
Diana berjalan sambil menyeret kopernya menuju kamar Alex, dengan langkahnya yang ragu. Pandanganya mengedar, Diana merasa dirinya kini tengah berada di dalam sudut ruangan yang gelap dan sedang mempertaruhkan nyawanya. Oh God! Entah apa yang akan dilakukan Alex terhadap dirinya, bahkan Alex sampai meminta semua orang untuk pulang dan meninggalkan Diana berdua saja dengan dirinya.
Sesampainya di depan pintu kamar Alex, Ia mengetuk pelan dengan ragu. Terdengar suara Alex dari dalam yang mempersilahkan Diana untuk masuk. Dengan ragu Ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya memasuki kamar Alex. Tampak Alex yang sedang bersandar pada sandaran ranjang dan memainkan sebuah macbook di pangkuanya.
Diana memaku di depan pintu, entah apa yang harus Ia lakukan sedangkan Alex tetap focus pada macbook di pangkuannya. Alex tidak menghiraukan Diana sama sekali, pandangannya menyisir ke seluruh area ruangan. Kamar ini, kamar yang di tinggali oleh Alex dan Nameera sebelumnya. Diana melamun, pikirannya kacau memikirkan hal tersebut.
“Sedang apa kau berdiri di sana? Cepat kemari dan duduk. ” Pinta Alex membuyarkan seluruh isi pikiran Diana.
Diana berjalan mendekat, Ia duduk di pinggiran ranjang, duduk berdampingan dengan Alex. Jarak mereka sangat dekat, sehingga Diana merasa sangat gelisah, gadis cantik itu hanya bisa meremas jari tanganya dengan resah.
Tiba-tiba Alex menyentak tubuh Diana hingga tubuhnya roboh dan berbaring di ranjang dengan Alex menindih di atas tubuhnya. Diana tampak kaku lalu memejamkan matanya, jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Wajah Alex sangat dekat dengan wajahnya, sehingga Diana bisa merasakan hangatnya nafas yang Alex hembuskan.
Alex tak habis pikir melihat tingkah konyol gadis di hadapanya itu, "Aku akan mengajakmu makan, kau belum makan bukan? " Diana membuka matanya secepat kilat, "Hari masih terang, jangan berpikir yang macam macam. "
Diana membuka matanya secepat kilat, menatap Alex yang masih berada di posisinya tadi. Diana merasa tidak nyaman, Ia menggeliat membuat Alex tertegun atas tingkahnya. Gadis ini, beraninya Dia bertingkah seperti itu. Tidak tahukah bahwa aksinya tersebut membuat singa yang tengah menindih tubuhnya bisa menerkamnya kapan saja. Hari masih siang, Alex mencoba menenangkan dirinya. Ia ingat pertama kali saat dirinya mencoba bibir lembut mungil milik Diana, rasanya berbeda saat Ia mencium bibir wanita lain yang pernah bersama dengannya.
Gadis ini, memiliki daya tariknya tersendiri.
***
Ia membuka matanya dengan perlahan, merasakan sakit yang teramat pada kepalanya. Menatap tempat sekitar yang tampak tidak asing baginya. Nameera membuka matanya dengan terkejut, terbelalak seberti akan keluar dari rongganya dan tidak memperdulikan pening di kepalanya lagi.
"Dimana aku?" katanya sambil melirik jam di pergelangan tanganya
Nameera berlari kecil keluar kamar, Ya benar ini adalah rumahnya. Bagaimana bisa? Seingatnya Ia sedang berada di Resort dan memakan sarapanya bersama dengan Alex.
__ADS_1
Ia berteriak keras memanggil manggil ibunya, lalu ibunya bergegas menghampiri Nameera.
"Bu, sejak kapan aku berada disini? Siapa yang mengantarku? Apakah Alex yang mengantarku? Apa penyakitku kambuh sehingga aku tak sadarkan diri? " deretan pertanyaan yang Ia lontarkan pada ibunya, dengan tatapan gelisah bercampur bingung
Ibunya menarik lengan Nameera kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak usah berteriak seperti itu, ayahmu ada di rumah. " Ucapnya pelan dan hati hati
"Baiklah, Bu. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. "
"Asisten Alex yang mengantarkanmu pulang dalam keadaan tak sadarkan diri."
