
Akmal juga sudah bisa dipulangkan hari ini, laki-laki itu sebenarnya sedikit berat untuk kembali kerumah karena ia mungkin tidak akan bisa bertemu dengan kina lagi. Walaupun sebenarnya ia berharap tidak akan bertemu dengan nya lagi tentu saja demi kebaikan mereka masing-masing.
"Mal, yuk kita berangkat sekarang!"
Afri sudah selesai dengan administrasi perawatan Akmal dan kini gadis itu menghampiri Akmal yang diam saja, laki-laki itu mengangguk dan mengikuti Afri keluar dari rumah sakit.
Afri sendiri tidak hentinya tersenyum karena ia seolah sedang melihat sedikit harapan bersama Akmal. Apalagi jika mengingat kejadian tadi malam, Akmal menahan tangannya dan mereka berakhir berciuman. Ia tentu saja senang jika mengingat hal itu.
Selama ini ia yang benar-benar terlihat sangat murahan karena terus saja mencium bibir Akmal hingga pernah sekali Akmal benar-benar kesal dan mendorong Afri hingga terjatuh.
Segala sesuatu baik itu rasa sakit dan juga keinginan Afri untuk menyerah langsung hilang karena kejadian tadi malam. Akmal sendiri yang meminta izin untuk mencium nya.
"Akhh bisa gila aku karena senangnya,"gumam kina tersenyum serta melompat kegirangan.
Akmal yang berada di belakang nya melihat tingkah laku Kina membuat laki-laki itu sedikit kebingungan. Kenapa tiba-tiba gadis itu begitu kegirangan?.
"Kenapa dengan mu? Apa ada kabar gembira?" Tanya Akmal mendekat kearah Afri.
"Lebih dari kabar gembira mal, aku seneng banget."
Gadis itu benar-benar senang karena ia merasa harapan untuk bersama Akmal sudah semakin terbentang dihadapan nya.
"Benarkah? Apa itu?" Tanya Akmal ikut penasaran.
"Hmm gak kok, yaudah yuk balik mal. Kamu masih belum bisa lama-lama diluar,"ucap Afri begitu perhatian.
Akmal benar-benar tidak habis pikir dengan gadis itu, apakah ia adalah Afri yang mengatakan akan menyerah tadi malam? Apakah dia gadis yang menangis tadi malam? Kenapa ia bisa bersikap seceria ini sekarang?.
Akmal menggeleng dan memilih untuk tidak terlalu memikirkan itu dan mengikuti Afri untuk masuk ke dalam mobil. Gadis itu meminta sopir pribadinya untuk menjemput mereka berdua.
Mobil milik Ages berhenti tepat di depan rumahnya, ia melirik kearah Kina yang sedang terlelap itu. Tidak tega membangunkannya Ages memilih untuk menggendong nya menuju rumah.
"Sudah bisa pulang den? Apa neng Kina sudah sehat?" Tanya bapak itu menyambut kedatangan mereka.
Ages tersenyum mengangguk "Sudah pak, nanti saya temui bapak sekaligus memberitahu kabar gembira, tapi saya antarkan istri saya ke kamar dulu yah pak."
Bapak itu mengangguk tersenyum lalu mempersilahkan Ages untuk masuk ke dalam.
"Sepertinya mereka sudah lebih baik,"gumam bapak itu tersenyum senang.
Ages membuka pintu kamar dengan pelan lalu membaringkan Kina diatas ranjang dengan lemah lembut, ia takut gadis itu akan terganggu dan terbangun nantinya.
Gadis itu benar-benar kalau sudah tidur seperti batu saja, ia sama sekali tidak terbangun saat Ages menggendong juga membaringkan nya.
Ages tersenyum memandangi Kina yang terlelap itu, benarkah gadis itu adalah istrinya? Kenapa ia begitu beruntung mendapatkan Kina yang begitu cantik dan juga kuat itu.
"Maafkan aku atas segalanya sayang, maafkan aku karena sudah membuat mu menderita selama ini."
