
Kina lebih dahulu naik keatas karena malu dengan Ages, laki-laki itu benar-benar sangat ahli dalam menggoda dirinya. Untuk apa ia membahas satu sendok sama dengan ciuman tidak langsung kepada Kina? Bukankah sama saja ia sedang menggoda habis gadis itu.
"Benar-benar aneh, mas Ages sangat pintar dalam mengatakan hal-hal yang tidak berdasar. Sejak kapan ia berubah menjadi orang aneh seperti itu? Bukankah mas Ages dahulu sangat pandai memilih kata-kata yang akan keluar dari mulutnya?" Kaget Kina karena perubahan sikap Ages.
Ia hendak duduk di sofa namun mendengar suara langkah kaki dari luar kina buru-buru berbaring menghadap dinding sofa, mencoba untuk tidak melihat laki-laki itu. Semakin lama berbicara dengan nya jantung Kina benar-benar tidak aman dan ia seakan tidak bisa menahan perasaannya sendiri.
"Loh? Kamu mau tidur yah sayang?" Tanya Ages datang kearah Kina mendekat kearah gadis itu.
"Kenapa malah datang sih? Ihh masa gak peka sih? Mas Ages kenapa sih?" Kesal Kina karena laki-laki itu malah duduk saja disampingnya.
"Sayang, kamu gak lagi tidur kan? Masa sih udah tidur aja padahal baru aja sampai disini. Kalau kamu mau tidur udah pindah ke ranjang aja yah," ajak Ages dengan lembut.
"Ranjang? Maksud mas Ages apa? Kami satu ranjang gitu? Gak,,gak."
Kina sama sekali tidak bergeming atau bergerak dan ia malah sibuk berdumal dalam hatinya berharap Ages pergi dari sana.
"Sayang aku tahu kamu pasti denger ini kan? Aku gak mau kamu tidur di sofa lagi. Kita tidur di ranjang aja, aku gak mau kamu nanti pegal-pegal dan bagaimana kalau sampai anak kita juga ngerasa gak nyaman?"
"Iya juga sih, tapi kan gak mau satu ranjang.." batin Kina sejak tadi mencoba untuk tetap dalam posisinya mengabaikan Ages yang seolah seperti seorang kekasih yang membujuk pacar nya yang sedang merajuk.
"Kalau kamu masih pura-pura gak denger dan masih ngotot tidur disitu mas cium kamu sampai bibir kamu bengkak,"ancam Ages dengan pelan sembari menahan senyumnya.
Kina yang mendengar itu benar-benar panik bukan main pasalnya Ages sama sekali tidak pernah bermain-main dengan ucapan dan laki-laki itu jelas mampu melakukan hal itu, bagaimana bisa kina merasa tenang saat mendengar itu? Membayangkan Ages yang begitu liar mencium bibirnya sampai bengkak benar-benar membuat Kina bergidik negeri.
Gadis itu perlahan bangkit dan berpura-pura baru saja terbangun dari tidurnya, ia sama sekali tidak ingin mendapatkan ancaman itu dari Ages.
"Hoammm,loh? Kok mas ada disini?" Tanya Kina berpura-pura baru saja terbangun dan kaget melihat Ages yang ada disana.
Bagaimana bisa Ages tidak tersenyum karena melihat tingkah lucu gadis itu? Ia benar-benar sangat menggemaskan dalam pandangan Ages. Siapapun tahu kalau ia sejak tadi tidak tidur dan bisa dengan jelas mendengar segala ucapan Ages hingga ancaman itu.
"Giliran diancam baru bangun, kenapa kamu begitu menggemaskan sih sayangkuu?" Batin Ages tersenyum pelan.
Ages memilih untuk menuruti permainan gadis itu saja, lebih baik begitu demi menghargai perasaan Kina.
"Baru saja sayang, kalau kamu mau tidur kita pindah ke ranjang saja. Jangan tidur disofa begini, nanti kamu malah pegal-pegal dan anak kita bisa saja merasa tidak nyaman sayang,"ucap Ages mengulangi kata-kata nya tadi.
Kina memasang wajah tidak mengerti, apa mereka benar-benar akan tidur diranjang yang sama? Ouhh benar-benar membuat Kina bergidik ngeri.
"Ki,,kita satu ranjang mas?" Kaget Kina dengan wajah tidak bisa dikondisikan.
