
Akmal masih saja terdiam menatap kearah pintu, ia masih tetap merasa kosong di dalam dirinya setelah Kina mengatakan kalau ia sudah bahagia dan meminta Akmal untuk segera melupakan nya. Jujur saja, sangat menyakitkan baginya karena bayangkan saja sudah bertahun-tahun lamanya ia menunggu momen yang pas untuk bersama kina, sejak ia pindah dari kampung tidak sehari pun Akmal lupa akan gadis itu.
Ia bekerja keras menghasilkan banyak uang dan sukses agar bisa secepatnya menjemput Kina ke kampung. Namun ia kaget sekali mengetahui fakta bahwa Kina ternyata ada di kota itu sebelum ia datang ke kampung, lebih kagetnya lagi kina bahkan sudah menikah dengan orang lain dan gadis itu tersiksa.
Akmal hancur melihat keadaan Kina saat itu, baginya penderitaan Kina sama halnya dengan penderitaan nya sendiri. Ia bertekad untuk membebaskan Kina dari genggaman Ages namun ia masih belum cukup berkuasa melakukan hal itu. Ia benci dirinya sendiri karena tidak bisa diandalkan oleh Kina.
Hingga akhir juga ia sama sekali tidak bisa membuat Kina bahagia dan sekarang fakta yang lebih menyakitkan adalah ia benar-benar sudah tidak ada harapan untuk bisa bersama gadis itu. Kina sudah bersama dengan Ages bahkan sebelum Akmal berhasil menempati janji untuk bersama dengan nya.
"Ku harap kamu benar-benar akan bahagia Kina, aku akan berusaha melupakan mu karena aku akan ikut bahagia jika kamu bahagia. Maaf karena kurang handal untuk menjadi laki-laki yang menjaga mu," ucap Akmal penuh sesal.
"Ha,,hah,,aku kelamaan yah mal?" Tanya Afri terengah-engah dan kesulitan untuk bernafas.
Akmal melihat kearah Afri dengan seksama, gadis itu terlihat sangat lelah dan juga bernafas saja ia kesulitan. Sepertinya ia baru aja berlari. Kenapa dia begitu kacau malam ini?.
Afri datang kearah Akmal dengan senyuman dibibir nya, seperti biasa ia akan selalu berpura-pura kuat di hadapan laki-laki itu. Ia sangat pandai menutupi kesedihannya.
"Aku kelamaan yah? Yang jual makanan jauh banget sih."
Akmal lagi-lagi diam dan menatap lekat kearah Afri, gadis itu benar-benar sangat setia kepadanya beberapakali pun Akmal membuat ia terluka.
"Apa aku memang ditakdirkan untuk nya?" Batin Akmal masih saja memandang Afri.
"Mal! Heyyy kok bengong? Kamu makan dulu sini."
Afri duduk ditepi ranjang milik Akmal dan mulai menyendokkan bubur itu kearah nya, Akmal masih saja diam melihat kearah Afri hingga gadis itu merasa bingung dan meletakkan sendok itu kembali ke dalam mangkuk.
"Kenapa sejak tadi kamu memandangiku seperti itu? Apa ada sesuatu diwajahku?" Tanya Afri dengan pelan.
Akmal hanya diam saja, gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan sikap Akmal sejak tadi ia hanya diam saja dan tidak menjawab malah menatap Afri dengan tatapan yang sangat lekat.
"Kamu kok dari tadi diam Mulu sih mal? Apa kamu kesulitan berbicara? Aku panggil dokter yah!"
Tangan Afri ditahan oleh Akmal dan mendudukkan gadis itu kembali ketepi ranjang nya.
"Kenapa kamu keringatan begitu banyak hmm? Kamu sedang marathon atau bagaimana?" Tanya Akmal dengan pelan.
Deg
Sejak kapan laki-laki itu begitu perhatian kepada nya? Selama ini Akmal jelas membatasi hubungan mereka dengan terus mengabaikan Afri. Jujur saja jantung Afri saat ini sedang tidak terkendali, selalu saja begitu orang yang paling mencintai selalu yang paling mudah goyah.
"A,,aku baik-baik saja mal. Kamu makanlah,sejak tadi kamu belum makan apapun."
Afri menyuapkan satu suapan kearah Akmal dan diterima oleh laki-laki itu, matanya tidak henti memandang kearah Afri mulai dari rambut hitam gadis itu, matanya yang masih saja terlihat terlalu banyak menangis dan juga pipinya yang begitu mulus.
"Apa aku terlalu menyia-nyiakan gadis sehebat Afri?" Tanya Akmal kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Afri sejak tadi merasakan kalau Akmal benar-benar tidak hentinya memandangi nya. Apakah ada sesuatu yang salah dalam dirinya? Afri sungguh tidak mengerti.
