Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 62


__ADS_3

Tanah terlihat begitu rendah di bandingkan dengan dirinya yang tengah berdiri di atas balkon lantai dua kamarnya, tanpa dia sadari, rasa sakit bercampur dalam pandangan kosongnya. Angin sore yang sejuk, menyapu wajahnya yang cantik. Diana tersenyum tipis.


Diana tahu, bahwa tindakan bodohnya itu hanya akan membuat lubang di hatinya bertambah begitu besar, sebab kali ini Ia menghendaki perasaanya terhadap Alex. Apa? Bodoh apa? Apa semua cinta di dunia itu selalu bodoh dan menyakitkan? Hatinya bergejolak, tidak perlu mengilhami! Aku yang merasakannya! Hati dan pikiranya seakan berkecamuk antara rasa yang saling bertolak belakang.


***


Diana membuka setiap lembar bagian buku resep, Ia meminta pelayan untuk menyiapkan beberapa bahan masakan, mengikuti resep yang ada di dalam buku panduan memasak.


“Nona, biar kami saja yang melakukannya. Anda beristirahatlah, ” ujar seorang koki, mewakili perasaan seluruh pelayan. Mereka semua tampak resah, kalau-kalau Alex mengetahui semua ini, maka mereka semua akan kehilangan pekerjaanya.


“Tidak apa-apa, aku bosan berada di dalam kamar seharian. Biarkan aku memasak hari ini, ” Diana tersenyum tipis, di balas senyuman canggung dan tatapan saling bertukar pandang antara sesama pelayan.


“Kalian semua, pergilah, ” Diana menghentikan aktivitasnya, mendengar suara yang tidak asing lagi baginya.


“Biar aku bantu, ” Alex mencoba menyalakan api dan mulai menumis sesuatu, sementara Diana hanya di perboleh Alex untuk menyiapkan bahan-bahannya saja.


“Bajumu akan kotor, pakailah ini, ” Diana menunjukan celemek lalu memakaikannya kepada Alex, rasa canggung dan tidak terbiasa selalu menjadi kabut antara dirinya dengan Alex.


Diana tersenyum tipis, “Mengapa kau tersenyum dan menatapku seperti itu? ” tanya Akex melirik sekilas ke arah Diana.


“Aku hanya merasa senang, hari seperti ini tidak pernah terlintas di dalam pikiranku. ” matanya berkaca-kaca, sementara tangannya focus mengupas bawang menggunakan pisau. Diana terisak.


“Apa kau teriris? ” Alex merenggut jemari Diana, di lihatnya secara teliti. Diana tersenyum tipis, “Aku hanya tengah mengupas bawang, dan itu membuat mataku berair. ”


Tidak ada tahapan dalam percintaan mereka, perasaan Diana terus hidup bersamaan dengan rasa kecewanya terhadap Alex. Sementara Alex, awalnya Ia hanya ingin menebus kesalahanya, namun kini Ia semakin terbiasa dengan kehadiran gadis itu di dalam kehidupannya. Mencintaimu itu hanyalah sebuah rasa sakit.


Diana tersenyum tipis, Ia duduk di kursi meja makan. Sementara Alex, Ia sibuk menyiapkan makanan yang hampir matang di masaknya.


“Aaaah! ” Diana mengeluh sakit pada bagian perutnya, matanya terbelalak ketika mendapati darah segar mengalir di selangkaannya.

__ADS_1


“Cepat siapkan mobil! ” tegas Alex, lalu membopong tubuh Diana masuk ke dalam mobil.


***


“Bayimu sehat, ” Dokter spesialis kandungan menjelaskan mengenai kehamilan Diana. “Aku akan meresepkan obat penguat janin saja, sering untuk melakukan pemeriksaan dan menjalani pola hidup sehat. Contohnya seperti, jalan santai atau yoga khusus ibu hamil. Dan pastikan anda memakan makanan yang bergizi. ” Diana yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit itupun hanya menatap ke arah layar dimana hasil USG bayinya di tampilkan.


Seorang perawat khusus mengantarkan obat untuk Diana, tanpa harus mengambil antrian terlebih dahulu. Mengingat bahwa Alex adalah pasien VVIP di rumah sakit tersebut. Bahkan dokter kandungan yang Ia temui adalah dokter kandungan terbaik.


Sepanjang perjalanan, Diana hanya melamun dan terdiam. Ya, kapan Ia bisa berbicara dengan cerewat? Wataknya memang sudah seperti itu sedari dulu. Jalanan begitu padat dan macet, membuat perjalanan terasa begitu lama dari biasanya. Sesuatu menarik perhatian Diana, Ia mendadak ingin pergi ke sebuah toserba yang Ia lewati tadi.


