
Ages pergi dan meninggalkan ruangan hingga Kini tersisa Niken juga Kina yang tinggal berdua. Asisten pribadi Ages itu berdiri tegak di dekat pintu sembari melihat lurus ke depan seolah sedang menjaga Kina saja. Kina sendiri sejak tadi melihat kearah Niken dengan pelan melihat apakah gadis itu akan tetap berdiri disana seperti seorang bodyguard saja.
"Ken, kok kamu cuma berdiri disana hemm?" Tanya Kina pelan dan merapikan meja dihadapan sofa.
"Sa,,saya baik-baik saja buk. Silahkan ibu lanjutkan saja kegiatan ibu saya akan menjaga ibu disini,"ucap gadis itu dengan pelan dan kembali berdiri tegak.
"Mari duduk disini saja, sepertinya rapat mas Ages masih lama dan kamu akan kelelahan jika berdiri seperti itu disana,"ucap Kina lagi dengan lembut mencoba untuk mengajak Niken.
"Maaf buk saya tidak berhak untuk duduk disana, saya baik-baik saja buk."
Kina cemberut dan langsung bangkit dengan susah payah menuju Niken. Perut buncitnya benar-benar sudah sangat besar hingga ia bahkan terlihat sangat kesulitan untuk bergerak.
Niken yang melihat itu langsung khawatir takut Kina kenapa-napa atau bahkan sampai terjatuh, kalau sampai hal itu terjadi maka Ages benar-benar akan mengakhiri karirnya kali ini. Sudah syukur kali itu ia selamat karena Kina.
"Ba,, baiklah buk saya akan duduk disana, saya mohon ibu jangan banyak bergerak dulu. Saya takut ibu sampai kenapa-napa nantinya,"ucap Niken buru-buru berlari kearah Kina yang tersenyum itu kemudian ia duduk begitu Juga dengan Niken.
"Kenapa kamu terdengar seperti mas Ages saja heheh, seharusnya kamu tidak usah sungkan kepada ku. Aku sangat tidak ingin membuat kamu merasa tidak nyaman seperti ini, maaf yah!"
Niken Langsung menggeleng dan mengibaskan tangannya tanda ia sama sekali tidak merasa seperti itu. Ia bahkan merasa lebih nyaman dengan Kina dibandingkan dengan Ages. Walaupun Ages adalah bossnya sendiri dan ia juga baru saja bertemu dengan Kina akhir-akhir ini.
"Bagaimana pekerjaan mu hari ini? Apakah ada hal yang membuat mu kesulitan?" Tanya Kina penuh kelembutan sembari mencoba untuk mencari topik pembicaraan dengan Niken.
"Segalanya berjalan dengan lancar buk, Baga dengan ibu? Apakah ibu merasa baik-baik saja?" Tanya balik Niken.
Kina tersenyum senang karena mendapatkan perhatian balik dari Niken, walaupun sebenarnya ia masih sangat sedih sebab sampai Kini Niken masih membuat banyak sekali batasan diantara mereka. Ia masih memanggilnya dengan sebutan ibu padahal Kina sudah berkali-kali meminta untuk ia memanggil nya dengan nama saja.
"Kenapa kamu begitu kaku saat bersamaku? Apa ada hal lain yang membuat mu tidak nyaman?"tanya kina dengan pelan mencoba untuk mencari tahu kenapa Niken begitu membatasi diri dengan nya.
"Tidak ada buk, saya hanya ingin menunjukkan rasa hormat saya kepada ibu karena ibu sangat baik sekali dan seluruh orang di kantor ini juga setuju dengan pendapat saya bahwa itu adalah orang yang baik."
Kina kaget mendengar itu"Tapi kamu menunjukkan hal yang berbeda Ken, aku sangat ingin berteman dengan mu tapi kamu terlihat sangat tidak ingin bertemu dengan ku? Apa aku membuat kesalahan kepada mu?" Tanya Kina lagi kali ini ia melihat kearah Niken dengan wajah kecewa.
