
...Hayy guyss. Author kentang nih boleh minta tolong gak? Jujur aku suka banget tau baca komentar kalian. setiap buka akun tuh aku cuma gak sabar liat komentar kalian. tapi sayangnya kalian susah banget buat komen komenan, memang sih aku juga jarang banget balesin. kalau sempat aku pasti bales kok, yuk ahh di komentari heheh di tunggu yah. aku pengen liat berapa banyak sih yang baca cerita kentang ku ini....
...ehhh sorry malah curhat heheh lanjut skuyyy....
Mematung kaku dan terdiam, kina masih diposisi yang sama karena Ages terlihat sama sekali tidak ingin melepaskan dekapannya dipinggang gadis itu. Jika diperhatikan maka Ages benar-benar terlihat seperti seorang bocah yang tengah bermanja-manja dipinggang ibunya.
Karena sudah berselang waktu yang tidak singkat, kina juga mulai merasa pegal berdiri sejak tadi. Ia mencoba untuk melepaskan pelukan Ages namun laki-laki itu masih saja menahan serta menolak nya.
Kina jelas tidak akan berani melawan Ages, saat ini gadis itu tengah berhati-hati dalam bersikap dihadapan Ages. Ia sudah cukup bersyukur Ages tidak menghukum nya karena sudah kabur selama dua Minggu lamanya.
Ia takut jika ia memaksa untuk melepaskan pelukan itu maka Ages akan semakin terpancing emosinya hingga kina sendiri juga yang akan terkena masalah nantinya.
"Mas,,bisa tolong lepaskan pelukan mas?" Tanya Kina dengan sopan mencoba untuk membuat Ages tidak marah.
Ages menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya hingga Kina merasa sesak akibat pelukan Ages yang begitu kencang itu.
"Mas, aku akan turun kebawah mengambil bubur untuk mu. Kamu sangat lemah saat ini, dokter bilang kamu harus makan mas."
Kina benar-benar tidak tahu apa tengah ia lakukan saat ini, bukankah seharusnya ia tidak semanis ini dengan Ages? Kenapa laki-laki itu bersikap seperti itu? Akhh sudahlah banyak sekali tanda tanya dalam diri kina.
"Mas,," kina mencoba untuk melepaskan dekapan itu dengan kedua tangannya Sendiri.
"Hiks,,"
Mata gadis itu mengeryit kebingungan karena mendengar suara isakan dari arah Ages, ia juga merasakan bajunya basah serta air mata Ages sudah menerpa kulit nya.
"Mas kamu menangis? Ada apa dengan mu?"
Kina melepaskan pelukan itu dan duduk dihadapan Ages tepat ditepi ranjang. Wajah laki-laki itu benar-benar sendu, ia menatap Kina dengan tatapan penuh rasa bersalah namun untuk mengatakan maaf saja ia merasakan sangat kesulitan.
"Kenapa mas menangis begini? Apa sesakit itu yah mas?" Tanya Kina mencoba untuk memeriksa keadaan Ages.
Ages hanya bisa mengangguk karena rasa sesak di dadanya bercampur dengan rasa bersalah benar-benar sangat menyakitkan untuk ia tanggung.
"Bagian mana yang sakit mas? Apa tangan mas yang sakit?" Tanya Kina perlahan dan memeriksa tangan Ages yang diperban itu.
Ages hanya diam saja dengan air mata mengalir deras, kina benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Bukankah ia seharusnya senang melihat laki-laki bejat itu menangis dihadapan nya, ia seharusnya bergembira karena bisa melihat keadaan terpuruk Ages yang selama ini bersikap sangat kurangajar kepada dirinya.
Tapi, entah kenapa Kina malah ikut merasakan sakit karena tatapan serta ekspresi wajah Ages benar-benar sangat memilukan seolah kina tahu apa yang saat ini dirasakan oleh laki-laki itu.
Dengan lembut kina mendekat kearah Ages dan menarik laki-laki itu ke dalam dekapan nya, Seolah ia sedang memberitahu Ages kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Ssttt,, sudahlah mas tidak usah menangis, kamu sedang tidak sehat saat ini. Tubuhmu akan semakin lemah jika terus saja menangis."
Kina menepuk pelan punggung laki-laki itu, Ages jelas tidak akan bisa diam karena rasa bersalah dalam dirinya benar-benar semakin tidak terbendung lagi. Kina adalah gadis yang begitu menderita karena ulah Ages.
Kina kehilangan kakak yang sangat ia sayangi dan ia juga sudah hancur karena segala sikap juga perbuatan Ages terhadap dirinya. Dan sekarang ia dengan tulus memeluk Ages mencoba menenangkan laki-laki tidak tahu diri seperti Ages.