"Loh, kenapa kamu terlihat kaget begitu sayang? Memang nya ada yang salah?" Tanya Ages yang malah ikut kaget.
"Yah ga,,gak ada sih mas. Cuma kan gak enak aja tiba-tiba udah satu ranjang gitu,"ucap Kina dengan ragu-ragu.
"Kamu mikir apa hmmm? Kamu gak lagi mikir yang enggak-enggak kan? Kenapa pipimu memerah begitu?" Tanya Ages menggoda Kina yang langsung memegangi pipinya yang memanas itu.
Kina yang bodoh karena berpikir terlalu jauh ke depan, bagaimana bisa ia salah mengartikan kata-kata Ages yang mengatakan mereka pindah ke ranjang yang sama saja? Pikiran kina yang benar-benar kurang steril. Padahal sebenarnya Ages hanya mengatakan untuk mereka tidur di ranjang yang sama.
"A,apaan sih mas? Ihh ngeselin."
Kina benar-benar malu kemudian mencoba untuk terlihat biasa saja pada sebenarnya ia benar-benar sudah sangat malu. Ages seolah tahu isi pikirannya hingga ia menanyakan hal itu kepada Kina.
"Lalu apa salahnya kalau kita tidur diranjang yang sama? "
"Si,,siapa juga yang bilang salah mas? A,,aku ngantuk. Aku mau tidur saja mas lebih dulu,"ucap Kina mencari alasan dan mengalihkan pembicaraan.
Gadis itu bangkit dari sofa dengan wajah yang biasa saja padahal sebenarnya ia sedang menahan rasa malu karena tertangkap basah sedang memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan.
__ADS_1
"Menggemaskan sekali dia, ingin ku terkam saja. Akhh kenapa menahan diri sesulit ini?" Ages mencoba untuk menenangkan dirinya saat melihat tingkah Kina yang benar-benar berhasil menghipnotis dirinya hingga terkadang ia sulit untuk mengendalikan dirinya.
"Bodoh kamu Kina, mikir apa kamu tadi? Benar-benar gadis bodoh, akhh memalukan.".
Kina merutuki dirinya dan memasukkan wajahnya kedalam selimut, ia bergerak gusar karena malu. Bukankah ia terlihat sangat munafik? Bagaimana bisa dia memikirkan hal seperti itu dengan Ages?.
"Sayang? Kenapa dengan mu? Apa ada yang sakit? Kenapa bergerak gusar begitu?" Tanya Ages dengan khawatir mendekat kearah Kina.
"Aku baik-baik saja mas, mas kalau mau tidur tidur saja, aku memang memiliki kebiasaan seperti ini saat hendak tidur,"ucap Kina beralasan.
Ages tertawa karena mendengar itu, gadis itu sepertinya Kina benar-benar malu hingga berbicara tidak jelas begitu.
"Oohh kebiasaan yah? Kebiasaan istri ku sangat lucu yah sebelum tidur," sindir Ages menahan tawanya.
Setelah itu ia berjalan menuju sisi ranjang yang satu lagi untuk ikut berbaring disana.
Sedangkan kina masih saja menahan rasa malunya karena sudah terlihat sangat bodoh beralasan seperti itu benar-benar semakin membuat ia terlihat semakin bodoh.
"Kebiasaan? Apa sih Kina? Sejak kapan kamu bersikap seaneh ini?" Kesalnya kepada dirinya sendiri.
Ages sendiri sejak tadi hampir saja tertawa lepas karena melihat kina yang begitu menggemaskan itu, gadis itu berhasil membuat Ages semakin jatuh ke dalam pesona nya.
Sementara kini Afri sedang sibuk membersihkan rumah karena tidak sempat sejak tadi, gadis itu sedang ada urusan tadi hingga meninggalkan rumah Akmal sejenak barulah ia kembali jam 8 malam. Dan sejak jam 8 tadi gadis itu sibuk membersihkan rumah termasuk dapur karena sempat ia tinggalkan dengan keadaan kotor karena membawa Ages ke rumah sakit dan barulah ia sempat untuk membersihkan itu.
Maklum saja karena Afri juga baru belajar memasak jadi setiap kali ia memasak maka kondisi dapur akan sangat berantakan, Afri belum sepenuhnya bisa meletakkan sesuatu sesuai tempatnya.