Niken Langsung merasa tidak enak karena sudah membuat Kina kecewa kepada nya, ia benar-benar tidak merasa kalau Kina telah membuat kesalahan kepada nya. Ia bahkan sang berterimakasih kepada Kina karena gadis itu sudah menyelamatkan ia hari itu, kalau saja tidak ada Kina yang mencoba menenangkan Ages maka karir nya benar-benar akan berakhir saat itu. Tentu saja hal itu membuat Niken sangat menghormati Kina dan merasa tidak pantas untuk bersikap santai kepada nya.
"Sa,,saya benar-benar sangat menghormati ibu dan merasa tidak pantas untuk berteman dengan ibu. Ibu sangat baik dan murah hati, ibu benar-benar gadis yang sangat hebat sampai saya tidak merasa pantas untuk berteman dengan ibu."
Kina terdiam karena mendengar itu dari Niken, benarkah apa yang ia dengar itu? Apakah ia benar-benar gadis yang hebat? Kina merasa itu sangat tidak pantas untuk orang seperti dirinya.
"Hei, kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku benar-benar gadis biasa dan kita berdua sama. Mau aku ceritakan kisah ku agar kamu lebih santai sedikit?" Tanya Kina kearah Niken namun gadis itu hanya diam saja. Bagaimana pun kisah Kina tetap saja Kina adalah gadis yang seharusnya ia hormati.
"Bagaimana pun ibu tetap saja ibu adalah atasan yang harus saya hormati, saya takut bapak akan marah jika melihat saya bersikap tidak sopan kepada ibu. Mohon ibu bisa memahami saya!" Ucap Niken dengan hormat.
Kina akhirnya menyerah lagi, kali kedua ini ia menyerah untuk membujuk Niken dan gadis masih saja teguh dengan pendirian nya. Kina sama sekali tidak menganggap Niken itu sombong atau keras kepala tapi karena Kina bisa melihat kejujuran disana. Ketakutan dalam dirinya terlalu mendominasi hingga ia tidak berani untuk melakukan hal yang lebih.
"Baiklah Niken aku benar-benar bisa mengerti dan memahami mu, semoga saja kamu benar-benar bisa menjadi teman ku."
Kina menghembuskan nafas pelan lalu kembali merapikan meja itu sementara Niken duduk disofa dengan tegak sembari melihat kearah Kina. Ia semakin overthingking apakah ia membuat Kina kecewa dan marah? Bagaimana kalau ia malah membuat kina membencinya? Berbagai macam jenis pikiran timbul dikotak Niken namun semua itu fatah saat melihat Kina dan mendengarkan ucapannya.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita mencoba memakan masakan mas Ages Saja? Kamu belum pernah kan memakan masakan mas Ages?" Tanya Kina perlahan dengan senyuman nya lagi.
Benar-benar diluar dugaan. Niken bahkan sampai menganga tidak percaya dengan seorang kina. Seharusnya ia marah dan benci karena Niken berkali-kali menolak permintaan nya untuk berteman namun gadis itu sama sekali tidak marah dan bahkan mengajak Niken untuk memakan masakan suaminya sendiri.
"Maaf buk, saya benar-benar tidak berani dan merasa tidak pantas."
Kina cemberut dan kecewa lagi, apakah ia benar-benar tidak akan bisa dekat dengan Niken? Gadis itu terlalu kaku dan merasa tidak pantas dalam segala hal jika itu menyangkut tentang Kina.
__ADS_1
"Kenapa kamu sama sekali tidak ingin bersama ku? Aku benar-benar tidak ingin makan sendirian."
Niken semakin merasa bersalah dan takut membuat Kina akan marah kepada nya. Sikap seperti itu benar-benar sudah bisa dikatakan sebagai sikap tidak sopan karena terlalu sering membuat Kina kecewa padahal gadis itu sudah sangat baik kepada nya.
"Mau yah Ken! Maaf yah kalau aku terkesan memaksa! Aku hanya ingin berbagi banyak hal dengan mu. Siapa tahu dengan memakan masakan mas Ages kamu bisa lebih semangat bekerja dan mengabdi kepada mas Ages,"ucap Kina dengan ramah.
