
Jalanan di ibukota sangatlah tidak bersahabat hari ini. Jalanan yang begitu padat, dan juga kemacetan dimana mana. Sudah hampir setengah jam lebih mobil mereka terjebak kemacetan. Astaga … Kasihan Diana yang harus menahan ketidaknyamanan seperti ini. Rasa sakitnya semakin sering terjadi, gerakan tubuhnya juga sudah semakin tidak nyaman. Wanita hamil it uterus bergeser kesanah dan kemari. Meskipun tidak mengatakan mengenai rasa sakitnya, tapi Alex bisa melihat itu dari tingkahnya.
“Kakak ….” Lirih Diana pelan, seketika Alex langsung menoleh ke arahnya dan menatap wajah pucat istri kecilnya dengan raut wajah cemas. “Di sini sangat panas, Kak.”
“Tidak bisakah kau mengambil jalur lain?” tanya Alex sedikit menggeram kesal kepada supir yang tengah mengemudikan mobil.
“Maaf Tuan muda, jalanan sangatlah padat.” Jawab supir tersebut dengan penuh kehati-hatian, berusaha berbicara sebaik mungkin agar tuan mudanya itu tidak merasa kesal.
Raut wajah Alex tampak sangat kesal mendengar itu. Diana mengerti jika suaminya itu panik, dan dirinya juga sama paniknya seperti Alex. Rasa sakit terus saja menyerang bagian bawah perut sampai ke pinggang, dan cairan bening itu lama-lama berubah menjadi keruh. Astaga … Ini yang pertama bagi Diana, dan Ia tidak memahami apapun dengan masalah melahirkan.
“Tidak bisakah kau mencari jalan lain?” tanya Alex penuh dengan penekanan kepada supir di belakang kemudi itu.
“Maaf, tuan jikapun ada, tapi jalanan di sini sangat padat.” Jawab supir tersebut. Dan benar adanya, dan semuanya percuma. Jikapun ada jalanan lain, mobil mereka terjebak kemacetan. Untuk maju dan mundur sedikit saja tidak bisa di lakukan, apalagi keluar.
“Tidak apa, kak.” Seru Diana menenangkan suaminya yang semakin terlihat gusar. Memang sakit, tapi masih bisa di tahan.
Setelah satu jam setengah mereka terjebak di dalam kemacetan, akhirnya mobil mewah berwarna silver itu berhenti tepat di depan pintu masuk ruang IGD. Kemudian beberapa perawat dari ruang IGD menyambut kehadiran Diana. Wanita hamil itu duduk di sebuah kursi roda yang di dorong oleh perawat IGD. Diana langsung di bawa ke dalam ruang bersalin untuk di periksa lebih lanjut mengenai keadaanya.
Diana dapat bernapas lega setelah kini dirinya sudah berbaring di ranjang rumah sakit. Ia kira karena kemacetan ibukota, hal-hal buruk akan terjadi. Pikirannya menjadi tidak karuan tadi, antara memikirkan hal yang tidak-tidak dan ekstream tentunya. Misalkan melahirkan di tengah jalan. Astaga … Pikiran itu muncul mungkin karena Diana sering menonton film di televisi.
__ADS_1
Alex sudah berdiri tepat di samping Diana sembari kedua telapak tangannya mengenggam erat tangan mungil milik istri kecilnya. Kelahiran buah hati mereka yang pertama tentu saja membuat pasangan muda itu terkena serangan panik.
“Bu Diana, saya akan memeriksa pembukaannya terlebih dahulu.”
Diana menganggukk pelan. Ia tahu karena sebelumnya Diana pernah menonton sebuah konten yang berisikan step by step ketika ibu hamil akan melahirkan. Ada rasa sedikit was-was dengan hal ini. Pasalnya yang Diana tahu, jika di periksa pembukaan sebelum melahirkan itu adalah hal yang sedit menyakitkan. Semoga saja tidak.
Dan benar saja. Rasa takut Diana bertambah ketika dua tangan dokter wanita tersebut menggunakan sebuah sarung tangan. Astaga … Berapa jari yang akan di masukan?
