Pemuas Hasrat Iparku Yang Kejam

Pemuas Hasrat Iparku Yang Kejam
Bagan 78: tengil sih!!


__ADS_3

    Kina yang baru saja mengkhawatirkan Ages karena laki-laki itu terlihat sangat tidak kompeten untuk hal-hal diluar pekerjaan nya, Ages yang selama ini kina kenal adalah Ages yang hanya berhubungan dengan berkas, klien dan juga rapat ataupun dinas keluar kota. Bagaimana mungkin Kina akan percaya seorang Ages ahli dalam memasak? 100 persen Kina yakin rasanya akan hancur. Berani bertaruh pun kina sanggup!.


Dan benar saja, belum lama setelah Kina mengkhawatirkan hal tersebut ia sudah mendengar suara teriakan dan ringisan dari arah dapur.


"Akhh."


Jelas sekali itu adalah suara Ages yang sedang meringis bersamaan dengan suara panci yang jatuh keatas lantai.


Kina langsung bangkit dan berjalan menghampiri Ages menuju ke asal suara ringisan itu. Ia begitu kaget saat melihat Ages tengah terduduk diatas lantai sembari memegangi pergelangan tangannya.


"Ke,, kenapa mas?" Tanya Kina khawatir dan menghampiri laki-laki itu.


Tangan Ages terlihat memerah dan disitulah kina sadar bahwa Ages sepertinya ketumpahan air panas apalagi melihat panci yang berisi air panas itu sudah tumpah disamping laki-laki itu. Dan beberapa kentang yang sudah jatuh keatas lantai dan ada beberapa kentang yang sudah hancur.


"A,,aku hanya ingin memindahkan kentang itu namun karena ragu apakah sudah matang atau tidak aku mencoba memegangnya namun lupa kalau itu masih panas, karena terlalu panas aku melepaskan panci itu dan tidak sengaja tumpah di tangan ku,"jelas Ages dengan wajah polosnya.


Jujur saja kina sangat tidak percaya seorang Ages akan bersikap seceroboh ini? Siapapun tidak akan percaya bahwa yang dihadapan kina saat ini adalah Ages laki-laki arogan dan juga banyak gaya itu.


"CK, kenapa mas begitu ceroboh sih? Lihat tangan mas begitu merah saat ini. Ayo ikut aku kita pindah ke sofa dulu,"ucap Kina dengan kesal lalu membantu Ages untuk berdiri dari tempat nya.


Tangan gadis itu jelas memegang tangan nya yang satu lagi, memang terasa sangat sakit namun entah kenapa Ages tidak mempedulikan itu saat ini. Ia hanya sedang diliputi oleh rasa haru juga bahagia karena melihat kina begitu mengkhawatirkan dirinya kini. Tangan gadis itu menggenggam erat tangan nya lalu menuntun nya menuju sofa. Ia benar-benar yakin saat sedang sakit adalah saat dimana ia akan mendapatkan perhatian penuh dari Kina.


"Mas duduk disini dulu, aku telpon dokter dulu mas biar tangan mas diobati,"ucap kina dengan wajah penuh kecemasan.


Ages menahan tangan gadis itu lalu menggeleng "Luka begini tidak harus ke dokter sayangkuu,"ucap Ages dengan senyuman.


Plak


Kina memukul tangan Ages yang terkena air panas itu hingga Ages sedikit meringis.


"Akhh,,"


"Ma,,maaf mas aku gak sengaj."


"Mas sihh, luka begini mana boleh dibiarkan aja. Bagaimana jika sampai berbekas?" Khawatir kina karena tangan Ages yang memerah itu begitu banyak dan juga luas.


"Kamu bisa mengobati nya sayang, tidak harus ke dokter juga."


"Aku kurang tahu dalam mengobati mas, aku takut malah memperparah nya nanti."


Ages tersenyum lalu melihat kearah Kina"Mas akan menuntun mu, ambil saja kotak P3K itu dan ikuti arahan dari mas."


Kina langsung bergerak dan mengambil kotak P3K dari lemari, memang Ages sengaja menyediakan kotak P3K diberbagai lemari dirumah itu. Agar saat sedang dalam keadaan genting begini tidak terlalu susah untuk mencarinya.


"Pelan-pelan saja sayang jangan terlalu buru-buru,aku takut kamu jatuh nantinya."