Niken mengangguk dengan pelan dan ragu karena sudah terlanjur merasa tidak enak dan nikmat juga merasa tidak pantas untuk menolak lagi ia akhirnya mengangguk setuju.
"Ba,,baik buk!"
Kina tersenyum senang kemudian bangkit dengan susah payah hingga Niken kalap langsung berdiri.
"Hati-hati buk."
"Sudahlah kamu duduk saja, aku hanya hendak mengambil kotak bekal didekat meja mas Ages."
"Bi,,biar saya saja buk. Ibu duduk saja hehehe."
Kina tersenyum karena Niken terlihat sangat bersemangat takut ia akan kelelahan dan ia terlihat sangat mirip dengan Ages saat ini.
"Kalian benar-benar sangat mirip, mas Ages juga tidak pernah mengizinkan ku untuk bergerak bahkan untuk makan saja ia hampir selalu menyuapi ku."
Niken tersenyum dan berjalan kearah Kina, dengan ragu ia duduk disamping Kina karena gadis itu menepuk sofa disampingnya menandakan ia ingin Niken duduk disana dengan nya.
"Apa tidak apa buk kalau saya ikut memakan ini? Bukankah bapak memasak ini untuk ibu?" Tanya Niken ragu-ragu.
"Tidak usah khawatir Ken, mas Ages memasak untuk dimakan bukan hanya untuk ku saja. Cobalah siapa tahu kamu menyukai nya,"ucap Kina membuka kotak bekal itu.
Niken tersenyum dan tidak menyangka isi dari kotak bekal itu sangat cantik sekali. Telur lapis yang dibentuk dengan berbagai macam rupa ditambah lagi dengan masakan pendamping lainnya yang disusun sangat rapi oleh Ages. Niken sempat menggeleng berpikir apakah yang menyiapkan ini adalah Ages? Karena sama sekali tidak cocok dengan kepribadian nya.
"Iya ini adalah hasil kerja mas Ages. Sudah lama sekali aku tidak pernah memasak, dan yang menyiapkan makanan untuk ku adalah mas Ages heheh."
"Wahh saya benar-benar tidak tahu kalau pak Ages bisa memasak apalagi harus menyiapkan bekal seperti ini benar-benar sangat mengejutkan karena tidak sesuai dengan kepribadian pak Ages."
Kina hampir saja tertawa karena mendengar itu, ia setuju dengan ucapan Niken Maret Ages adalah laki-laki yang sangat dingin dan juga arogan sebelumnya. Namun saat bersama Kina ia sangat manja dan juga begitu kekanakan.
"Mas Ages belajar memasak Ken, aku juga kaget saat ia mengatakan masuk ke kursus masak agar bisa memasak untuk ku. Katanya ia ingin melayaniku dengan baik menjaga ku dan juga tidak ingin aku melakukan apapun,"ucap Kina dengan pelan.
"Ibu benar-benar sangat hebat bisa membuat pak Ages berubah, seluruh orang dikantor benar-benar sangat senang dengan kehadiran ibu. Pak Ages jadi lebih ramah dan juga tidak terlalu cepat marah."
"Benarkah? Padahal aku sangat takut orang-orang dikantor ini akan bergosip yang bukan-bukan tentang ku. Karena aku dengan mas Ages sangat berbeda jauh dan aku takut kalian akan bergosip mengenai ketidakcocokan kami." Sungut Kina pelan dan menunduk lesu.
Jujur saja saat memasuki kantor ia benar-benar sangat was-was juga takut dengan tatapan orang-orang disana, memang mereka selalu tersenyum dan menunduk saat melihat nya namun Kina ragu dengan isi hati mereka. Ia takut kalau mereka hanya tersenyum didepan namun menghinanya dibelakang.
Niken dengan cepat menggeleng keras karena itu sama sekali bukanlah kebenaran. Ia sudah seringkali mendengar banyak sekali pujian tentang kina.
