Pemuas Hasrat Iparku Yang Kejam

Pemuas Hasrat Iparku Yang Kejam
Bagan 30: Aku tidak apa.


__ADS_3

      Akmal mengeluarkan berbagai macam bahan makanan dari kulkas nya, laki-laki itu memang sangat suka sekali menyediakan perbelanjaan dirumahnya karena ia memang sudah dari dulu memakai gaya hidup sehat untuk kesejahteraan dimasa depan. Jarang sekali anak muda memikirkan hal seperti itu, mereka lebih memilih junk food karena cita rasa yang beragam. Padahal sebenarnya makanan sehat lebih enak jika kita pandai menyatukan berbagai bahan makanan sesuai porsinya.


Dengan lihai laki-laki itu perlahan lahan satu demi satu sudah ia persiapkan. Air ia panaskan dan ia juga mulai memotong beberapa bahan pelengkap.


Saat air itu sudah panas Akmal segera menuangkan nya ke gelas yang sudah ia taburi bubuk susu di dalamnya. Karena masih sedikit panas maka Akmal mendiamkan nya sementara. Sembari menunggu susu tersebut mulai hangat Akmal kembali disibukkan dengan memotong tomat juga wortel bergantian.


" Ma,,masak apa mal?" Tanya Kina dengan pelan.


Gadis itu terlalu tidak nyaman jika hanya diam saja di kamar. Ia turun dari ranjang dan berjalan ke dapur untuk melihat Akmal memasak.


"Loh, kok kamu datang na? Kamu duduk aja diranjang gapapa."


Kina menggeleng dengan cepat karena jujur saja ia sama sekali tidak menyukai hal-hal seperti tuan rumah bekerja sedangkan tamu hanya diam saja. Walaupun sebenarnya ia ragu apakah ia adalah seorang tamu atau benalu.


"Tidak mal, aku gak enak duduk Mulu disana, ada yang bisa aku bantu gak?" Tanya Kina dengan pelan.


Akmal mendengus pelan karena bagaimanapun ia mencoba meyakinkan Kina kalau ia sebaiknya diam saja tetap saja gadis itu tidak akan menurut kepadanya.


"Hmm baiklah na, oh iya kamu duduk dulu sebentar. Minum ini dulu sembari menunggu masakan ini matang," ucap Akmal meletakkan segelas susu itu dihadapan kina.


Padahal sebenarnya Akmal hendak mengantarkan susu itu ke kamar, namun karena kina sudah ada disana maka lebih baik memberikan nya secara langsung dan sudah mulai hangat juga.


Kina menerima susu itu tanpa basa-basi lagi, ia tidak ingin terlalu banyak protes karena hal itu malah akan membuat Akmal tidak suka.


"Makasih yah mal!"


Akmal tersenyum pelan, ia senang saat mendapatkan respon demikian darikima dibandingkan dengan ketika gadis itu harus protes kepada nya.


"Kamu gak minum susu juga?" Tanya Kina pelan.

__ADS_1


"Kamu aja yang minum, mewakilkan heheh."


Kina tersenyum karena lelucon garing Akmal itu, setelah menghabiskan segelas susu itu kina hendak bangkit namun ditahan oleh Akmal.


"Kamu duduk saja disana, aku serius untuk saat ini biarkan aku saja yang memasak. Kamu duduk saja disana temani aku ngobrol, aku sudah sangat merasa dibantu kalau kamu bersedia ngobrol sama aku."


Kina terhenti dan memilih untuk duduk kembali, mendengar kata Akmal yang mengatakan kalau ia serius ingin memasak sendiri membuat kita merasa tidak enak untuk menjadi keras kepala memaksa ingin ikut.


"Ba,, baiklah!"


Akmal tersenyum karena kina benar-benar sudah sangat mudah untuk menurut kepadanya.


Namun, sayangnya kina hanya diam saja. Berbeda dengan Kina yang dulu, setiap mereka bersama maka gadis itu akan bercerita banyak hal tentang keseharian nya hingga Akmal benar-benar sangat terhibur saya sedang bersama dengan gadis itu.


Akmal masih melanjutkan aktivitasnya sembari melirik sekilas kearah kina yang hanya diam saja menatap gelas kosong itu. Benar-benar bukan Kina yang Akmal kenal dahulu.