Ages memegang tangan gadis itu dengan lembut, kenangan masa lalu membuat hatinya hancur. Ia ingat betul saat dulu memaksa Kina untuk menikah agar ia bebas untuk menyiksa gadis itu. Dan benar saja saat sudah resmi menikah Ages sangat brutal kepada Kina, membentak bahkan sampai hati membuat gadis itu malu juga melecehkan nya.
Ages tidak bisa melupakan kesalahan nya itu dan ia mungkin akan terus merasa bersalah kepada kina. Pasti sangat berat bagi gadis itu untuk hidup bersama nya.
"Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku dahulu sayang, aku berjanji akan membahagiakan mu dan tidak akan membuat mu menderita lagi."
Mata laki-laki itu memerah menahan tangis saat memandangi wajah damai Kina yang tengah terlelap itu. Ia benar-benar Sudah menanamkan dalam hatinya tidak akan pernah menyakiti Kina bagaimana pun keadaan nya.
Karena tidak ingin menganggu tidur Kina Ages bangkit dari tepi ranjang dan membenarkan posisi selimut gadis itu. Ages keluar dari kamar dengan menutup pintu perlahan lalu menuruni anak tangga.
Jari jemarinya begitu lihai dalam menekan beberapa ikon diponsel miliknya. Ages ternyata sedang sibuk memesan berbagai macam makanan untuk mereka makan nantinya.
Setelah selesai memesan Ages melihat kearah kamar sejenak dan beralih berjalan keluar rumah. Ia tersenyum saat melihat bapak yang sedang sibuk merapikan tanaman itu.
"Mari istirahat sebentar pak,"ucap Ages duduk di kursi tepat di depan rumah.
__ADS_1
Bapak itu tersenyum lalu datang menghampiri Ages "Baik den."
"Saya mau ngasih tau bapak kabar gembira yang tadi tidak sempat saya katakan."
"Apa itu den?"
"Alhamdulillah sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah, istri saya sedang mengandung anak kami pak."
Bapak itu tersenyum mendengar kabar yang diberikan oleh Ages itu. Ia turut berbahagia dengan mereka karena akhirnya mereka benar-benar akan menjadi keluarga bahagia.
"Alhamdulillah den saya turut berbahagia dengan kabar gembira itu, semoga neng Kina beserta calon cucu sehat selalu. Saya tidak sabar den melihat rumah ini akan diramaikan oleh anak-anak,"ucap bapak itu dengan senyuman hangatnya.
Ages jelas senang mendengar doa itu "Terima kasih pak atas doanya, saya bahkan lebih tidak sabar menunggu kelahiran anak saya."
Mereka berbincang-bincang sebentar saling berbagi cerita, memang Ages bukan baru kali ini bercengkrama dengan bapak namun semenjak bersama kina ia memang tidak pernah bercerita dengan bapak dan baru kali mereka memiliki waktu berdua sambil berbincang.
Terlihat petugas delivery datang di depan pagar dan Ages bangkit dari tempat duduknya pamit untuk meraih pesanan itu.
"Terima kasih pak," ucap Ages berlalu menuju rumah.
"Ini untuk bapak."
Ages menyodorkan sebuah paper bag kearah bapak itu, Ages memang sengaja memesan untuk bapak dan untuk mereka juga.
"Wahh terima kasih den, terima kasih banyak."
"Jangan sungkan pak, kalau begitu saya ke dalam dulu menyiapkan makanan untuk Kina. Sebentar lagi dia pasti akan bangun,"ucap Ages dengan sopan.
"Silahkan den, sekali lagi terimakasih."
"Sama-sama pak," ucap Ages kemudian masuk ke dalam rumah.
Dan benar saja, baru saja laki-laki hendak masuk ia melihat kina sudah bangun dan hendak turun dari kamar.
Ia mendekat kearah Kina dan mencoba untuk membantu gadis itu untuk menuruni tangga.
