
Sejak tadi kina tidak bisa tidur, bukan karena apa dia benar-benar tidak nyaman karena baru pertama kalinya ia secara sadar seranjang dengan Ages. Selama ini ia memang pernah seranjang dengan laki-laki itu namun saat itu ia sedang dalam keadaan tidak sadar baik itu saat sedang tidur dan lainnya, namun kali ini ia sangat sadar dan naik sendiri ke ranjang tadi.
"Apa mas Ages sudah tertidur?" Batin Kina.
Gadis itu masih saja stay di posisinya, membelakangi Ages dan tidur diujung ranjang. Sepertinya jarak mereka terlalu jauh dan mungkin sekali dorong saja Kina sudah akan jatuh keatas lantai karena ia begitu dekat dengan pinggiran kasur.
Kina mencoba untuk memeriksa keadaan Ages, apakah ia benar-benar sudah tidur. Kalau ia sudah tidur maka Kina akan pindah dari ranjang ke sofa, ia benar-benar tidak akan bisa tidur karena baru pertama kalinya ia seranjang dengan Ages dengan keadaan yang benar-benar sangat sadar. Ia merasa tidak nyaman tanpa sebab.
Gadis itu hendak bergerak dan berbalik melihat kearah Ages namun ia malah dikagetkan dengan Ages yang tersenyum kearahnya. Ages ternyata sejak tadi belum juga tidur, ia tidak hentinya memandangi Kina yang membelakangi nya, posisi Ages memang sengaja ia balik menghadap kearah gadis itu.
"Kenapa sayang? Kamu tidak bisa tidur?" Tanya Ages dengan pelan.
"Bagaimana bisa aku tidur kalau sejak tadi mas Ages memandangi ku?" Batin Kina.
"A,,aku sudah ngantuk kok. I,,ini mau tidur."
Kina mencoba berbohong dan berlakon hendak tidur,Ages bisa melihat dengan jelas mata Kina yang masih jreng dan tidak ada unsur dan tanda-tanda mengantuk disana.
Ages bergerak pelan lalu menarik pelan pinggang Kina dengan tangan kirinya, untung saja posisi mereka begitu pas hingga tangan Ages yang sedang sakit itu berada di pinggir jadi ia tidak khawatir akan sakit.
"Ma,,mas mau apa?" Kaget Kina karena tiba-tiba saja ia terhuyung kedalam dekapan laki-laki itu.
"Mencoba untuk menidurkan mu sayang, sepertinya kamu sedang kesulitan untuk tidur yah?" Tanya Ages dengan pelan.
Mendengar kata menidurkan lagi dan lagi Kina memikirkan hal lain, Ages benar-benar berhasil membuat isi otaknya tidak bisa berpikir jernih.
"Mas jangan macam-macam, a,aku mengantuk!" Gugup Kina karena masihs aja mengingat ucapan Ages tadi.
"Mas tidak berniat macam-macam kok sayang, oohh apa kamu ingin aku macami yah?" Goda Ages tersenyum kearah Kina.
Jantung gadis itu kembali tidak aman karena melihat senyuman Ages yang begitu hangat dan manis itu. Tolong katakan kalau Kina tidak sedang jatuh ke dalam pesona Ages kan? Gadis itu benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya kini.
"Mas apaan sih? Lepasin aku mas!" Kina kesal dan mencoba untuk melepaskan diri namun masih saja ditahan oleh Ages.
Walaupun dengan satu tangan ia masih sangat kuat, Kina tidak bisa melawan dan melepaskan diri darinya.
"Mas gak macam-macam kok sayang, sekarang kamu coba penjamin mata. Mas akan berusaha membantu mu untuk bisa tidur, mas tahu sejak tadi kamu tidak bisa tidur kan?"
Kina akhirnya terdiam, entah kenapa ia benar-benar menurut kali ini. Matanya perlahan ia pejamkan dan ia bisa merasakan kalau Ages sedang menepuk pelan bahunya hingga ia mulai terlelap.