"Tidak sama sekali buk, saya tidak berbohong mana berani saya berbohong Bu! Kami benar-benar sangat bersyukur dengan kehadiran ibu disisi bapak, bapak menjadi lebih baik dan kami juga bisa melihat betapa cocoknya kalian. Ibu selain cantik ibu juga sangat mulia hatinya."
Kina tersenyum pelan kearah Niken ia melihat seorang seksama kearah Niken mencoba mencari kebohongan disana namun ia melihat betapa Niken sedang berbicara jujur saat ini.
"Benarkah itu? Kalau itu memang benar maka aku benar-benar akan sangat lega. Setiap memasuki kantor aku sangat takut akan mendapatkan omongan tentang ku."
"Ibu tidak usah khawatir, kami benar-benar sangat senang dengan kehadiran ibu. Bapak benar-benar sangat beruntung bisa mendapatkan ibu," ucap Niken pelan.
Kina melihat kearah Niken lagi"Bolehkah aku memeluk mu?"
__ADS_1
"Maaf buk?" Tanya Niken dengan pelan karena tiba-tiba saja Kina meminta izin ingin memeluk nya.
"Aku sangat senang dan sangat ingin memeluk mu. Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Kina lagi.
Dengan pelan Niken mengangguk dan memeluk Kina yang memeluknya juga. Mereka berpelukan dengan canggung ah walaupun sebenarnya Niken lah yang merasa canggung sedangkan Kina benar-benar sangat bahagia kini.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar dan Ages baru saja masuk, ia kaget saat melihat istrinya sedang duduk disofa berpelukan dengan Niken asisten pribadi nya itu.
"Ada apa ini? Kenapa kamu memeluk istriku?" Tanya Ages dengan wajah curiga.
Niken dengan takut melepaskan pelukannya dan bangkit menunduk meminta maaf kepada Ages.
"Maafkan saya pak saya tidak bermaksud membuat bapak marah."
"Mas ihh ada apa sih? Kok datang-datang ganggu acara aja." Ucap Kina dengan bibirnya yang manyun kesal.
"Kamu kok meluk orang lain sayang? Kalau butuh pelukan kan bisa minta sama mas! Sini biar mas peluk kamu , mas kangen banget tau dari tadi gak liat kamu."
"Siapa juga yang butuh pelukan mas, mas ganggu acara kami tau," ucap Kina dengan kesal.
"Acara apa itu? Masa mas gak boleh ikutan sih?" Tanya Ages lagi.
"Mas tuh gak adat yah udah buat Niken takut gitu? Gimana mau gabung coba?"
"Benarkah? Apa saya membuat mu merasa takut?"tanya Ages dengan tegas.
"Sa,,sam sekali tidak pak, maafkan saya."
"Lihatlah mas, bagaimana bisa Niken tidak takut saat mas berbicara begitu tegas. Lembutlah mas sedikit kepada karyawan. Niken sudah sangat rajin dan tidak pantas untuk mas jahati begitu.".
"Mas kan gak pernah jahatin dia sayang, kok kamu ngomong gitu banget."
"Pokoknya mas harus lembut dan ubah sikap mas kepada karyawan mas, aku gamau mas jahat sama orang lain."
"Mas kan gak jahat sayang, mas,,"
"Mas janji dulu!"
"Mas janji sayang, mas gak akan jahat sama karyawan mas padahal kan mas benar-benar gak jahat."
"Pokoknya kalau sampai mas jahat aku gak bakal ngasih mas jatah."
Niken yang diam saja berdiri disana hampir tertawa karena mendengar itu apalagi melihat reaksi kaget Ages.
"Kamu kok gitu sayang, gak lucu ah ancamannya."
Ages berkali-kali mencoba untuk membujuk kina hingga Niken hampir saja tertawa namun ia menahannya.
...🌼to be continued 🌼...
Hayooo kasiannn, kena ancam tuh wkwkw. Makanya jangan jahat sama karyawan kamu.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1