Tangisan Ages semakin pecah dalam pelukan Kina, ia menyeruakkan kepala dileher Kina. Ia sangat ingin mengatakan banyak sekali kata maaf namun ia benar-benar tak kuasa untuk mengatakan hal itu.
"Sstt sudah yah mas, kalau mas terus saja menangis seperti ini maka mas akan semakin sakit. Mas gak mau kan penyakit mas bertambah? Menangis terlalu banyak bisa membuat sakit kepala loh mas. Aku sudah sering mengalami nya,"ucap Kina dengan tenang.
__ADS_1
Mendengar itu sama sekali tidak bisa menghentikan tangisan Ages, ia malah semakin merasa bersalah kepada Kina. Ia tahu kalau kina pasti sudah sangat sering menangis karena perbuatannya yang begitu keji.
Kina selalu saja mencoba kuat dihadapan nya, gadis itu sudah sangat sering ia dzolimi dan bahkan ia hampir saja menghilangkan nyawa gadis itu.
"Husstt,, sesakit itu yah sampai mas tidak bisa berhenti menangis? Mana yang sakit mas? Apa tangan mas? Sini biar aku tiupin dulu."
Kina melepaskan pelukannya kemudian beralih meraih tangan Ages mencoba untuk meniup nya berharap rasa sakit laki-laki itu akan hilang. Jelas tidak akan karena Ages sama sekali tidak menghiraukan rasa sakit pada bagian fisik nya namun ia malah mengingat segala perbuatannya yang menyakiti Kina hingga kini ia telah merasakan kesakitan.
Sementara Akmal kini sudah kelimpungan sendiri dirumah, ia benar-benar sangat tidak ingin kina pergi dari rumah meninggalkan dirinya. Gadis itu harus menjadi miliknya bagaimana pun itu.
"Kenapa kamu lebih memilih pergi Kina? Bukankah aku sudah berjanji akan mendapatkan mu dan 33 mu dari laki-laki itu," gumam Akmal berbicara sendiri.
Bel berbunyi membuat Akmal langsung berlari berharap itu adalah Kina yang datang karena berubah pikiran untuk kembali kerumah nya lagi.
Rasa kecewa menyelimuti Akmal karena yang datang itu bukanlah Kina, melainkan Afri yang datang dengan mengenakan jaket tebal wajahnya pucat pasi dan ia terlihat sangat lemas.
"Kamu sudah pulang dari kantor yah mal?" Tanya Afri masuk ke dalam rumah dengan pelan.
Akmal benar-benar curiga dengan Afri, entahlah ia merasa sejak kedatangan Afri kina seolah tengah berusaha untuk menjauhinya. Dan tentu saja bagi Akmal Afri adalah salah satu faktor penyebab Kina memilih pergi dari rumah.
Afri melirik kearah Akmal yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya, ia malah mendapatkan pandangan tidak bersahabat dari Akmal. Laki-laki itu terlihat jelas sedang marah kepada nya.
"Puas kamu?" Tiba-tiba saja Akmal berbicara seolah menyudutkan nya. Ia kaget bukan main karena suara Akmal juga terdengar lebih keras dibandingkan suara yang selama ini ia keluarkan dari mulutnya.
"Ma,, maksud kamu apa mal?" Bingung Afri sembari mencoba untuk tetap terlihat kuat.
Sebenarnya sejak tadi ia sedang menahan demamnya, ia keluar untuk bertemu teman sekaligus untuk berobat. Ia mengira sampai dirumah ia akan beristirahat namun apa yang ia dapatkan? Akmal malah marah-marah tanpa sebab.
"Jangan berpura-pura tidak tahu kamu, apa yang kamu katakan sampai Kina memilih pergi dari sini?"
"Ha?"
Afri jelas kaget mendengar hal itu dari Akmal, bagaimana mungkin ia tidak kaget sebab tadi pagi Kina bahkan sempat memasak bubur untuk nya. Tidak mungkin gadis itu pergi dari rumah.
"Aku tidak mengerti mal, mungkin saja kina hanya ingin keluar sebentar karena bosan dirumah. Aku keluar sejak pagi tadi untuk berobat, aku sama sekali tidak tahu mengenai Kina."
"Tidak usah beralasan, kalau sampai kina belum juga kembali atau ditemukan maka semua itu karena mu. Sejak kedatangan mu dan berkoar-koar dengan pertunangan palsu itu Kina menjauh dariku, sejauh mana lagi kamu akan menghancurkan kebahagiaan ku?" Kesal Akmal keluar dari rumah itu meninggalkan Afri yang masih kaget karena semua kata-kata yang dilontarkan Akmal.
