Pengorbanan Cinta Diana

Pengorbanan Cinta Diana
Episode 71


__ADS_3

Diana malah duduk di kursi taman, Ia berbicara akan pergi ke daput dan menyiapkan makanan untuk makan malam hanya untuk membohongi Alex saja. Agar Ia tidak berlama-lama berada di sana bersama Alex. Tiba-tiba, beberapa pelayan datang menghampirinya.


“Nona, apakah kau baik-baik saja? ”


“Apa kau terluka? ”


“Ah, seharusnya aku segera membawamu untuk segera keluar dari sana, ” sesal seorang pelayan yang tadi sempat mengingatkan Diana perihal ruang baca Alex.


Diana tersenyum, “Aku baik-baik saja, buktinya aku bisa duduk di sini. ”


“Ah, syukurlah. ” mereka mengatakannya dengan bersamaan dan dapat menghela nafas lega.


Diana terpikirkan sesuatu hal yang sedari tadi menganggu focusnya, “Apakah kalian tahu seorang wanita yang bernama Leona? Siapa dia? ” mereka menggeleng secara bersamaan.


“Baiklah, ” “Nona, coba kau tanyakan kepada kepala pelayan. Dia yang paling lama bekerja di sini. ” Beberapa pelayan menganggukan usulan dari salah satu pelayan.


***


Diana menatap sekeliling, jelas Ia tengah mencari seseorang. Siapa lagi jika bukan kepala pelayan? Targetnya untuk menemukan suatu jawaban. Mengapa rasa keingin tahuanku tidak bisa di kontrol? gunam Diana dalam hati. Tiba-tiba, Ia melihat kepala pelayan yang tengah menyibukan diri dengan pekerjaanya di dapur.


“Bu Ly? ” sapa Diana lalu duduk di kursi meja makan.


“Nona muda, apakah anda membutuhkan sesuatu? ” tanyanya yang langsung mendekat ke arah Diana ketika Diana memanggil namanya.


“Duduklah, Bu Ly. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. ” Diana menujuk ke araj kursi kosong di sebelahnya. Lalu Rully menuruti dan kemudian duduk di sebelah-nya. Rully sama sekali tidak curiga dengan gerak gerik Diana, Ia hafal jika nona mudanya itu sangat baik.


“Bu Ly, berjanjilah untuk menjawab pertanyaanku dengan jujur, oke? ” Diana memastikan jika Rully harus menjawab pertanyaannya dengan jujur. Rully berkerut kening heran, ukiran senyuman di wajahnya seketika lenyap.


“Apa yang ingin anda tanyakan, Nona? ”


Rully tidak mengiyakan perkataan Diana tadi, Diana mengerti memang tidak mudah mengatakan janji seperti itu. Sementara Ia sendiri belum tahu apa pertanyaannya.


“Bu Ly, kau sudah lama bekerja di sini bukan? ” Rully hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Diana. “Kau pasti tahu, siapa wanita yang bernama Leona? ”


Wajahnya yang sedari tadi Ia tundukan di hadapan majikannya, tiba-tiba Ia angkat untuk menatap ke arah Diana. Tatapannya yang tadinya damai, seketika berubah menjadi wajah cemas penuh kekhawatiran. Diana sangat menyadari dengan perubahan mimik wajahnya.


“Bu Ly, ” Diana menyentuh bahu Rully, “Ada apa? Katakanlah sesuatu. ”


“Maaf, Nona. Saya tidak tahu apapun. ” buru-buru Rully beranjak dari duduknya dan berniat pergi menjauh dari Diana.


Diana begitu yakin ada sesuatu yang sedang di tutupi oleh wanita paruh baya itu, “Bu Ly, bukankah aku berhak tahu? ” langkah Rully tercekat ketika Diana berkata seperti itu.


Rully berbalik arah dan mendekat ke arah Diana kembali, di sentuhnya kedua tangan Diana dengan lembut. Rully memandang Diana dengan penuh harap dan sedikit terlihat gusar.


“Nona, satu hal yang harus kau tahu. Jangan pernah menanyakan atau membahas apapun mengenai Leona di hadapan keluarga Pradipta, termasuk Tuan muda Alex. ” jelasnya, terselip kesedihan di dalam tatapannya. Diana menatapnya heran, sementara Rully langsung berjalan pergi dan meninggalkan Diana.