Ages yang dibuat panik karena Kina yang berlari menuju lemari dan berlari kearah nya juga. Gadis itu benar-benar mengkhawatirkan Ages dan Ages tahu hal itu.


"Apa mas sedang dalam posisi berhak khawatir? Pasti sangat sakit kan mas?" Kina melihat kearah tangan laki-laki itu.


Dan ia mulai mengobati nya perlahan-lahan mengikuti arahan dari Ages, gadis itu begitu fokus mengobati tangan laki-laki itu hingga Ages tersenyum sangat bahagia melihat itu. Rasanya ia benar-benar sangat ingin menghentikan waktu saat ini, ia terlu menikmati momen diperhatikan oleh Kina istrinya.


Walaupun sebenarnya ia tahu kalau gadis itu belum sepenuhnya membuka hati untuk nya atau dibilang belum sepenuhnya memaafkan dirinya. Tapi tetap saja Ages seolah melihat sebuah harapan dari raut wajah kina yang begitu khawatir tadi, tentu saja diiringi dengan sikapnya yang begitu peduli itu.

__ADS_1


"Akhh entah sejak kapan aku benar-benar sangat suka jika diriku sedang sakit? Aku lebih suka sakit dibandingkan sehat. Karena saat sakit aku bisa mendapatkan perhatian juga kasih sayangnya,"gumam Ages dalam hatinya.


Kina sendiri masih sibuk mengobati luka Ages dengan mengoleskan beberapa salep sesuai dengan arahan Ages namun ia sedikit risih dengan Ages yang masih saja sibuk memandangi nya sembari tersenyum seperti orang bodoh karena ia tersenyum untuk hal yang tidak jelas dan juga membingungkan.


"Kenapa mas malah tersenyum seperti itu? Apa ada hal yang pantas untuk disenyumkan? Tangan mas hampir saja melepuh begini bisa-bisanya tersenyum."kesal kina karena ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa sekesal itu saat melihat Ages hampir saja lebih celaka.


Ages tidak marah saat Kina berbicara keras kepadanya, baginya itu adalah salah satu bentuk perhatian dari Kina dengan cara yang berbeda mungkin.


"Kenapa mas sangat bersikeras untuk memasak sendiri? Mas juga berbelanja sendiri ke swalayan tanpa mengajak ku? Akhh benar-benar membingungkan apasih sebenarnya yang mas pikirkan?" Tanya Kina masih sibuk mengobati luka Ages tentu saja sembari marah-marah.


"Aku hanya ingin menyajikan masakan yang enak untuk mu sayang, mas juga ingin memasakkan telur lapis untuk mu agar kamu tidak menyebut masakan laki-laki lain saat kita sedang makan atau sedang berduaan," ucap Ages dengan kesal tidak lupa dengan bibir yang mengerucut itu.


Kina melirik kearah Ages tidak percaya dengan ucapan Ages itu, bagaimana bisa ia bersikap seperti itu hanya karena Kina menyebutkan masakan Akmal tadi siang.


"Jangan bilang mas melakukan hal seperti ini karena Akmal? Wahh benar-benar diluar dugaan. Kenapa juga mas harus kesal saat aku menyebut namanya, aku kan hanya mengatakan kenyataan kalau Akmal benar-benar memasak untuk ku saat itu,"ucap Kina penasaran dengan alasan Ages.


"Tentu saja karena aku cemburu sayang, bagaimana mungkin aku tidak cemburu saat istri ku menyebutkan nama laki-laki lain dihadapan ku?" Kesal Ages dan kali ini wajahnya sukses memasang wajah yang sangat kesal dan terlihat sangat cemburu.


"Ba,, bagaimana mas bisa terang-terangan Begitu? Seolah kita benar-benar suami istri sungguhan saja."


Kina kaget karena mendengar Ages mengatakan kalau ia cemburu dan bahkan berkata bahwa mereka adalah suami istri sungguhan. Memang mereka adalah suami istri dalam hukum namun untuk urusan hati mereka masih belum resmi terikat.