"Kamu harus makan yang banyak mal, aku gak mau yah kamu kayak gini lagi. Setidaknya kalau kamu gak bisa mencintaiku jangan buat aku khawatir kayak gini."
Mata gadis itu sedikit memerah setelah mengatakan itu, jujur saja mengatakan kalau Akmal tidak mencintai nya dengan bibirnya sendiri membuat hati Afri sangat sakit karena ia seolah sedang dipaksa untuk sadar diri.
Akmal bisa melihat itu, gadis itu sedikit bergetar dan mencoba untuk terus berpura-pura kuat. Ia sangat rapuh sebenarnya namun mencoba untuk tetap terlihat tegar.
"Aku tahu kamu sangat terpuruk karena kepergian kina, tapi aku harus bagaimana? Aku harus bagaimana agar kamu tidak terpuruk begini? Aku tahu aku yang seharusnya pergi dan bukan kina kan? Tapi aku harus bagaimana kalau aku tidak bisa pergi? Aku tidak tahu harus pergi kemana saat kamu sedang terpuruk begitu?"
Afri menunduk dengan pelan, Akmal bisa menangkap beberapa bulir air mata jatuh mengenai dress gadis itu. Ia benar-benar bisa memahami rasa sakit dirasakan oleh Afri saat ini. Apakah selama ini ia begitu mengabaikan Afri hingga baru sekarang ia sadar menjadi Afri ternyata sesakit itu.
"Aku sudah berusaha untuk mu mal, aku berusaha untuk membujuk kina agar kembali kepada mu. Aku lebih baik merasakan sakit dibandingkan melihat mu sakit begini, aku benci melihat mu jatuh seperti tadi. Apa kamu tahu betapa hancurnya aku saat kamu jatuh karena wanita lain? Hatiku sakit mal tapi aku tetap mencoba untuk membujuk kina demi kebahagiaan mu. Tapi apa kuasa ku? Aku harus bagaimana saat dia menolak untuk kembali kepada mu hikss ,,aku tidak bisa melakukan apapun,"ucap Afri sembari menahan air matanya yang kian deras itu.
Akmal hanya diam saja melihat kearah Afri yang terus saja mengusap air matanya dengan kasar. Wajahnya benar-benar berubah, selama ini yang Akmal lihat adalah wajah ceria juga penuh kesabaran nya. Namun saat ini Akmal benar-benar bisa melihat wajah rapuh juga putus asa itu, jujur saja ada sedikit pilu dihati Akmal saat melihat itu.
"Maafkan aku karena sudah terlalu lama mengusikmu, maafkan aku karena sudah terlalu sering datang ke rumahmu mengganggu dan mungkin aku juga salah satunya yang menjadi faktor utama kina pergi dari rumah hari itu. Aku sadar sekarang, kalau aku bukanlah gadis yang kamu inginkan hahah walaupun sebenarnya aku sudah sadar dari dulu namun berpura-pura tidak tahu, tapi kali ini aku benar-benar sadar mal. Maafkan aku karena sudah menjadi seorang pengusik yang terus saja membuat mu repot."
Air matanya semakin deras dan untuk melanjutkan kata-katanya ia sudah tidak sanggup lagi, hatinya sakit bahkan sebelum ia mengatakan nya.
"Hiks,, kenapa sangat sulit untuk mengatakan nya? " Gumam Afri merutuki dirinya yang begitu bodoh.
Akmal hanya diam saja, ia sangat ingin mengusap air mata gadis itu namun tangannya terasa sangat kaku. Ia juga merasa bersalah dan merasa tidak pantas untuk melakukan hal itu.
"A,,aku sudah sangat sadar sekarang mal, dan sudah memutuskan untuk menyudahi semua ini. Aku benar-benar akan pergi dari hidupmu seperti yang sudah kamu minta selama ini, maafkan aku karena selalu mengabaikan permintaan mu itu. Aku kesulitan saat jauh darimu tapi aku harus melakukan itu bukan? Hiks,,a,,aku akan pergi dan meminta mamah untuk membatalkan pertunangan kita. Maafkan aku karena sudah membuat mu kesulitan hiks,,"
Hatinya sakit saat mengatakan akan pergi, kalau saja Akmal mengatakan untuk ia tetap bertahan maka ia akan sangat ingin bertahan namun bukankah itu sama halnya dengan bermimpi disiang bolong?.
"Kenapa aku malah menangis begini di depan orang sakit? Heheh maaf yah mal aku benar-benar tidak seperti biasanya saat ini. Aku juga tidak sadar menangis sebanyak ini sejak tadi pagi," ucap Afri mengusap air matanya.