Ages sendiri tersenyum karena begitu mudahnya membuat kina terlelap pada tadi ia begitu banyak memberontak.
"Tidur saja kamu terlihat sangat cantik sayang, kalau begitu kita tidur yah sekarang. Selamat malam sayangkuu."
Ages kembali mencium kening Kina secara perlahan dan menyibakkan rambut Kina yang berani menutupi wajah cantik gadis itu, setelah itu Ages juga perlahan mencoba untuk terlelap.
Sementara Afri kini benar-benar tidak bisa lagi membendung ras haru juga bahagia dalam dirinya, ia bahkan sampai lupa harus melakukan apa karena gugup nya. Ternyata ciuman Akmal dikening nya sungguh sangat fatal bagi dirinya sendiri.
"Oh iya piring dan sendok, bagaimana bisa aku lupa menyiapkan itu. Kami tidak akan bisa makan kalau tidak ada keduanya,"gumam Afri mengambil piring dan sendok.
__ADS_1
Akmal sendiri sudah duduk diata kursi dihadapan meja makan, ia menunggu Afri datang dari arah lemari piring. Ia bisa melihat tingkah Afri yang begitu kikuk dan tidak seperti biasanya, bukankah gadis itu dulu sangat aktif dan juga teliti? Kenapa ia terlihat seperti bocah yang linglung sekarang.
"Piring dan sendok sudah ada, ahh kami butuh gelas dan air putih juga."
Setelah semua sudah lengkap Afri berjalan dengan pelan menuju meja makan dengan jantung yang berdetak sangat kencang karena melihat Akmal yang tersenyum menyambut nya.
"Kenapa lama sekali disana? Apa kendala?" Tanya Akmal dengan lembut.
"Tolong itu Akmal ngomong lembut banget, aku mimpi apa gimana nih?" Batin Afri dengan hati yang sangat tidak karuan.
"Embb,,gak kok mal! Sekarang kita makan yah."
Afri kemudian memberikan piring kearah Akmal juga sendoknya kemudian laki-laki itu mengarahkan piring nya kearah Afri hingga gadis itu kebingungan.
"Tolong ambilkan aku nasi juga lauknya, sepertinya yang kamu sediakan akan terasa lebih enak dibandingkan diriku sendiri."
Deg
Afri benar-benar sedang tidak bermimpi kan? Tolong katakan kalau ini adalah kenyataan. Afri jelas mengingat saat dimana Akmal dengan keras dan dingin menolak tawaran Afri untuk menyiapkan makan untuk nya. Dan kali ini ia sendiri yang meminta?.
"I,,iya mal!"
Afri perlahan menyiapkan nasi juga pendamping nasi diatas piring milik Akmal, ia benar-benar sangat bahagia sekarang.
"Silahkan dimakan mal,"ucap Afri dengan pelan saat meletakkan piring dihadapan Akmal.
Laki-laki itu melihat kearah Afri dan entah kenapa ia sangat ingin lebih dekat dengan gadis itu, sedang Afri sudah menyiapkan nasi untuk dirinya sendiri namun ia kebingungan melihat Akmal yang belum juga memakan nya.
Afri benar-benar merasa kesal dengan dirinya karena memasak makanan saja ia tak sanggup, bagaimana mungkin Akmal mau hidup bersama dengan dirinya apalagi kalau ia mengingat kembali kebelakang ada kina yang begitu dicintai laki-laki itu, dan gadis itu juga sangat pandai dalam segala hal.
"Sepertinya tidak enak yah mal? Baiklah lebih baik aku memesan makanan dari luar saja yah. Kamu tidak usah makan lagi,"ucap Afri bangkit dan hendak berjalan menuju dapur mengambil ponselnya yang tertinggal disana.
Akmal menahan tangannya hingga langkah nya terhenti saat merasakan tangan laki-laki itu menarik pergelangan tangan nya dengan lembut.