"Hmmm semoga saja luka mas tidak berbekas dan secepatnya sembuh, makanya mas lain kali kalau gak bisa gak usah dipaksain begini, mas bersyukur hanya pergelangan tangan mas yang kena bagaimana kalau lebih parah dari ini? Akhh mas benar-benar banyak sekali tingkah nya. Aku kan sudah menawarkan bantuan tadi, kenapa mas malah menolak dan menyuruh ku menonton televisi? Siapa juga yang bisa menonton dengan tenang meninggalkan mas sendirian memasak di dapur?" Kina menceramahi Ages panjang lebar agar laki-laki itu berhenti melakukan hal-hal seperti ini ke depan nya.


Ages tersenyum bahkan hampir tertawa mendengar ucapan Kina, gadis itu jelas sedang mengkhawatirkan nya. Siapapun tahu akan hal itu.


"Mas ihhh kenapa sih? Aku sedang tidak bercanda tapi sejak tadi mas hanya tertawa dan tersenyum setiap kali aku berbicara,"kesal kina hampysaja memukul lagi tangan Ages yang terbakar itu namun ia kembali sadar dan mengurungkan niatnya.


"Khem, si,,siapa juga yang khawatir kepada mas?" Elak kina mencoba untuk menutupi nya. Padahal sebenarnya ia benar-benar khawatir tadi.


Ages tersenyum lalu mendekat kearah kina yang duduk dihadapan nya, gadis itu tidak nyaman ditatap oleh Ages seperti itu hingga akhirnya ia memilih untuk menyibukkan diri dengan membersihkan juga merapikan kotak P3K itu.


"Kenapa kamu tidak berani menatap mataku? Bilang saja kamu malu karena sudah ketahuan mengkhawatirkan ku kan? Jangan mengelak lagi aku sudah tahu kok."


Kina menggeleng dan masih sibuk membersihkan bekas kapas yang ia pakai tadi.


"Siapa juga yang mengelak mas? Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan mas, untuk apa aku khawatir sama mas saat mas adalah laki-laki yang kuat."


"Masa sih? Jadi siapa tadi yang datang ke dapur dengan wajah cemasnya memegang tangan ku membawaku kesini? Mengobati lukaku dengan fokus dan semua orang yang melihat itu juga pasti akan tahu se khawatir apa kamu tadi. Mulutmu mungkin bisa berbohong sayang, tapi aku bisa melihat itu dari Sirat wajahmu juga matamu."


Kina terdiam dan memikirkan harus menjawab apalagi untuk mengelak, namun Ages benar-benar sudah mengatakan yang sebenarnya dan kina tidak bisa lagi menyangkal itu.


"Lihatlah kamu diam begitu bukankah itu tandanya kamu membenarkan ucapan ku?" Tanya Ages dengan pelan sembari tersenyum penuh kemenangan.


"E,,enak saja mas berpendapat seenaknya saja, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan mas. Aku hanya takut mas akan menghancurkan dapur itu, seperti tadi kentang itu sudah jatuh bukankah itu sama saja dengan membuang makan mas?"


Ages sedikit mengeryit karena tidak faham dengan maksud Kina, gadis itu pasti putus asa karena tidak mendapat alasan lain hingga membuat alasan yang tidak jelas itu.


"Lalu apa hubungannya?" Tanya Ages tersenyum. Ia benar-benar menikmati momen ini, menunggu kina mengakui bahwa ia mengkhawatirkan Ages. Ia tidak akan berhenti menggoda kina sebelum gadis itu mengakuinya.


"Te,, tentu saja da hubungannya mas, aku hanya mengkhawatirkan itu saja. Jadi mas kenapa berpikir sangat jauh? Untuk apa aku mengkhawatirkan mas?" Elak kina lagi.


"Jadi kenapa kamu begitu heboh untuk memanggil dokter tadi? Kalau kamu tidak peduli seharusnya kamu biarkan saja tadi tanganku tanpa diobati, kamu bahkan sangat semangat untuk mengobati lukaku dengan berlari mengambil kotak P3K di lemari,"ucap Ages benar-benar sudah membuat Kina mati Kamus.

__ADS_1


Kina benar-benar sudah kehabisan ide untuk memutar balikkan fakta, Ages sangat ahli dalam membuat lawannya mati Kamus. Kina benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan kebenaran itu.


Laki-laki itu tersenyum karena melihat wajah Kina yang sedang berpikir keras itu, ia akan melihat sejauh mana Kina akan bertahan dengan pendirian nya itu. Jelas sekali ia sudah kehabisan kata-kata namun masih saja berusaha untuk mengelak.