"Lebih baik kamu istirahat mal, kamu masih sangat lemah."
Afri mencoba untuk membantu Akmal untuk berbaring namun tiba-tiba saja tangan digenggam oleh Akmal hingga ia sedikit kebingungan.
"Ke,, kenapa mal?" Tanya Afri dengan jantung yang berdebar.
"Ka,,kamu! Sejak kapan kamu sedewasa ini?"tanya Akmal dengan pelan.
Afri tersenyum pelan mendengar itu "Cobalah menjadi aku mal maka kamu akan tahu rasanya, sudahlah kamu lebih baik istirahat sekarang."
Akmal masih saja menahan tangan Afri hingga gadis itu kebingungan lagi. Ia benar-benar sangat tidak mengerti dengan Akmal.
"Kenapa lagi? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Afri dengan pelan.
"Bo,,boleh aku mencium mu?" Tanya Akmal dengan pelan.
__ADS_1
"Ha?"
Afri jelas sangat kaget saat mendengar itu, sejak kapan Akmal tertarik dengan bibirnya? Bukankah selama ini Afri yang selalu saja nekat untuk mencium laki-laki itu hingga Akmal benar-benar sangat kesal kepada nya.
"Ka,, kamu gak salah ngomong kan?" Tanya Afri dengan pelan.
"Aku anggap kamu setuju,"ucap Akmal dengan pelan.
Dengan tegas ia menarik Afri yang berdiri dihadapannya kini sudah duduk ditepi ranjang dan Akmal kemudian menarik pinggang nya hingga kini posisi mereka sangat dekat.
Jantung Afri benar-benar sudah tidak bisa ia kendalikan lagi, melihat wajah Akmal yang semakin dekat membuat ia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Jujur saja ia mengharapkan itu dari Akmal, kalian boleh mengatakan kalau Afri tidak memiliki harga diri tapi kalau sudah cinta kalian bisa apa?.
Cup.
Deg
Jantung Afri hampir saja melompat dari sarangnya saat merasakan bibir Akmal berhasil menempel di bibir nya. Baru kali ini Akmal yang berinisiatif untuk mencium bibirnya.
"A,,apa aku sedang bermimpi?" Batin Afri membelalakkan matanya masih tidak percaya.
Akmal sendiri memejamkan matanya, mendiamkan bibirnya sejenak dan perlahan mulai menggerakkan bibirnya dibibir Afri yang terasa kenyal itu. Afri sendiri yang masih saja kaget itu mulai terbuai dan mulai menutup matanya.
Gadis itu perlahan membalas ciuman Akmal dan meletakkan tangannya dileher laki-laki itu, ciuman mereka terkesan sangat intens seolah mereka sedang meluapkan emosi melalui ciuman itu.
Akmal sendiri saat ini pikirannya sedang kosong dan terus saja mencium bibir Afri, mengecap rasa manis dari bibir gadis itu.
Afri masih saja menikmati ciuman itu, persetan dengan sakit hatinya karena ciuman Akmal bagai penawar untuk nya. Kalau kalian pernah mendengar seseorang adalah sumber rasa sakit namun secara bersamaan dia juga yang menjadi obatnya. Begitulah Akmal bagi Afri.
Sesakit apapun ia tetap saja Akmal yang berhasil membuat ia kuat dan tegar kembali. Seperti saat ini, bukankah sesaat yang lalu Afri mengatakan akan menyerah dan akan berhenti namun mendapatkan ciuman dari Akmal rasa cintanya kembali membara.
Merasakan udara sedikit menipis Afri memukul pelan bahu Akmal hingga bibir yang sedang bertaut itu terlepas dengan pelan.
Wajah Afri memerah setelah mendapat ciuman dari Akmal, Akmal sendiri masih saja melihat kearah Afri yang sedang sibuk menghirup udara itu.
Greb.
Tiba-tiba saja Akmal memeluk Afri hingga gadis itu langsung kaget hingga ia bahkan semakin kesulitan untuk bernafas. Malam ini ia mendapatkan kejutan yang sangat tidak terduga dari Akmal.
"Apakah aku benar-benar boleh kembali berharap?" Gumam Afri dengan sedikit yakin.
...🌼To be continued 🌼...
Tulungggg aku baper banget tolongg, gatau kenapa seneng banget liat Afri bahagia kayak gitu. Padahal tadi aku sempat mewek pas ngetik bagian Afri yang sudah mulai menyerah itu. Babang Akmal kamu berhasil buat aku baper.
Menurut kalian gimana guys? Apa kita pisahin aja Akmal sama Afri?.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