__ADS_1


“Ada apa ini? Siapa Leona sebenarnya? ” Sepertinya wanita bernama Leona itu, meninggalkan luka yanh begitu mendalam.


***


Diana duduk di pinggiran ranjang dan matanya terus tertuju pada Alex yang tengah duduk di atas sofa dan tengah focus menatap pada layar macbooknya. Diana terus menatapnya dengan tatapan sinis, mengapa Alex malah berdiam diri di dalam kamar? Bukankah biasanya dia akan sibuk di ruang bacanya? Jika seperti ini, Diana tidak akan bisa tertidur.


“Kau tidak tidur? ” “Tidak, ” Refleks Diana menjawab, Ia hanya terlalu waspada, takut jika Alex tiba-tiba tidak bisa mengontrol dirinya.


“Kenapa? ” tanyannya lagi, pandangannya masih Ia focuskan pada layar macbook di pangkuannya.


“Mengapa kau berada di sini? Pergilah ke ruanganmu, kau tampak sibuk dengan semua pekerjaanmu. Dan ... sofa itu terlihat tidak nyaman untukmu menyele-saikan semua pekerjaanmu. ” Alex langsung menutup layar macbook-nya, dan menatap tajam ke arah Diana. Apakah aku salah bicara ... ?


Alex menyimpan macbooknya ke atas sofa, Ia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Diana yanv tengah duduk di atas ranjang. Diana tertegun, Ia semakin erat memeluk bantal di dalam dekapannya.


“Kau cemburu pada pekerjaanku? ” Tanyanya, lalu duduk di hadapan Diana.


Diana semakin tidak percaya dengan apa yang tengah di lakukan oleh Alex, “Apa kau demam? ” tanya Diana, dengan wajah polosnya Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Alex.


***


“Hahaha ... ” tawa Elios pecah setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu. Ia tak percaya bahwa Diana dengan polosnya mengatakan itu ketika Alex secara terang-terangan tengah menggodanya.


“Apakah istrimu sepolos itu? ” tanyanya masih dengan tawa yang sama.


“Ck, benar-benar menggelikan. Siapa yang akan mengira jika istrimu merespon seperti itu? Kau juga, sangat gagal menjadi seorang pria. Ck” “Sialan! ” umpat Alex, membuat Elios semakin ingin menertawakannya.


Elios mencoba mengendalikan tawanya dan berusaha untuk bersikap tenang dan serius kembali. “Dan kau, apakah kau sudah mengatakan semuanya pada istrimu itu? ”


“Tidak semudah itu, ” “Ya, tidak untuk sekarang. Setidaknya, tunggulah sampai kondisinya stabil. ” Alex hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Elios.


“Dan bagaimana? ” tanya Alex, yang di balas senyum seringai oleh Elios.


***


Di tempat lain, Tuan Pradipta tengah duduk di ruangannya dan berbicara dengan seseorang. Sebelumnya orang tersebut telah memberikan beberapa lembar foto kepadanya.


“Ada informasi apa? ” tanyanya kepada seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya.


“Informasinya ada di dalam foto itu, Tuan besar. ”


“Bagaimana dengan Alex? Apakah Ia masih mau memberontak dan melawanku? ”


“Sejauh ini saya tidak yakin, Tuan muda tidak terlihat merencanakan sesuatu. ” Tuan Pradipta tersenyum simpul, apakah hanya ini saja usaha putranya itu untuk melawan dirinya?


Setelahnya, Tuan Pradipta meminta orang tersebut untuk pergi dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama orang tersebut pergi dan meninggalkan ruang kantornya. Tuan Pradipta menyenderkan punggungnya pada senderan kursi kebesarannya. Ia meraih sebuah figura kecil yang berisikan foto seluruh anggota keluarganya.

__ADS_1


“Seandainya kau mau menurut, semua ini tidak akan pernah terjadi. ”


***


Diana duduk di atas sofa yang berada di dalam kamarnya, Ia melamun dengan tatapan yang terus tertuju pada luar jendela. Hari sudah semakin sore, senja berwarna jingga terlihat begitu indah hari ini. Sehingga Diana tidak mau melewatkan satu detikpun untuk tidak melihatnya.


“Apa? Dia tidak mau meminum susunya lagi? ” terdengar suara Alex dari luar kamar yang tengah berbincang dengan seseorang.