“Haaah, seandainya aku punya banyak waktu. Aku ingin sekali pergi ke sana. ” keluh Diana, menatap toserba yang semakin menjauh dari pandangannya. Supir yang sedari tadi focus menatap jalan, sesaat melirik ke arah Diana karena mendengar ocehannya, mustahil Alex akan mengabulkannya.


“Putar balik, ” perintah Alex, padahal Ia tahu betul, susah untuk putar balik saat keadaan jalanan macet seperti ini.


“Aku ingin berjalan kaki, bukankah dokter menyarankannya. ” Diana mengangkat kedua halisnya, “Pak, ” Ia melirik supir dari arah kaca sepion, meminta supir tersebut agar segera membukakan kunci pintu mobil.


Alex menggenggam jemari Diana, sejauh kakainya melangkah pandangan orang-orang tak lekat dari memandangi dirinya. Memang benar, seorang pria seperti Alex akan menarik perhatian dimanapun dirinya berada.


Di depan kasir, tampak beberapa orang yang tengah mengantri untuk mengisia ulang saldo kartunya. Giliran Alex dan Diana yang baru pertama kali berkuncung ke toserba tersebut, maka mereka harus membeli kartunya terlebih dahulu.


“Berapa saldo yang ingin anda isi, Pak? ” tanya pelayan kasir tersebut


“Limid ... ” Diana mengangkat kedua halisnya, begitupula kasir dan orang-orang yang tengah mengantri di sekitarnya.


“Kita hanya mampir, tidak usah berlebihan seperti itu, ” bisik Diana. “Bisa? ” Alex bertanya kembali, di jawab dengan satu anggukan saja oleh pegawai kasir tersebut. Lalu Alex menghadapkan layar ponselnya dengan sebuah alat khusus untuk pembayaran online.


***


Diana menggenggam rambutnya erat dengan telapak tangannya, Ia sudah kewalahan karena terus saja kalah setelah dua belas kali permainan. Sementara Alex, Ia hanya terus mengitung jumlah permainan yang sudah Diana lakukan.

__ADS_1


“Biar aku yang melakukannya, ” ujarnya dengan penuh percaya diri


Diana dan Alex menatap seksama ke arah alat permainan capit boneka tersebut, tengan kanan Alex menggerakannya dengan sangat hati-hati. Satu boneka tercapit, Diana tersenyum girang. Namun boneka itu terlepas kembalu saat hendak terangkat ke atas. Diana kecewa.


“Satu kali lagi, ” Alex memantapkan ucapannya, seperti Ia begitu yakin akan memenangkan satu boneka itu.


“Tidak usah, aku sudah lelah. Ayo kembali, ” Diana membuang nafas lelah, bukan fisiknya, melainkan perasaan dan pikirannya yang lelah dan frustasi karena tak kunjung mendapatkan boneka.


You winner! Sebuah tulisan yang di tunggunya akhirnya mucul, Alex mengepalkan jemarinya dan merasa puas atas kemenangannya.


“Akhirnya ... ” Diana menatap ke arah boneka mungil di genggamannya. Alex tersenyum melihat semua itu.


“Apa lagi yang kau inginkan? ” tanya Alex


“Sudah cukup, dan terima kasih untuk semua ini. ” ujar Diana lalu berlalu pergi. Alex mengerutkan keningnya.


Sepanjang perjalanan pulang, Diana terus tersenyum melihat boneka kecil pada genggamannya. Tak hentinya Ia terus memandangi boneka yang di dapatkannya atas usaha Alex itu. Penyejuk hati, senyum Diana seakan menjadi heroin merk Alex sendiri. Hatinya menjadi hangat ketika melihat kebahagian terukir di wajah Diana, ketertarikannya terhadap Diana semakin hari semakin besar.


***


Hallo readers pembaca setia Pengorbanan Cinta Diana, maaf untuk cerita yang mungkin yaaa kurang menarik atau gitu-gitu ajah. Harap maklum ya karena ini novel pertama Author, ceritanya masih naif dan sedikit hm... wkwk, Tapi author bersyukur setelah hiatus dua bulan lamanya, readers yang baca novel ini tetep banyak. Makasih yaaaa....😍😍 Entahlah, pokoknya terimakasih untuk kalian yang masih selalu setia membaca karya author remahan kaya aku...


Jangan lupa baca karya author yang lain yaa..


-Scandal (on going)


- My Bodyguard is my Husband (Revisi)


Semoga author bisa membuat karya yang lebih baik lagi ke depannya ya😊

__ADS_1


Salam sayang author😘


__ADS_2