Akmal sedang terlelap sejak tadi,ia begitu lemah dan lemas hingga Afri menyuruh laki-laki itu untuk beristirahat saja. Jujur saja Afri masih belum yakin dengan hubungan mereka. Apakah mereka sudah bisa dikatakan sebagai kekasih atau bukan? Afri masih sangat mempertanyakan hal itu.
"Ta,, tapi Akmal sendiri yang meminta izin untuk mencium bibir ku, bukankah itu adalah salah satu bentuk dimulainya hubungan kami?" Gumam Afri mencoba untuk mencari kebenaran dan juga pengakuan.
"Apa aku boleh berharap lagi? Untuk menyerah juga aku sangat tidak sanggup untuk melakukan nya."
Afri benar-benar dilema karena ia sudah hampir berpikir untuk menyerah namun karena Akmal melakukan hal itu malam yang lalu, Afri seolah mendapatkan setitik harapan lagi walaupun sebenarnya masih terlihat samar.
"Tidak usah terlalu dipikirkan Afri, bukankah prioritas utama mu adalah kebahagiaan Akmal. Urusan dia mencintaimu atau tidak adalah bonus, kita jalani saja dan coba berjuang sedikit lagi saja. Kita tidak tahu apa yang sedang menunggu dihadapan,"gumam Afri tersenyum lalu membungkus beberapa sampah itu.
Saat ia menoleh ia malah dikagetkan dengan Akmal yang berdiri di depan pintu menatap kearah nya dengan pelan, apakah laki-laki itu sudah sejak tadi berdiri disana? Kalau begitu Bukankah ia bisa mendengar segala ucapan Afri sejak tadi?.
"L,,,loh? Akmal! Ihh kamu ngagetin aku,"ucap Afri kaget.
Akmal tersenyum pelan karena merasa lucu dengan Afri yang terkejut itu "Sedang apa kamu? Apa kamu sedang latihan wawancara atau semacamnya? Kenapa bergumam seorang diri?" Tanya Akmal dengan pelan.
Afri tersenyum kikuk lalu berjalan kearah Akmal setelah mencuci tangan nya, gadis itu mendekat kearah Akmal untuk memeriksa keadaan laki-laki itu.
Akmal sendiri kaget karena tiba-tiba saja Afri sudah ada di hadapannya memegang dahi laki-laki itu dan melihat keadaannya dengan jarak yang lebih dekat.
"Bagaimana keadaan mu mal? Mendingan gak?" Khawatir Kina.
Akmal tersenyum mengangguk "Aku sudah merasa baikan kok, tidak usah khawatir."
"Tapi kenapa wajahmu masih terlihat pucat begitu mal? Aku masih tidak mengerti dengan rumah sakit itu, bagaimana bisa mereka menyuruh kita pulang saat kamu masih terlihat lemah begini? Sepertinya kamu semakin terlihat pucat dibandingkan saat kita keluar dari rumah sakit yah?" Bingung Afri melihat kearah Akmal lagi.
Akmal bisa melihat raut wajah Afri yang begitu khawatir itu, benar-benar menyayat hati dan membuat ia merasa bersalah. Afri adalah gadis baik yang sudah sangat sering ia sakiti.
Dengan cepat Akmal menarik Afri ke dalam pelukannya hingga gadis itu kaget bukan main dengan jantung yang sudah tidak bisa ia amankan lagi. Hampir saja meledak saking kencangnya saat beroperasi, Afri bisa mati ditempat kalau Akmal sering melakukan hal seperti ini.
"Ma,,mal?" Kaget Afri dengan kaku diam dalam pelukan Akmal.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja fri, biarkan sebentar saja aku memeluk mu untuk mengisi dayaku. Aku hanya sedikit pucat saja namun aku sudah merasa lebih baik, karena ada gadis hebat seperti mu yang merawat ku. Terima kasih karena sudah ada untuk ku."
Deg
Jujur saja Akmal mengatakan hal yang ada di dalam benaknya dan hak yang benar-benar ia rasakan, ternyata kata-kata itu berhasil membuat Afri sampai lupa untuk bernafas, gadis itu kaku dan hampir saja pingsan di tempat.