Afri terdiam sejenak, ia kebingungan dan juga kaget karena tiba-tiba saja ia mendengar bahwa Kina pergi dari rumah. Gadis itu pasti pergi karena mendengar ucapan Afri bahwa ia sangat menyayangi Akmal dan gadis itu pasti merasa menjadi benalu dalam hubungan mereka.
"Kina, kenapa kamu begitu? Aku jadi merasa bersalah kepada mu." Batin Afri tertunduk sendu.
Sementara kina Kina sibuk memanaskan bubur yang sudah ia masak tadi, karena Akmal sejak tadi tidak ingin melepaskan pelukannya bahkan laki-laki itu juga menangis hebat membuat Kina tidak bisa bergerak bahkan untuk mengambil bubur pun ia tak bisa. Alhasil bubur itu menjadi dingin.
"Kenapa sebenarnya dengan mas Ages? Kenapa dia menangis hebat seperti tadi?"
Kina kemudian menggeleng dan memasukkan bubur yang sudah hangat itu kedalam mangkuk. Kina juga menyiapkan susu untuk Ages karena seperti yang dokter itu katakan kalau Ages sedang tidak berdaya karena kekurangan stamina.
Pintu kamar terbuka dan kina bisa melihat Ages yang masih saja duduk itu, laki-laki itu diam saja menatap kearah
Kina hingga Kina sedikit gugup namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Mas makan bubur dulu, dokter berkata sejak tadi pagi mas sepertinya belum makan apapun."
Kina duduk di tepi ranjang dan memberikan mangkuk berisi bubur itu kepada Ages. Namun laki-laki itu menggeleng dengan cepat.
"Aku tidak selera makan," ucap Ages menatap kearah Kina pelan.
"Mas harus makan dulu,tolong dengarkan aku kali ini."
"Kalau begitu suapi aku, aku kesulitan menggunakan tangan ku," ucap Ages dengan pelan.
Kina mendengus pelan namun mau tidak mau ia harus menyuapi Ages agar laki-laki itu makan. Ages sendiri entah kenapa tersenyum pelan saat Kina bersedia melakukan itu untuk nya.
Kina menyendokkan satu sendok bubur kearah Ages dan dengan pelan pula Ages menerima satu suapan itu. Kina menunggu reaksi dari Ages apakah bubur itu enak atau tidak. Namun laki-laki itu hanya memasang wajah datar saja.
"Bagaimana mas? Apa buburnya tidak enak?" Tanya Kina Takut Ages tidak menyukainya.
"Sepertinya ada yang kurang," ucap Ages dengan pelan membuat Kina panik.
Bagaimana jika Ages marah karena Kina memberikan ia bubur yang tidak enak? Bagaimana jika Ages akan menghukumnya sekarang karena sudah memberikan bubur yang tidak enak itu kepada Ages.
"Ku,,kurang apa mas?" Panik Kina memeriksa bubur itu.
"Mendekatlah, aku akan memberitahu mu kekurangan dari bubur ini."
Kina dengan cepat mendekat kearah Ages, ia mengira Ages akan membisikkan sesuatu namun ia kaget karena kini laki-laki itu sudah mendekap erat pinggang nya.
Cup
Mata kina terbelalak karena kini bibir laki-laki itu sudah menempel sempurna dibibir nya, tidak hanya di tempelkan saja Ages bahkan melumaat bibir kina berkali-kali meskipun gadis itu mencoba untuk berontak Ages masih saja melanjutkan nya.
"Maspmpphh."
Kina berontak dan dengan cepat ia menggigit bibir Ages "Mas sedang apa? Kenapa mas melakukan hal itu?"
Kina mundur dari tempat nya semula. Ia benar-benar syok karena ulah Ages, laki-laki itu hanya tersenyum pelan kearah kina hingga gadis itu benar-benar tidak mengerti.
"Aku hanya ingin memberitahu mu kekurangan dari bubur ini,"ucap Ages tersenyum.
Kina benar-benar tidak mengerti dengan Ages, laki-laki itu sepertinya sudah gila.
"Mas makan aja sendiri, aku masih harus mencuci baju."
Kina meletakkan bubur itu di dekat Ages, dengan kesal Kina keluar dari kamar meninggalkan Ages yang tertawa pelan itu.
...🌼To be continued 🌼...
Kesempatan aja kamu ges, bilang aja kamu kecanduan bibir kina kan. Gak cuma nyolong ciuman pas kina tidur aja, sekarang kamu bahkan mencium nya secara gamblang yah gess..duhh dasar genit.
Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.
See you guys 🧀
__ADS_1