“Tarik napasnya ya Bu.” Ujarnya menginteruksi. Diana kaget dan terhenyak, Ia merasakanya sangat dalam sehingga wanita hamil itu sedikit berteriak. Itu sangat menyakitkan. Telapak tangannya refleks mengenggam telapak tangan Alex kuat, dengan mata yang terpejam dan bibir yang di tipiskan.
“Pembukaan dua.” Ujar dokter tersebut setelah selesai dengan pemeriksaanya. “Apakah sakitnya sudah terasa?” tanya dokter itu seraya membersihkan kedua tanganya di wastafel.
“Apakah kau menginginkan sesuatu?” tanya Alex kepada Diana yang masih sibuk dengan pikirannya.
Diana menghela napas pelan seraya menggeleng pelan. “Tidak, kak. Jangan pergi, tetaplah di sini.” Pinta Diana dengan menyenderkan kepalanya pada dada Alex. Diana tidak mau jika Alex beranjak sedikitpun dari sisinya. Ia tidak mau jika harus melewati moment seperti ini sendiri.
“Apa yang kau pikirkan? Tentu saja aku akn menemanimu di sini.”
“Terimakasih, kak.”
__ADS_1
“Tidak perlu, fokuslah kepada persalinanmu.” Jawab Alex seraya mengelus lembut puncuk kepala istri kecilnya.
Rasa sakit yang di mulai dari pukul enam sore tadi hingga sampai saat ini waktu sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Rasa sakit yang terus menyerang perut bagian bawah dan juga pinggangnya. Dokter mengatakan jika proses persalinan Diana terbilang cukup cepat, jalan lahir babynya juga sangat cepat terbuka. Biasanya ibu hamil pertama akan merasakan sakit selama Sembilan jam bahkan lebih, tapi untuk Diana, baru tiga jam saja sudah bisa sampai pada tahap ini.
“Kak,” pekik Diana. Kini posisinya sudah berbaring di atas ranjang. Waktu kelahirannya sudah tiba, baby mencoba mendorong tubuhnya sendiri agar segera keluar dan melihat dunia.
“Kelahiran pertama ya bu, jangan mengejan jika tidak ada instruksi dari dokter.” Ujar salah satu suster yang membantu persalinan Diana.
Sementara Alex masih setia berdiri di samping Diana dengan mengenggam erat satu telapak tangan istrinya yang tengah berjuang dengan buat hatinya. Dokter maupun suster sibuk menginteruksi apa yang harus di lakukan Diana. Mengejan, tarik napas, astaga … seperti ini rasanya menemani seorang wanita melahirkan.
“Sekali lagi, Bu.” Intruksi dokter wanita paruh baya tersebut.
Dan Diana menurut dengan apa yang di katakana dokter. Tangannya semakin kencang mencengkram telapak tangan Alex. Wanita cantik itu mengejan hingga terdengar suara tangisan baby yang nyaring menggema di seisi ruangan. Satu baby merah kecil telah lahir ke dunia, dengan sangat sehat.
“Selamat, Leahmu telah lahir.” Bisik Alex pada Diana kemudian mengecup kening istri kecilnya. Dan Diana hanya tersenyum tipis menanggapinya. Bahagia. Rasa sakitnya hilang dengan rasa bahagia yang begitu mendominasi. Diana tidak sabar ingin menggendong baby kecil mungilnya itu. Melihat wajahnya.
“Terimakasih, sayang.” Ujar Alex kembali.
Beberapa menit setelah proses persalinannya, seorang perawat datang dengan menggendong baby kecil. Baby kecil yang sudah siap dengan kain yang membalut tubuhnya tersebut langsung di serahkan kepada ibunya. Meskipun masih kaku, Diana sehati-hati mungkin memangkunya. Baby kecil itu sangat menggemaskan. Bibirnya tipis seperti milik Diana, namun hidung, bentuk wajah dan matanya mirip Alex. Perpaduan yang sempuna.
__ADS_1
“Sangat cantik.”