"Bagaimana bisa? Aku bahkan sedang bersama Alex tadi ... " Belum sempat Nameera melanjutkan perkataanya, seseorang menyelah
"Apa? Kau sedang bersama Alex? " tanya ayahnya dengan nada bergetar karena marah
"Tahu malu Ayah bilang? Dia telah merebut kekasihku! Dia lebih tidak tahu malu Ayah! " Ia terdiam sejenak, "Aku bahkan sangat mencintai Alex, aku sungguh mencintainya. " Tatapan matanya luruh dalam kepedihan
"Apapun alasanya kau tetap tidak boleh mendekati suami adikmu! Kau harus melupakan cintamu padanya!" ucap tegas pria paruh baya itu kepada putrinya dan berlalu pergi keluar
"Aaaaaah ... " Nameera memporak porandakan seisi kamarnya, melempar seluruh barang yang tertata rapi di atas meja riasnya. Ia menelungkupkan wajahnya pada bantal di atas ranjangnya dan menangis tanpa suara
Ia bukan wanita yang lemah, tapi hari ini hatinya benar benar hancur, orang yang Ia cintai di rebut oleh orang yang paling Ia benci seumur hidupnya. Diana, gadis itu, orang yang selalu Nameera benci. Pertama Ia merebut ayahnya, dan kini Ia merebut kekasih yang paling di cintainya. Demi apapun, Nameera tidak akan tinggal diam menerima hidupnya di permainkan seperti ini.
***
__ADS_1
Diana menatap makanan yang ada di hadapanya, sekejap Ia menatap Alex yang tengah duduk santai sembari mengaduk pelan Coffee hangat miliknya.
Diana gugup makan siang hanya berdua saja dengan Alex, Ia menelan ludahnya susah payah. Wajahnya terus tertunduk menatapi makanan yang berada di hadapanya, jangankan untuk menyuapkannya ke dalam mulut, memegang garpu pun tangannya sudah gemetar hebat.
"Aku sudah selesai. " Ucap Diana menyimpan kembali garpu yang tengah Ia genggam, Diana menyerah, Ia tidak bisa focus menyantap makan siangnya karena di temani oleh Alex.
Alex menatapnya dengan tatapan heran, Ia melihat Diana sama sekali tidak menyentuh makan siangnya. Tidak ambil pusing, Alex lalu mengiyakan perkataan Diana. Alex berlalu pergi, Diana mengikutinya dari belakang.
Mereka berjalan-jalan di pinggiran pantai lalu berhenti sejenak. Angin pantai yang sejuk menyapu lembut wajah Alex dan memberikan kesan tersendiri bagi Diana yang sedari tadi menatapnya. Sedangkan Alex hanya menatap kokoh pada pemandangan yang ada di depanya.
Detak jantungnya mulai berdegup kencang ketika Ia menatap Alex dengan dalam, Alex terlihat sangat tampan hari ini wajahnya terlihat sangat tenang. Diana tidak bisa mengalihkan pandanganya dari wajah Alex. Wajah Diana tampak merah padam karena malu, Ia tersipu. Rasanya berbeda dari sebelumnya saat Ia menatap wajah Alex, bahkan setelah pernikahan. Kini Ia merasakan hatinya, merasakan hasrat yang selama ini belum pernah Ia rasakan sebelumnya.
'Ada apa denganku? Apa aku jatuh cinta pada Kak Alex? '
"Kenapa kau mau menikah denganku? " ucapnya spontan tanpa sadar
Seketika Alex menoleh dan menatap Diana,
"Semua itu sudah jelas, tidak perlu di pertanyakan kembali. " Jawabnya datar
Alasan yang sudah jelas kenapa Ia pertanyakan, jelas jika Alex menikahinya hanya agar keluarganya memiliki seorang penerus. Sedangkan yang Diana tahu, Alex masih mencintai Nameera.
Mereka saling bertatapan, tidak bisa di pungkiri jika Diana memiliki paras yang begitu cantik dan lugu. Alex adalah lelaki normal, Ia tentu tergoda melihat kecantikan gadis di hadapanya itu.
Alex mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir Diana. Sekarang, tidak ada perlawanan lagi dari Diana. Gadis itu dengan pasrah memejamkan matanya saat bibir Alex mulai menyentuh dan memainkan bibirnya.
__ADS_1
Bersambung.....