“Susu itu! Selalu menjadi permasalahan, menyebalkan! ” gerutu Diana dalam hati.


Tiba-tiba, seseorang merangkul bahunya dari belakang. Diana langsung menoleh ke arahnya dan benar, itu adalah Alex. Ya, memangnya siapa lagi yang berani menyentuh tubuhnya sembarangan selain lelaki yang saat ini tengah berapa di sampingnya.


“Kau benar-benar pembangkang! ” ujar Alex, sementara Diana hanya terdiam berpura-pura tidak mendengarnya. “Kau sengaja? ” bisik Alex tepat pada telinga Diana, membuat seluruh tubuh Diana merinding kaku. Tapi Diana masih setia dengan diamnya.


Jemari Alex mulai menyentuh pipi Diana dengan lembut, Ia mengarahkan wajah Diana agar menoleh ke arahnya. Kemudian, Alex langsung mencium bibir mungil Diana dengan lembut, Diana tidak membalas, Ia hanya memejamkan kedua matanya dan menikmati permainan yang Alex berikan. Jemari Alex mulai turun menjelajahi leher Diana, semakin turun hinggan menyentuh squishi milik istri cantiknya itu. Diana tersentak, Ia langsung melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Alex.


Tidak berhenti di situ, sebelum Diana mampu berkata-kata, Alex sudah menarik tengkuk leher Diana kembali, Ia mencium habis bibir Diana dengan sangat dalam. Diana mencoba menolak dan berusaha mendorong dada Alex, namun semua usahanya hanyalah sia-sia. Diana mulai menikmati permainan yang Alex berikan, Ia membalas kembali ciuman Alex dengan sangat lembut. Kemudian, Alex menggiring tubuh Diana ke arah ranjang, lalu Ia mencoba membaringkan tubuh Diana di atas ranjang. Namun, Diana menolak dan malah mendorong tubuh Alex.


Ciuman mereka terlepas, Diana mencoba menghindar dari Alex dan berjalan menjauh dari ranjang. Namun, Alex menarik lengan Diana sehingga membuatnya terjatuh dan duduk di pangkuannya. Posisi yang sangat nyaman. Istrinya kini berada di pangkuannya dengan Alex yang memeluknya dari belakang.


“Bersiaplah untuk hukumanmu, sayang. ” bisik Alex, mencium lembut daun telinga Diana dari belakang.


“Tidak, jangan di sana ah ... ” mau tidak mau Diana mulai mengeluarkan erangan-erangan kecilnya ketika jemari Alex mulai menyusuri area sensitif miliknya. Lalu mencoba memasukinya.


***


“Kau menikmatinya? ” tanya Alex dengan nafas yang tersenggal. Berada di posisi paling intim di antara pria dan wanita. Sementara Diana hanya terus menerus memejamkan kedua matanya, meresapi permainan yang tengah Alex mainkan. “Wajahmu memerah, ” masih dengan napas yang tersenggal.


“Em, berhentilah berbicara! ” protes Diana, Ia menggigit bagian bawah bibirnya, mencoba menahan suara yang seharusnya Ia lepaskan.


“Jangan mencoba menahannya, ” lagi dan lagi, Alex terus saja berbicara di sela-sela aktivitasnya.


“Diamlah ... kau! ” protes Diana menggeram, dan masih dengan napas yang sama tidak teraturnya seperti Alex.


Diana masih memejamkan matanya, mencoba mengatur napasnya setelah lelah bermain di atas ranjang bersama Alex. Kini Alex sudah berbaring di samping Diana, menjadikan tangan kanannya sebagai bantal khusus untuk istrinya.


“Kau melanggarnya, ” ujar Diana masih dengan mata yang terpejam.


“Tidak apa-apa, aku melakukannya dengan sangat lembut. ” Diana semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Alex. Jawaban yang pria itu berikan sungguh sangat vulgar, membuat bibirnya tak mampu berkata-kata lagi.


“Tapi bagaimana jika ... ” “Sttt, kau akan baik-baik saja. ”


Tubuhnya merasa sangat lemas, walaupun Alex melakukannya dengan sangat halus, tapi tetap saja semua itu telah menguras habis tenagannya. Diana mulai terlelap, tertidur di pelukan suaminya.


-Salam sayang author😍😁

__ADS_1


__ADS_2