"Tidak usah memesan makanan dari luar,"ucap Akmal dengan pelan.
Afri berbalik, setidaknya ada kemajuan seperti nya Akmal akan tetap menghargai masakan buruk itu. Tapi tetap saja Afri benar-benar malu kepada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia dengan pedenya mengharapkan Akmal saat ia tidak bisa melakukan apapun.
"Kamu tidak usah memaksakan diri mal, aku tahu kamu sedang berusaha menghargai ku. Tapi tetap saja aku benar-benar malu karena tidak bisa menghidangkan makanan yang enak untuk mu,"ucap Afri dengan lesu.
"Aku bahkan belum mencoba masakan mu, kenapa kamu langsung mengatakan hal itu?" Ucap Akmal dengan pelan.
Afri tertawa pelan dan melihat kearah Akmal "Lihatlah mal, untuk memakan nya saja kamu tidak tergerak kan? Berarti mungkin aku tidak hanya kalah dalam rasa tapi tampilan dari masakan ku juga tidak bisa membuat mu untuk menginginkan nya kan?"
Akmal benar-benar tidak mengerti, ia sama sekali tidak bermaksud kesana. Ia hanya ingin lebih dekat dengan Afri dan hendak meminta gadis itu untuk menyuapinya. Tapi Afri malah salah faham kepada nya, mungkin karena selama ini Akmal terlalu sering tidak menghargai nya hingga sampai kini ia terus saja merasakan hal yang sama.
"Aku tidak bermaksud seperti itu Afri, dengarkan aku dulu."
Afri benar-benar terluka bukan karena Akmal tapi karena dirinya sendiri, seharusnya ia sadar diri dan berhenti berharap lebih. Akmal tidak akan menyukai gadis yang sangat tidak berguna seperti dirinya.
__ADS_1
Ia sudah belajar banyak dari internet dan juga YouTube tapi tetap saja mungkin masakan nya memang tidak akan bisa seenak masakan Akmal bahkan Kina.
"Aku sudah berusaha untuk memasak dengan enak, aku sudah belajar dari internet dan YouTube hikss tapi tetap saja aku tidak bisa memasak dengan baik hikss."
Afri seketika tidak bisa menahan air matanya karena malu dan kecewa kepada dirinya sendiri. Ia berjongkok dihadapan Akmal hingga laki-laki itu semakin frustasi saja. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Afri menangis seperti itu, yatuhan ia hanya ingin lebih dekat dengan Afri kenapa sesulit itu?.
Akmal berjongkok dihadapan Afri mencoba untuk membujuk gadis itu namun ia sedikit ragu, jelas ini semua adalah kesalahan nya. Ia tidak berhak untuk menghibur Afri karena gadis itu merasa kecewa dengan dirinya karena sikap Akmal selama ini kepada nya.
Dengan lembut Akmal memegang bahu Afri dan memutarnya hingga kini gadis itu benar-benar berhadapan dengan nya, Afri yang kaget langsung terdiam dan melihat kearah Akmal dengan tatapan tidak mengerti.
Akmal sendiri hanya diam saja menatap kearah Afri dengan tatapan yang sangat lekat, ia mencoba untuk memastikan perasaannya.
Gadis itu masih saja sesegukan dengan mata yang memerah dan pipi yang dipenuhi dengan bekas air mata karena sehabis menangis itu.
"Sejak kapan kamu cengeng begini hemm?" Tanya Akmal pelan menggerakkan tangan nya kearah Afri dan mengusap pelan wajah Afri mencoba menghilangkan bekas air mata diwajah gadis itu.
"Maafkan aku, maafkan aku karena selalu saja bersikap dingin dan juga kasar kepada mu dahulu. Aku mungkin sudah terlalu banyak sekali menyakiti hatimu, aku terlalu takut kamu semakin jatuh cinta kepada ku tanpa tahu akan sesakit apa yang kamu hadapi saat mencoba mengejar ku,"ucap Akmal dengan tulus
Afri benar-benar kaget dan tidak menduga akan mendapatkan permintaan maaf dari Akmal, ia sama sekali tidak mengharapkan itu karena saat mendapatkan perlakuan Akmal yang tiba-tiba menghangat itu saja ia sudah sangat bersyukur.