"Kenapa mas malah membantu ku? Aku baik-baik saja mas. Aku bisa jalan sendiri,"ucap kina kebingungan kearahnya Ages karena laki-laki itu saat ini tengah sibuk memegangi tangan nya.
Ages menahan tangan Kina yang mencoba untuk menepis nya "Kamu menurut saja sayang, tidak akan rugi kan kalau menurut sama suami?" Tanya Ages mencoba untuk tetap tenang.
Kina memilih untuk mengalah saja, Ages tidak akan bisa kamu bantah karena laki-laki pasti memiliki jawaban lebih banyak dari mu.
"Kita makan dulu yah sayang, kamu duduk dulu biar mas yang siapin."
Ages mempersilahkan Kina duduk dan ia buru-buru menyiapkan makanan dimeja, kina terdiam melihat kearah Ages dan tentunya suasana itu sangat familiar dalam ingatan nya. Ia tiba-tiba teringat dengan Akmal yang pagi-pagi sekali Sudah sibuk memasak dan menyuruh nya untuk duduk saja mengajaknya berbicara. Kina menggeleng mencoba untuk melupakan itu semua, ia sudah bertekad untuk melupakan Akmal karena berlama-lama mengingat nya bukanlah sesuatu hal yang harus Kina lakukan saat ini.
Piring sudah disiapkan oleh Ages diatas meja lengkap dengan sendok nya, setelah itu ia mengeluarkan beberapa jenis makanan dari bungkus nya. Mata Kina kaget lagi dan serasa seperti Dejavu isi dari bungkus makanan itu sangat mirip dengan masakan Akmal saat laki-laki itu pernah memasak untuknya.
"Te,,telur lapis?" Kaget Kina dengan mata memerah juga sendu.
Ages melihat kearah Kina,gadis itu terlihat sangat kaget melihat makanan itu.
"Kenapa sayang? Telur lapis adalah masakan yang lagi viral saat ini. Banyak yang membelinya jadi mas juga coba untuk memesan nya siapa tahu kamu suka."
Kina hanya diam saja mendengarkan setiap ucapan Ages, ia tidak peduli itu makanan yang sedang viral atau semacamnya. Yang jelas ia sangat kebingungan hari ini kenapa semuanya begitu mengarah dan memicu ingatan kepada Akmal.
"Kenapa kamu begitu kaget dengan telur ini? Apa ada sesuatu?" Tanya Ages dengan menyelidiki.
"Sangat mirip dengan masakan Akmal!" Kina sendiri tidak sadar mengatakan hal itu dihadapan Ages.
Tentu saja Ages tidak suka Kina menyebut nama laki-laki lain saat dihadapan nya apalagi itu adalah Akmal. Ia semakin teringat dengan Kina yang pernah tinggal dirumah laki-laki itu selama dua Minggu. Hatinya jadi tak karuan dan segala tanda tanya datang lagi padahal ia sudah membuang jauh-jauh sikap curiga demi kebaikannya dengan Kina.
"Ak,,Akmal? Dia memasak untuk mu?" Tanya Ages dengan wajah tidak suka namun ia menahannya.
__ADS_1
Kina mengangguk pelan "Akmal pernah memasak untukku dan telur lapis ini sangat mirip dengan telur lapis buatannya," ucap kina dengan pelan.
"Cih! Kenapa gayanya kuno sekali? Dia menggoda Kina dengan memasak? Dasar laki-laki buaya!" Kesal Ages sedikit merutuk dan menahan kekesalan nya.
"Sekarang kita makan saja, aku baru ingat kalau telur lapis ini sepertinya akan basi deh. Kita makan yang lain saja yah sayang, kamu makan daging dan ayam saja agar anak kita menjadi sehat."
Ages menjauhkan telur lapis itu karena tidak ingin kina berlama-lama mengingat Akmal, ia benar-benar kesal karena Akmal namun Ages harus tetap terlihat biasa saja.
"Ha? Memasak? Sial kenapa aku sangat benci mendengar nama laki-laki itu."
"Mas!"
"Ha? Kenapa sayang?"