Kebayang gak sih, Afri sudah sangat lama mengejar seorang Akmal. Laki-laki itu sudah lama bersemayam dalam hatinya. Ia begitu gigih mengejar Akmal dan sudah sangat sering patah hati berulangkali, laki-laki itu jelas memperlihatkan sikap tidak sukanya terhadap Afri dan hari ini apa yang dirasakan oleh Afri juga ia dengar? Sebuah kejutan yang sangat tidak terduga seorang Akmal memeluknya terlebih dahulu dan berkata bahwa ia sangat senang memiliki Afri di sisinya.
"Apa aku salah dengar?" Batin Afri masih terdiam kaku dalam pelukan Akmal.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan melihat kearah Afri, gadis itu hanya diam saja dengan nafas tertahan.
"Heyy kenapa dengan mu?" Kaget Akmal melihat kearah Afri yang terlihat sangat kaku itu.
"Heyy fri! Kenapa dengan mu?" Tanya Akmal sedikit menepuk bahu gadis itu.
"Ha? Hhhahh." Afri mencoba menarik udara sebanyak-banyaknya karena ia Sempat lupa bagaimana caranya nernafas karena mendapatkan perlakuan tiba-tiba itu dari Akmal.
Akmal tertawa pelan, ia tidak menyangka Afri akan segitunya. Bagaimana bisa ia lupa bagaimana caranya bernafas hanya karena dipeluk oleh nya.
"Apa dia benar-benar secinta itu kepada ku?" Batin Akmal.
"Ke,, kenapa kamu tiba-tiba memeluk ku?" Tanya Afri dengan pipi memerah.
Akmal tersenyum lalu mendekat kearah Afri" Memangnya kenapa? Apa kamu berharap lebih dari itu?" Bisik Akmal hingga mata Afri semakin membulat saja.
Dengan cepat gadis itu mengangguk hingga Akmal tidak bisa menahan tawanya, bagaimana bisa ia mengangguk begitu saja padahal Akmal hanya mencoba untuk menggodanya saja.
Benar-benar sesuatu sekali, jelas saja Afri dengan cepat mengangguk karena ia benar-benar mengharapkan semua itu. Akmal yang salah dalam memberikan pertanyaan seperti itu kepada Afri yang merupakan gadis yang begitu mencintainya.
"Baiklah kalau begitu," ucap Akmal mendekat kearah Afri hingga gadis itu benar-benar sangat gugup dan dengan cepat ia menutup matanya seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh Akmal kepada nya.
Akmal sendiri benar-benar tidak tahan lagi menahan senyumnya, sejak kapan Afri terlihat sangat imut dalam pandangan nya? Gadis itu jelas mengharapkan Akmal untuk mencium bibirnya. Oleh karena itu Akmal berniat untuk menggoda nya saja.
Perlahan Akmal mendekat dan semakin dekat saja, laki-laki itu berhenti tepat saat wajah mereka benar-benar hanya berjarak beberapa senti saja.
Cup
Akmal yang awalnya begitu dekat dengan bibir Afri beralih mencium kening gadis itu begitu lama hingga mata Afri terbuka lebar. Ia sama sekali tidak kecewa dan malah jantungnya yang berdetak sangat kencang, ini adalah ciuman paling romantis menurut nya. Dari yang ia dengar dan ia lihat banyak yang mengatakan kalau laki-laki mencium kening seorang perempuan itu tandanya mereka mencintai gadis itu.
"A,,apa ini adalah jawaban dari Akmal?" Batin Afri benar-benar tidak bisa lagi mengendalikan perasaannya.
"Mikir apa kamu hayoo?" Goda Akmal berbisik setelah mencium kening Afri.
Pipi gadis itu memerah bukan main, sejak kapan Akmal begitu pandai membuat ia merona seperti itu?.
"Ki,,kita makan sekarang yah mal! A,,aku sudah memasaknya tadi."
Afri mengalihkan pembicaraan dan mulai berjalan kearah tempat penyimpanan makanan mereka yang terbuat dari teknologi canggih itu untuk mengambil masakan yang sudah ia masak tadi. Sebelum kebersihan tadi Afri sempatkan untuk memasak lebih dahulu dan memang masih terasa hangat untuk mereka makan. Penyimpanan itu adalah salah satu karya Akmal yang menjaga makanan agar tetap hangat tanpa harus dipanaskan lagi.
...🌼To be continued 🌼...
Hayoo Afri sama kina kalian pada ngapain sih? Ada yang mikir aneh Karena diminta satu ranjang. Dan ada yang menutup mata berharap dicium bibirnya awokawok. Jangan terlalu diperlihatkan lah...
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1