Air matanya yang sempat terhenti tadi kembali mengalir lebih deras lagi, ia sama sekali tidak mengingat segala rasa sakit itu. Seketika ia melupakan segalanya dan yang tersisa hanya perasaan haru juga bahagia.
"Hiks,," tangisannya lolos karena merasakan momen ini sungguh tidak ia duga.
"Maafkan aku, aku tahu kamu pasti terluka karena semua perlakuan ku. Seharusnya aku tidak menyakiti mu, aku bersalah banyak kepadamu. Aku memang laki-laki jahat yang sangat tidak pantas untuk gadis sebaik kamu, jadi mulai sekarang terserah kepada mu. Aku memberikan pilihan kepada mu ,jika ingin berhenti maka aku ikhlas namun aku berharap kamu mau memberikan kesempatan kedua untuk ku. Aku akan berusaha mencintai mu dan membahagiakan mu,"ucap Akmal dengan tiba-tiba.
Afri benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang ia dengar itu, apakah ini adalah kenyataan? Akmal sedang meminta kesempatan kedua untuk nya? Seorang Akmal meminta itu? Tentu saja Afri dengan senang hati akan memberikan itu. Jangankan kedua kesekian kalinya juga Afri akan memberikan itu. Secinta itu Afri kepada Akmal!.
Dengan cepat Afri memeluk Akmal hingga laki-laki itu kaget karena tiba-tiba saja mendapatkan pelukan dari Afri.
"Hiks,,kamu jahat mal. Aku terluka dan banyak rasa sakit yang kurasakan saat mencintai mu," ucap Afri dengan pelan sembari menangis dipelukan Akmal.
Akmal benar-benar sadar akan hal itu, ia tahu betapa banyak luka yang sudah ia berikan kepada Afri. Oleh karena itu Afri berhak untuk mengatakan apapun terhadap Akmal bahkan memaki laki-laki itu pun sudah tak apa.
"Aku benar-benar sering kali menangis dan terluka berkali-kali mal. Kamu sepertinya juga tahu sesakit apa luka yang kutahan selama ini,"ucap Afri dengan deraian air mata.
"Maafkan aku Fri, aku tahu dan sangat tahu itu. Oleh karena itu aku venariakan ikhlas dengan pilihan mu, aku tidak berhak untuk menganggu keinginan mu."
"Akan tetapi mal, sesakit apapun aku saat bersama dengan mu atau saat aku mencintaimu. Aku benar-benar bahagia saat menjalani itu, aku malah lebih takut untuk bertemu orang baru. Aku takut akan menghadapi lebih banyak luka dan asal kamu tahu saja mal, kamu memang sumber lukaku tapi kamu juga lah yang merupakan penawar nya,"ucap Afri dengan lembut sembari menyudahi tangisan nya. Namun tetap saja air matanya tidak bisa ia tahan karena merasa haru.
"Aku harus memberikan kamu kesempatan kedua mal, aku akan membuat mu mencintaiku lebih dari apapun. Aku akan membuat mu cinta mati kepada ku, lihatlah pembalasan ku." Kecam Afri.
Senyuman Akmal benar-benar terbit karena mendengar itu dari Afri, mendengar ia mendapatkan kesempatan kedua membuat ia merasa sangat bersyukur.
Dengan erat ia memeluk Afri, gadis itu juga membalas nya dengan pelukan yang lebih erat lagi. Afri benar-benar tidak mengira hati-hati seperti ini akan datang dalam hidupnya.
...🌼To be continued 🌼...
Hadeuhh sayang banget makanan nya gak dimakan wkwkwk. Gini nih kalau udah cinta yang berperan. Kalau gak mau kan bisa dikasih sama author makanan nya.
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