" cegah Tommy saat melihat Reza mau menelpon.


" Telpon Sasi pak. Sekalian kasih tau nanti mau jenguk." Reza menatap Tommy.


" Ngga perlu!" pungkas Tommy. " Dia sudah baikan kok, gak perlu besuk. Besok juga sudah masuk dia."


Reza memasukkanh kembali ponselnya ke dalam saku. Terbengong menatap Tommy. Ada hak apa dia melarangku menjenguk Sasi? Pikir Reza.


" Lagipula ini masih jam kerja, ngapain kamu nelpon-nelpon. Nanti dong saat istirahat. Baru boleh ñelpon urusan pribadi. Itu kerjaan dikerjain dulu. Sudah kamu pelajari belum?"


" Sudah pak. Diluar kepala , proyek ini kan saya juga yang bikin proposalnya." Reza membolak-balik berkas ditangannya.


" Good. Makanya saya ajak kamu . Yang ngerti jelas proyek ini ya cuma saya , kamu sama Sasi. Ok. Kamu siap ? Kita berangkat sekarang!"


" Siap pak!" Reza segera berdiri mengikuti Tommy yang lebih dulu berjalan keluar.


Sampai di parkiran, Jono sudah menunggu di mobil.


" Duduk sama saya Za, saya ada yang mau diskusikan sama kamu" seru Tommy ketika melihat Reza akan membuka pintu samping sebelah kemudi.


" Siap pak!" Reza membuka pintu belakang mobil dan duduk di samping Tommy.

__ADS_1


Keduanya kemudian membicarakan teknis meeting dengan klien yang akan mereka datangi


Menyatukan visi misi untuk meyakinkan klien.


" Kamu kayanya cocok gantiin Sasi jadi asisten saya Za" Tommy bergumam.


" Ah boss ini ada-ada saja. Memang Sasi mau resign?"


Tommy tersenyum misterius. Membuat Reza bertanya-tanya dalam hati.


"Nggak sekarang sih, mungkin suatu saat nanti" Tommy membayangkan saat Sasi hamil dan melahirkan, Reza lah yang akan menggantikan posisi Sasi. Tommy merasa cocok bicara dan berdiskusi' dengan Reza. Menurut Tommy, Reza adalah penjelmaan Sasi versi pria.


" Jangan bikin penasaran pak. Apakah Sasi mau menikah?" Tanya Reza penasaran.


" Mungkin.." jawab Tommy mengambang.


" Kapan pak? Kok saya nggak tahu. Davin juga nggak bilang apa-apa ke saya. Sasi juga ngga ada ngomong masalah nikah. Bapak tahu dari mana?"


" Mungkin tak lama lagi. Memangnya kamu apanya Sasi sampai Sasi harus lapor kamu kalau mau menikah. Dan saya tentu saja tahu karena..."


Tommy belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Jono sudah menghentikan mobilnya di depan sebuah resto terkemuka. Tempat mereka bertemu dengan klien.


" Sudah sampai pak" Jono turun dan membukakan pintu mobil untuk Tommy.


" Hp jangan mati Jon, nanti kalau sudah selesai saya hubungi" Tommy mengingatkan Jono sebelum sopirnya itu pergi memarkir mobil ke tempatnya.


" Siap pak!" Jono mengangguk hormat.


Reza berdiri di sebelah Tommy. Sebenarnya sejakntadi hatinya terus diliputi berbagai pertanyaan tentang Sasi yang terasa aneh dan misterius karena Tommy menjelaskan dan menjawab pertanyaannya dengan kalimat ambigu yang sepotong-sepotong.


Sasi akan menikah? Kapan? Sama siapa? Kenapa mendadak? Apakan perjodohan, mengingat Sasi tak pernah terlihat punya gandengan. Mungkinkah dengan Davin? Mungkikah sahabatnya itu sudah menikungnya telak kali ini? Berbagai kemungkinan dan bayangan berkelebat di benak Reza.


" Za, baru dipuji layak menggantikan Sasi, malah bengong begitu. Siap nggak nih ketemu klien sekarang?" Tommy menepuk bahu Reza.


" Ohh..siap dong Boss. Lets get a big money!" Seru Reza semangat. Masalah Sasi harus endap dulu. Sekarang kerjakan tugas negara sebaik-baiknya, tekad Reza.


" Verry good . Go fight!" Tommy tersenyum.


Keduanya berjalan beriringan menuju ruang VVIP restoran yang telah dipesan sebelumnya.


********


Jauh di pinggiran kota. Di sebuah pondok Tua penuh ukiran indah kayu Jati dan barang-barang pusaka peninggalan pepunden ( orang yang dihormati dan disegani, berderajat tinggi, bisa nenek moyang, atau orang yang mempunyai ilmu tinggi) Mbah Ageng mengibaskan tangannya pelahan.


" Rasanya aku tak perlu lagi melakukan apapun. Perasaannya sangat kuat untuk Sasi. Mudah-mudahan Sasi segera diselamatkan oleh pangeran tampannya "


Mbah Ageng masih tersenyum kecil sambil mengelus jenggotnya.

__ADS_1


__ADS_2