"Kenapa tidak kamu akui saja sayangkuu? Aku sudah tahu semuanya. Kamu jelas sangat khawatir tadi."


"Kalau aku khawatir kenapa memangnya mas? Jelas saja aku khawatir saat mas tidak pandai memasak malah ngotot masak sendiri. Jelas aku khawatir saat melihat mas ketumpahan air panas seperti tadi, bagaimana jika lukanya berbekas atau semacamnya. Tolong ke depannya mas tidak usah memaksakan diri untuk melakukan hal-hal seperti itu lagi, aku bisa memasak untuk mas dan untuk kita."


Age tersenyum sangat lebar karena kini Kina akhirnya mengakui hal itu dengan bibirnya sendiri, bukankah seharusnya ia mengaku sejak tadi? Kina sendiri merutuki dirinya karena sudah kalah dihadapan Ages.


"Benar-benar memalukan! Kamu benar-benar memalukan kina," ucap Kina dengan kesal kepada dirinya sendiri.


Namun saat ia hendak menutup wajahnya dengan kedua tangan nya Ages menarik nya mendekat dengan tangan kirinya yang tidak terluka itu. Gadis itu merasa terhuyung kehadapan dan ia dengan cepat ditangkap oleh Ages dengan memegang pinggang nya.


Cup


Lagi dan lagi laki-laki itu membuat adrenalin Kina naik, jantung nya semakin berpacu dengan keras karena tiba-tiba saja Ages memberikan ciuman di bibirnya.


Kina yang masih kaget hanya bisa terdiam seribuan bahasa sedangkan Ages yang melihat kina terdiam itu merasa sudah mendapatkan izin kemudian mulai memejamkan matanya menggerakkan bibirnya disana. Perlahan ia mengulum bibir Kina yang terasa lebih tipis dibandingkan dengan bibir nya itu.


Kina sadar dengan keadaan dan situasi itu, ia juga sadar Ages yang mulai bermain dengan menggerakkan aktif bibirnya disana. Namun gadis itu sama sekali tidak berniat untuk berontak, gadis itu hanya diam saja dan kalau boleh jujur ia menikmati gerakan bibir Ages namun ragu untuk membalas nya.


Ages sendiri terus saja bergerak aktif disana, melumaat habis bibir Kina yang kini sudah mulai basah dibuat air liur Ages. Laki-laki itu mencoba untuk memaksakan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Kina, gadis itu awalnya menolak namun Ages dengan sangat ahli menerobos masuk kesana menggerakkan lidahnya mengabsen seluruh deretan gigi milik Kina.


Gadis itu jelas merasakan sensasi yang berbeda dari ciuman Ages yang biasanya, karena selama ini Ages hanya memberikan ia kecupan-kecupan singkat walaupun pernah juga Ages melumaat dan mengulum bibirnya namun belum pernah sampai pada tahap ini hingga kina merasa sangat berbeda dan juga tidak terbiasa.


Ia merasa geli karena aktivitas lidah Ages di bibirnya hingga ia sadar bahwa saat ini ia benar-benar terlihat bodoh karena diam saja menerima setiap permainan bibir dari Ages.


Dengan cepat Kina melepaskan ciuman itu dengan mendorong Ages hingga laki-laki itu akhirnya melepaskan nya juga.


Wajah gadis itu jelas memerah dan hawa disana semakin panas saja, ia mu karena menerima ciuman itu begitu saja.


"A,,aku memasak dulu mas. Bi,,biar aku saja yang memasak untuk malam ini."


Kina bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur meninggalkan Ages dengan wajah memerah dan detak jantung yang begitu hebat.


Ages sendiri tersenyum karena ia menyadari satu hal, sepertinya kina benar-benar hampir ia dapatkan.


"Tidak apa perlahan saja, aku akan benar-benar mendapatkan hatimu sayang."


...🌼To be continued 🌼...


Heh! Kang nyosor, banyak aja alesan sama ulahnya biar bisa modus icip bibir kina. Kamu tuh licik banget tau ges, malu kek minimalnya.


"Ngapain malu, aku nyosor juga sah sah aja diakan istri ku. Bilang aja cemburu?"Ages


"Siapa juga yang cemburu heh!"Author.


"Tuh si Dono!"Ages.


Jangan lupa yah like komen dan votenya wan kawan.


See you guys 🧀

__ADS_1


__ADS_2