"Katanya mau makan,kok malah bengong?" Tanya Kina yang perlahan memakan makanan itu.
Ages Langsung menggeleng dan ikut makan dihadapan gadis itu, kina juga buru-buru membuang pikiran nya tentang Akmal. Seharusnya ia lebih fokus menjaga kandungannya dibandingkan berlarut-larut mengingat Akmal.
"Aku juga bisa memasak kok, lihat saja akan ku tunjukkan kalau aku bahkan lebih bisa memasak dibandingkan dengan mu. Dasar penggoda istri orang, dia pikir dia akan berhasil merayu Kina hanya karena ia memasak untuknya?" Kesal Ages dalam batinnya.
Kina sejak tadi melihat kearah Ages yang makan namun pikirannya jelas melayang entah kemana. Ia bahkan sampai lupa untuk mengunyah makanan di mulutnya.
"Mas!"
"I,,iya sayang?" Tanya Ages dengan mulut berisi makanan.
"Mas kalau makan jangan melamun begitu? Mikirin apa sih sampai ngunyah makanan aja sampai lupa begitu?" Tanya Kina dengan pelan.
"Hehehehe."
Ages cengengesan karena mendengar itu, hatinya senang karena memerhatikan nya walaupun dengan hak sekecil itu. Perlahan saja dan ia berharap hubungan nya dengan Kina akan baik-baik saja. Ages juga sudah berusaha untuk berubah tidak semena-mena dan juga tidak memaksakan kehendak nya sendiri, terkadang ia malah lebih banyak mengalah untuk Kina.
"Mas mikirin apa sih? Ada masalah di kantor?" Tanya Kina dengan pelan sembari mengaduk isi piring nya.
Ages menggeleng dengan cepat "Gak ada sayang, mas cuma mikir aja kok ada yah wanita secantik kamu? Mas beruntung banget yah jadi suami kamu?" Tanya Ages pelan.
Kina yang hendak menyendokkan nasi kemulutnya sendiri langsung terhenti dan melihat kearah Ages dengan tatapan tidak percaya. Sejak kapan Ages narsis dan mulai gombal sana sini? Jujur saja siapapun tahu kalau itu bukanlah kepribadian Ages.
"Mas tolong yah jadi diri sendiri aja udah, dengerin mas ngegombal gitu aneh banget serius. Aku yang denger nya aja hampir sakit perut,"ucap kina menggeleng tidak percaya.
"Loh! Kamu pikir mas gak bisa yah? Mas bisa apa aja, memasak dan bahkan mengeluarkan kata-kata manis mas juga bisa. Kamu tunggu saja sayang, mas akan menunjukkan seluruh keahlian mas yang lain. Kamu akan merasa tidak sanggup karena melihat betapa hebatnya seorang Ages yang kini menjadi suamimu."
Kina hanya mengangguk acuh saja, ia benar-benar tidak tahu dari mana datangnya sikap percaya diri berlebihan itu? Ages bukanlah laki-laki yang seperti itu.
"Terserah mas saja, tapi sekedar saran saja mas. Mas sangat tidak cocok begini, lebih baik jadi diri sendiri saja, apa tidak canggung?" Tanya Kina tidak mengerti.
"Mas memang begini sayang, hanya saja mas tidak pernah memperlihatkan nya. Kamu tunggu saja, sekedar saran awas kalau kamu sampai jatuh kedalam pesonaku maka obat penawarnya benar-benar akan sulit untuk kita temukan hehehe."
Kina benar-benar tidak tahu lagi harus menjawab dengan kalimat apa,ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan laki-laki itu.
"Baiklah tuan pesona, mari kita lanjut saja acara makan kita. Mas berhenti melamun!"
"Siap istriku sayang,"ucap Ages dengan semangat.
Kina jelas kaget dan risih mendengar itu namun lebih baik diam saja tidak ada gunanya juga diperdebatkan.
...🌼To be continued 🌼...
Awokawok ages kamu sejak kapan jadi naks alay? Kina aja sampai kaget begitu tauuu.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1