"Ah iya maaf yah mal! "


Kina mencoba mencari topik, ia sebenarnya tahu kalau Akmal memiliki banyak sekali pertanyaan kepada dirinya namun jujur saja untuk saat ini kina masih belum siap untuk menceritakan segalanya kepada Akmal. Ia malu dan juga merasa Akmal seharusnya tidak tahu kisah yang sebenarnya tentang dirinya.


Akmal sendiri sejak tadi mencoba untuk menyinggung hal itu, Akmal sangat ingin bertanya tentang Segala sesuatu yang mengganjal didalam pikiran nya namun ia tahan karena ia tidak ingin terkesan kepo. Biarlah kina sendiri yang berinisiatif untuk menceritakan kepada nya perihal hal itu.


"Ka,,kamu tinggal sendiri disini mal?" Tanya Kina dengan ragu karena ia sendiri tidak tahu harus menanyakan hal apa.


Akmal tersenyum dengan cepat sembari mengangguk " Iya na, rumah ini aku beli dengan hasil kerjaku sendiri. Sebenarnya awalnya mamah juga papah tidak mengizinkan aku untuk pindah rumah, tapi karena aku sudah membulatkan tekad untuk tinggal terpisah mereka tidak bisa lagi menahan ku."


Satu pertanyaan kina sudah terjawab, awalnya ia mengira Akmal masih tinggal bersama dengan kedua orangtuanya namun sejak ia datang kerumah itu tidak ada seseorang pun kecuali Akmal.


"Aku turut bahagia dengan kesuksesan mu mal, aku bangga!"

__ADS_1


Senyuman pelan dibibir Kina, jujur saja baru kali ini Akmal melihat senyuman itu sejak setelah sekian lama ia tidak melihatnya.


Akmal merasa malu dan menggeleng dengan cepat, senyuman kina berhasil membuat ia kehilangan keseimbangan.


"Ahh kamu bisa saja, perjalanan ku masih sangat panjang na. Aku bekerja di kantor itu karena keahlian ku saja , untuk saat ini aku masih harus secepatnya mendapatkan gelar pendidikan ku agar posisi ku tidak terancam disana."


Benar memang, Akmal masuk ke perusahaan milik Ages karena awalnya ia memenangkan turnamen penciptaan teknologi jenis baru. Kala itu Akmal masih menduduki bangku SMA dan menjadi juara pertama dengan produk yang sangat jenius. Kala itu perusahaan Ages sangat menyukai karya nya hingga tanpa pikir panjang merekrut Akmal bekerja disana.


Akmal bekerja sembari sekolah dan sampai kini ia masih disibukkan dengan kuliah nya sembari masuk kantor sesuai dengan jadwal yang sudah sesuaikan dengan kantor juga kampus ia belajar.


Tentu saja ia masih harus kuliah untuk melengkapi kualifikasi nya, bisa saja posisi nya akan dengan mudah dilengserkan karena zaman sekarang bukti tertulis untuk sebuah keahlian sangat lah dibutuhkan para sebenarnya kemampuan lah yang seharusnya diutamakan dibandingkan dengan beberapa berkas itu.


Kina mengerti maksud Akmal. Laki-laki itu benar-benar sudah sangat sukses Dimata kina, ia semakin merasa rendah diri dihadapan Akmal.


Sudah semakin banyak alasan untuk kina berhenti mengharapkan cinta laki-laki itu. Dan sebenarnya ia sudah sangat tidak pantas untuk mengharapkan nya.


Akmal adalah laki-laki bermasa depan cerah, sejak dahulu ia memang sudah sangat jenius dengan otak cerdas dan memang ia sudah mendapatkan banyak kasih sayang dari keluarga lumayan mapan karena ayahnya sendiri adalah abdi negara begitu juga dengan ibunya seorang dokter.


Kina sama sekali tidak sebanding dengan laki-laki hebat itu, ia sukses diuasi muda sedangkan kina masih muda sudah mengalami kehancuran hidup yang sesungguhnya.


Kina benar-benar tertampar dengan kenyataan yang ada dihadapannya saat ini, sebelumnya ia masih ingin mencoba egois berharap ada sedikit harapan untuk bisa bersama dengan Akmal namun kini ia benar-benar sadar diri kalau ia dengan Akmal bagaikan langit dan bumi. Jauh!


...🌼To be continued 🌼...


Huh! Sakit banget tahu kalau cinta beda kasta, kina insecure parah tuh kayaknya. Kalau author jadi kina juga bakal sadar diri secepat itu.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2